Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
MAHARI AKU, Suara yang Menjaga Kenangan

MAHARI AKU, Suara yang Menjaga Kenangan

Ombob | Bersambung
Jumlah kata
48.0K
Popular
100
Subscribe
18
Novel / MAHARI AKU, Suara yang Menjaga Kenangan
MAHARI AKU, Suara yang Menjaga Kenangan

MAHARI AKU, Suara yang Menjaga Kenangan

Ombob| Bersambung
Jumlah Kata
48.0K
Popular
100
Subscribe
18
Sinopsis
PerkotaanSlice of lifeSpiritualMisteriPewaris
Pranaya adalah lelaki sederhana yang memendam perasaan lebih banyak daripada mengucapkannya. Ia mencintai keluarganya dengan sunyi dan menghormati mertuanya, seorang pemburu perkutut yang percaya bahwa suara burung membawa kedamaian dan menjadi penjaga rumah. Ketika sang mertua menghadiahkan seekor perkutut untuk cucunya, burung itu mati dalam seminggu. Begitu pula empat burung berikutnya, mati satu per satu. Hingga Pranaya mendengar petuah: perkutut tidak boleh diterima gratis, harus dimahari, walau hanya satu rupiah. Diam-diam ia memasukkan uang ke tas mertua sebagai mahar, dan sejak hari itu, burung terakhir hidup bertahun-tahun. Saat burung itu kehilangan suara berbulan-bulan, Pranaya melakukan tindakan nekat yang tak masuk akal, mencelupkannya ke air seolah memberi kesempatan hidup kedua. Ajaib, suara burung kembali dan menjadi penyembuh hati seluruh rumah. Namun ketika sang mertua meninggal, burung itu ikut diam. Baru pada hari ke-40 ia berkicau lagi dan lebih jernih, panjang, seperti doa yang terbang ke langit. Sejak itu, setiap suaranya terdengar, Pranaya merasa ayahnya pulang sebentar. Burung itu bukan lagi sekadar hewan, tetapi warisan cinta, penjaga kenangan, dan pengingat bahwa segala yang hidup harus dimahari(dihargai), dijaga, dan disyukuri.
Bab 1 : Rumah Tua Itu

Aku masih ingat benar waktu pertama kali menginjakkan kaki di rumah tua itu. Sebuah rumah kayu yang berdiri tenang di tepi kampung, dipeluk rumpun bambu yang bergerak pelan mengikuti arah angin. Atap sengnya berkarat tapi kokoh, dengan suara gemerisik yang khas setiap angin sore bertiup dari arah sungai. Di terasnya berdiri kursi panjang dari kayu nangka, berwarna cokelat tua karena dipoles saban bulan oleh mertua. Tempat itu seperti saksi segala obrolan dan diam yang tak membutuhkan kata.

Aku dan istriku datang tidak membawa banyak barang. Hanya dua tas pakaian, satu kardus buku, dan satu kandang kecil berisi anak ayam yang diberikan ibu sebelum kami berangkat. Sederhana, tapi di saat itu seolah seluruh dunia kami muat di dalamnya. Aku masih merasa kikuk saat melompati dua anak tangga teras. Di belakangku, anakku yang baru berumur tiga tahun berlari kecil menyusul, menabrak betisku sambil tertawa, suaranya pecah seperti kelereng jatuh di lantai semen.

Mertua berdiri di ujung teras, tubuhnya tegap meski usia sudah jauh melewati lima puluh. Keriput di sudut matanya menyimpan banyak kisah, dan sorotnya hangat seperti matahari pukul sembilan pagi. Tangannya besar dan kasar, tanda bertahun-tahun bekerja dengan tanah dan kayu. Ketika ia mengulurkan tangan padaku dan menggenggam kuat, aku merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan. Ada rasa diterima, tapi juga ada sebuah tanggung jawab yang tiba-tiba menempel di dada.

Masuk ke dalam rumah itu seperti melangkah ke waktu yang berbeda. Lantainya papan tua berwarna gelap, disapu rapi, berbau harum minyak kelapa. Di beberapa sudut tergantung foto-foto lama yang warnanya telah memudar. Latar belakangnya sawah, sungai, dan pasar kampung. Di dinding ruang tamu, sebuah jam dinding besar berdetak sangat jelas, tanpa jeda, seolah menandai setiap detik kehidupan.

Suara itu terdengar seperti napas rumah.

Di belakang rumah, terdengar suara lembut entah dari mana. Suara yang aku belum kenal. Sebuah bunyi seperti seruling pendek, naik perlahan lalu turun halus, bergetar dan menyisakan gema kecil yang menenangkan. Anakku menghentikan langkah dan menoleh, matanya membulat. Ia tidak berkata apa pun, hanya menajamkan telinga. Suara itu datang berulang, dari arah belakang rumah, seperti ada yang memanggil pelan dari balik waktu.

Aku menatap istriku, dan ia hanya tersenyum. Tunggu nanti ayah dengar sendiri katanya pelan.

Di luar jendela belakang tampak barisan sangkar kayu menggantung rapi di bawah atap dapur. Ada empat atau lima, aku belum pasti menghitung. Tapi dari sana suara itu datang, merayap pelan, seperti suara yang tidak ingin mengganggu tetapi juga tidak ingin diabaikan. Itu suara burung perkutut. Suara yang dulu pernah kudengar sekilas, tapi tak pernah sedekat itu, tak pernah sejelas itu.

Anakku berdiri paling dekat dengan jendela, dan matanya berbinar seperti sedang bertemu sahabat lama. Ia menempelkan wajah ke kaca, meninggalkan bekas embun kecil dari napasnya. Tangannya mengepal kecil seperti memegang sesuatu yang belum bisa ia namai. Seolah sejak saat itu, tanpa ada yang tahu, sebuah cerita telah mulai menulis dirinya sendiri.

Mertua duduk perlahan di kursi panjang, memegang cangkir enamel putih bergaris biru. Asap kopi mengepul tipis, bercampur bau kayu kering yang baru selesai dibakar di tungku dapur. Ia memandang ke luar, ke arah sangkar, lalu ke arah kami. Dan dengan suara tenang ia berkata

Kalau kau mau tinggal di sini, kau harus belajar mendengar. Kadang yang paling penting bukan apa yang terlihat tapi apa yang terdengar.

Kalimat itu sederhana, tapi seperti jatuh ke dalam ruang dada yang paling dalam.

Aku duduk di sampingnya. Anakku memanjat pangkuanku dan menyorongkan bahunya ke dadaku, matanya masih mengarah pada sangkar. Ia belum bisa bicara panjang, hanya kata pendek yang keluar pelan, patah-patah

Burung

Aku mengangguk, mengusap rambutnya.

Di belakang selimut pepohonan, angin bergerak membawa bau tanah basah dari sawah. Suara jangkrik merintih kecil di sela-sela semak. Suara ayam jantan dari kejauhan memecah keheningan. Tapi suara perkutut itu, suara yang lembut itu, menjadi pusat dari semua suara lain. Seperti suling di tengah gamelan. Seperti jantung di dalam dada.

Hari itu aku belum mengerti apa artinya. Belum mengerti kenapa suara itu seperti mengisi ruang kosong yang bahkan aku sendiri tidak sadar ada. Belum mengerti bahwa suatu hari suara itu akan menjadi penanda suka duka, awal akhir, dan doa serta tangis yang tak pernah selesai.

Yang aku tahu saat itu hanya satu hal sederhana

Aku merasa pulang.

---

Hari pertama tinggal di rumah itu berjalan seperti air. Tidak ada hal besar, tidak ada kejutan. Hanya kesederhanaan yang mengetuk pintu perlahan, mengajarkanku untuk melambat. Setelah menata barang, aku duduk lagi di teras. Mertua mengajakku berjalan ke belakang rumah. Ia menunjuk deretan sangkar yang menggantung rapi. Di dalamnya ada lima ekor perkutut, semuanya tampak sehat dan tenang. Warnanya cokelat keabu-abuan, matanya bulat jernih seperti kaca bening.

Yang paling ujung, katanya sambil menunjuk sangkar paling kiri, itu yang paling tua suaranya paling matang.

Kupandangi burung itu lama. Bulu dadanya tampak tebal, tubuhnya tegak, matanya hidup. Ia hanya diam, tapi aku bisa merasakan sesuatu darinya. Seperti wibawa. Seperti ketenangan seorang lelaki yang sudah jauh berjalan tetapi tidak banyak bicara.

Yang itu anaknya yang sebelah. Lalu yang itu cucunya. Mertua mengajari sambil tersenyum. Ia menyebut nama satu per satu. Serius tapi lembut, seperti memperkenalkan anggota keluarga.

Anakku berdiri paling dekat, memegang tiang kayu, menatap burung itu tanpa berkedip. Matanya seolah menangkap sesuatu yang tidak bisa ditangkap orang dewasa. Ada cahaya kecil di sana. Seperti sesuatu yang mulai tumbuh tanpa suara.

Sejak hari itu setiap pagi dan sore kami selalu berada di belakang rumah, mendengar suara-suara itu saling bersahutan. Suara yang tidak pernah sama. Suara yang seperti membawa pesan dari dunia yang jauh lebih tua dari kita.

Kadang aku melihat mata mertua sedikit berkaca ketika burung paling ujung itu bersuara panjang. Tapi ia tidak pernah menjelaskan kenapa. Hanya menatap awan, seolah menunggu sesuatu.

Aku tidak tahu waktu itu Bahwa lima burung itu kelak akan menjadi awal dari perjalanan yang tidak pernah aku bayangkan dan bahwa suara lembut yang kurasa hari itu adalah suara yang akan mengubah hidup kami selamanya

Dan semuanya dimulai di rumah tua itu dengan satu suara pelan yang memecah keheningan dan menjahit kenangan

Rumah tua itu menjadi saksi hari-hari pertama yang berjalan perlahan. Setiap pagi sebelum matahari naik, suara perkutut selalu lebih dulu membangunkanku. Tidak keras, tidak tergesa. Seolah memberi waktu untuk membuka mata pelan-pelan, menarik napas, dan mengingat bahwa hidup bukan perlombaan.

Anakku selalu lebih dulu berlari ke belakang rumah. Kakinya menghentak papan lantai, terdengar seperti denting kecil yang riang. Ia selalu menempelkan wajahnya ke jeruji sangkar, tersenyum pada burung yang diam memandang balik dengan mata bening. Kadang ia berbicara sendiri, seperti mengobrol.

Aku pernah mendengar ia berbisik pelan sekali. Hidup ya Tiga huruf pendek yang membuatku terdiam, karena entah bagaimana, tampak seperti ia sedang berbicara pada sesuatu yang lebih dari sekadar burung.

Aku tidak mengerti dari mana anak sekecil itu bisa mengucapkan hal-hal seperti itu. Tapi di tempat itu, di rumah itu, banyak hal kecil yang tampak sederhana namun terasa besar. Ada ketenangan yang sulit diceritakan. Seperti berada di ruang yang mengajarkan manusia untuk berhenti mengejar dan belajar menerima.

Suatu pagi saat matahari baru naik sedikit di atas pucuk bambu, mertua memanggilku dari dapur. Ia sedang mengisi air ke baskom besar dari sumur belakang. Uap tipis naik dari permukaan air karena malam sebelumnya dingin sekali.

Coba kau pegang burung ini sebentar Katanya seraya menyerahkan seekor burung muda yang baru diambil dari sangkar.

Aku gugup. Tanganku kaku. Burung itu terasa sangat ringan, seperti memegang segenggam angin yang memiliki denyut. Aku memegangnya salah posisi, membuatnya tidak nyaman dan meronta keras. Sayapnya mengibas mengenai pergelangan tanganku, dan hampir saja ia lepas dan terbang.

Pelan saja katanya. Tenang saja. Jangan keras, jangan takut. Burung itu tahu kalau kau takut.

Aku menarik napas. Kucoba lagi. Kali ini perlahan. Telapak tanganku lebih lunak. Burung itu diam, hanya matanya yang bergerak pelan. Tidak ada suara selain detak jam di ruang tengah.

Seperti itu, kata mertua sambil tersenyum. Kalau kau ingin memelihara burung, jangan hanya bisa memberi makan. Kau harus bisa memegangnya dengan hati.

Ia kemudian mengajari cara memandikan burung, cara merendam bulunya di air hangat, cara membersihkan kotoran dari sela-sela kakinya, cara menjemurnya menghadap sinar pagi. Setiap gerakan terlihat penuh perhatian, tidak tergesa.

Aku melihat ada sesuatu di wajahnya saat itu. Seperti kebahagiaan yang sudah lama tidak ia dapatkan. Seperti menemukan kembali sesuatu yang hilang.

Sore harinya kami minum teh di teras. Angin membawa bau daun singkong rebus dari dapur tetangga. Langit berubah oranye keemasan. Aku dan mertua duduk tanpa bicara panjang, hanya melihat halaman belakang.

Anakku duduk di tangga teras sambil bersenandung mengikuti suara perkutut. Nadanya tidak jelas tapi ritmenya sama. Seolah telinganya menyerap suara itu lebih dalam daripada orang lain.

Mertua memandangnya lama, kemudian berkata pelan Bakat itu turun tidak ke semua orang Aku menoleh, bertanya dengan mata. Ia tersenyum kecil.

Dulu bapakmu juga begitu katanya. Tidak semua orang bisa mengerti suara perkutut. Banyak orang hanya mendengar bunyi. Tapi ada yang mendengar makna. Itu jarang.

Aku tidak mengerti apa maksudnya, tapi kata-kata itu menetap di kepalaku.

Malam pertama tinggal di rumah itu aku sulit tidur. Bukan karena tidak nyaman, tapi karena terlalu banyak yang mengisi pikiran. Aku berbaring menatap langit-langit rumah kayu yang gelap, mendengar suara bambu bergesekan di luar. Suara itu seperti suara hujan tanpa air. Menenangkan.

Anakku terlelap di sisi istriku. Nafas mereka teratur. Di luar sangkar, perkutut paling tua bersuara pelan sekali, seperti berbisik ke dalam gelap. Suara yang tidak mengganggu, justru seperti doa yang sedang naik ke langit malam.

Aku memejamkan mata.

Sebelum tidur, aku sempat bertanya pada diriku sendiri, entah suaraku terdengar atau tidak

Apakah ini rumah yang tepat untuk kami Atau hanya persinggahan

Dan entah bagaimana Jawabannya datang dari suara kecil yang menggema pelan Seolah dari dalam dadaku sendiri

Di sini dulu Dengarlah dulu Jangan terburu pergi

Aku tidak tahu dari mana suara itu datang Mungkin hanya pikiran sendiri Mungkin juga bukan

Yang jelas aku merasa tenang Seolah sesuatu sedang menuntunku Lebih lembut dari kata Lebih jujur dari suara manusia

Dan hari itu tanpa aku sadari tanpa aku siap tanpa ada yang menyuruh

Perjalanan itu pun dimulai

Perjalanan yang kelak membawa kami pada air mata pada tawa yang tidak mudah ditemukan pada kehilangan yang tidak mudah dilupakan dan pada suara yang akhirnya mengubah segalanya

Semua berawal dari satu rumah tua di ujung kampung satu teras kayu yang sunyi dan satu suara burung yang menembus seluruh hening

Yang dengan pelan berkata

Aku akan tinggal di sini bersama kalian

Lanjut membaca
Lanjut membaca