

Jakara itu kota impian.
Namun buat Bagong, Jakarta hanya tempat orang miskin belajar cara menahan lapar dengan gaya.
Di bawah jembatan Kampung Pulo, pinggiran Ibu Kota Jakarta, bau tai got bercampur asap rokok murahan. Romantis? Jangan harap ditemukan dalam kisah ini.
Inilah arena tinju ilegal–aliyas tempat orang miskin saling tonjok demi uang receh.
Bagong namanya, usianya 34 tahun, tetapi wajahnya sudah seperti nasi basi dua hari. Celana training bolong, badan kurus tetapi keras dan isi dompetnya … cuma angin.
“Gong! Lima puluh ribu, ya! Menang atau kalah, tetapi dibayar!” kata Bang Reza, bandar tinju ilegal yang senyumnya lebih palsu dari janji politis kota.
Lima puluh ribu. Harga satu nyawa setengah rusak. Bagi orang lain, hanya cukup untuk kopi dan parkir, tetapi bagi Bagong berarti makan dua hari.
Malam itu, sehabis hujan, Bagong berdiri di tengah lingkaran manusia bau keringat. Rambutnya kusut, wajahnya keras seperti tembok beton yang retak dan matanya terlihat lelah.
Lawannya malam itu lebih besar, berotot, dan napasnya bau arak. Sejenis kulkas berjalan yang hobi mukul orang.
Kaleng bekas dipukul, tepat jam tujuh malam. Tanda mulai adu nasib.
Tinju pertama nyasar ke muka Bagong. Pandangannya berkunang-kunang, tetapi Bagong bertahan. Ia membalas dengan tinju pendek ke perut lawan.
“Ayo, Gong! Ayo!” Sorak sorai penonton menggema di bawah jembatan.
“Bangkit, Gong! Demi nasi!” teriak seseorang.
Bagong tersenyum pahit. Ya, demi nasi.
Setiap pukulan yang ia terima terasa seperti hukuman dari hidup yang tak pernah adil. Namun, setiap pukulan yang ia lepaskan adalah perlawanan terhadap nasib.
“Woi, jangan mati dulu! Belum dibayar!” teriak penonton.
Bagong nyengir berdarah. “Tenang, aku belum cicil neraka!”
Darah menetes dari hidungnya. Napasnya berat. Namun, ia masih berdiri. Satu tinju terakhir ia arahkan ke rahang lawan. Tubuh besar itu roboh ke tanah.
Hening sesaat. Lalu sorak kemenangan. Bukan karena kagum, tetapi karena ada hiburan gratis selain menonton hidup sendiri berantakan. “Bagong menang lagi!”
“Bagong menang lagi!”
Bang Reza melemparkan uang kusut ke arah Bagong. “Lima puluh ribu. Ambil.”
Bagong mengambil uang itu, tangannya gemetar bukan karena haru, tetapi karena perutnya kosong sejak kemarin.
Uang lima puluh ribu itu mengakhiri bintang Bagong di atas ring malam ini.
Bagong berjalan tertatih ke sudut gelap, duduk di atas karung bekas, dan menghitung uangnya. “Kelebihan dua ribu,” gumam Bagong sembari tersenyum seringai, melirik punggung Bang Reza yang menjauh darinya. “Lagi.”
Di atas jembatan, mobil-mobil lewat seperti dunia lain. Di bawah, Bagong duduk berdarah, lapar, tetapi masih hidup.
Rumahnya hanya tumpukan batu bata dengan atap seng berkarat yang dibangun mendiang ayahnya setelah pindah dari kampung sebelah. Bagong sudah hidup di lingkungan Kampung Pulo sejak usia 15 tahun, dikenal bocah nakal yang sudah meninju kalau sedang marah, tetapi Bagong tidak menyakiti orang baik–itulah motonya.
“Mas Bagong dari mana?” Perempuan berambut pendek itu menyapa Bagong ketika dia sampai. “Tinju lagi?”
Bagong hanya meringis, menyeka darah di sudut bibir keringnya. Pria kurus itu duduk di atas sofa panjang tengah ruangan, menggesek-gesekkan punggung berkeringatnya karena gatal.
“Di pasar, Bu Rahma butuh kuli panggul besok pagi, Mas Bagong mau ambil kerjaannya?” Namanya Sarah, duduk di samping Bagong setelah meletakkan teh murahan di atas meja. “Katanya kuli panggul yang biasanya demam.”
Bagong melirik perempuan itu, usianya tak jauh. Sarah baru memasuki 20 tahunan.
“Besok aku ke sana,” jawab Bagong.
Sarah mengangguk seraya tersenyum, aroma parfum murahan dari perempuan itu selalu membuat Bagong suka. Seperti infus tambahan di tengah lelahnya dia.
“Oh, ya, Mas.” Sarah hampir berdiri, sebelum dia menyadari seseuatu. “Minggu ini aku akan berangkat ke Jakarta Pusat. Ada kerjaan di sana. Aku ditawari temanku.”
Bagong mengerutkan kening. “Kenapa mendadak sangat?”
“Katanya lowongannya juga baru.”
Anggukan kepala Bagong seolah mengerti segalanya. “Di perusahaan apa?”
“Katanya perpajakan. Perusahaannya tidak terkenal karena baru rintisan,” ucap Sarah setengah berpikir. “Jadi butuh banyak karyawan.”
Sarah ini hanya lulusan SMA, meskipun nasibnya tak se-tragis Bagong yang miskin sejak lahir, Sarah masih beruntung. Dia sempat sekolah di kota, lulusan SMA negeri Jakarta ternama meskipun gagal mendapat beasiswa untuk kuliah.
“Aku antar,” ucap Bagong.
Sarah menggelengkan kepala. “Nggak usah, Mas. Aku berangkat bareng teman. Nanti Mas Bagong malah merepotkan aku,” ucap Sarah sembari tertawa ringan.
Bagong membalas tawa.
Dia memang pria tak menarik. Badannya kurus kering, rambutnya sedikit gondrong dan terlihat kusut. Kumis tipis merata di bawah hidung menjatu dengan rambut di janggutnya. Namun, parasnya tergolong tampan jika dia bisa merawat diri dengan baik–seandainya saja.
Pagi itu datang seperti biasa. Bagong ke pasar kampung untuk job tambahan dari informasi Sarah.
Orang-orang mengenalnya, bukan sekali dua kali Bagong dipanggil atas jasa serabutan. Mengejarkan banyak hal selagi ada duit di buntutnya.
“Gong! Antar karung beras itu ke Kedai Tomi, ya!”
Bagong mengangguk. Satu karung … dua karung tertumpuk di atas punggungnya. Dia memang kurus, tetapi tenaganya luar biasa. Seperti unta yang menyimpan air dalam punuknya.
“Gong, habis ini ke warungku, ya! Antar karung bawang merah seperti biasa!”
Bagong hanya mengacungkan jempol tanpa melihat empunya suara. Dia hapal semua pegadang kecil di pasar ini.
“Gong, ambil uangnya di meja. Bayaranmu hari ini,” ujar seorang pedagang tua dari sudut kios sembari menghitung uang dagangan ketika melihat batang hidup Bagong di depan kiosnya.
Bagong mengangguk ringan. “Thankyou, Pak Bos!”
“Nggak sok inggris kamu! SMP saja tidak tamat!”
Bahunya naik turun karena tertawa cekikikan. Dia melambaikan tangan berisi lembar uang receh yang kusut. Mana ada uang mulus di tangan orang-orang pasar kampung seperti ini?
Bagong berjalan menuju kios es di pojok pasar. Duduk di ujung kursi reot sambil mengacungkan satu jari telunjuk. Tanda minta satu bungkus es teh untuk dibawa pulang, membasahi tenggorokan di tengah panas dan pengapnya pasar kampung.
Seperempat menit dia duduk, menghabiskan es cekek manis andalannya. Murah meriah.
Bagong beranjak, berjalan keluar dari pasar. Jalannya bukan jalan utama, dia memilih jalan tikus untuk kembali pulang. Selain mendung alasannya, karena jalan ini lebih dekat.
Dari pasar ke rumah reot Bagong cukup memakan waktu jika melalui jalan utama. Menumpang angkot desa juga akan memangkas upahnya lagi. Sudah sedikit, dipangkas ongkos pulang–itu menyebalkan bagi Bagong yang mlarat.
“Apa itu?” Bagong berhenti. Di persimpangan gang sepi dan sempit, di atas keranjang sampah penuh, ada koper hitam.
Langkahnya ragu mendekat, kepalanya celingkukan kanan kiri, entah apa yang dia cari.
Tangannya meraih benda hitam itu, menelusuri setiap sudut. Memastikan apa isi tanpa membukanya, meskipun dia gagal menebak. “Koper apa ini?”
“Punya siapa?” Bagong mengangkatnya, menggoyangkan perlahan. “Berat juga. Isinya batu?”
Dia meletakkan benda itu di atas tanah, mencari pengait pembuka dan menekannya perlahan.
Koper itu terbuka.
Bagong tersentak, hampir terjungkal ke belakang melihat isinya.
“Ya Gusti!” Bagong mengusap dadanya. “Apa itu tumpukan …. uang?”