

Tangisan bayi itu memecah subuh yang masih pucat.
Di sebuah rumah besar bergaya arsitektur kolonial Belanda dan terkesan sebagai bangunan tua di ujung desa, tangis Geger terdengar nyaring bahkan terlalu nyaring untuk sebuah kelahiran yang seharusnya dirayakan. Angin pagi membawa suara itu keluar, menyusup ke telinga orang-orang yang sejak lama menunggu kabarnya tetapi bukan dengan doa, melainkan dengan kecemasan. Entah.
“Laki-laki...,” bisik dukun beranak itu pelan, tetapi lumayan cukup untuk membuat udara di dalam rumah seketika berubah berat.
Ibu Geger terbaring lemah, peluh bahkan masih membasahi pelipisnya. Tangannya gemetar saat mendekap bayi mungil itu ke dada. Ada bahagia yang ingin ia lepaskan lewat senyum, tetapi matanya justru dipenuhi kecemasan. Ia tahu, terlalu tahu, apa arti kata laki-laki di rumah ini.
Sementara itu, di sudut ruangan, ada tiga perempuan berdiri dengan jarak yang tak pernah benar-benar dekat. Wajah mereka terlihat kaku, mata mereka tajam, seolah bukan bayi yang baru lahir yang mereka lihat melainkan sebuah ancaman besar yang mungkin akan mengancam masa depan dari mereka.
“Jadi benar,” ucap perempuan pertama dengan suara dingin. “Anak sah itu akhirnya lahir juga.”
Perempuan kedua menyilangkan tangan di dadanya. “Dan laki-laki pula.”
Perempuan ketiga tak berkata apa-apa, tapi senyum tipis di sudut bibirnya menyimpan sesuatu yang jauh dari rasa syukur.
Ayah Geger berdiri di dekat pintu, tangannya mengepal. Ia menatap bayinya sekilas, lalu mengalihkan pandangan ke arah Widuri yang masih terbaring lemas. Diam. Seperti biasa. Diam yang kelak menjadi akar dari banyak luka seorang perempuan sekaligus kedua anaknya.
Geger bukan anak Widuri satu-satunya, anak pertama yang ia lahirkan adalah perempuan. Umurnya terpaut tiga tahun saja dengan Geger. Dan kini, gadis kecil itu hanya bisa mengintip dari balik jendela rumah besar yang ia tinggali.
“Mas,” suara ibu Geger lirih, hampir tenggelam oleh tangis bayinya yang entah sejak kapan tangisnya tak kunjung diam.
“Ini anak kita.” Widuri berusaha menyodorkan bayi mungil itu meski tubuhnya masih lemah.
Laki-laki itu menoleh sekilas, lalu berkata pelan, “Istirahatlah. Jangan banyak bicara.”
Bukan pelukan yang ia terima. Bukan janji perlindungan. Hanya jarak. Kejam bukan? Memang, pria itu memag sudah bersikap dingin sejak menikah lagi.
Sejak hari itu, Geger bukan sekadar bayi. Ia telah dianggap sebagai sumber masalah.
***
Hari-hari berikutnya, rumah itu terasa semakin sempit. Karena ketiga perempuan yang sebelumnya hanya tinggal di paviliun, kini justru kerap berlalu-lalang di rumah utama.
Bisikan-bisikan mulai terdengar di dapur, di belakang rumah, di bawah pohon nangka. Tentang surat nikah. Tentang hak. Tentang warisan.
“Kalau anak itu besar, habis kita,” ucap salah satu dari mereka suatu sore.
Guratan di wajahnya mengisyaratkan ekspresi cemas luar biasa.
“Selama ibunya masih ada, dia akan selalu dilindungi,” sahut yang lain kemudian.
“Kalau ibunya pergi?” tanya seorang lagi dengan ekspresi aneh.
Kalimat itu menggantung, tapi senyum yang menyertainya membuat maknanya jelas. Geger sedang dalam ancaman.
Ibu Geger merasakan perubahan itu. Tatapan-tatapan yang dulu sekadar dingin, kini menjadi tajam. Setiap kali ia meninggalkan Geger sebentar, jantungnya tak pernah tenang.
Ya. Ketiga istri Pak Darma memang lebih akrab ketimbang dengan Widuri. Tentu saja karena Widuri adalah perempuan satu-satunya yang menyandang status istri sah adalah penyebabnya.
Pagi itu, Widuri harus ke sungai. Tumpukan pakaian sudah menunggu, dan tak ada pilihan lain. Karena meskipun Pak Darma pria kaya, ia tidak membiarkan Widuri dilayani.
“Aku sebentar saja,” katanya pada bayinya, mencium kening kecil itu berulang kali. “Ibu cepat kembali.”
Geger tertidur di tikar tipis yang di alaskan di atas kasur, pria kecil itu bahkan masih tak tahu apa pun tentang dunia yang sedang mengatur nasibnya.
Begitu langkah sang ibu menjauh, pintu rumah seketika berderit pelan.
“Sekarang,” bisik salah satu dari mereka.
Tangis Geger meledak beberapa saat kemudian tetapi itu bukan tangis lapar, bukan tangis minta digendong. Jerit itu terdengar melengking, menyayat, membuat bulu kuduk siapa pun yang mendengarnya berdiri.
“Astaga, itu suara bayi siapa?” teriak seorang warga dari luar yang kebetulan melintas dan hendak mencari rumput.
Pintu rumah akhirnya dibuka paksa. Orang-orang berhamburan masuk.
Geger menggeliat, wajahnya merah, kedua matanya basah tetapi bukan oleh air mata semata. Bau menyengat cabai menusuk hidung siapa pun yang mendekat ke arahnya.
“Apa yang kalian lakukan?!” jerit seorang perempuan desa.
Ketiga ibu tiri itu mundur, wajah mereka pucat, tapi tak satu pun meminta maaf.
Seketika suasana menjadi riuh. Beberapa orang terlihat berhamburan, beberapa wanita tampak sibuk menyelamatkan Geger dan berusaha menghentikan tangis bayi Malang itu.
"Apa yang sebenarnya kalian lakukan? Dia bahkan masih bayi! Apa salahnya!" desis salah seorang ibu tetangga yang berteriak lantang karena tak terima.
"Hewanpun bahkan tak sekejam kalian," seloroh warga lainnya.
Tak ada jawaban. Hanya tatapan-tatapan yang saling menghindar.
Amarah warga membara. Aib keluarga itu terbuka lebar, tak lagi bisa ditutup rapat. Akhirnya mereka tahu jika hanya Widuri istri sah Pak Darma, sedangkan ketiga wanita yang kejam itu adalah madunya.
Beberapa warga langsung mengeroyok mereka bertiga. Dan di antara kegaduhan itu, ada anak kecil terabaikan yang sedang ketakutan dan menyimpan trauma, dia adalah Ajeng, kakak perempuan Geger yang kala itu masih berumur tiga tahun saja.
Ia hanya bisa menatap dengan ekspresi takut di wajahnya.
"Ibu, Ajeng takut," rengeknya.
Tapi sayangnya semua orang justru sibuk sendiri.
Widuri tak kunjung muncul, membuat Ajeng semakin menangis histeris seraya mengedarkan pandangan ke sekeliling.
Namun di balik semua keributan itu, satu hal tumbuh diam-diam di hati Ajeng, tetapi bukan hanya luka, melainkan dendam.
Dan sejak hari itu pula, takdir Geger sebagai ahli waris yang terbuang mulai dituliskan dengan air mata sebagai tinta pertamanya. Luka dalam seorang anak yang terlahir menyedihkan karena kehadirannya tak diinginkan.