

"Bajingan!”
Suara itu meledak di udara seperti petir di siang bolong.
Sebuah pukulan mendarat keras di pipi Jalu, membuat kepalanya terhuyung ke samping. Tubuhnya terhempas ke tanah sebelum sempat memahami apa yang terjadi.
Plakk!
Tendangan menyusul, menghantam perutnya tanpa ampun.
“Berani-beraninya kau ngintip istriku!” teriak Bejo dengan wajah merah padam. Urat-urat di lehernya menegang, matanya menyala penuh amarah. “Kali ini kau kebangetan, Jalu!”
“Ampun, Kang… aku tidak mengintip… sumpah…” Jalu merintih, berusaha melindungi kepalanya dengan kedua tangan yang gemetar. Tubuhnya meringkuk seperti binatang terluka.
Pemuda yang sedang dihajar itu bernama Jalu Amirudin, usia dua puluh tiga tahun. Ia tertangkap basah berada di balik semak, saat Laras tengah mandi di sungai. Bejo melihat semuanya dari kejauhan, tepat ketika ia hendak menyusul istrinya.
“Kang, ampun… sungguh aku tak ada niat mengintip Yu Laras,” kata Jalu terbata, menahan sakit. “Tadi aku cuma ke sungai ini. Aku bingung saat melihat Yu Laras sudah ada di sana. Tapi Kang Bejo keburu datang dan meneriaki aku.” Ia mencoba membela diri, meski tubuhnya masih gemetar.
“Untung aku segera datang!”bentak Bejo dengan rahang mengeras. “Kalau tidak, mungkin kau sudah berani melecehkan istriku. Orang satu desa ini sudah tahu siapa kau, bajingan!”
Laras sudah berdiri tak jauh dari sana, tubuhnya tertutup kain seadanya. Wajahnya pucat, namun matanya memancarkan kemarahan yang tak kalah tajam.
“Sudah berapa kali orang ini diperingatkan?” katanya tajam. “Dia memang tidak tahu malu.”
Jalu memang dikenal sebagai sampah masyarakat. Kegemarannya mengintip orang mandi sudah bukan rahasia lagi. Berkali-kali ia kepergok, berkali-kali pula tubuhnya dihajar warga. Namun anehnya, rasa sakit tak pernah membuatnya jera.
Bahkan andai Jalu tidak memiliki kebiasaan menjijikkan itu sekalipun, ia tetap tak akan disukai siapa pun. Sejak kecil, tubuhnya dipenuhi koreng dan bisul bernanah. Bau amis selalu menempel di kulitnya, tak peduli seberapa sering ia mandi di sungai. Anak-anak menghindar, orang dewasa memaki, dan hanya ibunya satu-satunya yang pernah memeluknya tanpa jijik.
Saat usianya menginjak 12 tahun. Ibunya telah meninggal di karenakan sakit, dan Jalu tidak pernah tahu siapa ayahnya sebenernya. Sejak itu, orang-orang menganggapnya sebagai anak pembawa sial, anak terkutuk dengan penyakit kulit yang tak bisa disembuhkan.
Namun demikian, meski Jalu dikucilkan, ia tetap bertahan di desa itu. Ia hidup sendirian di rumah peninggalan ibunya, mengandalkan panen ubi, jagung, dan apa pun yang tumbuh dari ladang sepetak miliknya. Selain itu, ia juga mencari ikan untuk dijual demi menyambung hidup.
Walau bagaimana pun jalu adalah seorang lelaki, karena lantaran tak ada yang mau dekat dengannya karena jijik, maka ia sangat suka mengintip orang mandi untuk memuaskan hasrat miliknya.
Bukan hanya orang mandi. Jalu juga sosok yang paling sering memergoki orang-orang desa bercinta sembarangan di hutan, di tepi sungai, atau di sudut-sudut sunyi yang mereka kira aman dari pandangan. Entah disengaja atau tidak, kehadirannya selalu saja muncul di saat waktu yang salah.
Maka barangkali mungkin itulah sebabnya hampir setiap orang di desa menyimpan dendam dan kekesalan tersendiri pada pemuda korengan itu. Jalu bukan sekadar menjijikkan di mata mereka, tapi juga sebagai pengingat akan rahasia-rahasia kotor yang tak ingin diungkit.
Beberapa orang dari ladang yang tak jauh dari sungai berdatangan setelah mendengar suara Bejo yang menggelegar, memaki-maki Jalu tanpa henti. Langkah mereka tergesa, wajah-wajah itu dipenuhi rasa ingin tahu yang bercampur emosi.
Begitu melihat Bejo menghajar Jalu, mereka langsung paham apa yang telah terjadi.
"Lagi-lagi dia.. " Gumam Kardi
Tanpa banyak bertanya, tiga lelaki tersebut ikut menghajar. Tinju dan kaki mendarat silih berganti, menghantam tubuh Jalu dengan kejam dan berlangsung cukup lama, seolah semua kekesalan yang selama ini dipendam menemukan pelampiasannya.
Jalu akhirnya tak sadarkan diri. Tubuhnya remuk-redam akibat pukulan bertubi-tubi. Darah mengucur dari kepalanya, membasahi tanah di tepi sungai yang mulai memerah.
“Sudah… sudah. Dia bisa mati kalau kita terus memukulinya,” ucap Kardi dengan napas terengah, meski matanya masih menatap Jalu tanpa belas kasihan.
Manto meludah ke tanah. Matanya menatap tubuh Jalu dengan kebencian yang lebih dalam dari sekadar amarah.
“Betul itu,” sahut Manto. Namun raut wajahnya tak menunjukkan niat menghentikan semuanya. “Tapi sampah ini benar-benar mengganggu. Mumpung tidak ada yang melihat, bagaimana kalau kita hanyutkan saja dia ke sungai?”
Usulan itu bukan sekadar amarah. Manto menyimpannya dengan alasan lain alasan yang lebih gelap. Ia lebih senang jika Jalu mati, sebab pemuda itu memegang satu rahasia yang seharusnya terkubur selamanya. Jalu pernah memergoki Manto sedang bercinta dengan Laras di hutan.
Ketakutan itulah yang membuat Manto gelisah. Ia tak ingin rahasia itu terbuka, apalagi sampai terdengar oleh Bejo.
Bejo yang terbakar emosi langsung menyetujui rencana Manto tanpa berpikir panjang. Amarah telah menutup sisa nuraninya.
“Ayo, kita buang dia ke sungai,” ucap Bejo dingin. “Desa ini bakal aman dari kutukan si pembawa sial.”
Maka, dalam keadaan tak sadarkan diri, tubuh Jalu diangkat lalu dilemparkan ke sungai. Tubuh kurus itu jatuh menghantam air dengan bunyi berat sebelum arus menyeretnya pergi. Bejo, Laras, dan tiga lelaki lainnya tak menoleh lagi. Mereka meninggalkan tempat itu dengan keyakinan bahwa semuanya telah selesai.
Seharusnya Jalu hanyut dan mati. Begitulah yang mereka harapkan.
Namun sungai menyimpan rahasia yang lebih tua dari desa itu sendiri.
Di hulu, di bawah beringin raksasa yang akarnya menjalar seperti ular, sesuatu terbangun. Mata merah menyala terbuka di kegelapan. Bau darah manusia mengalir bersama arus, memanggil sesuatu yang telah lama menunggu.
Makhluk berbulu hitam itu bangkit perlahan, taringnya berkilat basah. Ia telah menunggu wadah jiwa yang dibenci, tubuh yang dibuang, manusia yang tak akan dicari siapa pun.
“Kau tidak boleh mati,” suara itu bergema berat, serak. “Kau adalah wadah untukku.”
Makhluk besar berbulu itu bukan sembarang makhluk gaib. Ia adalah Ragapati, sejenis genderuwo tua yang pernah kalah dalam perang sesama makhluk alam gaib. Dalam keadaan terluka dan kehilangan kekuatan, Ragapati bersembunyi selama bertahun-tahun di sebuah pohon beringin tua di hulu sungai, menunggu waktu yang tepat untuk bangkit kembali.
Untuk memulihkan kekuatannya, Ragapati membutuhkan persembahan, gadis-gadis perawan manusia. Namun untuk melakukannya, ia memerlukan wadah: manusia hidup yang dibenci, disingkirkan, dan cukup rapuh untuk dikuasai. Dan pada saat itu, tubuh Jalu yang hanyut di sungai telah menjadi pilihan yang sempurna.
Ragapati segera merapalkan mantra kuno dengan suara rendah dan bergetar. Udara di sekitar sungai mendadak dingin, dedaunan beringin berdesir tanpa angin. Tubuh besar berbulu hitam itu perlahan memudar, berubah menjadi kepulan asap pekat berwarna kelam.
Asap itu melayang, berputar di udara, lalu menelusup masuk ke dalam sebuah batu cincin yang entah sejak kapan telah berada di dekat tubuh Jalu. Batu itu berkilat sesaat, seolah menyerap seluruh kegelapan.
Beberapa detik kemudian, cincin itu bergerak dengan sendirinya, melingkar rapat di jari manis Jalu mengikat takdir manusia dan makhluk gaib dalam satu wadah yang tak bisa dipisahkan.
***