
Kaisar Keberuntungan: Menaklukkan Dunia dan Hati
Safira Lazuardi|Bersambung
- Jumlah kata
- 49.4K
- Popular
- 124
- Subscribe
- 60
- Jumlah kata
- 49.4K
- Popular
- 124
- Subscribe
- 60
Sinopsis
Selama 24 tahun hidupnya, Rendra hanyalah seorang pria miskin, bertubuh kurus, berwajah kusam, dan menjadi bahan cemoohan lingkungan sekitarnya. Puncak kemalangannya terjadi saat ia dipecat, diusir dari kontrakan, dan ditolak secara mentah-mentah oleh wanita impiannya. Namun, sebuah kejadian aneh di malam berbadai mengubah segalanya. Sistem Pembalik Takdir bangkit di dalam dirinya! Sistem ajaib ini memiliki hukum tunggal: setiap kesialan, hinaan, dan kerugian yang dialami Rendra akan dikonversi menjadi keberuntungan mutlak, ketampanan tiada tanding, dan kekayaan melimpah secara instan. Dari seorang pecundang di sudut kota, Rendra melesat menjadi penguasa bisnis, pengendali siber, hingga figur paling berpengaruh di tingkat internasional. Di tengah perjalanannya menaklukkan puncak kekuasaan dan membongkar konspirasi rahasia dunia, karisma serta kehebatannya memikat hati 7 wanita luar biasa dari latar belakang yang berbeda.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Kilatan Petir di Ujung Keputusasaan
Hujan deras mengguyur kota bagai ditumpahkan dari langit. Gemuruh petir sesekali membelah kegelapan malam, menyinari lorong-lorong sempit yang tergenang air keruh. Di bawah guyuran air yang dingin menusuk tulang, seorang pemuda berjalan melangkah layu. Namanya Rendra. Malam ini, ia resmi menjadi manusia paling malang di dunia.
Langkahnya berat, menyeret sepatu kets kusamnya yang sudah berlubang di bagian sol bawah. Air hujan meresap masuk, dingin dan basah, namun rasa dingin itu sama sekali tidak sebanding dengan rasa sesak yang menghimpit dadanya.
Dalam kurun waktu kurang dari 24 jam, seluruh kehidupannya hancur berkeping-keping.
Tadi siang, pemilik toko kelontong tempatnya bekerja selama dua tahun terakhir mendadak memecatnya tanpa pesangon sepeser pun. Alasannya sepele dan jahat. Anak sang pemilik toko tidak sengaja memecahkan beberapa dus barang dagangan berharga mahal, dan Rendra dijadikan kambing hitam untuk menutupi kesalahan tersebut. Tak peduli betapa keras Rendra bersumpah dan memohon, ia tetap diusir keluar seperti anjing kurap.
Masalah tidak berhenti di sana. Sore harinya, ketika ia pulang ke kamar kontrakan petak sempitnya dengan kepala terkulai, bapak kontrakan sudah berdiri di depan pintu dengan wajah sangar. Barang-barang milik Rendra yang tak seberapa, beberapa helai pakaian lusuh dan sebuah tas punggung tua, sudah tergeletak begitu saja di atas tanah yang basah. Uang sewa yang menunggak dua bulan menjadi alasan mutlak baginya untuk diusir tanpa ampun saat itu juga.
Dan puncaknya, beberapa jam yang lalu.
Dengan sisa keberanian dan harapan terakhir yang tersisa di dadanya, Rendra mendatangi wanita yang selama ini ia kagumi secara diam-diam. Seorang wanita dari masa kuliahnya dulu yang kebetulan tinggal tak jauh dari lokasinya. Rendra berniat meminjam sedikit uang untuk sekadar membeli makan malam dan menyewa penginapan murah, atau minimal meminta belas kasihan.
Namun, jawaban wanita itu adalah tamparan keras yang menghancurkan sisa-sisa harga dirinya.
"Meminjam uang? Rendra, sadar diri sedikit!" Suara wanita itu menyayat ingatan Rendra, terngiang berulang kali di kepalanya seperti kaset rusak. "Kamu itu cuma pemuda tak berguna, miskin, dan tidak punya masa depan! Jangan pernah datang lagi ke sini dan mempermalukan aku di depan teman-temanku!"
Pintu besi besar rumah wanita itu ditutup keras tepat di depan wajahnya, meninggalkan Rendra yang berdiri mematung di tengah gerimis yang mulai membesar.
"Kenapa... kenapa harus aku?" gumam Rendra lirih. Suaranya tenggelam di antara gemuruh angin malam.
Airmata menetes dari pelupuk matanya, menyatu dengan bulir-bulir air hujan yang membasahi wajahnya yang pucat dan tirus. Tubuhnya yang kurus gemetar hebat menahan dingin. Pandangannya kabur, bukan hanya karena hujan, tetapi juga karena rasa putus asa yang luar biasa mendalam.
Ia memegang dadanya yang terasa sangat nyeri. Di usia yang masih muda, ia merasa seolah dunia sudah membuangnya ke tong sampah. Tidak ada keluarga yang bisa dihubungi, tidak ada teman yang mau mengulurkan tangan, dan tidak ada tempat untuk berteduh.
Langkah kakinya membawa Rendra ke sebuah lapangan terbuka di tepi kota, tempat sebuah jembatan penyeberangan tua berdiri. Di sekitarnya hanya ada pohon-pohon tinggi yang melambai-lambai dihantam angin kencang. Cahaya lampu jalanan meliuk-liuk tertutup derasnya hujan.
Rendra menghentikan langkahnya tepat di tengah lapangan rumput yang tergenang. Ia mendongakkan kepalanya keatas, menatap langit malam yang hitam pekat dan dipenuhi kilatan-kilatan cahaya putih.
"Jika memang dunia tidak menginginkan keberadaanku..." Rendra berteriak sekuat tenaga, meluapkan seluruh kemarahan, keputusasaan, dan rasa sakit yang memuncak di dalam dadanya. "JIKA MEMANG AKU DITAKDIRKAN HANYA UNTUK DITINDAS DAN DIHINA, KENAPA AKU HARUS DILAHIRKAN?!"
Suaranya menggelegar mengimbangi riuh badai. Air mata terus mengalir tanpa henti. Rendra berlutut di atas tanah yang berlumpur, menundukkan kepalanya dalam-dalam. Tangannya meremas tanah basah dengan erat. Ia merasa benar-benar berada di titik terendah manusia. Tidak ada lagi impian, tidak ada lagi harapan, hanya kegelapan total yang menyelimuti pikirannya.
Tepat saat Rendra pasrah dan memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan dinginnya malam menggerogoti nyawanya—
BLAARRRRRRRRRRRRRR!
Langit malam mendadak menyala terang benderang bagaikan siang hari. Sebuah kilatan petir raksasa berwarna biru keemasan menyambar lurus dari gumpalan awan hitam berkristal, menghantam tepat ke tubuh Rendra yang sedang berlutut!
Ledakan dahsyat terdengar meretakkan udara. Udara di sekitar lapangan seketika memanas ekstrem. Tubuh Rendra terpental beberapa meter sebelum terhempas keras ke tanah basah. Listrik bervoltase jutaan volt mengalir deras menembus setiap sel, otot, tulang, dan pembuluh darah di dalam tubuhnya.
Rendra tidak sempat berteriak. Rasa sakit yang melampaui batas kemampuan manusia membuat seluruh inderanya mati rasa seketika. Pandangannya menjadi gelap gulita, jiwanya seolah ditarik keluar dari raga dan melayang di dalam ruang hampa udara yang tak berujung.
Apakah ini rasanya mati? pikir Rendra di tengah kegelapan mutlak itu. Akhirnya... semuanya berakhir. Aku tidak perlu merasakan sakit dan penghinaan ini lagi...
Namun, di saat kesadarannya perlahan-lahan mulai memudar menuju keabadian, sebuah suara mekanis yang dingin, jernih, dan bergema penuh wibawa terdengar berkumandang tepat di dalam kedalaman jiwanya.
【DING!】
【Mendeteksi Gelombang Keputusasaan Puncak dan Keteguhan Jiwa Host yang Memenuhi Syarat Mutlak!】
【Proses Inisialisasi Dimulai... 1%... 35%... 78%... 100%!】
【Pengikatan Berhasil! Selamat Kepada Host, "SISTEM PEMBALIK TAKDIR" Telah Resmi Aktif!】
【Sistem Ini Berada Di Sini Untuk Membalikkan Setiap Kemalangan, Penghinaan, Dan Kegagalan Host Menjadi Keberuntungan, Kejayaan, Dan Kekayaan Mutlak Tak Terbatas!】
【Mendeteksi Tubuh Host Dalam Kondisi Kerusakan Kritis Akibat Sambaran Petir Murni... Mengaktifkan Fitur Restorasi Otomatis!】
【Merestrukturisasi Sel, Memperbaiki Jaringan Tubuh, Dan Mengeliminasi Seluruh Racun Serta Kelemahan Fisik Host...】
Rendra yang tadinya mengira telah tewas, mendadak merasakan gelombang hangat yang sangat nyaman mengalir dari pusat dadanya. Rasa hangat itu menyebar cepat ke seluruh ujung jari tangan, kaki, hingga ke otak. Rasa sakit yang mematikan hilang tanpa bekas dalam sekejap mata, digantikan oleh sensasi vitalitas luar biasa yang belum pernah ia rasakan sepanjang hidupnya.
Di dalam ruang kesadarannya yang gelap, sebuah panel layar transparan berwarna biru keemasan melayang anggun di depan matanya, menampilkan angka-angka dan status yang mulai berubah dengan cepat.
【Peringatan Sistem: Takdir Pecundang Host Telah Dihancurkan Secara Mutlak!】
【Memulai Era Baru: Kebangkitan Sang Kaisar Keberuntungan!】
Perlahan tapi pasti, kelopak mata Rendra bergerak pelan. Hujan deras masih mengguyur tubuhnya, namun anehnya, dingin yang tadi menyiksa kini tak lagi terasa. Tubuhnya terasa begitu ringan, kuat, dan penuh energi.
Rendra membuka matanya lebar-lebar, menatap gerimis yang turun dari langit dengan napas memburu.
"Suara... suara apa itu tadi?" gumam Rendra terengah-engah, suaranya kini terdengar lebih dalam dan mantap dari biasanya.
Di depan pandangan matanya, layar hologram biru keemasan itu masih melayang nyata, bergerak mengikuti kemanapun arah pandangannya bergeser.
Rendra terduduk di atas tanah basah, menatap jemari tangannya sendiri dengan rasa tak percaya. Sambaran petir yang seharusnya menghancurkan tubuhnya hingga menjadi abu, justru menjadi gerbang pembuka bagi takdir baru yang akan mengguncang seluruh dunia.
Malam itu, di bawah hujan badai dan kilatan petir, seorang pecundang bernama Rendra telah mati. Dan dari abu keputusasaannya, Penguasa Takdir telah lahir.
Daftar bab
38 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








