Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Pemburu Harta Karun Tersesat Di Kota Mataram Kuno

Pemburu Harta Karun Tersesat Di Kota Mataram Kuno

Atariyua Senja | Bersambung
Jumlah kata
227.8K
Popular
100
Subscribe
30
Novel / Pemburu Harta Karun Tersesat Di Kota Mataram Kuno
Pemburu Harta Karun Tersesat Di Kota Mataram Kuno

Pemburu Harta Karun Tersesat Di Kota Mataram Kuno

Atariyua Senja| Bersambung
Jumlah Kata
227.8K
Popular
100
Subscribe
30
Sinopsis
18+FantasiIsekaiTeka-tekiPertualanganSupernatural
Tahun 1998, Dr. Satya menghilang saat menggali harta karun Mataram Kuno. Puluhan tahun kemudian, artefaknya dicuri berantai di Jakarta dengan bekas sihir misterius. Detektif Husein (yang percaya logika) bekerja sama dengan Rara, mantan tim Dr. Satya yang percaya legenda. Mereka menemukan bahwa yang dicari adalah Jantung Naga – sumber energi kota purba yang terkubur di dimensi paralel Mandala Naga. Sebuah Penyihir Korup berusaha membuka gerbang untuk menguasainya. Bersama mereka memasuki dunia mistis, menghadapi makhluk gaib hingga bertemu Ratu Kuno penjaga harta karun. Harus menggabungkan taktik dan sihir untuk menghentikan penyihir, karena Jantung Naga bisa memusnahkan dunia jika salah gunakan. Setelah pertempuran, mereka kembali dengan janji merahasiakan rahasia Mataram dan melindungi situs arkeologinya.
Bab 1 Cahaya Giok Dan Kasus Yang Melawan Logika..

Hawa Jakarta di malam hari, terasa lengket. Terbebani oleh polusi dan kelembaban yang tak pernah hilang. Detektif Husein Wiratama membenci kelembaban.

Ia lebih menyukai kesegaran udara pegunungan atau, yang lebih realistis, udara dingin yang dikendalikan oleh AC ruang kerjanya.

Pukul sebelas malam, kantor Subdirektorat Reserse Kriminal Umum tampak sepi, kecuali lampu neon yang berkedip di atas mejanya. Sebuah pengingat visual yang konstan akan keausan sistem.

Husein, dengan tinggi hampir 180 cm dan bahu yang lebar, duduk tegak di balik tumpukan berkas yang menjulang.

Ia mengenakan kemeja biru muda yang sudah sedikit kusut, sedangkan jasnya, tergantung rapi di sandaran kursi.

Matanya, yang biasanya tajam dan penuh perhitungan, kini memandang berkas di depannya dengan campuran frustrasi dan rasa jijik profesional.

Berkas itu berjudul: Kasus Penghilangan Artefak dan Cidera Fisik Anomali.

Kasus ini sudah berjalan dua minggu, dan setiap petunjuk yang ia kumpulkan terasa seperti pasir yang lepas dari genggaman. Intinya kasusnya sederhana: tiga pencurian terpisah dalam dua minggu di tiga lokasi berbeda (Museum Pustaka Nasional, kolektor pribadi, dan gudang penyimpanan universitas).

Targetnya selalu benda-benda yang sangat spesifik dan memiliki nilai historis, terutama yang berkaitan dengan periode kerajaan kuno di Jawa.

Ia membuka daftar artefak yang dicuri: sehelai prasasti batu Kawi berusia 12 abad, sebuah kalung perak dengan ukiran naga, dan sepotong logam hitam berbentuk segi enam yang tidak dikenal jenisnya.

Semua artefak itu pernah dimiliki oleh Dinasti Sailendra, menurut catatan museum. Husein mencoba mencari hubungan antara ketiganya, tapi tidak menemukan apa-apa kecuali asal-usul yang sama.

"Mengapa ini saja yang diambil?" gumamnya sendiri.

Namun, yang membuat Husein marah-marah dalam arti kekalahan intelektual, adalah :

bagian kedua dari kasus itu: Cidera Fisik Anomali.

Ia membuka foto hasil forensik yang dicetak. Foto tersebut menunjukkan lengan seorang penjaga keamanan museum yang pingsan di tempat kejadian. Penjaga itu tidak dipukul, tidak ditusuk, dan tidak diracun.

Tapi di bagian atas lengannya, tepat di bawah bahu.

terdapat sebuah tanda: simbol Kawi kuno yang terbakar, berkedip samar seperti sisa-sisa api yang dingin.

Tanda itu bukan tato, bukan luka bakar biasa, dan anehnya, lapisan epidermis di sekitarnya tampak lebih tua dari usia kulit seharusnya.

Ia membandingkannya dengan foto korban kedua, kolektor pribadi yang terluka di leher. Simbolnya sama persis, hanya lebih besar dan lebih jelas.

Laporan dokter menyatakan, bahwa korban itu mengalami penurunan tekanan darah mendadak, dan kesulitan bernapas selama beberapa jam, seolah energi di badannya terhisap keluar. Husein menggigit bibirnya. Semua ini terlalu aneh untuk disebut "kejadian alam".

“Anomali,” gumam Husein, kata yang paling ia benci. Bagi Husein, seorang polisi yang dididik oleh logika murni dan metodologi ilmiah, anomali hanyalah kata lain untuk kegagalan memahami.

Ia meraih mug kopinya yang sudah dingin, meminumnya sekilas, dan merasakan pahitnya kafein yang gagal meredakan ketegangan di dahinya. Ia meraih laporan ahli forensik dari Dr. Surya.

"Tanda yang ditemukan pada korban ketiga tidak sesuai dengan cedera termal, kimiawi, atau biologis yang diketahui. Energi yang menyebabkan luka bakar tampak bersifat lokal dan cepat, meninggalkan residu yang kami yakini merupakan sulfur dalam bentuk non-kristal.

Kami mencatat kesamaan simbol dengan naskah Kawi yang berkaitan dengan ritual Dinasti Sailendra, tetapi tidak dapat memberikan penjelasan kausalitas.

Kesimpulan: Penyebab cidera tidak diketahui dan tidak wajar."

"Tidak wajar," ulang Husein, menghela napas panjang. "Sihir. Itu yang ingin mereka katakan."

Husein berdiri. Ia berjalan ke jendela besar, menatap ke bawah pada lalu lintas yang masih padat. Ia telah mengesampingkan: pencurian biasa, pencurian ritual (karena artefak itu tidak digunakan di tempat), dan bahkan penculikan yang terkait (karena korban tidak pernah dibawa pergi).

Pelaku pencurian ini adalah hantu. Mereka masuk tanpa jejak, mengambil target spesifik, dan meninggalkan bekas luka bakar Kawi yang tidak dapat dijelaskan.

Tiba-tiba, telepon meja Husein berdering, memutus keheningan malam. Ia meraihnya dengan cepat.

"Wiratama," sahutnya tegas.

"Pak, ada tamu yang memaksa masuk. Dia bilang dia punya kunci kasus anomali Anda." Suara petugas di meja depan terdengar ragu, bahkan takut.

"Pukul sebelas malam? Siapa dia? Suruh dia kembali besok," perintah Husein.

"Dia... seorang perempuan, Pak. Dia bilang dia tahu tentang Mandala Naga dan sihir Sailendra. Dan dia membawa sesuatu."

Husein terdiam. Mandala Naga. Itu adalah istilah yang muncul dalam laporan Dr. Surya, sebuah referensi mitologis tentang kota terkutuk.

Husein membenci istilah mitos ini, tapi ia tidak bisa mengabaikan fakta bahwa tamu ini tahu istilah yang seharusnya hanya ada di dalam berkas internal kepolisian.

Ia ingat kembali ketika membaca laporan Dr. Surya: "Mandala Naga disebutkan sebagai 'tempat di mana waktu berhenti' dalam naskah Kawi kuno. Ritual yang terkait dengan kota itu seringkali melibatkan penggunaan energi alam yang tidak dikenal." Husein selalu menganggapnya sebagai bagian dari sejarah fiksi, tapi sekarang... ia merasakan dingin menyebar di punggungnya.

"Baik. Bawa dia ke ruang interogasi tiga. Saya ke sana sekarang. Dan jangan sentuh apa pun yang dia bawa."

Ruang Interogasi Tiga: Pertemuan yang Mustahil

Husein memasuki ruangan interogasi tiga. Udara di sana terasa lebih dingin, entah karena pendingin ruangan atau aura tamunya.

Duduk di sana, di kursi plastik yang keras, adalah seorang perempuan muda. Usianya mungkin akhir dua puluhan.

Rambutnya diikat rapi, menyisakan beberapa helai yang membingkai wajahnya yang cantik namun terlihat lelah dan dipenuhi kecemasan.

Pakaiannya adalah perpaduan antara formal dan praktis. Kemeja katun dan celana cargo yang sedikit kotor, seolah ia baru saja kembali dari penggalian.

Ini pasti Rara Sekarjati. Ia adalah asisten Dr. Satya, profesor arkeologi yang hilang tiga minggu lalu, sesaat sebelum serangkaian pencurian ini dimulai.

Husein pernah membaca berita tentang hilangnya Dr. Satya, dia menghilang saat melakukan penggalian sendirian di situs kuno yang belum terdaftar di Magelang.

Polisi menganggapnya hilang terjatuh di jurang, tapi tidak pernah menemukan jenazah. Sekarang, asistennya muncul dengan cerita yang tak masuk akal. Hubungannya apa?

Rara menatap Husein. Matanya besar, berwarna coklat tua, memancarkan kecerdasan tajam, dan yang mengganggu Husein dengan keyakinan yang kuat.

"Detektif Wiratama," sapanya, suaranya pelan tapi tegas.

Husein duduk di seberangnya, di balik meja baja. Ia menyalakan perekam suara dan mendorong setumpuk kertas kosong ke hadapan Rara.

"Saya Detektif Husein Wiratama. Nona Rara Sekarjati, mari kita langsung ke intinya. Anda mengatakan Anda tahu tentang kasus pencurian artefak ini. Saya perlu fakta, bukan teori konspirasi."

Rara tersenyum pahit. "Saya tidak menjual konspirasi, Detektif. Saya datang ke sini karena Anda mencari Pelaku sementara saya tahu Anda seharusnya mencari Alat."

"Alat?"

"Ya. Artefak yang dicuri itu adalah Kunci Dimensi. Dan pria yang melakukannya bukanlah pencuri biasa. Dia adalah Jagat Tirta, mantan murid saya, seorang Penyihir Korup."

Husein menghela napas, menutup mata sejenak, lalu membukanya perlahan.

"Nona Sekarjati. Kita berada di kantor polisi Republik Indonesia, bukan di novel fantasi. Saya butuh bukti fisik, bukan nama dari mitologi Jawa."

Rara tidak marah. Ia hanya mencondongkan tubuh ke depan, matanya serius. "Tolong, Detektif. Lihat ini."

Ia mendorong sebuah kotak kayu kecil ke tengah meja. Kotak itu tidak terawat, tampak seperti peti penyimpanan lapangan. Husein ragu, tetapi dorongan profesionalnya lebih kuat. Ia membuka kotak itu dengan hati-hati.

Di dalamnya, terbungkus kain beludru hitam, ada sebuah benda yang membuat Husein seketika melupakan semua keraguan ilmiahnya: sepotong batu giok kecil, berbentuk prisma tiga sisi yang tidak beraturan.

Giok itu tidak berwarna hijau biasa, tetapi memancarkan cahaya keemasan lembut, seolah ada lilin kecil yang menyala di dalamnya.

Benda itu terasa dingin. Dingin yang sangat tidak alami.

"Ini adalah pecahan terakhir dari Kunci Dimensi. Saya mengambilnya setelah Jagat Tirta mencuri yang utama," jelas Rara.

"Benda ini akan bereaksi jika berdekatan dengan energi dari Mataram Kuno."

Husein menatap batu giok itu, lalu ke Rara. "Bereaksi bagaimana?"

Tepat pada saat itu, ponsel Husein yang diletakkan di meja, layar utamanya berkedip-kedip. Bukan notifikasi, tapi kedipan ritmis yang aneh.

Lampu neon di langit-langit ruangan tiba-tiba berdengung keras, cahayanya meredup dan berkedip sejenak.

Husein, yang dididik untuk selalu mencari sebab akibat, tidak menemukan sumbernya. Tidak ada kabel yang longgar, tidak ada gangguan listrik, dan tidak ada sumber elektromagnetik di dekatnya. Kecuali...

Ia menoleh ke pecahan giok keemasan.

"Ini adalah anomali yang Anda cari, Detektif. Bukti fisik bahwa Jagat Tirta menggunakan sihir dan bahwa ia sudah sangat dekat dengan tujuan akhirnya Mandala Naga."

Husein terdiam lama. Keheningan itu sangat membebani. Ia menghabiskan tiga ribu kata dalam benaknya, mencoba mencerna fakta bahwa hukum alam baru saja dilanggar di ruang interogasi kantor polisi miliknya sendiri.

Analisis Husein: Melawan Logika

Husein adalah seorang detektif yang cerdas, yang kekuatannya terletak pada kemampuannya untuk menemukan pola di antara kekacauan.

Ia memejamkan mata, mengabaikan kehadiran Rara, dan mulai menyusun data:

Analisis Husein Sementara :

- Pelanggaran Hukum Alam: Lampu neon dan ponsel bereaksi terhadap pecahan giok. Tidak ada ilmu fisika yang ia ketahui dapat menjelaskan hal ini.

- Korelasi: Rara menyebut Mataram Kuno, Dr. Surya menyebut Mataram Kuno. Rara menyebut simbol Kawi, luka bakar korban adalah simbol Kawi. Korelasi terlalu kuat untuk menjadi kebetulan.

- Tujuan: Jika ini benar-benar sihir, maka tujuannya pastilah sesuatu yang tidak mungkin dicapai dengan cara biasa. Harta karun Mataram Kuno.

Ia membuka mata. Husein menatap Rara, kini bukan sebagai polisi yang skeptis, tapi sebagai penyelidik yang bingung.

"Baik, Nona Sekarjati. Mari kita anggap saya gila dan menerima premis Anda. Jika Jagat Tirta adalah Penyihir Korup, dan artefak itu Kunci Dimensi... apa itu Mandala Naga?"

Rara menarik napas, seolah ia baru saja mendapatkan izin untuk menceritakan rahasia terdalamnya.

"Mandala Naga adalah Mataram Kuno yang terkunci. Ketika Dinasti Sailendra runtuh, legenda mengatakan mereka tidak benar-benar hilang. Mereka melakukan ritual terlarang yang dipimpin oleh seorang Ratu, menyerap energi alam dan mengutuk kota mereka sendiri agar terperangkap dalam dimensi kabut. Kota itu tidak hancur, Detektif. Kota itu dihentikan."

"Mengapa Jagat Tirta ingin masuk ke sana?" tanya Husein.

"Karena harta karun di sana bukan emas," jawab Rara. "Itu adalah Jantung Naga—sumber energi murni yang menjaga dimensi itu. Jagat Tirta ingin menggunakannya untuk mendapatkan kekuatan absolut. Jika dia berhasil, dia tidak hanya akan menjadi penyihir terkuat di dunia, tapi juga akan memecahkan kutukan itu. Dan jika Mataram Kuno penuh dengan energi sihir yang tidak stabil, kembali ke dimensi kita, itu bisa menghancurkan kedua dunia."

Husein bersandar di kursi, mencerna besarnya potensi bencana ini. Itu bukan lagi kasus pencurian. Itu adalah potensi bencana alam gaib.

"Anda bilang dia mantan murid Anda. Apa kelemahannya?" tanya Husein.

"Kelemahannya adalah keangkuhannya dan ilmu yang tidak sempurna. Dia mencuri Kunci Dimensi yang tidak lengkap. Dia membutuhkan sesuatu yang disebut Ritual Purnama Terbalik untuk membuka Gerbang sepenuhnya. Ritual itu hanya bisa dilakukan di situs kuno tertentu pada malam Purnama, dan saya tahu di mana itu."

Keputusan: Melawan Keyakinan

Husein mengeluarkan buku catatan kecil dari saku jasnya. Ia mencatat lokasi-lokasi situs kuno yang Rara sebutkan, membandingkannya dengan peta Jakarta.

Ia kembali pada naluri lamanya: mencari pola dan waktu.

"Anda mengatakan dia akan bertindak pada Purnama. Kapan Purnama berikutnya?"

"Lusa malam," jawab Rara. "Kita tidak punya waktu."

Husein menatap Rara, memindai dirinya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Arkeolog ini tampak sangat rapuh, namun matanya memancarkan tekad yang menandingi miliknya.

"Nona Sekarjati, jika ini semua benar... Anda menempatkan diri Anda dalam bahaya besar. Ini bukan lagi penelitian. Ini perburuan."

"Saya tahu. Tapi sayalah yang mengajarinya membaca prasasti-prasasti itu. Saya yang punya sedikit sisa Kunci ini. Dan saya yang paling tahu cara menghentikannya. Saya ikut."

Husein menghela napas panjang, menimbang semua risiko. Jika ia melaporkan ini, ia akan dianggap gila dan kasusnya akan dicabut. Jika ia bertindak sendiri, ia melanggar semua prosedur. Tapi jika Rara benar, dan ia gagal bertindak, jutaan nyawa ada di tangan seorang Penyihir Korup.

Ia meraih pecahan giok keemasan itu, meskipun ia tahu ia tidak boleh menyentuhnya. Giok itu terasa sangat dingin, dingin yang menembus tulang, namun di dalam dirinya, Husein merasakan percikan energi. Ketidakpercayaan logis Husein berbenturan dengan energi fantastis giok itu.

Pada saat itu, Husein membuat keputusan paling tidak logis dalam hidupnya. Ia melepaskan identitas Detektifnya yang kaku.

"Baik, Nona Rara Sekarjati," kata Husein, memasukkan giok itu ke dalam tas bukti. "Kita tidak akan melibatkan polisi. Ini adalah operasi yang tidak terotorisasi. Saya akan menggunakan semua sumber daya saya, sebagai seorang detektif, untuk melacak Jagat Tirta. Tapi jika ini benar-benar sihir, Anda yang akan menjadi pemandu. Saya Detektif yang mencari pelaku, Anda adalah Arkeolog yang mencari Gerbang. Dan kita hanya punya dua hari."

Rara mengangguk, sorot matanya yang lelah kini digantikan oleh semangat dan tekad.

"Di mana lokasi ritual itu, Nona Sekarjati?" tanya Husein, kini sepenuhnya kembali pada mode penyelidikan.

Rara mengambil sebuah pena dan membuat lingkaran tebal di peta. "Situs Candi Candra. Letaknya di perbatassan hutan, jauh dari pengawasan. Di sana, Jagat akan menyelesaikan ritualnya."

Husein melihat lokasi itu di peta, sekitar dua jam perjalanan dari Jakarta. Dengan kendaraan off-road, terkurung oleh hutan lebat yang jarang dikunjungi. Tidak ada jalur listrik, tidak ada sinyal ponsel, tidak ada yang bisa membantu jika sesuatu salah. Rasanya seperti memasuki lubang hitam yang tidak ada jalan keluar.

Ia menutup peta dan menatap Rara sekali lagi. "Kita butuh lebih dari cuma giok dan cerita. Ada apa lagi yang harus kita persiapkan? Apa yang Jagat miliki selain Kunci Dimensi?"

"Dia punya buku prasasti yang Dr. Satya temukan buku yang menjelaskan semua langkah Ritual Purnama Terbalik," jawab Rara. "Tanpa buku itu, dia tidak bisa menyelesaikannya. Tapi aku tahu cara menggunakannya, dengan mengucapkan mantra penahan yang ada di anting kemukus milik Ratu Sailendra. Aku bawa itu juga."

Ia mengeluarkan kantong kecil dari saku celananya, menunjukkan anting perak tua yang ada di dalamnya. Husein melihatnya, tapi tidak berani menyentuh. Setelah apa yang dia lihat dari giok, dia tahu benda-benda ini bukan sembarang benda.

Husein berdiri dari kursinya, mengambil tas bukti yang berisi giok. Jam sudah menunjukkan pukul dua belas tengah malam. Malam itu semakin larut, dan waktu semakin sedikit.

"Baik," kata dia dengan suara yang tegas. "Kita bertemu besok pagi pukul delapan di warung makan di jalan raya Ciawi. Aku akan menyewa kendaraan off-road. Jangan sampai terlambat, dan jangan bawa orang lain."

Rara mengangguk. "Aku tidak akan mengganggumu, Detektif. Tapi ingat—jika kita gagal, tidak hanya kita yang akan hilang. Semua dunia akan ikut hancur."

Husein membuka pintu ruang interogasi dan mengizinkan Rara keluar. Saat dia melihat sosok Rara yang kecil melangkah ke koridor yang gelap, dia merasakan campuran harapan dan ketakutan. Ini adalah langkah terbesar yang dia ambil dalam karirnya, bahkan dalam hidupnya.

Dia kembali ke mejanya, mengambil mug kopi yang sudah dingin sekali, dan meminumnya sampai habis. Di luar jendela, langit mulai memerah, pagi sudah akan tiba. Tapi malam itu, perburuan yang melanggar hukum alam, hukum kepolisian, dan hukum fisika, baru saja dimulai.

Husein tidak bisa tidur sama sekali malam itu. Ia duduk di ruang tamu apartemennya, menatap giok yang ada di tas bukti. Cahaya keemasannya masih memancar lembut, seolah menyala sendirinya. Dia memikirkan semua yang Rara katakan, semua yang dia lihat, semua yang tidak bisa dia jelaskan dengan logika.

"Siapa yang bodoh sekarang?" gumamnya sendiri, tersenyum dengan cara yang sedih.

Tetapi di dalam hatinya, dia tahu dia melakukan yang benar. Bahkan jika dunia itu tidak akan pernah percaya pada apa yang terjadi, dia harus berusaha. Karena itu adalah tugasnya sebagai detektif—melindungi orang-orang, bahkan dari bahaya yang tidak terlihat.

Matahari mulai muncul di ufuk timur, menyinari Jakarta yang sibuk. Husein berdiri, mengambil jasnya, dan menuju pintu. Hari pertama dari dua hari yang akan menentukan nasib semua orang sudah mulai.

Lanjut membaca
Lanjut membaca