

Disebuah desa terpencil, ada sebuah desa, desa itu bernama desa cibambu, karena banyak sekali hutan bambu di desa itu, desa tersebut sangat damai dan sejahtera, warga - warganya juga setiap pagi ada yang pergi ke ladang, ada yang ke sawah, ada juga yang pergi ke pasar untuk menjual hasil panen.
Di suatu hari, tepat di tengah malam, sebuah badai menerpa desa ku, kilatan petir saling bergemuruh, angin bertiup kencang, dan ketika itu terjadi, ada suara tangisan bayi di salah satu rumah.
"EAKK!! EAKK!! EAKK!!
"Alhamdulillah" ucap keluarga tersebut, yang ternyata ada yang sedang melahirkan.,
"Selamat ya buk!! Bayi nya laki-laki" ucap seorang dokter.
"Selamat ya buk ratni!!" ucap para ibu-ibu yang sedang melihat proses penglahiran, dan ternyata yang melahirkan namanya ibu ratni.
Setelah bayi itu lahir badai pun secara perlahan mulai reda,
Ketika itu juga seorang laki-laki yang ternyata suami nya buk ratni langsung meng adzani bayi tersebut.
Setelah selesai warga yang melihat penglahiran itupun langsung pulang, dan tersisa keluarga buk ratni, buk Siti dan pak ade adalah orangtuanya ibu ratni, dan buk Karmila dan pak Dede adalah mertuanya buk ratni dan orangtuanya pak Sudirman yang menjadi suaminya buk ratni, dan yang lahir adalah saya yang di beri nama DENDI !!
BEBERAPA TAHUN KEMUDIAN
"Teman teman, tunggu aku !! ". Ucap seorang remaja yang sedang berlari, dan itu adalah aku.
"Ayo cepat, kita ke sungai" ucap salah satu temanku yang bernama Alif.
"Iya ayo cepat denn, saya sudah gerah ingin mandi di sungai". Timpal temanku yang sa
tunya lagi yang bernama Heru.
Kami bertiga langsung menuju ke sungai, setelah sampai temanku yang bernama Heru langsung melompat ke sungai itu.
"Wahh, air nya sangat sejukkk" ucap Heru.
Tidak lama kemudian disusul dengan Alif yang juga langsung melompat.
"Wahh iya air nya juga sangat bening". Ucap Alif.
Aku yang melihat mereka berdua juga tidak mau kalah, aku langsung melompat ke arah mereka berdua "BRUSSS".
Pagi itupun kami bersenang-senang, sampai tidak terasa kami sudah 30 menit, kami bertiga langsung menuju ke tepi sungai, setelah itu kami langsung pulang untuk mengganti pakaian.
Di tengah perjalanan menuju rumah, aku yang sedang melihat lihat pemandangan, tertuju pada kebun bambu, dan terlihat samar samar ada sosok hitam besar yang seperti sedang mengawasi kami,... Tiba-tiba.
"SENGGG". telinga ku langsung berdenging, disusul dengan sebuah suara yang mengatakan..
"CEPAT PULANG KERUMAH".
Aku yang mendengar hal tersebut langsung terkejut dan berlari meninggalkan Heru dan Alif.
"Oii, denn, kenapa kamu larii, tunggu kita". Teriak Heru dan Alif.
Sesampainya di rumah aku langsung menuju ke dapur untuk mengambil minum. Melihat aku bertingkah seperti itu, ibuku langsung menghampiriku dan bertanya.
"Kamu kenapa de, kok seperti di kejar setan". Ucap ibuku.
"Tidak kok buk, Dendi habis bermain lari larian sama Heru dan Alif ". Jawabku yang tidak ingin menceritakan kejadian sebenarnya.
"Yaudah kamu mandi, setelah itu bantu ibu membeli barang di warung." Ucap ibuku sambil tersenyum.
"Baik buk." Jawabku yang langsung ke kamar mandi.
Setelah mandi aku langsung menuju ke warung untuk membeli barang.
"Assalamualaikum." Ucap ku kepada pemilik warung.
"Waalaikumsalam, eh nak Dendi, mau beli apa toh." Jawab Bu sari sekaligus bertanya.
"Saya mau beli bahan dapur Bu." Jawabku.
"Oh, tunggu sebentar ya." Ucap Bu sari sambil tersenyum.
Selang beberapa menit, ketika saya dalam berjalan pulang, aku ketemu Heru yang ingin ke warung juga.
"Oi, Denn, kenapa kamu tadi lari?." Ucap Heru menanyakan hal itu.
"Hehe, sorry, aku tadi kebelet pipis hehe." Jawabku yang juga tidak mau menceritakan kejadian sebenarnya.
"Ohh, kirain apa tadi, ... besok hari kelulusan, kamu mau membuat hadiah apa ke wali kelas kamu?." Tanya Heru.
"Ada deh rahasia hehe." Jawabku sambil bercanda.
"Huhh, kamu main rahasiaan." Ucap Heru sambil langsung menuju ke warung.
"Hahaha" ucap ku.
Malam harinya ketika aku mau tidur, aku teringat dengan suara dan sosok hitam tadi yang ada di kebun bambu.
"Sebenarnya suara siapa tadi itu? Dan apa yang hitam besar itu?." Gumamku dalam hati.
Ketika aku memikirkan hal tersebut, aku malah tertidur, dan aku bermimpi melihat sosok kakek kakek berjubah putih, terlihat seekor ular berwarna emas dan memancarkan cahaya keemasan.
"Siapa itu?." Ucap ku sambil melihat ke arah kakek kakek itu.
Tapi kakek itu hanya tersenyum melihat kearah ku.
Ketika aku ingin mendekati kakek itu, aku terbangun karena mendengar suara adzan subuh.
"Huhh, Hanya mimpi, sebenarnya siapa kakek kakek itu?." Tanyaku kepada diri sendiri.
"Ahh, sekarang mending sholat dulu,." Sambungku yang langsung bergegas mengambil air wudhu, setelah itu langsung sholat subuh.
Pagi itu juga aku langsung mandi, setelah mandi aku langsung berangkat ke sekolah, tidak lupa mengambil kado untuk guru saya, karena ini hari kelulusan.
Setelah sampai di sekolah, aku melihat Heru dan Alif, yang sedang mengobrol dengan teman sekelas nya.
" Lagi ngobrol apa nih." Ucap ku yang langsung ikut ngobrol dengan mereka.
"Ini denn, kita lagi ngobrol, setelah lulus kamu mau melanjutkan sekolah kemana?." Ucap Wendi teman sekelasnya Alif.
" Iya, kamu mau lanjut sekolah kemana?." Timpal Yuda teman sekelasnya Heru.
" Emmm, gak tahu sih, gua belum bertanya ke orang tua gua." Jawabku.
"Ehh, denn bagaimana kalau kita ke kota saja? ." Tanya Heru.
"Iya denn, lu mau ikut gak?." Sambung Alif.
"Ya, itusih keputusan orang tua gua, gua mah nurut nurut aja," jawabku.
Singkat cerita kami sudah merayakan hari kelulusan,
Setelah pulang sekolah aku langsung ingin memberi tahu orang tua ku untuk melanjutkan sekolah di kota.
"Assalamualaikum." Salam ku ketika masuk kedalam rumah.
"Waalaikumsalam." Jawab kedua orang tua ku.
Aku langsung mendekat ke mereka yang sedang menonton tv dan langsung bertanya.
" Ibu, ayah, apakah boleh dendi, sekolah di kota?." Pintaku.
"Sekolah di kota? Memangnya kamu sama siapa kesana?." Tanya ayahku.
"Heru sama Alif yah." Jawabku.
"Kalau ibu ngizinin, tapi kamu jangan nakal, kamu harus benar benar mencari ilmu, dan jangan banyak bergaya ya." Jawab ibuku yang langsung mengizinkan aku.
"Ya, kalau mamah ngizinin, apa boleh buat, tapi kamu harus ingat pesan mamah tadi ok, dan jangan lupa sholat." Ucap bapakku yang langsung mengizinkan juga.
"Iya, pak, buk, dendi janji tidak akan nakal." Ucapku juga yang langsung merasa senang.
Beberapa bulan kemudian, aku, Heru dan Alif , sudah mau berangkat pergi ke kota.
Kami di antar sampa ke terminal bus yang jaraknya beberapa meter dari gapura desa cibambu.