

“Raka, cepet pakai seragamnya. Nanti kamu telat!" Suara ibu terdengar dari luar kamar, nadanya penuh semangat jauh lebih berapi-api dibanding orang yang dipanggilnya.
Di dalam kamar, Raka masih berdiri setengah mengantuk, satu tangan memegang kancing kemeja putih yang belum sepenuhnya terpasang. Hari ini adalah hari pertamanya sekolah, tapi entah kenapa jantungnya justru berdetak biasa saja. Bukan karena tak peduli, melainkan karena semuanya terasa terlalu tidak masuk akal.
Antusiasme ibu bukan tanpa alasan. Raka akan masuk ke salah satu SMA paling bergengsi dan elit di kotanya. Sekolah yang selama ini hanya ia lihat dari brosur, cerita orang, dan baliho besar di pinggir jalan. Jujur saja, Raka sendiri tak pernah menyangka namanya akan terpampang di daftar siswa yang diterima.
Awalnya ia hanya mencoba peruntungan. Saat lulus SMP, ia mendaftar ke SMA itu tanpa ekspektasi apa pun. Ujian masuknya terkenal sulit soal-soalnya aneh, menjebak, dan terasa seperti bukan sekadar menguji atau hafalan. Di tengah mengerjakan ujian, Raka sempat berhenti sejenak, menatap lembar soal sambil berpikir,
“Ah, nggak mungkin gue keterima.”
Tapi meski pikirannya sudah menyerah lebih dulu, tangannya tetap bergerak, mengisi setiap jawaban dengan hati-hati, seolah menolak kalah sebelum benar-benar selesai.
Karena ragu, Raka juga mendaftar ke SMA lain sebagai cadangan. Ia tahu betul pengumuman kelulusan SMA elit itu keluar sangat lama bahkan setelah hampir semua SMA lain menutup pendaftaran. Banyak siswa memilih pasrah atau berjudi dengan nasib. Kalau gagal, pilihannya cuma satu: sekolah di SMA yang sering dicap sebagai “buangan”. Raka tak ingin mengambil risiko sebesar itu.
“Iya, Mah. Ini udah selesai kok,” teriak Raka dari dalam kamar.
Sebelum keluar, ia berhenti di depan cermin. Seragam yang masih kaku itu menempel rapi di tubuhnya. Ia memiringkan kepala sedikit, memperhatikan pantulan dirinya sendiri.
“Wah, keren juga gue,” gumamnya pelan, nyaris tak percaya.
Raka adalah anak tunggal. Karena itu, orang tuanya selalu berusaha memberikan yang terbaik, meski hidup mereka jauh dari kata mewah. Ayahnya hanyalah pekerja kantoran biasa dengan gaji yang cukup untuk hidup sehari-hari dan sedikit menabung. Ibunya adalah ibu rumah tangga yang kadang menerima pesanan masakan dari tetangga atau kenalan. Hidup mereka sederhana, tapi hangat dan hari ini terasa sedikit lebih istimewa.
“Ayok, Pah. Berangkat,” ucap Raka sambil mengenakan tas di punggungnya.
Ayahnya menoleh, lalu tersenyum. Ada rasa kagum yang tak bisa disembunyikan di wajahnya saat melihat Raka mengenakan seragam SMA itu.
“Kamu nggak sarapan dulu, Ka?” tanyanya, senyum itu masih bertahan.
“Nanti aja, Pah kan makan siang gratis di sekolah,” jawab Raka santai.
Mereka berangkat menggunakan sepeda motor yang biasa dipakai ayah untuk bekerja. Untungnya, arah SMA Raka sejalan dengan kantor ayah, jadi tak perlu berputar jauh. Sepanjang perjalanan, Raka lebih banyak diam, memandangi jalanan yang terasa berbeda pagi ini.
Di depan gerbang sekolah, motor mereka berhenti di antara ratusan siswa lain. Ada yang diantar orang tua, ada yang turun dari mobil mewah dengan sopir, dan ada juga yang datang berjalan kaki. Sekolah itu memang melarang siswa membawa kendaraan sendiri, meskipun sudah memiliki SIM.
“Nanti mau dijemput, Ka?” tanya ayah sambil merapikan helm yang baru saja Raka lepas.
“Nggak usah, Pah. Belum tahu pulang jam berapa hari pertama. Nanti aku naik angkot aja,” jawab Raka sambil menyalami ayahnya.
Ia melangkah masuk ke area sekolah dengan seragam yang masih terasa asing di tubuhnya tanpa tahu bahwa hari itu akan menjadi awal dari sesuatu yang sama sekali tak pernah ia sangka.
Raka melangkah memasuki gerbang SMA itu dengan tatapan penuh kekaguman. Padahal ini bukan pertama kalinya ia menginjakkan kaki di sana. Saat ujian masuk dulu, ia pernah berdiri di titik yang sama, menunggu giliran masuk ruang ujian dengan perasaan ragu dan kepala penuh tanda tanya. Namun hari ini berbeda. Kekaguman itu terasa jauh lebih besar, lebih berat, seolah menekan dadanya dengan rasa yang sulit dijelaskan.
Hari itu Raka datang bukan sebagai orang luar, bukan sebagai calon siswa yang berharap diterima, melainkan sebagai bagian dari sekolah itu yaitu seorang murid.
Ia berjalan pelan menyusuri halaman depan yang luas dan tertata rapi. Bangunan sekolah menjulang megah di hadapannya, bersih dan modern, jauh berbeda dari sekolahnya dulu. Raka melangkah sendiri menuju lapangan utama. Di sekelilingnya, siswa-siswa lain tampak saling bercengkerama, tertawa, atau berjalan berkelompok. Tidak satu pun wajah yang ia kenali.
Raka sudah menduga ini akan terjadi. Ia bukan tipe anak yang mudah bergaul, apalagi di lingkungan baru yang isinya orang-orang asing dengan latar belakang yang entah bagaimana. Ia menarik napas pelan, mencoba menenangkan diri, hingga tiba-tiba
“Raka!”
Suara itu terdengar dari belakang. Raka menoleh refleks. Seorang bocah bertubuh kecil berlari ke arahnya dengan senyum lebar yang nyaris tak muat di wajahnya.
“Aksa?” ujar Raka, sedikit terkejut.
Aksa berhenti tepat di depannya, masih terengah-engah.
“Gila, Ka. Beneran ya kita sekolah di sini,” katanya sambil terkekeh, seolah masih belum percaya.
Aksa adalah teman SMP Raka. Mereka berasal dari sekolah yang sama dan sama-sama mencoba peruntungan mendaftar ke SMA itu. Yang menarik, dari puluhan siswa SMP mereka yang mendaftar, hanya Raka dan Aksa yang diterima. Keduanya bahkan bukan murid terpintar di angkatan. Namun entah karena usaha, keberuntungan, atau kombinasi keduanya, nama mereka tercantum di daftar kelulusan sesuatu yang membuat guru-guru di SMP mereka bangga bukan main.
Mereka berjalan berdampingan menuju lapangan utama. Lapangan itu sangat besar lapangan sepak bola penuh, lengkap dengan lintasan lari yang mengelilinginya. Di sana, ratusan siswa kelas sepuluh sudah berkumpul, sebagian berdiri rapi, sebagian masih mencari barisan masing-masing.
Beberapa siswa senior terlihat mondar-mandir memberi arahan. Dari atribut yang mereka kenakan, jelas mereka adalah anggota OSIS atau pengawas siswa kelas sebelas yang bertugas mengatur barisan.
“Semua siswa kelas sepuluh, silakan berbaris sesuai kelas masing-masing!” seru salah satu dari mereka dengan suara lantang.
Raka dan Aksa saling menoleh.
“lo kelas berapa Ka?” tanya Aksa.
“Sepuluh lima,” jawab Raka.
Aksa mengangguk. “Gue sepuluh tujuh. Yaudah, nanti ketemu lagi.”
Mereka berpisah di tengah lapangan, masing-masing berjalan menuju barisan kelasnya. Raka berdiri di antara wajah-wajah asing, menatap lurus ke depan, mencoba menyesuaikan diri dengan suasana baru yang perlahan mulai terasa nyata.
Setelah pengarahan singkat di lapangan, seluruh siswa kelas sepuluh diarahkan menuju kelas masing-masing. Seluruh kelas sepuluh menempati lantai dua, sementara lantai satu dikhususkan untuk ruang makan, aula, serta ruang-ruang penyimpanan perlengkapan ekstrakurikuler. Saat memasuki kelas 10.5, Raka memilih duduk di bangku paling belakang. Pandangannya berkeliling sejenak, memperhatikan suasana kelas yang jauh dari bayangannya tentang sekolah negeri biasa. Jumlah siswa tidak lebih dari tiga puluh orang, dan setiap meja hanya ditempati satu siswa. Tidak ada bangku berpasangan seperti di SMP dulu.
"Wah, bener-bener sekolah elit," gumam Raka dalam hati.
Tak lama kemudian, wali kelas masuk dan memulai pelajaran dengan pengarahan singkat mengenai sekolah mereka.
“Walaupun sekolah ini berstatus swasta, seluruh biaya pendidikan di sini gratis seratus persen berkat dukungan para donatur dan alumni yang telah sukses,” ucap guru itu dengan nada tenang dan berwibawa.
"Ke depannya, kita tidak pernah tahu. Bisa jadi, salah satu dari kalianlah yang akan menjadi donatur bagi adik-adik kelas kalian nanti.”
Ucapan itu disambut decak kagum oleh siswa kelas sepuluh lima. Bagi sebagian dari mereka, kalimat tersebut terdengar seperti jaminan masa depan. Pelajaran pun berlanjut. Materi yang diajarkan terasa cukup berat bagi Raka, namun cara mengajar guru tersebut membuat penjelasan tetap mudah dipahami. Tanpa terasa, bel istirahat berbunyi. Seluruh siswa bergerak menuju ruang makan. Raka sengaja menunggu Aksa di depan kelasnya.
“Yuk, ka, kita makan,” ucap Aksa tiba-tiba, membuat Raka sedikit terkejut.
Keduanya berjalan menuju ruang makan. Di sana terdapat delapan konter pengambilan makanan utama, serta deretan penjual makanan ringan di sisi lain yang tidak termasuk fasilitas gratis.
Ruangan itu sudah cukup ramai ketika mereka tiba. Raka dan Aksa berjalan menuju konter nomor tujuh dan ikut mengantre. Saat giliran mereka tiba, petugas yang melayani memperhatikan seragam Raka sejenak.
“Dek, murid baru ya? Ini buat kelas tujuh. Kelas lima di sebelah sana,” katanya sambil menunjuk dua konter ke samping.
“Oh, maaf, Bu. Saya nggak tahu,” ucap Raka kikuk, lalu segera berpindah ke konter nomor lima.
Baru saat itu Raka menyadari bahwa setiap angka di atas konter dikhususkan untuk kelas tertentu. Ia menduga hal itu dibuat agar pembagian siswa lebih teratur. Menu di konter lima terlihat berbeda dari konter tujuh, meski tetap menggugah selera. Rupanya setiap konter memiliki menu yang berbeda setiap harinya
Setelah selesai, keduanya mencari tempat duduk kosong. Bangku di ruang makan tidak dibedakan berdasarkan kelas, sehingga mereka bebas memilih. Pandangan Raka tertuju pada sudut ruangan yang tampak sedikit lebih lengang. Ia dan Aksa berjalan ke arah sana sambil mengobrol pelan. Saat sudah cukup dekat, Raka tak sengaja bertabrakan dengan seorang siswa kelas sebelas.
“Maaf, Kak,” ucap Raka spontan.
Ketika Raka hendak duduk, siswa itu menegurnya.
“Lo kelas sepuluh, ya?” tanyanya sambil tersenyum. Raka mengangguk.
“Area ini khusus buat kelas talenta, Dek. Yang lainnya bebas dipakai di mana aja,” jelasnya dengan nada ramah.
Ia lalu menunjukkan kartu identitas yang tidak dikenakan siswa lain. Di sana tertera foto, nama, lambang sekolah, serta huruf T besar di sudutnya.
Raka membungkuk sopan sambil melangkah mundur, perasaannya dipenuhi kebingungan. Istilah kelas talenta terdengar asing, namun sejak saat itu, ia mulai sadar bahwa SMA ini menyimpan sesuatu yang belum sepenuhnya dipahami oleh siswa biasa sepertinya.
Raka dan Aksa akhirnya memilih bangku lain yang berada tidak jauh dari sana. Meski sudah duduk dan mulai menyantap makanannya, pikiran Raka tak sepenuhnya berada di hadapannya. Pandangannya beberapa kali melirik ke arah area yang disebut sebagai milik kelas talenta itu. Para siswa yang duduk di sana tampak sama seperti siswa lain seragam yang sama, usia yang tak jauh berbeda namun ada jarak tak kasatmata yang membuat mereka terlihat seolah berada di dunia yang berbeda.
Huruf T pada kartu identitas yang sempat diperlihatkan siswa kelas sebelas tadi terus terbayang di benaknya. Raka mencoba mengingat kembali semua informasi yang ia dengar sejak pagi, namun tak satu pun guru atau pengawas menyebutkan kelas itu secara jelas. Tidak di lapangan, tidak di kelas, bahkan tidak di papan pengumuman.
Bagi Raka, SMA ini sudah terasa jauh lebih dari sekadar sekolah elit gratis. Ada sesuatu yang sengaja tidak diumumkan, namun nyata keberadaannya. Sesuatu yang hanya bisa dilihat oleh mereka yang tahu harus ke mana memandang dan untuk pertama kalinya sejak mengenakan seragam itu, Raka bertanya dalam hati
"kelas talenta itu sebenarnya apa, dan kenapa tidak semua murid berhak tahu tentangnya?"