

Kiantang berjalan penuh antusias dengan pakaian terbaik yang dimilikinya. Langkahnya mantap memasuki Gedung megah. Salah satu tangannya menyentuh saku celananya berulang kali. Tampaknya dia takut kado spesial yang sudah dibeli dengan nilai fantastic itu hilang.
Bibirnya melebar membayangkan sesaat lagi dia akan mempersembahkan hadiah yang selama ini menjadi Impian kekasih pujaan hatinya. Hadiah mahal itu akhirnya bisa dibelinya, meski dengan meminjam uang pada rentenir. Tapi itu tidak masalah. Selagi kekasih pujaan hatinya itu senang dia akan selalu berusaha mewujudkan segalanya.
Senyumnya mengembang semakin lebar ketika kedua kakinya melangkah masuk ke dalam ruangan yang penuh dengan dekorasi indah. Namun sesaat kemudian, kening Kiantang tampak mengkerut. Senyum bahagia itu mulai pudar berganti wajah penuh keheranan.
Seorang pria sedang berlutut dihadapan Renna. Pria itu tampak menyematkan cincin dijari manis Wanita dihadapannya. Pria itu lalu berdiri dan mengambil sebuah kalung dari dalam kotak yang ada disampingnya. Kalung itu mulai terpasang indah dileher jenjang Renna yang tampak tersenyum senang.
Semua yang hadir tampak bertepuk tangan heboh. Ruangan itu seketika riuh, menyadarkan Kiantang dari rasa tak percaya yang sedang menderanya.
Kiantang masih berdiri mematung. Kupu-kupu yang sejak tadi menggelitik hatinya kini berubah menjadi duri. Tajam menikam dan menusuk hati. Keadaan itu begitu cepat berganti. Membuat Kiantang sulit mempercayai pandangannya saat ini.
Secepat kilat Kiantang menggoyangkan kepalanya kuat. Tidak, dia tak boleh terlalu cepat menilai. Kiantang menyipitkan matanya sejenak.
‘Itu bukannya Warlan? Kenapa dia ada disini?’ heran Kiantang penasaran meski hatinya sedang diremas. Namun, Kiantang tak ingin berprasangka buruk. Tidak mungkin Renna akan mengkhianatinya. Itu hal yang mustahil. Wanita itu sudah 2 tahun menjadi pacarnya. Selama ini wanita itu sangat mencintainya.
“Selamat ulang tahun Sayang, ini kado untukmu.”
Begitu tiba di hadapan Renna, Kiantang segera mengembangkan senyumannya. Memberikan ucapan dan mengulurkan kado spesial yang sudah diminta oleh pacarnya sejak jauh hari. Meski saat ini sesungguhnya perasaannya telah campur aduk. Tapi, Kiantang mencoba bersikap seperti biasanya.
“Cih!” Renna menjawab enggan, melirik sesaat dan terlihat tak perduli sama sekali.
Perasaan Kiantang kembali tersentil.
“Eh, kamu? Kamu Kiantang, kan? Anak Yatim Piatu miskin yang dulu pernah sekolah dengan Bea Siswa karena tidak mampu membayar uang sekolah?!” suara Warlan menggema, membuat semua pasang mata yang ada di dalam ruangan itu langsung tertuju kearah mereka.
Suara sarkas itu terdengar begitu dekat di telinga Kiantang. Penuh cemoohan dan langsung menginjak harga diri Kiantang yang baru saja datang.
Kiantang yang tak menyangka akan disambut seperti ini tak mampu berkata-kata. Bibirnya terbungkam tanpa suara.
Warlan tampak berjalan maju selangkah. Melihat Kiantang dari atas sampai bawah, kemudian mengulanginya dari bawah ke atas. Menggeleng kepala dan tersenyum mengejek.
Pandangan mengintimidasi dan begitu merendahkan, menatap Kiantang seperti seekor Binatang peliharaan. Ya, dia memang tak takut pada siapa pun. Dia Adalah orang kaya. Ayahnya seorang yang sangat disegani. Memiliki kekuasaan dan memiliki koneksi. Bahkan nyawa manusia juga bisa dibeli dengan mudah. Apa yang harus ditakutinya?!
“Berani sekali kamu datang kesini. Lihat pakaianmu itu, apa pantas orang yang berpakaian seperti ini datang kesini, Sayang?” tanya Warlan yang kemudian berbalik menatap Renna dengan tatapan penuh cinta.
Renna tersenyum samar dan ikut melihat Kiantang dari atas sampai bawah. Melakukan seperti apa yang dilakukan Warlan tadi. Benar-benar menatap dengan pandangan yang begitu merendahkan!
“Seharusnya sih pantas … pantas jika berkumpul dengan para pengemis di pinggir jalan,” Renna menjawab sambil menertawai penampilan Kiantang saat ini.
Seluruh ruangan Kembali heboh menertawai Kiantang. Bahkan suara tawa itu sampai memekakkan telinga!
Seketika Kiantang melihat kearah sekelilingnya. Padahal disana Sebagian besar Adalah teman-teman Kiantang yang selama ini memang mereka semuanya berhubungan baik. Tak sangka, begitu Warlan Kembali, pria itu telah mengendalikan semuanya secepat ini. Sikap teman-temannya langsung berubah. Sepertinya semua yang hadir di sini sudah dibeli!
Kiantang tertegun sejenak. Benar. Semuanya tampak berpakaian Formal. Semua pria memakai jas lengkap dengan Sepatu mengkilap. Padahal semalam Renna memintanya memakai pakaian kaos kerah dengan sandal sarungnya, karena acaranya digelar dengan tema santai dan casual. Kenapa begitu terbalik?!
Hati Kiantang tercubit. Menyadari sesuatu. Sebuah tanda kutip Kembali terbit.
“Maaf, Aku datang sedikit terlambat. Ini kado untukmu, Sayang,” Kiantang tak membalas ejekan itu malah menjulurkan hadiah yang dibawanya ke hadapan Renna. Dia mencintai Wanita itu. Dia tak ingin masalah kecil merusak hubungan mereka berdua. Dia berusaha mengalah. Masih mencoba mempertahankan hubungan mereka.
“Kado apa ini?” tanya Renna yang langsung merampas kado itu tanpa basa-basi.
Kiantang terkejut besar mendapatkan perlakuan seperti itu. Bahkan dia tak menduga Renna akan membuka kado yang dibungkusnya dengan sepenuh hati itu tanpa perasaan sama sekali. Kotak perhiasan itu dibuka paksa dalam sekali tarikan.
“Apa itu? Astaga, hanya kalung tiruan dengan permata palsu seperti ini kamu masih berani memberikannya pada Renna? Kamu anggap Renna apa?” tanya Warlan mencemooh dengan wajahnya yang terlihat begitu angkuh.
“Siapa bilang itu palsu? Aku membelinya dengan harga yang …,” belum selesai Kiantang berkata dia dikejutkan dengan suara dentingan kasar.
Kalung itu dibuang tanpa ampun. Puluhan buliran diamond yang mengitari permata ditengah itu jatuh berhamburan dan berserakan di lantai.
Kiantang terkejut besar. Perhiasan yang dibeli mahal dengan uang pinjaman online itu kini menjadi serpihan tak berharga dan keadaannya sedang dihujani suara tawa semua tamu yang hadir di sana.
“Apa kamu tau, Warlan membawakan kado apa untukku? Lihat ini… Blue Diamond dari Afrika Selatan,” Renna mengalungkan sebelah lengannya pada lengan kekar Warlan. Lalu memamerkan leher jenjangnya yang kini tampak dihiasi sebuah kalung mengkilap dengan permata berwarna biru muda.
Sesaat kemudian, Renna mengangkat jamarinya dan memamerkan cincin berliannya. “Lihat ini, Warlan telah melamarku dengan Cincin Berlian bernilai Miliaran,” tanpa perasaan bersalah sedikitpun Renna menyampaikan dengan santai dan wajah penuh senyuman. Terlihat begitu Bahagia tak terkira.
Jadi, pacarnya itu berpaling begitu cepat karena hadiah ini?! Apa yang dilihatnya tadi ternyata benar adanya. Kekasihnya itu mengkhianatinya di depan matanya!
‘Ini Wanita yang aku cintai dan banggakan selama 2 tahun ini?!’ Kiantang seolah tak percaya. Memang tak masuk akal! Tapi Kiantang masih bertahan, tak mengeluarkan suara sama sekali. Dia masih menghormati kedua orang tua Renna yang ada di sana.
“Kado seperti ini yang pantas untuk dikenakan oleh Putri kami. Bukan kalung murahan yang kamu bawa itu. Kalung seperti itu banyak dijual di pinggir jalan!” seru Nyonya Mariam, ibunya Renna. Kakinya menginjak kalung yang barusan dibuang putrinya dengan kasar ke lantai.
Kiantang terperangah.
“Kalian? Apa maksud semua ini?!” Kiantang bertanya dengan nada tak percaya melihat perlakuan Wanita paruh baya yang selama ini begitu mendukung hubungannya dengan Renna. Sikap calon ibu mertuanya berubah begitu drastis!
“Kamu harus sadar kamu itu Siapa, Kiantang. Selama ini kami menjalin hubungan baik denganmu karena kasihan dengan kamu. Setidaknya pamormu sedikit terlihat lebih baik karena, Renna. Jika bukan karena Renna, bahkan kamu tidak akan mendapatkan pekerjaan dikedai Bakmi kecil itu,” kali ini tuan Baskara yang berkata. Suaranya terdengar begitu tenang dan bijak. Tapi, semua perkataan itu membuat tubuh Kiantang bagai disiram dengan minyak bensin.
Darah Kiantang seketika menggelegak dan tubuhnya mendadak terasa panas seakan ingin meledak.
Bukankah itu terbalik? Saat itu Renna yang menghampirinya duluan, dan akhirnya mereka berakhir pacaran. Kemudian Kiantang membantu Renna yang saat itu menabrak seorang anak sampai harus masuk rumah sakit. Kiantang juga yang sudah membantu Renna membayar biaya pengobatan anak yang ditabraknya itu.
Semenjak itu hubungan Kiantang dan Renna semakin dekat. Sebagian gaji Kiantang setiap bulannya harus diberikan pada Renna untuk memenuhi kebutuhan hidup pacarnya yang sangat royal. Bahkan acara hari ini bisa terlaksana digedung mewah ini juga berkatnya. Dia yang sudah membantu wanitanya itu membayar sewa. Kenapa sekarang dia malah difitnah sekeji ini?!
“Oh, jadi selama ini Kau yang mengambil kesempatan mendekati dan memacari Renna! Dasar Parasit! Kalau miskin itu kerja dong! Jangan menumpang hidup dan makan dengan Perempuan!” Warlan langsung menendang dada Kiantang dengan kuat.
...