

Tanah lapang di belakang pabrik tua itu sunyi saat senja mulai tenggelam. Seorang pria berjaket kulit hitam berdiri dengan pistol beretta terarah ke kepala seorang pria lain yang terduduk pasrah di tanah.
“Bersiaplah untuk mati!” Pria berjaket hitam menggumam.
“Bunuh aku sekarang! Cepat!” desak sosok pria yang terduduk itu dengan pasrah.
Pria berjaket hitam masih terdiam. Batinnya mulai berperang. Sisi bengisnya mulai tercabik-cabik digerus perasaan iba yang mulai menggerogoti. Ia mulai berada di persimpangan yang tak seharusnya. Sampai di detik berikutnya, ia menggeram dan menarik pelatuk beretta-nya.
“Dor! Dor! Dor!”
“Aaargh!”
Tiga tembakan dimuntahkan dari moncong beretta, disertai suara teriakan panjang, mengarah ke arah pohon akasia tak jauh di tepi tanah lapang. Keheningan pecah seketika. Suara letusan itu memenuhi kolong langit.
“Pergilah … pergi kau sejauh-sejauhnya dari mukaku! Harusnya aku membunuhmu! Pergi kau, Alex, sebelum aku berubah pikiran!”
Pria berjaket hitam itu melemparkan begitu saja pistol ke atas tanah. Sementara pria yang dipanggil Alex menatap tak percaya. Rasanya hampir tak percaya, tetapi kesempatan untuk hidup tak datang dua kali. Ia perlahan berdiri, sambil menatap tajam.
“Apa yang akan kau katakan pada majikanmu kalau kau biarkan aku hidup, Bayu? Harusnya kau tembak aku, dan biarkan tubuhku membusuk di tanah lapang ini!” ucap Alex.
“Entahlah” Suara Bayu melemah.”Sebenarnya kau memang pantas mati, Alex. Kau telah menimbun kesalahan besar yang tak termaafkan. Ramon sudah pasti tidak akan pernah mengampunimu”
“Lalu?”
“Ya, aku memang dididik untuk menjadi pembunuh berdarah dingin, tetapi aku bukan manusia yang tak punya perasaan. Kita … kita pernah jadi sahabat. Kita pernah berjuang bersama dalam keterpurukan, sebelum akhirnya kita terpisah dalam kubu yang berbeda. Bagaimana mungkin aku bisa menghabisi nyawa sahabatku sendiri?” ucap Bayu, si jaket hitam, dengan suara bergetar.
Alex terdiam. Apa yang dikatakan Bayu itu memang benar. Angannya melayang ke masa lampau, Lima tahun lalu, sebelum mereka berseberangan, mereka mempunyai kedekatan emosi sebagai sahabat yang begitu dekat.
Berbekal keyakinan, mereka datang dari kota kecil yang sama, ke kehidupan metropolis yang kejam. Kehidupan metropolis menawarkan banyak pilihan, tetapi mereka tak bisa memilih. Sampai mereka terjebak dalam pusaran kehidupan kelam yang bahkan tak bisa mereka kendalikan. Yang mereka tahu, hanya itu satu-satunya cara bertahan hidup.
“Kau bodoh, Bayu!” Alex menggeleng, nadanya getir. “Ramon tidak akan pernah melepaskanmu. Dia begitu mempercayaimu untuk menghabisiku. Apa yang akan kau katakan padanya? Bagaimana kalau dia tahu kalau aku masih hidup?” tanya Alex, menatap tajam mata sahabatnya.
“Aku akan bilang kau sudah mati, Alex. Dia tidak pernah tahu kita saling kenal. Jadi kuminta kau jangan pernah menampakkan dirimu di kota ini lagi. Pergilah yang jauh, tinggalkan kota ini, menikah, dan hiduplah secara normal. Jauhi dunia terkutuk ini!” jawab Bayu sambil menghela napas, berusaha melepas semua beban yang menyesakkan dadanya.
Alex manggut-manggut. “Aku sangat berterimakasih kau masih memberi kesempatan aku untuk hidup. Tetapi aku juga tidak akan membiarkanmu menanggung ini sendirian. Bagaimana mungkin hidupku bisa nyaman sedangkan dirimu masih berada dalam cengkeraman serigala tua buas itu?” ucap Alex lagi.
“Aku akan baik-baik saja. Sungguh. Jangan khawatirkan aku. Ada banyak cara untuk mengelabui Ramon..”
Kalimat Bayu terhenti. Suara letupan tiba-tiba terdengar. Dalam hitungan detik Bayu jatuh limbung, tersungkur di tanah tanpa suara. Darah terpercik di dada dan kepalanya! Ia roboh bak pohon tumbang. Mata Bayu masih terbuka, menatap kosong ke arah Alex. Semua berjalan begitu cepat.
Peluru misterius telah menembus tubuh Bayu tanpa ampun. Alex tercekat. Hampa. Kosong. ia tak mau jadi giliran berikutnya! Dalam keadaan terdesak seperti ini, tak ada yang bisa dilakukannya selain menggulingkan tubuhnya ke balik rumpun ilalang.
Ia menahan napas, menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Mata dan kepalanya menjadi saksi bagaimana sahabatnya itu dihabisi tiba-tiba, nyaris tanpa suara atau tanda-tanda apa pun. Hening.
“Ramon …” gumamnya lirih.
Hari mulai gelap. Langit tidak lagi merah, tetapi berubah menjadi kelabu, terasa muram. Alex merasakan dadanya bergemuruh dalam amarah dan kebencian. Dengan perlahan, terpaksa ia mengendap menembus ilalang, meninggalkan tanah lapang itu. Ia tinggalkan tubuh Bayu yang terbaring di tanah. Ia sadar, saat ini ia harus bertahan hidup, cepat atau lambat, keberadaannya pasti diburu. Napasnya mulai tersengal. Ia bersumpah, akan membalaskan kematian Bayu.
“Kau akan membayar semua ini, Ramon. Aku bersumpah!”
Malam mulai datang, lampu-lampu mulai menyala.. Bagaimanapun, ia berusaha untuk tetap tenang, sambil berjalan di antara keramaian. Ia percaya, berjalan di tengah keramaian akan lebih aman baginya.
Ia menyusur trotoar yang dipenuhi pejalan kaki, menuju apartemennya yang terletak di East Side, bagian timur Metropolitan. Namun, ia merasa bahwa tempat tinggalnya itu mungkin tidak aman. Firasatnya mengatakan, ada kejahatan yang sudah menunggu.
Alex merasa, mungkin saat ini ada yang sedang mengawasi di sekitarnya. Tak mengherankan, Metropolitan sudah dikuasai oleh Ramon dan antek-anteknya. Kejahatan si raja dunia kegelapan itu seolah menggurita, bahkan pihak berwajib pun seolah tak berdaya menghadapinya.
Ia memutuskan untuk menyetop sebuah taksi tua yang membawanya menuju kawasan The Slums, area pinggir kota yang kumuh. Ironisnya, justru di tempat itu ia merasa aman. Begitu turun dari taksi butut itu, ia mempercepat langkah menuju ke sebuah perkampungan padat. Rumah kontrakannya, tempat paling aman di dunia.
Ia memasuki rumah kecil yang sepi, menutup pintu, dan mematikan lampu. Dalam gelap, ia membongkar lemari, memeriksa dokumen-dokumen. Telepon terus bergetar, namun ia enggan menjawab. Ia tahu siapa yang sedang memanggil.
“Persetan denganmu, Karina! Aku berhenti!” gumamnya.
Praang!
Tiba-tiba ia mendengar suara kaca pecah dari beranda depan. Ia melihat sebuah benda berapi melesat menembus jendela. Dalam hitungan detik, lantai terbakar. Bau minyak menusuk hidung! Api cepat berkobar, membakar sekitar. Alex tidak mau mati konyol begitu saja. Sebelum lidah api menjilat, ia segera kabur ke pintu belakang yang tembus dengan kebun pisang.
Dari kebun itu, ia bisa melihat jago merah melahap rumah kontrakannya. Warga sekitar berdatangan. Langit malam berubah merah.
Tiba-tiba ia melihat dua sosok pria berpakaian serba hitam, bergerak di antara pohon-pohon pisang. Seketika ia merundukkan badan, menahan napas. Di tangan pria-pria itu tergenggam senjata laras panjang. Mereka sedang mencari sesuatu. Siapa lagi kalau bukan dirinya?
“Aku yakin dia belum jauh. Masih di kebun ini!” ucap pria itu.
“Kita berpencar! Tembak saja langsung kalo ada yang mencurigakan!” sambung yang lainnya.
Alex bergerak perlahan, merayap menjauhi kebun pisang. Ia tahu kemana harus pergi. Di satu tempat, ketika sebuah dendam dimulai …