Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Rumah Ini Menghafalku

Rumah Ini Menghafalku

greenyhijau | Bersambung
Jumlah kata
36.1K
Popular
100
Subscribe
13
Novel / Rumah Ini Menghafalku
Rumah Ini Menghafalku

Rumah Ini Menghafalku

greenyhijau| Bersambung
Jumlah Kata
36.1K
Popular
100
Subscribe
13
Sinopsis
HorrorHorrorMisteriThriller
Arga percaya segala sesuatu bisa disimpan dengan rapi. Jika tidak diperlukan, ia tinggal memindahkannya ke tempat yang tidak pernah dibuka lagi. Rumah baru ini menghafal kebiasaan Arga, membuatnya merasa nyaman tinggal di sana. Namun, lambat laun Arga merasa hidupnya diatur oleh rumah tersebut. Apakah rumah itu yang berkuasa atau ada hal lain yang berada di belakangnya?
Rumah Ini Menghafalku

Arga Wicaksono tiba menjelang sore, ketika cahaya matahari sudah condong dan tidak lagi terang. Jalan menuju rumah itu sempit, diapit pepohonan yang tumbuh terlalu rapat, seolah sengaja menutup pandangan. Ia mematikan mesin mobil lebih cepat dari yang seharusnya, bukan karena terburu-buru, melainkan karena tidak ingin mendengar suara apa pun lebih lama dari perlu.

Rumah itu berdiri sedikit menjauh dari jalan, tidak terlalu besar, tapi juga tidak kecil. Dindingnya kusam, warnanya pernah putih, sekarang lebih mirip abu-abu yang lupa kapan terakhir disentuh cat. Jendelanya tertutup tirai tipis yang sudah menguning. Tidak ada pagar. Tidak ada tanda kehidupan yang mencolok.

Arga memandangnya sebentar. Tidak lama. Ia tidak pernah percaya pada kesan pertama.

Ia mengambil koper dari bagasi, menutup mobil, lalu berjalan ke pintu depan. Kunci yang diberikan oleh agen properti berputar tanpa perlawanan. Pintu terbuka dengan bunyi pelan, bukan decit, lebih seperti helaan napas pendek.

Udara di dalam rumah terasa dingin, meski tidak lembap. Bau kayu tua bercampur debu, tapi tidak menyengat. Arga berdiri di ambang pintu beberapa detik, bukan karena ragu, melainkan karena kebiasaan. Ia selalu berhenti sejenak di tempat baru, memastikan tidak ada yang perlu diantisipasi.

Ia melangkah masuk dan menutup pintu di belakangnya.

Ruang tengah langsung menyambut dengan kesunyian yang utuh. Tidak kosong, tapi tidak juga ramai oleh gema. Seolah rumah ini tahu bagaimana caranya menyerap suara. Lantai kayu tidak berderit di bawah langkahnya. Itu sedikit mengejutkan, tapi Arga tidak mempermasalahkannya.

Ia meletakkan koper di dekat dinding dan mulai menyalakan lampu satu per satu. Saklarnya bekerja dengan baik. Cahaya kuning menyebar, lembut, tidak menyilaukan. Ruangan itu berisi sofa lama, meja rendah, dan rak kosong di sudut. Tidak ada foto, tidak ada jam dinding.

Bagus, pikir Arga. Netral selalu lebih mudah diatur.

Ia berjalan menyusuri rumah tanpa tergesa. Dapur kecil dengan peralatan standar. Kamar mandi bersih, terlalu bersih untuk rumah yang lama tidak dihuni. Dua kamar tidur di lantai atas: satu besar, satu lebih sempit. Ia langsung tahu kamar mana yang akan dipilihnya, meski tidak tahu alasannya. Kamar kecil itu terasa lebih tepat.

Lorong lantai atas agak lebih gelap, meski lampunya menyala. Ada satu pintu di ujung yang tertutup. Arga berhenti di depannya. Tangannya terangkat, hampir menyentuh gagang pintu, lalu turun kembali.

Nanti, katanya dalam hati. Tidak ada urgensi.

Ia berbalik dan masuk ke kamar pilihannya. Kamar itu kosong, hanya ada ranjang tanpa kasur dan lemari tua yang pintunya sedikit miring. Jendela menghadap ke sisi rumah yang ditumbuhi semak. Cahaya sore masuk dengan sudut yang aneh, membuat bayangan panjang di lantai.

Arga membuka koper dan mengeluarkan barang-barangnya dengan rapi. Pakaian dilipat, buku disusun, dokumen tetap berada di dalam map cokelat yang diikat tali. Ia tidak langsung menaruh map itu ke lemari. Diletakkannya di atas meja kecil dekat ranjang, seperti sesuatu yang perlu tetap dalam jangkauan, meski tidak akan disentuh.

Ia turun kembali ke bawah setelah semua barang dasar tertata. Di dapur, ia membuka tutup botol air mineral dan meminumnya perlahan.

Arga duduk di sofa, menatap ruangan tanpa tujuan jelas. Kesunyian rumah ini berbeda dari rumahnya dulu. Di sana, sunyi selalu terasa seperti jeda sementara, sesuatu yang bisa pecah kapan saja oleh suara dari luar. Di sini, sunyi terasa menetap. Seperti sudah ada sebelum ia datang.

Ia tidak keberatan.

Justru itulah yang ia cari.

Beberapa menit berlalu. Atau mungkin lebih. Arga tidak mengecek jam. Ia belum memasang jam di rumah ini, dan ponselnya sengaja diletakkan di dalam tas, dalam mode senyap.

Ketika ia akhirnya berdiri untuk membuka jendela, ia berhenti lagi. Tirai bergerak sedikit, padahal tidak ada angin. Arga menunggu. Tirai itu diam kembali.

Mungkin hanya kain yang belum tergantung sempurna, pikirnya.

Ia membuka jendela. Udara luar masuk, membawa aroma tanah dan daun kering. Tidak ada suara kendaraan. Tidak ada suara manusia. Hanya serangga yang entah dari mana mulai bernyanyi pelan.

Arga menutup jendela dan menarik tirai. Ia merasa cukup.

Menjelang malam, ia memesan makanan online dari rumah makan terdekat. Kurir datang lebih cepat dari perkiraannya. Seorang pria muda, jaketnya sedikit kebesaran, wajahnya tampak lelah tapi sopan. Mereka bertukar salam singkat.

Saat Arga menerima kantong makanan, kurir itu tidak langsung pergi. Pandangannya melayang sebentar ke dalam rumah, melewati bahu Arga, seolah mencoba memastikan sesuatu.

“Rumahnya sepi, Pak?” tanyanya akhirnya, tanpa nada bercanda.

Arga mengangguk. “Iya.”

Kurir itu tersenyum kecil, canggung. “Jarang ada yang tinggal di sini sendirian.”

“Sekarang ada,” jawab Arga singkat.

Kurir itu mengangguk pelan, seakan menerima jawaban itu tanpa benar-benar puas. Ia menggeser berat badannya dari satu kaki ke kaki lain.

“Bapaknya baru pindah?” tanyanya lagi.

“Baru hari ini.”

“Oh.” Kurir itu melirik ke arah jendela ruang depan yang tirainya tertutup. “Biasanya kalau rumah lama gini... terkesan suram ya.”

Arga tidak menanggapi. Ia hanya mengeluarkan ponsel, memastikan pesanan sudah selesai. Hening menggantung beberapa detik.

Kurir itu berdehem. “Ya… kalau gitu, saya permisi.”

“Terima kasih.”

Kurir itu mengangguk sekali lagi, lalu berbalik pergi. Beberapa langkah dari pintu, ia sempat menoleh.

Arga menutup pintu dan mengunci. Bunyi kuncinya terdengar lebih keras dari yang ia inginkan. Ia berdiri sebentar setelah itu, tangannya masih di gagang pintu.

Ia tidak tahu kenapa.

Malam turun sepenuhnya. Arga makan di meja dapur, tanpa menyalakan lampu ruang tengah. Ia menyukai batas cahaya yang jelas. Setelah selesai, ia membersihkan semuanya langsung.

Di lantai atas, ia kembali melewati lorong. Pintu di ujung masih tertutup. Kali ini, ia tidak berhenti lama. Ia masuk ke kamarnya dan menutup pintu.

Arga menggelar kasur lipat di lantai, tepat di samping ranjang yang belum dipasangi kasur. Ranjang itu dibiarkannya kosong, seperti sesuatu yang belum siap ia gunakan. Ia merapikan selimut sekali lagi, memastikan sudut-sudutnya sejajar, lalu berbaring perlahan.

Langit-langit kamar tampak lebih gelap dari yang seharusnya, meski lampu menyala penuh. Cahaya itu seakan berhenti di udara, tidak benar-benar mencapai sudut-sudut ruangan. Arga memejamkan mata, membiarkan napasnya turun satu tingkat demi satu.

Ia tidak langsung tidur.

Tubuhnya lelah, tapi pikirannya tetap terjaga, bukan oleh kecemasan, melainkan oleh sesuatu yang lebih sulit diberi nama. Sebuah rasa akrab yang tidak diundang. Seperti memasuki ruangan yang sudah lama ia kenal, namun tidak bisa mengingat kapan pertama kali ia berdiri di sana.

Ia membuka mata lagi.

Kamar itu tetap sama. Lemari tua di sudut, bayangan jendela di lantai, koper yang tertutup rapi di dekat dinding. Tidak ada yang bergeser. Tidak ada tanda-tanda kehadiran lain. Semua berada di tempat yang masuk akal.

Namun perasaan itu tidak pergi.

Arga menghela napas pendek dan menatap langit-langit sekali lagi. “Rumah ini baik-baik saja,” gumamnya pelan. Kalimat itu terdengar seperti catatan inventaris, bukan keyakinan. Sesuatu yang diucapkan agar tercatat, bukan agar dipercaya.

Ia mendengarkan.

Dari balik pintu kamar, terdengar bunyi pelan dari lantai kayu. Satu tekanan ringan, seolah seseorang menggeser berat badannya. Lalu sunyi kembali. Arga menunggu, tidak bergerak, menghitung napasnya sendiri. Tidak ada bunyi lanjutan.

Mungkin hanya kayu tua yang memuai, pikirnya. Rumah lama selalu begitu.

Ia tidak bangun untuk memeriksa. Tidak ada alasan yang cukup kuat untuk itu.

Ia memejamkan mata kembali, kali ini lebih lama. Gelap di balik kelopak matanya terasa lebih rapi daripada cahaya di kamar. Napasnya mulai melambat, pikirannya mengendur, seolah sesuatu di dalam dirinya akhirnya setuju untuk diam.

Dan untuk pertama kalinya sejak lama, tepat sebelum tidur benar-benar mengambil alih, tidak ada ingatan yang mengetuk. Tidak ada wajah. Tidak ada peristiwa yang meminta diingat kembali.

Hanya kesunyian dan untuk sesaat, itu terasa seperti izin.

Lanjut membaca
Lanjut membaca