

Ganendra menenteng dua buah ember kayu di kanan dan kiri tangannya sembari berjalan dengan susah payah agar airnya tidak tumpah.
Perasaan tidak sabar merayapi hatinya, karena setelah ini ia berniat untuk merebuskan neneknya sup daging kelinci yang tadi ia dapatkan dari tetangga.
Akhir-akhir ini, kesehatan neneknya memang tidak sekuat dulu. Oleh karena itu, ia selalu berusaha melakukan apa pun agar perempuan tua itu tetap merasa hangat.
Namun, sesaat kemudian, senyumnya membeku di udara.
Terlihat lidah api menari-nari, membungkus seluruh desanya. Lidah api yang membumbung tinggi seolah-olah ingin menembus langit dan telah menghancurkan seluruh desanya.
Ganendra mempercepat langkah kakinya dan langsung berlari menuju desanya sekuat tenaga.
Sesampainya di sana, terlihat jelas bahwa seluruh desanya telah dilahap oleh api tanpa menyisakan apa pun.
Hatinya mencelos dan tangannya melemah. Dua ember yang ia bawa tidak mungkin memadamkan api sebesar itu.
Ganendra berteriak sekuat tenaga untuk meminta tolong, tetapi tidak ada yang mendengar.
"Tolong!" Ganendra berteriak sekali lagi dengan otak yang sibuk mencari akal, tapi semua kemungkinan yang ia dapatkan terus mengarah ke jalan buntu.
Sumur terdekat berada di desa sebelah, tempat ia mengambil air yang berjarak lebih dari sepuluh kilometer jauhnya.
Ganendra akhirnya terus menggali tanah, berusaha memadamkan api menggunakan tanah lempung yang banyak dijumpai di desa.
Menjelang malam, api di dekat gerbang desa mereda sebagian sehingga dia langsung berlari masuk ke dalam.
Namun, yang dia temukan hanyalah rumah-rumah yang sebagian masih dilahap api bersamaan dengan tubuh-tubuh yang tidak lagi utuh.
Sebuah desa yang semula harmonis dan dipenuhi dengan canda tawa, kini telah berubah menjadi sunyi.
Tanpa menunda waktu, Ganendra buru-buru berlari ke rumahnya bersama sang Nenek yang terletak di bagian barat desa.
Dalam hati, dia terus berdoa dan berharap agar Tuhan menyelamatkan neneknya, tapi setelah melihat mayat yang setengah terbakar di dekat pintu, kedua lutut Ganendra langsung menghantam tanah.
Air matanya mengalir tak terkendali.
Pada saat yang sama, ia melihat sebuah pedang yang tertancap di tubuh neneknya.
Hatinya seolah-olah tercabik-cabik kala melihat orang yang paling ia sayangi dalam hidup ini mati dalam keadaan seperti itu. Ini bukan kecelakaan — ini pasti disebabkan oleh ulah seseorang!
"Nenek... kenapa nenek meninggalkan aku?" Ganendra bergumam dengan suara bergetar, lalu memeluk neneknya dengan erat.
Tubuh neneknya yang dulu menjadi tempat paling hangat dan nyaman, kini telah berubah menjadi dingin dan kaku, tak bernyawa.
Berbagai perasaan bertabrakan di dalam hati Ganendra hingga membuatnya kesulitan berpikir jernih.
Namun, tiba-tiba saja, tanpa Ganendra sadari, kalung mutiara yang dikenakan oleh neneknya bersinar redup dan perlahan bersinar terang.
Ganendra baru menyadari perubahan ini, lalu menutup matanya untuk menghalau cahaya yang menyakiti mata.
Mutiara itu terus bersinar tanpa henti dan menjadi begitu terang, sampai-sampai menyinari seluruh rumah sederhana Ganendra dan mengeluarkan energi yang sangat besar.
DHUAR!!
Ganendra terlempar ke belakang beberapa meter.
Ketika berdiri, betapa terkejutnya dia saat melihat bayangan sebuah pedang yang sangat besar dan perkasa melayang tepat di atas tubuh neneknya, berbalut cahaya putih yang sama dengan mutiara tadi.
Ganendra menggosok matanya berulang kali untuk memastikan bahwa ia tidak berhalusinasi.
Belum sempat berbuat apa pun, tiba-tiba sebuah suara misterius terdengar dari arah pedang itu.
"Aku lah Pedang Pembelah Langit! Pedang yang ditempa dengan Besi Surgawi oleh Dewa Pencipta sepuluh ribu tahun lalu!"
"1000 tahun aku tertidur di dalam mutiara yang selalu dikenakan oleh nenekmu. Akhirnya, hari ini darah dan air matamu telah membangunkanku dari tidur panjang."
Ganendra yang tidak percaya bahwa suara itu berasal dari pedang di hadapannya, melihat ke sekitar untuk mencari sumber suara.
"Tidak perlu mencari. Aku adalah roh artefak di dalam Pedang Pembelah Langit ini. Setelah tertidur lama, aku menjadi lemah dan membutuhkan waktu untuk pulih seperti dahulu.
Namun, aku mengetahui jawaban yang kamu inginkan."
"Tahu apa yang aku inginkan? Kamu tahu siapa yang memusnahkan seluruh desaku?" tanya Ganendra dengan ragu-ragu.
"Ya. Orang yang membunuh nenekmu adalah orang dari sekte yang mengabdi pada Klan Iblis yang sudah merajalela," jawab Pedang Pembelah Langit dengan penuh kebencian, lalu melanjutkan,
"Aku mengetahuinya karena ketika nenekmu terluka, aku merasakan aura iblis yang begitu pekat dari mereka."
Ganendra menundukkan kepalanya. Dugaannya memang benar. Ada seseorang yang datang untuk membunuh, lalu membakar, sehingga semuanya tampak seperti kecelakaan.
"Klan Iblis sejak dulu melatih ilmu sesat. Dengan membunuh orang lain, mereka bisa meningkatkan kekuatannya.
Di dunia ini, bukan hanya desamu yang terdampak seperti ini, melainkan ribuan desa lain yang telah menjadi korbannya." lanjut Pedang Pembelah Langit lagi.
"Apakah mereka benar-benar sekuat itu?" tanya Ganendra dengan sedih.
Ia memang pernah mendengar para pendekar yang mampu melatih tenaga dalam hingga bisa membelah gunung atau menyeberangi lautan.
Jika memang benar, maka dirinya yang lemah ini mana bisa membalaskan dendam neneknya dan desanya?
"Mereka memang kuat, tetapi bukan berarti tidak ada kelemahan. Selama kamu bersedia berlatih giat dan fokus pada jalan kebenaran, kamu akan bisa mengalahkan mereka. Karena aku melihat bahwa kamu memiliki bakat kultivasi dalam garis darahmu," jawab Pedang Pembelah Langit dengan misterius.
"Kalau begitu, apakah kamu bersedia menumpas kejahatan dan melindungi ribuan orang yang tertindas oleh kekuatan iblis?
Jika kamu setuju, maka aku akan mengakui kamu sebagai tuanku. Kita akan bekerja sama menumpas kejahatan dan mengembalikan kestabilan dunia. Aku juga akan memberikan sebuah hadiah pertemuan untukmu nanti."
Nada bicara Pedang Pembelah Langit itu agak aneh.
Hanya saja, Ganendra yang mendengar kata-kata itu merasa mendapatkan secercah harapan, sehingga semangatnya kembali bangkit.
Ganendra mengangkat kepalanya dan menatap Pedang Pembelah Langit dengan tatapan penuh tekad. Lalu ia mengulurkan tangannya untuk meraih pedang tersebut.
"Aku bersumpah untuk membalas atas apa yang terjadi hari ini!"
Seiring dengan sumpah Ganendra, langit bergemuruh dan awan gelap menyelimuti seluruh desa Ganendra, seolah-olah ingin melahap semuanya.
Sementara itu, setitik cahaya putih menyelimuti seluruh tubuh Ganendra dan menelusup ke dalam kepalanya.
Tiba-tiba tangan Ganendra terentang, pupilnya memerah dan rambutnya berkibar dengan liar.