

Hujan deras mengguyur Jakarta, menyamarkan isak tangis yang tertahan di balik masker kain kusam milik Arjuna. Di depan lobi megah Rumah Sakit Medika Mulia, ia berlutut. Tangannya yang gemetar memegang ujung sepatu kulit mahal milik seorang wanita paruh baya yang menatapnya dengan jijik.
"Ma... saya mohon. Hanya lima puluh juta. Operasi ginjal ini harus dilakukan malam ini, atau saya..."
"Atau kau mati?" potong Lastri, ibu mertuanya, dengan nada sedingin es. Ia menarik kakinya seolah-olah baru saja menyentuh kotoran. "Arjuna, dengarkan baik-baik. Bagi keluarga Wijaya, kematianmu itu bukan musibah. Itu adalah hari perayaan."
Arjuna tertegun. Kepalanya berdenyut hebat. Sudah tiga tahun ia mengabdi di rumah keluarga Wijaya. Ia mencuci baju, memasak, membersihkan toilet, bahkan memijat kaki Lastri setiap malam tanpa mengeluh. Semua itu ia lakukan demi Clarissa, istrinya, yang bahkan tidak pernah membiarkannya tidur di ranjang yang sama.
"Tapi Ma, saya suami Clarissa secara hukum..."
"Hukum?" Lastri tertawa sinis, suaranya bersaing dengan gemuruh petir. "Kau hanya parasit yang menempel karena wasiat kakek Clarissa yang sudah pikun. Besok, surat cerai akan sampai di meja rumah sakit ini—kalau kau masih hidup."
Lastri masuk ke dalam mobil Alphard-nya. Sebelum pintu tertutup, ia melemparkan selembar uang sepuluh ribu rupiah yang sudah lecek ke arah Arjuna. "Ini untuk ongkos busmu pulang. Jangan mati di depan rumah sakit ini, mengotori pemandangan saja."
Mobil itu melesat, meninggalkan Arjuna yang tersungkur di aspal basah. Darah segar merembes dari hidungnya, bercampur dengan air hujan. Penyakit gagal ginjal stadium akhir yang ia sembunyikan selama setahun ini akhirnya mencapai titik puncak.
Pandangan Arjuna mulai menggelap. Di tengah kesadarannya yang kian menipis, sebuah mobil sport Lamborghini hitam berhenti tepat di depannya. Seorang pria dengan setelan jas rapi turun, memayungi Arjuna.
"Tuan Muda... akhirnya kami menemukan Anda," bisik pria itu dengan suara bergetar.
Arjuna ingin menjawab, tapi tenggorokannya tercekat darah. Tuan muda? Siapa?
Tiba-tiba, sebuah suara mekanis yang dingin dan tanpa emosi bergema langsung di dalam otaknya, mematikan semua kebisingan hujan.
[Ding! Target Terdeteksi: Pewaris Tunggal Keluarga Atmadja yang Terbuang.]
[Kondisi Fisik: Kritis (Sisa Umur: 5 Menit 12 Detik).]
[Sistem Pertukaran Nyawa (Life Exchange System) Diaktifkan!]
Arjuna terbelalak. Di depan matanya, muncul sebuah layar semi-transparan yang hanya bisa dilihat olehnya.
[Opsi Pertukaran:]
[Tukar sisa rasa sakit Anda dengan: Pemulihan Jaringan Organ (Biaya: 10% Ego).]
[Tukar status penghinaan Anda dengan: Kekayaan Tak Terbatas (Biaya: Misi Balas Dendam).]
Apakah aku sudah gila? Apakah ini halusinasi sebelum ajal? batin Arjuna.
[Peringatan: Detak jantung melambat. 10... 9... 8...]
"Terima... aku terima semuanya!" teriak Arjuna dalam hati dengan sisa kekuatannya.
[Ding! Pertukaran Berhasil!]
[Memulai Restorasi Tubuh Dewa... Menghubungkan ke Jaringan Perbankan Global... Sinkronisasi Identitas: Pemilik Konsorsium Naga Hitam.]
Seketika, rasa sakit yang menghujam ginjalnya hilang. Sensasi hangat mengalir ke seluruh pembuluh darahnya. Arjuna merasakan otot-ototnya yang selama ini lemah karena kurang gizi dan penyakit, tiba-tiba mengeras dan berisi tenaga yang meluap-luap.
Pria berjas yang tadi memegang payung tersentak. Ia merasakan aura yang sangat berbeda terpancar dari tubuh pemuda yang tadi tergeletak tak berdaya itu.
"Tuan Muda Arjuna?" tanya pria itu ragu. "Saya adalah asisten pribadi mendiang kakek Anda, Atmadja. Beliau meninggalkan seluruh asetnya atas nama Anda. Nilainya... tidak bisa dihitung dengan angka."
Arjuna berdiri perlahan. Ia tidak lagi membungkuk. Bahunya tegak, tatapan matanya yang tadi kuyu kini tajam seperti elang. Ia memungut uang sepuluh ribu pemberian mertuanya yang tergenang air.
"Sepuluh ribu," gumam Arjuna. Suaranya kini berat dan penuh wibawa. "Ibu mertuaku bilang, ini harga nyawaku."
Arjuna meremas uang itu hingga hancur. Ia menatap gedung rumah sakit milik keluarga Wijaya yang berdiri angkuh di depannya.
"Baru saja mereka kehilangan aset paling berharga yang pernah ada di rumah mereka," ujar Arjuna dingin. "Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membeli rumah sakit ini dan seluruh perusahaan keluarga Wijaya?"
Pria berjas itu membungkuk hormat 90 derajat. "Dengan saldo yang Anda miliki sekarang di rekening Private Banking Anda? Lima menit, Tuan Muda. Itu pun jika kita membelinya dengan harga sepuluh kali lipat agar mereka tidak punya pilihan untuk menolak."
Arjuna masuk ke dalam Lamborghini tersebut. Jok kulitnya terasa asing bagi seseorang yang biasanya hanya naik angkot.
"Jangan beli sekarang," ucap Arjuna sambil menatap ke luar jendela, ke arah kegelapan malam. "Biarkan mereka merasa di puncak kejayaan besok pagi saat merayakan perceraianku. Aku ingin melihat wajah mereka saat aku datang bukan sebagai menantu sampah, tapi sebagai pemilik nyawa mereka."
Di layar sistemnya, sebuah notifikasi baru muncul:
[Misi Utama: Buat Clarissa Wijaya berlutut dalam 24 jam. Hadiah: Teknik Pengobatan 'Tangan Pencabut Nyawa'.]
Arjuna menyandarkan kepalanya. Permainan baru saja dimulai. Selama ini ia adalah domba di tengah serigala. Kini, serigala-serigala itu akan menyadari bahwa mereka baru saja mengusik seekor naga yang baru bangun dari tidurnya.
"Jalan," perintah Arjuna singkat.
Mobil sport itu meraung, membelah malam Jakarta, meninggalkan kemiskinan dan penderitaan Arjuna di belakang aspal yang basah.
Bersambung ....