
Di Antara Diam dan luka
Rona Malam|Bersambung
- Jumlah kata
- 7.2K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 1
- Jumlah kata
- 7.2K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 1
Sinopsis
Alya adalah perempuan yang terbiasa terlihat kuat, meski di dalam dirinya penuh retakan yang tak pernah benar-benar sembuh. Tekanan keluarga, luka masa lalu, dan tuntutan untuk selalu baik-baik saja membuatnya perlahan kehilangan dirinya sendiri. Saat Raka hadir dengan ketenangan dan kesabaran, Alya menemukan rasa aman yang belum pernah ia miliki sebelumnya. Namun cinta tidak selalu datang di waktu yang tepat. Ketika kondisi ibunya memburuk dan masa lalu bernama Dimas kembali muncul, Alya dipaksa menghadapi luka-luka yang selama ini ia kubur dalam diam. Ia harus memilih antara bertahan pada hubungan yang memberi kenyamanan, atau melepaskan demi menyelamatkan dirinya sendiri. Sementara itu, Raka belajar bahwa mencintai tidak selalu berarti menunggu tanpa batas. Ada saatnya seseorang harus pergi, bukan karena cinta habis, tetapi karena ingin tetap utuh sebagai manusia. Di Antara Diam dan Luka adalah kisah tentang cinta yang tidak berakhir dengan kepemilikan, tentang kepergian yang tidak disertai kebencian, dan tentang keberanian untuk memilih diri sendiri meski harus kehilangan. Sebuah cerita pahit-manis tentang dua orang yang saling peduli, namun harus berjalan terpisah demi tumbuh.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1
Rumah yang Tak Pernah Benar-Benar Hangat
Alya tumbuh di rumah yang selalu rapi, tapi tidak pernah hangat.
Pagi hari di rumah itu selalu sama. Bunyi sendok beradu dengan piring, langkah kaki yang pelan, dan televisi yang menyala tanpa benar-benar ditonton siapa pun. Tidak ada sapaan hangat, tidak ada tanya kabar. Semua berjalan seperti rutinitas yang diwajibkan, bukan karena ingin.
Alya duduk di ujung meja makan, menatap sarapannya yang nyaris tak tersentuh. Ia menunggu, entah apa. Mungkin menunggu seseorang bertanya apakah ia tidur cukup semalam. Atau sekadar, “Bagaimana harimu kemarin?”
Namun seperti biasa, tak ada.
Ibunya duduk di seberang meja. Wajahnya datar, matanya fokus pada ponsel. Tangannya sesekali menggeser layar, seolah dunia di dalam benda kecil itu jauh lebih penting daripada anak yang duduk di hadapannya.
“Alya,” suara ibunya terdengar tanpa menoleh, “jangan lupa pulang cepat. Jangan keluyuran.”
Alya mengangguk pelan.
“Iya, Bu.”
Tidak ada alasan. Tidak ada penjelasan. Hanya perintah.
Sejak kecil, Alya sudah terbiasa dengan itu. Ia tahu, berbicara terlalu banyak hanya akan membuat segalanya menjadi lebih rumit. Jadi ia memilih diam. Diam yang lama-kelamaan menjadi bagian dari dirinya.
Di luar rumah, Alya dikenal ramah. Ia mudah tersenyum, mudah tertawa. Teman-temannya sering berkata ia orang yang kuat dan dewasa. Tak ada yang tahu bahwa semua itu hanya topeng. Sebab Alya belajar satu hal sejak usia delapan tahun—menunjukkan luka hanya akan membuatnya semakin sakit.
Hari itu hujan turun sejak pagi. Alya berjalan menuju halte bus sambil memeluk tasnya erat. Angin dingin menyusup melalui jaket tipis yang ia kenakan. Ia menyukai hujan, entah mengapa. Mungkin karena hujan tidak pernah menuntutnya untuk menjelaskan apa pun.
Di halte, beberapa orang berdiri menunggu. Alya memilih sudut paling jauh. Ia menatap genangan air di aspal, memperhatikan pantulan wajahnya sendiri yang terpecah oleh riak kecil.
“Capek ya, jadi kamu.”
Ia tersenyum kecil pada pantulan itu. Senyum yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapa pun.
Bus datang dengan suara rem yang memekakkan. Alya naik dan duduk di dekat jendela. Sepanjang perjalanan, pikirannya melayang ke masa lalu—ke hari ketika ia pertama kali belajar bahwa rumah tidak selalu berarti aman.
Ia ingat suara pertengkaran. Ingat pintu yang dibanting. Ingat dirinya yang kecil, bersembunyi di balik pintu kamar sambil menutup telinga. Tidak ada yang memeluknya. Tidak ada yang berkata, “Tidak apa-apa.”
Sejak hari itu, Alya berhenti berharap.
Bus berhenti. Alya turun dan melangkah ke dunia yang menuntutnya selalu terlihat baik-baik saja. Ia menarik napas panjang, lalu mengenakan topengnya kembali.
Tak ada yang tahu, di balik langkahnya yang tenang, Alya membawa luka yang belum pernah sembuh.
Dan ia tidak tahu, bahwa sebentar lagi, seseorang akan masuk ke hidupnya—dan menguji semua dinding yang susah payah ia bangun selama bertahun-tahun.
Daftar bab
20 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








