

"Bangun, sampah! Jangan pura-pura mati di sini!"
Dunia seolah berputar. Kepala Satria Wira Yudha serasa dihantam godam, menyisakan denyut menyiksa di pelipisnya.
Di tengah pandangannya yang kabur, sebuah lengkingan familiar menusuk kesadarannya, suara yang menjadi mimpi buruk setahun terakhir.
Bugh!
Tendangan keras menghantam bahu Satria, menyeret raga kurusnya di atas lantai berdebu. Dia tersedak, matanya terbuka paksa menahan perih yang menembus hingga ke ulu hati.
Di depannya, Ratna, sang ibu mertua, berdiri dengan bibir merah yang bergetar penuh emosi.
Di sampingnya, Danu, sang juragan tanah yang mengenakan kemeja bermerek, duduk sembari memamerkan jam tangan emasnya yang berkilat sombong.
Satria mencoba bangkit meski tangannya gemetar hebat. Memori asing merasuk cepat, menghantam kesadarannya, dia bukan lagi Sang Panglima Agung.
Jiwanya kini terjebak dalam raga Satria, menantu beban yang impoten akibat kecelakaan setahun lalu.
Di rumah ini, dia tak lebih dari keset kaki, anjing yang dipelihara hanya untuk dihinakan.
"Lihat wajah bodoh itu!" Danu mencemooh sambil mengembuskan asap rokok tepat ke wajah Satria, membuat Satria terbatuk.
"Bibi Ratna, kamu yakin dia masih mengerti bahasa manusia? Kurasa dia lebih rendah dari kerbau di sawahku. Kerbauku setidaknya masih jantan dan bisa memuaskan betinanya. Tidak seperti dia yang layu bahkan sebelum bertarung. Pria tanpa kejantanan itu cuma limbah yang mengotori oksigen!"
Ratna tertawa sinis, suaranya parau bak gesekan amplas. "Benar, Juragan. Dia ini cuma benalu. Makan gratis, tidur gratis, tapi nafkah batin pun tak mampu. Apa gunanya punya suami kalau cuma jadi pajangan rusak di ranjang? Dasar pria cacat tak tahu malu!"
Ratna menyambar selembar kertas dari meja dan melemparkannya tepat ke wajah Satria. Surat gugatan cerai itu mendarat di pangkuannya yang kurus.
"Tanda tangani sekarang! Jangan biarkan putriku, Dewi Jasmine, menderita mengurus mayat hidup sepertimu. Kamu pikir kecantikannya layak disia-siakan untuk pria impoten yang bahkan tak bisa berdiri tegak sebagai laki-laki? Sadar diri!" bentak Ratna.
Pintu kamar terbuka, menampakkan Dewi Jasmine. Kecantikannya yang luar biasa kontras dengan tatapan matanya yang kosong sedingin es.
Dia menatap Satria tanpa cinta, kemarahan, atau benci, hanya kehampaan seorang wanita yang telah menyerah total pada suaminya.
"Dewi, kemari!" panggil Ratna. "Lihat pecundang ini! Cepat paksa dia tanda tangan supaya kamu bisa menikah dengan Juragan Danu yang jauh lebih jantan dan sanggup memuaskanmu."
Dewi berjalan mendekat dengan langkah kaku. Dia berdiri di depan Satria tanpa ekspresi sedikit pun.
"Tanda tangani saja, Satria," ucapnya datar. "Aku sudah lelah dicemooh orang karena punya suami impoten dan penyakitan. Aku ingin hidup normal sebagai wanita seutuhnya."
Penghinaan itu menusuk lebih tajam dari panah beracun. Bukan karena kekasaran kata-katanya, melainkan karena ketidakpedulian Dewi yang begitu nyata. Dua tahun pernikahan ternyata tak menyisakan setetes pun cinta.
Jika Satria yang lama akan menangis, Satria yang sekarang, Sang Dewa Medis, justru merasakan amarah dingin membakar nadinya.
Energi murni mulai berputar tipis di titik pusat energi bawah perutnya yang rusak. Baginya, memulihkan tubuh ini hanyalah soal waktu.
"Dengar itu? Istrimu sendiri jijik padamu," ejek Danu arogan. Dia melangkah maju, lalu lancang mendaratkan tangannya di pinggang Dewi.
"Serahkan dia padaku. Aku punya segalanya, uang, kekuasaan, dan kejantanan yang takkan pernah dimiliki pecundang sepertimu."
Satria mengangkat kepala perlahan. Matanya yang sayu berubah tajam berkilat bak elang. Hawa dingin mematikan mendadak memenuhi ruangan, mencekam hingga ke tulang.
"Lepaskan tangan kotormu dari istriku!" geram Satria. Suaranya rendah, namun berat dengan ancaman nyata.
Semua orang tertegun. Mereka tidak pernah mendengar Satria bicara dengan otoritas seperti itu, pria yang biasanya hanya menunduk gemetar memohon maaf.
"Apa?" Danu tertawa terbahak, menutupi kegugupannya. "Kamu memerintahku? Kamu pikir kamu siapa? Kamu cuma sampah cacat yang beruntung masih bisa bernapas!"
Satria berdiri perlahan. Meski bertubuh kurus, auranya mendominasi bak kaisar yang bangkit. Dia merampas surat cerai itu, meremas, lalu merobeknya hingga menjadi serpihan halus.
"Aku tidak akan pernah bercerai!" tegas Satria mutlak.
"Kurang ajar!" teriak Ratna sembari melayangkan tamparan keras. "Menantu tidak tahu diri! Berani kamu membangkang?"
Namun, tangan itu tak pernah sampai. Satria menangkap pergelangan tangan mertuanya dan menekan satu titik saraf vital di nadinya.
"AAAKKKH! Sakit! Panas!" Ratna menjerit histeris. Tangannya mendadak mati rasa, diserang sensasi terbakar ribuan semut api yang menembus sumsum tulang.
"Ibu, hormati lidahmu jika masih ingin bicara besok pagi," desis Satria dingin. "Tekanan darahmu sedang memuncak. Satu teriakan lagi, sarafmu pecah dan kamu akan lumpuh permanen."
Satria menghempaskan tangan Ratna hingga wanita itu terhuyung. Danu yang naik pitam langsung menerjang. "Berani kamu menyentuh Bibi Ratna? Cari mati!"
Danu melayangkan tinju, namun di mata Satria, gerakan itu selambat siput. Satria menghindar santai, lalu dengan kecepatan kilat menghantamkan telapak tangannya ke ulu hati Danu.
Dugh!
Danu terlempar menabrak lemari kaca. Dia meringkuk memegangi dada, paru-parunya seolah terkunci dan napasnya tersumbat total. Wajah sombong itu mendadak berubah pucat kebiruan.
"Danu!" Satria melangkah mantap mendekat. "Pria sejati takkan bernapas busuk akibat kerusakan ginjal tahap lanjut yang kamu sembunyikan. Kamu selalu terbangun jam dua pagi karena nyeri hebat di selangkangan, bukan? Itu tandanya kejantanan yang kamu banggakan sedang sekarat. Tanpa bantuanku, sebulan lagi kamu akan jadi kasim sejati."
Danu terbelalak horor. Bagaimana mungkin pria sampah ini tahu rahasia yang bahkan sulit didiagnosa dokter spesialis.
Di sudut ruangan, Dewi mengernyit, dia merasakan wibawa luar biasa terpancar dari sosok Satria yang sekarang.
"Satria, apa yang sebenarnya kamu lakukan?" tanya Dewi. Suaranya datar, namun terselip getaran bingung.
"Dewi, kamu bilang kamu lelah? Maka bersiaplah!" Satria menatapnya tajam menembus jiwa. "Mulai detik ini, aku tidak akan membiarkanmu pergi. Kamu akan menjadi saksi bagaimana aku menyeret mereka yang menghinaku ke bawah kakiku."
"Kamu sudah gila!" bentak Dewi mulai terpancing.
"Mungkin aku memang sudah gila karena terlalu lama bersabar menghadapi sampah seperti mereka," jawab Satria sinis sembari menghantamkan telapak tangannya ke meja kayu jati tebal di depannya.
Brak!
Meja jati setebal sepuluh sentimeter itu retak dan ambruk jadi dua. Ratna menjerit, sementara Danu jatuh terduduk hingga mengompol melihat kekuatan fisik Satria yang mustahil.
"Surat cerai ini, apa gunanya!" Satria melempar serpihan kertas ke wajah pucat Danu. "Keluar dari rumahku sekarang, sebelum aku cabut nyawamu dengan satu sentuhan di leher. Pergi!"
Danu merangkak keluar dengan memalukan, diikuti Ratna yang lari terbirit-birit mengunci diri di kamar. D
i tengah ruangan yang berantakan, Satria mendekati Dewi hingga jarak mereka tersisa beberapa sentimeter. Aroma tubuh Satria mendadak berubah menjadi maskulin, dominan, dan memabukkan.
Dewi tidak mundur, wajahnya tetap datar meski dadanya naik-turun menunjukkan debar jantung yang kencang.
"Kenapa tidak ikut lari bersama pria jantan pilihan ibumu?" ejek Satria.
"Untuk apa? Ini rumahku juga. Aku tidak takut padamu!" ketus Dewi sedingin es, walau tatapannya mulai goyah.
Satria tersenyum tipis, menunjukkan seringai liar yang berbahaya sekaligus magnetis.
"Bagus. Pertahankan sikap sombongmu, Istriku. Karena sebentar lagi, kamulah yang akan memohon agar aku tetap tinggal, bahkan saat wanita-wanita paling berpengaruh di kota ini merangkak mencariku."