Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Tunas ke-Dua

Tunas ke-Dua

GazBiya | Bersambung
Jumlah kata
40.0K
Popular
100
Subscribe
4
Novel / Tunas ke-Dua
Tunas ke-Dua

Tunas ke-Dua

GazBiya| Bersambung
Jumlah Kata
40.0K
Popular
100
Subscribe
4
Sinopsis
PerkotaanAksiMafiaBalas Dendam
Ia gugur dalam tugas. Begitu kata negara. Pulang dengan tubuh gosong tak bisa di kenali—meninggalkan seorang istri yang dipaksa berkabung, dan dua anak yang kehilangan ayahnya atas nama negara. Sebuah operasi rahasia yang nyaris membongkar keterlibatan pejabat tertinggi berakhir dengan ledakan. Para teroris tewas. Para polisi yang bertugas—dibersihkan. Kasus ditutup rapi. Namun satu polisi selamat dan justru itulah masalahnya. Untuk melindungi keluarganya, Arga harus mati secara resmi. Menghapus identitas. Mengubur nama. Dan menerima kenyataan pahit bahwa keadilan bisa dibungkam oleh kekuasaan. Saat pengkhianatan mencoba menyelesaikannya untuk terakhir kali, takdir memberinya pilihan kejam. Tetap mati sebagai korban, atau hidup kembali sebagai tunas kedua— pewaris bayangan dari kekuasaan gelap, dengan wajah baru dan satu tujuan— balas dendam.
Bab. 1

Udara malam di pinggiran pelabuhan Banten terasa berat dan berbau garam. Di dalam sebuah van yang disamarkan sebagai mobil teknisi Listrik—1,5 kilometer dari lokasi, di dalamnya layar-layar monitor berpendar biru tipis.

"Satelit terkunci. Panas terdeteksi, tujuh objek di dalam gudang," suara operator dari Mobil Satelit terdengar melalui earpiece. "Tim Sembilan, kalian bebas bergerak. Go dark."

Iptu Aris, pemimpin lapangan, memberi isyarat tangan. Sembilan anggota Tim Macan Hitam bergerak seperti bayangan di antara kontainer berkarat. Sepatu laras mereka nyaris tak bersuara di atas beton yang basah. Di depan mereka, gudang tua milik perusahaan tekstil yang bangkrut berdiri angkuh dengan atap seng yang berderit ditiup angin.

"Pintu samping, hitungan tiga," bisik Aris.

BRAK!

Pintu besi itu dijebol dalam satu hantaman breaching ram.

"POLISI! JANGAN BERGERAK!"

Lampu senter senjata taktis membelah kegelapan, menyinari tujuh pria asing yang sedang berlutut di sekitar tiga koper logam terbuka. Serbuk putih mau seberat 50 kilogram—berceceran di atas meja kayu lapis. Para tersangka mengangkat tangan, wajah mereka pucat tertangkap basah. Semuanya tampak berjalan sesuai rencana.

"Area terkendali! Borgol mereka!" teriak salah satu anggota Macan Hitam.

Namun, tepat saat borgol pertama berdenting, sebuah suara asing memecah keheningan. Bukan suara manusia, melainkan siulan tajam dari arah atap gudang.

DUARRRR!

Ledakan granat menghancurkan dinding bagian atas gudang. Debu dan puing menghujani tim Macan Hitam. Dari lubang ledakan, empat orang berpakaian taktis hitam tanpa atribut—teroris bayaran, turun menggunakan tali rappelling sambil memuntahkan peluru dari senapan serbu mereka.

DOR!

DOR!

DOR!

"KONTAK! KONTAK!" Aris berteriak sambil melepaskan tembakan balasan.

DOR!

DOR!

Suasana berubah menjadi neraka. Baku tembak pecah di ruang sempit. Percikan api dari peluru yang menghantam tiang besi menerangi ruangan seperti kilat. Salah satu warga asing mencoba kabur, namun seorang teroris justru menembaknya di kepala—mereka tidak datang untuk menyelamatkan, mereka datang untuk menghapus jejak.

Seorang teroris mendarat tepat di depan Aris. Tanpa sempat mengangkat senjata, Aris menepis moncong senapan lawan. Terjadi perkelahian tangan kosong yang brutal di tengah desingan peluru. Aris menghantamkan sikunya ke rahang lawan, lalu membantingnya ke tumpukan palet kayu hingga hancur.

BRAK!

"Tim Satelit! Kami butuh bantuan medis dan unit bantuan sekarang! Gudang diserbu!" teriak operator di radio, sementara di latar belakang, suara rentetan AK-47 terus menderu, mengubah malam mencekam di Banten menjadi medan perang.

Di dalam gudang, udara sudah bercampur dengan bau mesiu dan keringat. Arga menghantamkan lututnya ke perut salah satu penyerang berbaju hitam, lalu membantingnya ke lantai beton.

BRUGH!

Di sekelilingnya, anggota Macan Hitam yang lain mulai kehilangan kendali—amarah mereka memuncak melihat operasi yang bersih kini berubah menjadi mandi darah.

Baku hantam terjadi di setiap sudut. Suara tulang retak bersaing dengan desingan peluru yang sesekali masih menyalak.

"Tahan mereka! Jangan sampai ada yang lolos!" teriak Arga, napasnya tersengal.

Tanpa ada yang menyadari, di balik bayang-bayang pilar besi, dua teroris bergerak dengan tenang, hampir seperti hantu. Mereka tidak ikut berkelahi. Tangan mereka dengan cekatan menempelkan blok-blok C4 pada struktur utama bangunan dan di bawah meja berisi n4rkoba. Lampu indikator merah pada peledak itu mulai berkedip—sebuah detak jantung kematian yang sunyi.

Tepat saat itu, suara gemuruh baling-baling membelah langit malam. Helikopter bantuan Polda muncul dari balik awan, lampu sorotnya yang putih terang menyapu halaman gudang.

"Bantuan datang! Tekan mereka!" seru rekan Arga, Bayu.

Melihat cahaya heli, para penyerang berbaju hitam itu memberi kode satu sama lain. Mereka mundur dengan teratur, melakukan taktik hit and run. Tujuh warga asing yang menjadi target utama sudah tersungkur, sebagian besar sudah terborgol dalam keadaan babak belur.

Melihat pengacau itu kabur, mata Arga menajam geram, "Mereka lari ke pintu belakang! Bayu, ikut aku!" teriaknya.

Arga dan Bayu melesat, sepatu mereka menghantam lantai halaman gudang yang lembap. Namun, tepat saat kaki Arga menapak di tanah berkerikil, hanya sepuluh meter dari pintu keluar—dunia seolah berhenti berputar.

BOOOM!!!

DUARR!!!

Ledakan raksasa mengguncang bumi. Gelombang panas yang luar biasa menghantam punggung Arga. Langit malam yang gelap seketika berubah menjadi jingga membara. Tubuh Arga dan Bayu terlempar seperti boneka kain, melayang di udara sebelum terbanting keras ke atas tumpukan besi tua di halaman.

Dari ketinggian, kru helikopter hanya bisa membelalak kaget. Pilotnya terperangah melihat gudang itu lenyap dalam hitungan detik, berubah menjadi bola api yang membubung tinggi.

“Tidakk!” teriak operator IT di dalam mobil hingga jatuh terduduk, tak butuh waktu lama bahunya berguncang memecah tangis. Layar monitor yang tadinya menampilkan sembilan titik sinyal rekan mereka, kini hanya menampilkan static kosong.

"Tim Sembilan... Aris... Doni..." suara operator bergetar hebat. "Semua hilang."

Di sisi lain Arga terbaring miring. Telinganya berdenging panjang, hanya ada suara sunyi yang menyakitkan. Ia mencoba menggerakkan tangan, namun rasa perih yang tak tertahankan menjalar dari punggung hingga lengannya. Sebagian seragam taktisnya habis terbakar, kulitnya melepuh terkena jilatan api.

Pandangan Arga mengabur melihat puing-puing gudang yang masih berjatuhan dari langit. Rekan-rekannya, tersangka, dan barang bukti 50 kilo narkoba itu… semuanya sudah menjadi abu.

Dunia di sekitar Arga telah mati. Suara sirine yang mendekat terdengar seperti dengungan lebah yang jauh. Air mata Arga mengalir melewati kulit pipinya yang melepuh, menciptakan jalur basah di tengah sisa abu yang menempel. Di depan matanya, api masih menari-nari melahap sisa-sisa nyawa rekan timnya, namun pikirannya justru terseret ke masa lalu yang hangat.

"Katanya mau pindah, kok masih ikut penangkapan?"

Suara Ratna—Lembut, manja, dan sedikit protektif mengalun indah di telinganya. Arga bisa merasakan bayangan jemari Ratna yang halus mengusap lengannya.

"Kan TR-nya belum turun, Sayang. Ini yang terakhir sebelum kita pindah ke Padang," jawab Arga dalam ingatannya. Ia ingat betul bagaimana ia mengecup kening istrinya itu. Ia menjanjikan masa depan yang lebih tenang, jauh dari hiruk-pikuk kota, target, pengangkapan hingga berhari-hari tidak pulang, dan banyak hal lain sebagai pertimbangan.

Namun, kepindahan itu bukan sekadar mutasi biasa. Ada rahasia yang ia simpan rapat-rapat, bahkan dari Ratna istrinya. Rahasia yang dimulai di sebuah restoran eksklusif dengan pencahayaan temaram sebulan yang lalu.

"Selamat datang, Pak Arga..."

Suara itu berat namun tenang. Arga teringat bagaimana ia merasa seperti orang asing di restoran mewah itu. Di depannya duduk seorang pria yang seolah keluar dari sampul majalah bisnis. Jas custom-made yang membalut tubuhnya terlihat lebih mahal daripada gaji Arga selama setahun.

"Saya... Adrian Lazuardi," ucap pria itu sambil mengulas senyum tipis yang sulit diartikan.

Nama itu menghantam Arga seperti palu godam. Lazuardi? Nama yang menguasai sektor properti dan logistik di wilayah ini. Kerajaan bisnisnya tak tersentuh. Arga sempat merasa insecure, menyadari betapa kontrasnya ia yang hanya seorang abdi negara dengan pakaian lapangan, dibandingkan dengan Adrian yang memancarkan aura kekuasaan mutlak.

"Kenapa orang seperti Anda mencari polisi seperti saya?" tanya Arga saat itu, mencoba tetap tegar meski batinnya bertanya-tanya.

Tanpa sepatah kata, seorang pria berkemeja putih datang mendekat. Ia meletakkan sebuah koper logam di atas meja dan membukanya, memamerkan tumpukan uang seratus ribu yang masih terikat rapi. Tak cukup disana, sebuah lembaran cek kosong diletakkan di atas tumpukan uang itu.

Arga mengernyitkan kening, matanya menyipit menatap benda-benda di depannya. "Apa maksudnya ini?"

Lanjut membaca
Lanjut membaca