Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Wisteria

Wisteria

Kuna-chan | Bersambung
Jumlah kata
62.1K
Popular
100
Subscribe
16
Novel / Wisteria
Wisteria

Wisteria

Kuna-chan| Bersambung
Jumlah Kata
62.1K
Popular
100
Subscribe
16
Sinopsis
18+PerkotaanAksiUrbanKriminalMafia
Seorang polisi muda yang memutuskan untuk pensiun dini setelah kehilangan sahabatnya dalam perang melawan kartel narkoba terbesar di negerinya. Tetapi keputusannya untuk menjalani hidup dengan tenang berantakan ketika ayahnya yang merupakan seorang kepala polisi memaksanya menikah dengan seorang gadis yang tak dikenalnya. Dia terjebak dalam pernikahan tanpa cinta. Namun, seiring berjalannya waktu, perlahan istrinya mulai mencuri hatinya. Tapi, istrinya menyimpan rahasia besar ....
Bab 1

Asap dari cerutu mahal memenuhi ruangan yang pengap itu. Di balik meja jati yang besar, seorang pria dengan seragam lengkap berpangkat Komisaris Besar duduk dengan dagu bertumpu pada kedua tangannya.

Matanya setajam elang, menatap satu per satu personel yang berdiri kaku di hadapannya.

"Brigadir Anggara Septian. Maju."

Suara berat itu memecah kesunyian, Anggara melangkah satu langkah ke depan.

"Siap, Komandan!" jawab Anggara dengan tegas.

Pria tua yang memberi perintah itu adalah ayah Anggara sendiri, pria itu mengembuskan asap terakhirnya ke udara. Ia berdiri, lalu berjalan memutari meja hingga ia berada tepat di depan putranya.

"Kau tahu kenapa aku menunjukmu untuk memimpin unit ini?" tanyanya dengan suara rendah yang mengintimidasi.

"Karena saya memiliki catatan lapangan terbaik di divisi reserse bulan ini, Komandan," jawab Anggara tanpa ragu.

Sang ayah tertawa kecil, suara yang kering dan tidak mengandung rasa humor.

"Itu alasan formalnya. Tapi alasan sebenarnya? Karena aku ingin memastikan bahwa darah dagingku sendiri yang mengakhiri kutukan bernama Bayang Sagara ini.”

Darius, yang berdiri di samping Anggara tampak menelan ludah. Ia melirik ke arah sahabatnya dengan tatapan khawatir.

"Izin bicara, Komandan," sela Darius dengan sedikit keberanian yang dipaksakan.

“Hmm, bicaralah.”

"Tim Intel menyebutkan kalau gedung itu dipenuhi jebakan. Bukankah lebih baik kita menunggu unit taktis tambahan?"

Sang Kepala Polisi mengalihkan tatapan tajamnya pada Darius, membuat polisi muda itu sedikit menciut.

"Darius, ‘kan? Aku tahu kau adalah sahabat Anggara sejak di akademi."

“Benar, Komandan.”

"Kau tahu apa yang terjadi kalau kita menunggu lebih lama lagi? Tikus-tikus itu akan mengendus keberadaan kita. Intelijen kita punya kebocoran di sana-sini. Jika kita tidak bergerak malam ini juga, Bayang Sagara akan menghilang ke lubang persembunyian yang lebih dalam.

“...”

Apa kau mau bertanggung jawab atas kegagalan itu?" Ayah Anggara berjalan mendekat, lalu menepuk pundak Darius dengan kekuatan yang lebih mirip sebuah ancaman.

"T-tentu tidak, Komandan."

Ayah Anggara kembali menatap putranya. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Anggara, berbisik cukup keras agar didengar oleh personel lain di ruangan itu.

"Ingat ini, Anggara. Di lapangan nanti, kau bukan anakku. Kau adalah ujung tombak hukum. Jangan biarkan emosimu atau 'persahabatan' konyolmu menghalangi misi. Jika ada yang menghambat, kau tahu apa yang harus dilakukan."

Anggara mengepalkan tangannya di samping paha, kuku-kukunya memutih karena tekanan.

"Saya mengerti. Aku akan membawa mereka hidup-hidup jika memungkinkan."

"Jangan hanya 'mungkin'. Bawa kepalanya padaku, atau bawa bukti bahwa kerajaan mereka sudah runtuh," sahut ayahnya dingin. Ia kemudian berbalik memunggungi mereka, menatap jendela yang menampilkan kerlap-kerlip lampu kota yang akan segera menjadi medan perang.

"Bubar! Berangkat sekarang. Semoga keselamatan menyertai kalian."

Anggara memberi hormat dengan gerakan patah-patah, diikuti oleh timnya. Saat mereka keluar dari ruangan dan menyusuri lorong panjang yang remang menuju parkiran, Darius menyenggol bahu Anggara.

"Hei, Anggara. Ayahmu itu ... benar-benar bukan manusia, ya? Rasanya aku seperti baru saja berbicara dengan penguasa neraka," bisik Darius sambil berusaha mengatur napasnya yang tadi tertahan.

Anggara menghentikan langkahnya sejenak, menatap pintu lift yang tertutup.

"Dia bukan sekadar ayah, Darius. Dia adalah hukum di kota ini. Dia punya masa lalu yang menyakitkan, dan aku juga menyaksikan masa lalu yang menyakitkan itu."

Darius memilih untuk tak melanjutkannya, ia tahu ini berat dan ia juga sebenarnya tahu ‘masa lalu’ itu karena Anggara sudah pernah menceritakannya padanya. Karena hal itulah yang membuat Anggara terjun menjadi polisi.

"Ayo. Jangan dipikirkan. Bukankah kau bilang ingin merayakan kemenangan dengan pesta besar sebelumnya?" ujar Anggara tiba-tiba.

"Tentu! Nasi goreng gila di depan markas setelah ini. Aku yang traktir!" Darius tertawa, mencoba mencairkan suasana.

"Simpan uangmu untuk pernikahanmu nanti, Bodoh. Kau bilang akan menikah minggu depan, ‘kan?" balas Anggara.

***

Gedung tua di ujung jalanan yang sepi itu berdiri dalam bayangan pekat, bangunan itu juga dikelilingi dengan bangunan-bangunan kosong lain yang tak lagi berfungsi sebagai mana semestinya.

Gedung itu menurut informasi yang didapat dari penyelidikan selama berbulan-bulan oleh divisi intel kepolisian, adalah sebuah markas persembunyian salah satu kartel narkoba terbesar yang dikenal dengan nama Bayang Sagara.

Sebuah nama yang menjadi momok di dunia kriminal dan penegak hukum di negeri ini.

Dari sudut yang gelap dan siapa pun tak akan menggunakan sudut gedung itu untuk berjalan, satu peleton polisi dari reserse narkoba telah bersiap dengan berbagai perlengkapan mereka masing-masing.

Mereka mengenakan rompi anti peluru, helm taktis untuk melindungi kepala, dan memegang senapan laras panjang yang sudah terisi penuh dengan peluru.

Anggara sudah berdiri di depan timnya yang sudah siap siaga sambil menatap tajam gedung yang tampak sunyi di hadapan mereka.

Wajahnya terlihat sedikit tegang, bukan karena ini adalah tugas pertamanya, melainkan ia tegang karena akan melawan kelompok kartel yang paling ditakuti di negeri.

“Baik, dengar semuanya! Target kita malam ini adalah melumpuhkan operasi Bayang Sagara yang telah merusak penerus bangsa ini. Tim intel kita mengatakan bahwa ini adalah tempat penyimpanan sekaligus tempat pertemuan mereka. Jadi, kemungkinan besar kita tidak hanya berhadapan dengan anggota biasa mereka, tetapi juga orang-orang penting dari kelompok itu.”

Suara Anggara terdengar tegas di sana, membuat para anggota polisi lainnya yang ada di bawah komandonya bersiap siaga.

Darius berjalan ke sampingnya. Darius merupakan sahabat sekaligus rekan kerja dari Anggara yang memang mereka berteman sejak pertama kali menginjakkan kaki di sekolah kepolisian.

“Tenang saja, kau tampak tegang dan terlihat seperti bukan dirimu yang sesungguhnya, Anggara. Aku memiliki firasat yang bagus untuk malam ini, di mana aku membayangkan kalau kita akan berpesta untuk merayakan kemenangan kita.”

Anggara hanya menatapnya saja, ia sebenarnya tahu apa yang dimaksud dari sahabatnya itu. Darius hanya ingin membuatnya merasa santai dan meringankan suasana yang tegang ini, tapi entah mengapa firasatnya merasa tidak enak untuk malam ini.

Meskipun Darius sendiri tahu kalau malam ini merupakan tugas yang berat dan memiliki risiko yang besar.

“Tim Satu, kalian masuk dari pintu utama gedung itu. Tim Dua, kalian harus masuk dari sisi timur. Ingat dan camkan ini, usahakan kalian menangkap mereka hidup-hidup dan jangan bertindak ceroboh karena kita juga akan menunggu bala bantuan yang mungkin akan terlambat,” lanjut Anggara, sebelum mengakhiri pengarahannya.

Semua anggota tim mengangguk serentak dan tidak ada kata-kata lain yang terucap. Mereka sangat tahu betul apa yang mereka pertaruhkan untuk tugas kali ini, satu kesalahan fatal saja bisa membuat nyawa mereka berada di ujung tanduk.

Lanjut membaca
Lanjut membaca