Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
ASASIN

ASASIN

riadis99 | Bersambung
Jumlah kata
55.8K
Popular
236
Subscribe
49
Novel / ASASIN
ASASIN

ASASIN

riadis99| Bersambung
Jumlah Kata
55.8K
Popular
236
Subscribe
49
Sinopsis
18+PerkotaanAksiMafiaPembunuhanGangster
PERHATIAN! CERITA DEWASA 18+ BIJAKLAH DALAM MEMBACA... Senja selalu datang singkat, namun keindahannya tak pernah gagal menoreh jejak. Begitu pula hidup Lintang, seorang pembunuh yang seluruh langkahnya diwarnai gelap, tetapi diam-diam merindukan secuil cahaya. Malam ketika ia terbaring di pinggiran kota, dengan darah menghitam merembes dari dadanya, langit hanya memandanginya dengan kedipan bintang yang sepi. Ia bertanya pada dirinya sendiri: apakah hidupnya akan padam secepat senja yang turun, tanpa sempat dikenang siapa pun? Diburu masa lalu dan dikhianati orang-orang yang pernah ia lindungi, Lintang harus memilih antara menyerah pada gelap… atau bangkit dengan keberanian yang rapuh, serapuh kelopak bunga yang mudah gugur, namun selalu kembali mekar saat cahaya menyentuhnya. Ketika hidup, cinta, dan penebusan sama lembutnya dengan kelopak, namun sama singkatnya dengan senja, Lintang harus menentukan: ia ingin dikenang sebagai apa? Akankah nyawa seorang pembunuh sesingkat senja?” bisik batinnya, “Atau justru serapuh kelopak bunga?”
Bab 1

'Meski senja hanya sesaat, namun tiada yang sanggup menandingi pendar jingganya. Manakala senja muncul ke permukaan, bahkan bintang abadi yang paling terang pun tak mampu menandingi kemilaunya.'

——————

Ketika sebuah cahaya senja jatuh, dia sedang duduk di atas bukit di sebelah rumah kecil di pinggir kota.

Dia senang berjudi dan minum alkohol. Dia pun senang main perempuan. Dalam kehidupannya selama ini dia sudah mencicipi banyak perempuan.

Dia juga pernah membunuh orang.

Namun apabila senja tiba, dia sangat jarang melewati kesempatan ini karena dia selalu duduk di tempat itu menunggu munculnya cahaya jingga bersinar.

Dia bisa merasakan lembutnya cahaya senja, sebab itu adalah salah satu kenikmatan dunia. Dia tidak mau melewati kesempatan ini, karena dalam kehidupannya dia tidak mempunyai kesenangan yang lain.

Dulu dia pernah mempunyai keinginan menangkap matahari yang terbenam, namun sekarang khayalannya sudah tidak banyak lagi malah hampir tidak ada. Bagi orang seperti dirinya, berkhayal merupakan suatu perbuatan yang lucu dan memalukan.

Di sini adalah tempat yang paling leluasa untuk memandang matahari terbenam.

Sebuah bukit kecil yang terletak di pinggiran kota menghadap area persawahan, di kejauhan barat sana samar-samar gunung Arjuno menjulang. Lampu rumahnya telah menyala. Pada saat angin berhembus, kadang-kadang terdengar suara tawa dan suara orang bersulang terbawa oleh angin menerpa bukit. Itu adalah rumahnya, minumannya dan juga perempuannya.

Namun dia lebih suka duduk termenung di tempat ini dan lebih senang menyendiri.

Cahaya jingga sudah menghilang, air di pinggiran sawah sedang mengalir pelan. Waktu untuk bersenang-senang sudah lewat. Sekarang dia harus kembali dingin dan menjadi tenang, benar-benar tenang dan dingin. Sebab sebelum membunuh, seseorang harus tenang dan dingin.

Sekarang dia harus membunuh orang, sebenarnya dia tidak suka membunuh. Setiap kali saat senjatanya menusuk jantung orang dan darah mengalir hingga ke ujung belati kemudian menetes ke bawah, dia malah tidak dapat menikmati keadaan itu.

Dia hanya merasa sedih. Walaupun dia sangat sedih, dia berusaha menahannya.

Dia harus membunuh orang, bila tidak membunuh orang dia yang akan dibunuh orang.

Kadang-kadang orang hidup bukan untuk menikmati kesenangan namun untuk menahan kesedihan karena hidup adalah sebuah tanggung jawab. Siapa pun tidak ada yang bisa lari dari tanggung jawab itu. Dia mulai mengenang saat pertama kali membunuh orang.

Malang adalah sebuah kota yang sangat besar. Di kota itu terdapat berbagai macam orang. Ada para pengusaha, tentara, ada orang yang kaya, orang miskin, dan masih banyak perkumpulan-perkumpulan lainnya.

Namun nama-nama mereka tidak seperti nama Bos Dirga. Orang yang bagaimana kaya pun belum tentu bisa menyamai setengah dari kekayaan Bos Dirga. Dan tidak ada orang bisa menahan 37 jurus Cimandenya.

Orang yang pertama kali dibunuhnya adalah Bos Dirga. Harta kekayaan dan nama besar Bos Dirga bukanlah hadiah yang jatuh dari langit. Semua itu diraihnya melalui perjuangan keras dan tangan besi, sehingga musuh-musuhnya pun tak terhitung jumlahnya, bahkan dia sendiri sudah lupa siapa saja mereka. Namun, di antara semua musuh itu, tak seorang pun berani mengangkat tangan untuk membunuhnya. Yang berniat membunuh pun akhirnya urung, karena tahu akibatnya akan fatal.

Anak buah Bos Dirga sangat tangguh, ilmu bela diri mereka dapat dikatakan sangat terkenal di dunia bawah tanah. Dan terdapat juga dua orang Bodyguard yang tak pernah beranjak dari sisinya. Dia selalu dikelilingi oleh pengawal yang hebat.

Tubuhnya dilapisi oleh baju anti peluru sehingga orang susah membunuhnya karena itu dia benar-benar sangat sulit didekati.

Walaupun ada orang yang ilmu bela dirinya lebih hebat dari dia tapi bila ingin membunuhnya harus melewati dulu 7 lapis penjagaan. Bila ingin masuk ke rumahnya harus melewati dulu anak buahnya yang memiliki kepandaian tinggi, Dan sekali menyerang harus mengarah pada tenggorokan Bos Dirga, dan harus sekaligus membunuh karena bila meleset kau tidak mempunyai kesempatan untuk membunuh lagi.

Tidak ada orang yang ingin mencoba membunuhnya karena tidak ada yang mampu. Hanya ada satu orang yang bisa membunuh dia, orang ini adalah Lintang.

Dia menghabiskan waktu setengah bulan untuk menyelidiki kehidupan Bos Dirga, semua gerak geriknya pun diamati, dia menghabiskan waktu satu bulan untuk memasuki rumah Bos Dirga, menyamar sebagai tukang kebun di taman Bos Dirga.

Dia menghabiskan waktu setengah bulan menunggu waktu yang tepat. Semua hal terlihat seperti mudah tapi menunggu waktu yang tepat benar-benar tidak mudah.

Karena Bos Dirga layaknya seorang perawan yang dipingit, tidak memberi kesempatan untuk berdekatan.

Saat mandi atau ke kamar kecil pun selalu ada yang mengawalnya.

Namun bila sabar menunggu kesempatan itu pasti datang. Bahkan seorang perawan pun bila tiba waktunya dia akan menjadi seorang istri dan ibu.

Pada suatu hari, angin bertiup sangat kencang dan membuat topi Bos Dirga terlepas, empat orang pengawal berebut mengambil topinya.

Pandangan Bos Dirga mengikuti ke mana topi itu diterbangkan angin.

Pada saat tak ada seorang pun yang memperhatikan, dan kesempatan itu begitu sempit, para pengawal Bos Dirga justru ceroboh. Mereka meninggalkan majikannya sendirian, menganggap tak ada ancaman yang perlu dikhawatirkan.

Itulah momen yang ditunggu Lintang.

Dia sudah berdiri tepat di belakang Bos Dirga. Tanpa ragu, belati di tangannya melesat, satu tusukan cepat dan tepat, menembus dari belakang leher hingga keluar di tenggorokan. Belati dicabut seketika.

Darah langsung menyembur, berceceran dan berhamburan seperti kabut merah yang pekat.

Kabut darah menutupi pandangan setiap orang. Kilauan belati mengejutkan jiwa setiap orang. Begitu kabut darah menghilang, Lintang sudah jauh dari mereka. Tidak ada orang bisa melukiskan kecepatan tangan dan belatinya.

Menurut cerita orang-orang, sewaktu Bos Dirga dimasukkan ke dalam peti mati, matanya masih terbuka dan sorot matanya menggambarkan rasa curiga dan rasa tidak percaya.

Dia tidak percaya dirinya bisa mati dan dia pun tidak percaya ada orang yang mampu membunuhnya.

Kematian Bos Dirga mengegerkan dunia tapi nama Lintang tidak ada yang mengetahui.

Karena tidak ada yang mengetahui siapa yang membunuh Bos Dirga hingga tak ada orang yang berani bersumpah dia akan membalaskan dendam Bos Dirga.

Bahkan sebaliknya ada pula yang bersumpah mencari si bintang penyelamat, begitu menemukan dia akan segera berlutut dan mencium kakinya untuk berterima kasih karena telah menyingkirkan seorang penjahat.

Ada seorang tokoh muda yang ingin terkenal, juga ingin mencarinya, hanya ingin bertarung dengannya untuk membuktikan senjata siapa yang paling cepat. Semua tidak dipedulikan olehnya. Sesudah membunuh orang biasanya dia seorang diri lari ke rumahnya yang kecil dan bersembunyi di sudut rumah sambil menangis dan muntah-muntah.

Saat ini dia sudah tidak bisa menangis lagi karena air matanya sudah kering, tapi setiap kali bila sudah membunuh orang dan melihat darah yang masih tersisa di belatinya dia masih terus bersembunyi.

Sebelum membunuh orang dia tampak dingin dan tenang. Namun setelah membunuh orang dia tidak dapat menahan diri lagi. Dia harus berjudi, minum alkohol hingga mabuk, kemudian mencari perempuan yang cantik untuk melupakan kejadian saat dia membunuh orang. Tapi dia selalu sulit melupakannya dan terus terbayang-bayang. Karena itu dia harus terus menerus berjudi, minum alkohol, dan mencari perempuan hingga dia membunuh orang lagi.

Waktu itu dia melarikan diri ke sebuah bukit kemudian berbaring di rumput, dia tidak mau memikirkan apa-apa, dia tidak dapat berpikir dan tidak mau berpikir.

Dia hanya memaksakan diri supaya tenang dan siap untuk membunuh yang lain.

Orang yang akan dia bunuh tidak dia kenal juga tidak ada dendam antara mereka, bahkan kadang-kadang belum pernah bertemu.

Orang ini hidup atau mati tidak ada hubungan dengannya. Namun dia tetap harus membunuh orang itu. Dia harus membunuh orang itu karena diperintah oleh Maya.

***

Bersambung Bab 2

Lanjut membaca
Lanjut membaca