

Kamar utama di kediaman mewah Jalan Sultan Hasanuddin itu terasa begitu kedap, hanya deru halus pendingin ruangan yang memecah keheningan malam Makassar yang gerah. Cahaya lampu tidur temaram berwarna kuning keemasan menyapu sprei sutra champagne yang membungkus tempat tidur ukuran super king size.
Arsyad Suganda baru saja melepaskan jam tangan Rolex-nya. Ia membiarkan Soraya, istrinya, mendekat dengan gerakan yang luwes bak penari.
"Kamu kelihatan lelah sekali, Sayang," bisik Soraya. Tangannya yang dingin dan halus mulai memijat bahu kokoh Arsyad. Aroma parfum mawar yang pekat menyeruak dari tu buh Soraya, aroma yang selalu identik dengan kenyamanan rumah, namun entah mengapa malam ini terasa menyesakkan bagi Arsyad.
Arsyad membalikkan badan, memaksakan sebuah senyum tipis. Ia men4rik pingg4ng Soraya, membawanya ke dalam p3lukan. "Hanya urusan Ganda Grup. Proyek di pelabuhan sedikit menyita energi."
"Jangan terlalu diforsir," Soraya meng3lus rahang tegas suaminya, lalu mend4ratkan k3cup4n lembut di l3her Arsyad.
"Aku tidak butuh uangmu sebanyak itu, Arsyad. Aku hanya butuh kamu di sini. Utuh."
Arsyad membalas k3cupan itu, tangannya mulai memb3lai punggung istrinya yang terbalut gaun tidur satin tipis. Secara fisik, Soraya adalah definisi sempurna dari kecantikan wanita bangsawan Makassar. Kulitnya putih bersih, wajahnya tirus dengan tatapan mata yang selalu tampak teduh, padahal Arsyad tahu, di balik keteduhan itu, Soraya adalah pengatur strategi yang ulung.
Mereka pun berg3lut dalam kemesr4an yang int3ns di atas r4njang itu. Arsyad memberikan segalanya, s3ntuhan, kata-kata manis, dan g4irah yang tampak meledak. Namun, jauh di dalam lubuk hatinya, Arsyad merasa kosong. Pikirannya melayang pada aroma tu buh yang berbeda, pada tawa yang lebih lepas, dan pada r4njang-r4njang hotel di luar kota yang pernah ia singgahi.
Setelah semuanya usai, Arsyad berb4ring telentang, mengatur nafasnya yang memburu. Soraya menyandarkan kepala di d4da bidang suaminya.
"Tujuh tahun, Arsyad... kapan rumah ini akan ramai dengan suara tangis bayi?" tanya Soraya tiba-tiba, suaranya terdengar serak dan penuh kesedihan yang dibuat-buat dengan sangat rapi.
Arsyad menghela nafas, meng3cup kening istrinya.
"Sabar, Raya. Kita sudah mencoba segalanya, bukan? Mungkin Tuhan masih ingin kita berdua saja."
"Atau mungkin Tuhan sedang menghukum kita?" Soraya menatap mata Arsyad dalam-dalam.
"Atau menghukum salah satu dari kita?"
Jantung Arsyad berdesir, namun ia tetap tenang.
"Jangan bicara yang aneh-aneh. Besok, aku sudah minta asistenku mengirimkan katalog perhiasan terbaru dari Singapura. Pilih saja mana yang kamu suka sebagai hadiah ulang tahun pernikahan kita yang tertunda."
Mata Soraya berbinar, sebuah kemenangan kecil terpancar di sana.
"Kamu selalu tahu cara menyumpal mulutku dengan berlian, ya?"
"Hanya yang terbaik untuk istriku," jawab Arsyad manis, meski dalam hati ia merasa muak.
***
Arsyad berdiri di balkon sebuah hotel penthouse di Jakarta, memandang kerlap-kerlip lampu kota. Di dalam kamar, seorang wanita model kelas atas yang ia sewa dengan tarif puluhan juta sedang merapikan pakaiannya.
"Kamu tidak mau aku tinggal lebih lama, Pak Arsyad?" tanya wanita itu dengan suara manja.
"Keluar! Uangmu sudah ditransfer asistenku. Tambahannya ada di atas meja," jawab Arsyad dingin, sangat berbeda dengan sosok suami lembut di Jalan Sultan Hasanuddin.
Bagi Arsyad, wanita-wanita ini hanyalah pelepas penat. Ia bosan dengan kelembutan Soraya yang terasa mencekik. Ia muak dengan tuntutan anak yang selalu disuarakan istrinya setiap malam. Keluar kota adalah nafas baginya. Di Makassar ia adalah raja yang terpenjara, di luar kota ia adalah predator yang bebas.
Namun, semua petualangan satu malam itu mendadak terasa hambar, sejak ia bertemu dengan mahasiswi kedokteran itu, di sebuah seminar kesehatan di Samarinda beberapa bulan lalu.
Maisarah.
Gadis itu tidak bisa dibeli dengan berlian. Gadis itu punya sesuatu yang tidak dimiliki wanita-wanita mahal ini, bahkan tidak dimiliki Soraya.
Arsyad mengambil ponselnya, mengetikkan pesan singkat untuk Maisarah.
“Aku merindukanmu, Mai. Besok aku ke kosmu.”
Ia tahu, bermain api dengan mahasiswi kedokteran itu jauh lebih berbahaya daripada sekadar menyewa model. Tapi Arsyad tidak peduli. Ia merasa memiliki segalanya, hingga ia lupa bahwa di Makassar, istrinya Soraya, sedang duduk di depan sebuah cermin antik, membakar kemenyan, dan menyebut nama suaminya dengan nada yang mengerikan.
"Kamu tidak akan pernah bisa lepas, Arsyad. Jika aku tidak bisa memilikimu secara utuh, maka tidak ada wanita lain yang boleh meny3ntuhmu dalam keadaan hidup," bisik Soraya di kegelapan kamarnya, sementara fotonya bersama Arsyad perlahan mulai mengeluarkan cairan merah kental seperti d4rah.
***
Kawasan perumahan elit di daerah Panakkukang itu tampak tenang dari luar, namun di balik gerbang tinggi salah satu bangunan bergaya minimalis modern itu, aturan moral seolah melebur dengan gaya hidup urban yang bebas. Inilah "The Sanctuary", kos eksklusif tempat Maisarah tinggal. Di sini, uang bisa membeli privasi mutlak. Tidak ada penjaga kos yang cerewet, tidak ada jam malam, dan siapa pun, pria atau wanita, bebas masuk ke kamar tanpa interogasi.
Kamar Mai berada di lantai dua, paling pojok, dengan balkon yang menghadap langsung ke arah matahari terbenam. Ruangan itu luas, lebih mirip apartemen studio daripada sekadar kamar kos. Wangi aromaterapi sandalwood bercampur dengan aroma parfum mahal yang tertinggal di udara.
Arsyad menyandarkan punggungnya di sofa kulit, memperhatikan Mai yang sedang sibuk di depan laptopnya. Gadis itu hanya mengenakan tank top sutra tipis dan celana pendek yang memamerkan kaki jenjangnya.
"Mai, istirahatlah. Laptop itu tidak akan lari ke mana-mana," suara Arsyad berat, penuh keinginan. Namun, masih dengan tatapan yang penuh kerinduan.
Mai menoleh, memberikan senyum n4kal, yang selalu berhasil meruntuhkan pertahanan Arsyad.
"Sabar ya, satu paragraf lagi, Sayang. Proyek desain interior dari perusahaan di Jakarta ini bayarannya lumayan. Aku tidak mau hanya jadi pajangan yang cuma bisa kamu biayai."
Arsyad bangkit, berjalan mendekat dan mem3luk bahu Mai dari belakang. Ia meng3cup leh3r gadis itu, menghirup aroma alami kulit Mai yang selalu membuatnya candu.
"Aku sudah membiayai kuliah S-2 Spesialis Bedah Jantungmu, Mai. Aku sudah memberikan kos ini. Kenapa masih harus bekerja di klinik dan mengambil proyek desain?"
Mai membalikkan kursi putarnya, menatap Arsyad dengan mata yang berani.
"Karena aku Maisarah. Aku suka uangmu, bahkan sangat suka, tapi aku lebih suka uangku sendiri. Lagipula, menjadi dokter bedah itu mimpiku, Arsyad. Kamu hanya jembatannya, tapi aku yang harus berjalan di atasnya."
Arsyad terkekeh, tangannya mulai mer4yap liar.
"Sifat bar-bar dan keras kepalamu ini yang membuatku gila. Kamu berbeda dari semua wanita yang pernah kutemui."
"Benarkah itu semua?" tanya Mai dengan tatapan menggoda.
"Sangat benar sayang, walau tidak ku jelaskan kamu pasti tahu betul, jika seorang Mai benar-benar membuatku takluk dan gila."
"Hhm, kalau begitu tunjukan kepadaku sayang, bagian mana yang membuatmu tergila-gila?"
"Mai...jangan kamu pancing-pancing terus! Atau rasakan akibatnya!"
"4aaaaaaargggh..."
Next...