

Jam sepuluh malam. Shane berdiri di balik gedung perkantoran kosong, matanya mengawasi pintu belakang, tempat di mana targetnya akan keluar, seorang pejabat korup, yang cliennya minta dia untuk membunuhnya. Semua sudah direncanakan matang: rute kabur sudah dipetakan, tak ada sakelar keamanan yang tidak dia taklukkan, dan selama 5 tahun bekerja sebagai pembunuh bayaran, dia tidak pernah gagal.
Tidak ada orang yang tahu nama aslinya. Semua clien, bahkan anggota mafia yang bekerja di bawahnya, hanya kenal dia dengan julukan yang membuat bulu kuduk merinding: Nero. Nama yang melambangkan hitam, kejam, dan darah dingin - pas dengan sifatnya yang melakukan tugas bukan karena butuh uang, tapi hanya untuk kepuasan, karena dia sudah punya segalanya sebagai ketua mafia termuda di kota.
Tapi saat pintu terbuka, yang keluar bukan targetnya. Tapi dua pria berjaket hitam dan kemeja biru di dalamnya. Mata mereka tajam dan tangannya selalu menyentuh pinggang, tempat senjata tersembunyi. Di belakang mereka, muncul cliennya yang sudah dia kenal, pria berbadan gemuk dengan senyum licik di wajah.
"Nero, kau terjebak!" teriak cliennya. "Kami sudah kerja sama dengan polisi".
"Brengsek", umpatnya dengan senyum yang tersudut di bibirnya. Tanpa ragu, Shane menarik pistol dari saku dalam. Dua tembakan tercium, salah satu pria itu terjatuh. Tapi saat dia mau melesat, tembakan balik menyambar bahunya. Dia merasakan rasa sakit menyengat, tapi tetap berlari, keluar dari area gedung, menyusuri gang sempit, sampai hujan turun deras mengguyur badannya.
Shane menutupi wajah dengan masker hitam dan memutar topi agar lebih rapat, jaket denimnya segera bewarna gelap karena darah yang bercampur air hujan. Nafasnya memburu, dada terasa sesak, dua polisi itu masih mengejar dari belakang, berjalan cepat tanpa bunyi sirene agar tidak menyebarkan keributan.
Tanpa pilihan lain, dia mendorong pintu warung kopi yang sempit. Bunyi kresek membuat semua orang di situ berhenti berbicara, mata mereka langsung tertuju ke arahnya. Beberapa memandangnya dengan tatapan takut, yang lain dengan curiga, seorang pria tertutup rapi, berlumuran darah dan hujan, tiba-tiba datang di tengah malam.
Shane masuk ke pojok paling dalam, menyandarkan punggungnya ke dinding sambil menekan luka di bahunya. Matanya yang terlihat saja sudah cukup membuat orang lain menjauh. Hanya suara hujan dan bunyi cangkir yang bersentuhan yang terdengar.
Saat itu, seorang gadis berdiri dari kursinya. Baju masih terasa basah, rambutnya terikat rapi tapi sedikit kacau. Dia mengambil segelas teh hangat dari meja, lalu mendekat ke pojoknya, langkahnya pelan tapi tegas, tanpa secercah ketakutan.
"Kau butuh ini," suaranya lembut, seperti musik di tengah kegelapan. Dia menawarkan gelas teh itu.
Shane menatapnya tajam, memeriksa setiap gerakan. Mengapa gadis ini memberanikan diri? Dia melihat wajah mungil yang penuh kebaikan, mata coklatnya yang tenang.
Tanpa berkata apa-apa, dia mengambil gelas teh. Panasnya meresap ke tangan, sampai ke tulang punggung yang pegal. Dia masih menatapnya, pikirannya penuh pertanyaan.
"Namaku Syaqilla," ujarnya dengan senyum lembut.
Bersamaan dengan itu, dua orang polisi masuk ke dalam warung, mereka tidak langsung bertindak karena tidak ingin membuat keributan.
Syaqilla menyadari gelagat Shane, yang terlihat gelisah saat dua orang itu masuk.
"Jangan khawatir, aku tahu apa yang terjadi denganmu", ucap Syqilla.
Mendengar itu Shane terkejut, "Apa dia tahu jika aku di kejar polisi?", batinya, namun apa yang dia pikirkan terpatahkan saat Syaqilla memeruskan ucapannya.
"Kamu di begalkan?. Aku akan bawa kamu keluar, ikuti aku".
Shane menatapnya tajam, memeriksa setiap gerakan. Dia melihat dua polisi itu mulai mendekat ke arah mereka, dan menyadari bahwa Syaqilla salah paham - tapi itu justru menjadi kesempatan baginya. Dia mengangguk perlahan.
"Ada pintu belakang, di balik dapur," katanya pelan. "Aku tahu jalannya".
Shane tidak berbicara lagi. Dia mengikuti langkah Syaqilla yang cepat menuju bagian belakang warung. Pemilik warung hanya memandangnya dengan tatapan takut, tidak berani menghalangi.
Mereka memasuki lorong sempit di balik dapur, hujan masih turun deras di luar. Syaqilla membuka pintu kayu yang kusam, dan udara sejuk malam langsung menyemprotkan wajah mereka.
Dia melihat rambu puskesmas yang terlihat dari kejauhan. "Aku bawa kamu ke puskesmas terdekat ya," katanya cepat. "Lukamu harus diobati oleh dokter."
Tapi Shane menggeleng dengan kuat, suaranya lemah tapi tegas: "Tidak. Tidak boleh ke rumah sakit."
Syaqilla bingung. "Kenapa? Kau sudah semakin lemah!"
Dia tidak punya waktu menjawab. Shane mulai goyah, badannya hampir terjatuh jika tidak ditopang Syaqilla. Matanya sudah mulai memutar, wajahnya makin pucat karena kehilangan darah yang terus mengalir. Hujan turun lebih deras lagi, membuat pandangan mereka semakin sempit.
Dia memandang sekeliling. Tidak ada tempat berteduh lain kecuali rumahnya yang hanya beberapa blok dari situ. Dia memikirkan paman, bibi, dan Clara yang sedang tidur - apa yang akan mereka katakan kalo ada pria asing di rumah? Tapi dia tidak punya pilihan lain.
"Rumahku dekat sini," bisiknya dengan nada ragu tapi tegas, menarik tubuh Shane yang semakin berat. "Hanya beberapa menit lagi. Kita harus ke sana, kalau tidak kamu akan pingsan di sini."
Shane tidak bisa menolak lagi. Dia hanya bisa mengandalkan kekuatan Syaqilla yang mengejutkan, mengikuti langkahnya yang tergesa-gesa di tengah hujan yang membekukan. Setiap langkah membuat rasa sakit di bahunya semakin parah, tapi dia harus bertahan.
Setelah berjalan sepuluh menit, mereka tiba di rumah paman dan bibinya - rumah bertingkat dua yang sederhana, lampu dalamnya sudah padam. Syaqilla mencoba membuka pintu depan dengan kunci, tapi ternyata pintu itu sudah dikunci dari dalam.
"Ah, tidak!" bisiknya dengan khawatir. "Paman pasti sudah menguncinya dari dalam malam ini."
Shane mulai goyah lagi, badannya hampir terjatuh. Dia tidak bisa bertahan lama lagi. Syaqilla memandang sekeliling, lalu melihat tangga kayu yang ada di sisi rumah, tangga yang biasa dia gunakan jika lupa membawa kunci, yang langsung menuju jendela kamarnya.
Dia mengangkat kepala ke Shane, matanya penuh keberanian tapi juga ragu. "Kita harus memanjat tangga dan masuk lewat jendela kamarku," ujarnya dengan suara pelan tapi tegas. "Itu satu-satunya cara. Kamu masih kuat kan?"
"Masih harus naik tangga, astaga", gumam Shane tak percaya, tapi dia hanya mengangguk perlahan, meskipun tubuhnya sudah sangat lelah. Syaqilla membimbingnya ke sisi rumah, di mana tangga kayu itu berdiri. Dia mulai memanjat duluan, langkahnya cepat tapi hati-hati. Setelah sampai di atas, dia membuka jendela yang agak kusam dengan lembut.
"Ini, cepat!" panggilnya ke Shane yang masih di bawah.
Shane memegang gagang tangga, setiap gerakan membuat luka di bahunya menyengat. Dia berusaha memanjat secepat mungkin, tapi tubuhnya sudah lemah. Saat mau mencapai jendela, dia hampir terjatuh, tapi Syaqilla segera menggenggam tangannya dengan kuat, menariknya ke dalam kamar.
Thump! Bunyi lembut ketika Shane mendarat di lantai kamar. Dia langsung duduk, kepalanya menunduk karena lelah parah. Syaqilla cepat menutup jendela dan mengunciinya, lalu memutar kunci pintu kamar agar tidak ada yang masuk.
Dia melihat Shane yang pucat parah, darah masih mengalir dari bahunya yang basah. Dia mengambil perlengkapan obatnya dan membawanya mendekat. "Aku akan membersihkan lukamu dulu," ujarnya dengan suaranya yang selalu lembut.
Shane menatapnya, mata hitamnya yang lemah masih penuh kebingungan. Mengapa gadis ini mau mengorbankan dirinya untuk dia, bahkan mau memanjat tangga dalam hujan deras hanya untuk menyelamatkannya?