

Di pinggiran hutan yang luas dan misterius, ada sebuah desa kecil bernama Desa Sari yang tenang dan damai. Di desa itu, tinggal seorang pemuda berusia lima belas tahun bernama Rian. Dia tinggal sendirian di rumah sederhana yang ditinggalkan oleh orang tuanya, yang meninggalkannya ketika dia masih bayi. Hanya seorang kakek tua bernama Sastro yang pernah memberitahu dia bahwa orang tuanya adalah orang baik yang telah melakukan pengorbanan untuk melindunginya.
Setiap pagi, Rian akan pergi ke ladang untuk bekerja sebagai buruh tani, membantu warga desa menyiram tanaman dan memetik hasil panen. Malam hari, dia akan duduk di teras rumahnya, melihat bintang-bintang yang terang di langit dan memikirkan orang tuanya. Dia selalu bertanya-tanya siapa mereka, mengapa mereka pergi, dan apakah mereka pernah memikirkan dia.
Satu pagi, ketika Rian sedang bekerja di ladang, dia mendengar bunyi rengek yang menyedihkan dari arah hutan. Bunyi itu terdengar seperti dari seekor hewan yang terluka. Tanpa berpikir dua kali, dia meninggalkan pekerjaannya dan berlari ke arah hutan. Dia tahu bahwa hutan itu penuh bahaya—banyak orang desa mengatakan bahwa di dalamnya ada makhluk ganas dan kekuatan misterius yang tidak boleh diganggu. Tapi dia tidak bisa melihat hewan yang terluka tanpa mencoba membantu.
Setelah berjalan selama beberapa menit di dalam hutan, dia menemukan seekor kambing hutan yang terbaring di atas daun kering. Kambing itu memiliki luka yang dalam di punggungnya, kemungkinan karena terkena serangan harimau. Ia napasnya pendek dan cepat, matanya penuh takut. Ketika melihat Rian, ia mencoba berdiri tetapi gagal, mengeluarkan bunyi rengek yang lebih kuat.
Rian mendekati dengan hati-hati, tidak ingin membuat kambing itu semakin takut. Ia memegang tangannya dengan lembut, dan tiba-tiba merasa sesuatu yang aneh—seperti energi yang lembut mengalir dari tangannya ke tubuh kambing itu. Ia tidak tahu apa itu, tapi ia merasa bahwa ia bisa membantu kambing itu.
Ia pergi ke sekitarnya untuk mencari tanaman yang bisa menyembuhkan luka. Dia ingat bahwa Kakek Sastro pernah menunjukkan dia tanaman ciptra jawi yang bisa menghentikan pendarahan dan menyembuhkan luka. Ia menemukan beberapa batang tanaman itu, memetik daunnya, dan menggilingnya dengan tangan. Kemudian, ia mengoleskan bubuk daun itu ke luka kambing itu.
Sesaat setelah itu, luka kambing itu mulai berkurang pembengkakan. Napasnya menjadi lebih teratur, dan matanya tidak lagi penuh takut. Rian merasa senang—ia tidak menyangka bahwa dia bisa menyembuhkan hewan yang terluka dengan begitu mudah.
“Kamu memiliki kemampuan yang istimewa, anakku.”
Suara itu membuat Rian terkejut. Dia melihat ke belakang dan menemukan Kakek Sastro berdiri di sana, tersenyum lemah. Kakek Sastro adalah penyembuh tua yang terkenal di desa, orang yang selalu membantu warga yang sakit tanpa meminta imbalan.
“Kakek? Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Rian.
“aku melihatmu pergi ke hutan dan mengikutimu,” jawab Kakek Sastro. “Aku ingin melihat apa yang kamu lakukan. Dan aku tidak salah—kemampuanmu untuk menyembuhkan adalah hadiah dari leluhur.”
Rian bingung. “Hadiah dari leluhur? Apa artinya, Kakek?”
Kakek Sastro duduk di samping Rian, menunjuk ke kambing hutan yang mulai bisa berdiri. “Kamu tidak tahu siapa orang tuamu, bukan? Aku akan memberitahu mu segalanya—sekarang waktunya telah tiba.”
Dia mulai menceritakan. “Orang tuamu bernama Dewi dan Budi. Dewi adalah pewaris keluarga Wijaya—keluarga yang telah melindungi hutan ini selama ratusan tahun. Keluarga Wijaya memiliki kemampuan khusus untuk menyembuhkan, menggunakan obat dari alam dan kekuatan jiwa. Mereka juga memiliki batu giok yang berharga—batu yang memberinya kekuatan spiritual tambahan.”
“Tetapi ada kelompok jahat yang disebut Kelompok Kegelapan,” lanjut Kakek Sastro dengan suara yang menjadi serius. “Mereka ingin mendapatkan batu giok dan kemampuan penyembuhan keluarga Wijaya untuk memanfaatkan kekuatannya. Mereka ingin menguasai hutan ini dan semua yang ada di dalamnya.”
“Ketika Dewi mengandungmu, Kelompok Kegelapan menemukan keberadaannya,” katanya. “Mereka menyerang rumahmu, mencoba mencuri batu giok. Ayahmu, Budi, berjuang melawan mereka untuk melindungimu dan ibumu, tetapi dia terbunuh. Ibumu, Dewi, menggunakan kekuatan batu giok untuk mengalahkan sebagian dari mereka, tetapi dia terluka parah.”
“Sebelum dia pergi, dia membawa mu ke rumahku dan meminta aku untuk menjagamu,” lanjut Kakek Sastro, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. “Dia mengatakan bahwa kamu adalah pewaris keluarga Wijaya, dan bahwa kamu akan membawa harapan untuk melindungi hutan ini. Dia memberikan aku batu giok, mengatakan bahwa aku harus memberikannya padamu ketika kamu cukup besar.”
Kakek Sastro menarik sebuah bungkus kain dari saku bajunya. Dia membukanya, dan di dalamnya ada sebuah batu giok yang berwarna hijau muda, yang berkilau meskipun tidak ada cahaya matahari yang menyinari. “Ini adalah batu giok keluarga Wijaya,” katanya, memberikannya padamu. “Gunakan kekuatannya dengan bijak—hanya untuk kebaikan.”
Rian menerima batu giok dengan tangan yang gemetar. Ketika dia menyentuhnya, ia merasa energi yang kuat mengalir dari batu itu ke seluruh tubuhnya. Ia merasakan hubungan yang erat dengan hutan dan semua makhluk di dalamnya, seolah-olah dia telah mengenal mereka selama lamanya.
“Tetapi Kelompok Kegelapan masih ada, Kakek,” tanya Rian dengan suara penuh takut. “Apa yang akan mereka lakukan jika mereka menemukan aku?”
“Mereka akan mencari mu,” jawab Kakek Sastro. “Itu sebabnya kamu harus belajar menguasai kemampuanmu. Mulai hari ini, aku akan mengajarkan mu semua yang aku tahu—ilmu pengobatan alami, teknik bertahan hidup di hutan, dan kekuatan spiritual dari batu giok. Kamu harus menjadi kuat, karena kamu adalah satu-satunya yang bisa melindungi hutan ini dan warga desa.”
Rian mengangguk, matanya penuh tekad. Ia tahu bahwa hidupnya akan berubah sepenuhnya dari hari ini. Ia tidak lagi hanya pemuda yang bekerja di ladang—ia adalah pewaris keluarga Wijaya, yang memiliki tugas besar untuk melindungi yang ia cintai.
Mereka berjalan kembali ke desa bersama-sama, dengan kambing hutan yang sudah mulai sembuh mengikuti mereka dari belakang. Warga desa terkejut melihat Rian dengan Kakek Sastro dan kambing hutan. Mereka tahu bahwa Kakek Sastro jarang mengajarkan orang lain ilmu penyembuhannya, dan ini adalah tanda bahwa Rian adalah orang yang istimewa.
Malam itu, Rian duduk di teras rumahnya, memegang batu giok di tangan. Ia melihat ke arah hutan yang gelap, merasakan kehadiran ibunya dan ayahnya. Ia tahu bahwa perjalanan yang akan datang tidak akan mudah, tapi ia siap. Dengan bimbingan Kakek Sastro dan kekuatan dari batu giok, ia akan melakukan segalanya untuk melindungi hutan ini dan menjadikan orang tuanya bangga.
Di dalam hutan yang jauh, di tempat yang gelap dan sunyi, seorang pria muda bernama Irvan sedang berdiri di depan sekelompok orang yang berpakaian hitam. Irvan adalah pemimpin Kelompok Kegelapan, cucu Mahesa Kera yang pernah berperang dengan ibunya Rian.
“Kita telah menemukan tanda-tanda pewaris keluarga Wijaya,” kata Irvan dengan suara yang kejam. “Dia tinggal di Desa Sari, bersama dengan penyembuh tua itu. Segera kita akan pergi ke sana, mengambil batu giok, dan membunuhnya. Hutan ini akan menjadi milik kita!”
Sekelompok orang itu bersorak setuju, matanya penuh keinginan kekuasaan. Di dalam hutan yang misterius, perang antara kebaikan dan kegelapan akan segera dimulai. Dan Rian, pemuda yang baru saja mengetahui identitasnya, akan menjadi pusat dari semua itu—karena hutan ini tidak hanya akan menguji dia, tapi juga akan menjadikannya raja yang sebenarnya.