
- Jumlah kata
- 18.7K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 0
Sinopsis
Setelah bertahun-tahun menghirup udara di negeri orang, Revan akhirnya memutuskan untuk pulang. Niatnya cuma satu: kembali ke pelukan rumah yang tenang dan menghabiskan waktu bareng nyokapnya. Tapi, ternyata kata "tenang" itu cuma ilusi yang langsung hancur di hari pertama dia menginjakkan kaki di ubin rumah lamanya. Teror itu datang tanpa permulaan yang jelas. Lewat notifikasi ponsel dan kiriman rekaman CCTV misterius, Revan dipaksa menonton potongan video yang bikin perut mual. Di sana, seorang pria nampak disiksa dan dilecehkan habis-habisan-sebuah visual yang memicu trauma gelap Revan saat ia masih berada di luar negeri. Semuanya terasa terlalu nyata, terlalu akurat, seolah ada mata yang terus mengikutinya menyeberangi samudera. Di tengah kepungan teror digital itu, pandangan Revan selalu tertuju pada satu titik di rumah itu: sebuah pintu kayu tua yang terkunci rapat. Sejak Revan kecil sampai dia sedewasa sekarang, ruangan itu adalah misteri yang nggak pernah terpecahkan. Ibunya selalu bungkam, dan kunci ruang itu seakan hilang ditelan bumi. Revan mulai sadar, ada benang merah antara penderitaannya di luar negeri dengan apa yang tersembunyi di balik dinding rumahnya sendiri. Apakah video itu adalah masa depan, atau justru masa lalu yang kembali menagih nyawa? Semua rahasia busuk itu terkunci rapat dalam satu tempat yang tak tersentuh
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
1
Udara lembap khas Jakarta langsung menyergap paru-paru gue begitu gue melangkah keluar dari garbarata pesawat. Bau avtur yang bercampur dengan hawa panas kota ini terasa sangat akrab, meski sudah bertahun-tahun gue tinggalkan demi mengais rezeki di Hongkong. Gue menarik napas panjang, mencoba meresapi sensasi "pulang" yang selama ini cuma bisa gue bayangkan di sela-sela jam istirahat kerja yang melelahkan.
"Indonesia... akhirnya gue balik juga," gumam gue pelan sambil membenahi letak tas ransel yang terasa mulai membebani bahu.
Langkah gue mantap menuju area pengambilan bagasi. Di sana, kerumunan orang sudah mulai memadati korsel. Gue berdiri di sana, memperhatikan koper-koper yang berputar satu per satu, sambil pikiran gue melayang ke wajah Ibu. Sudah berapa lama ya? Tiga tahun? Empat tahun? Waktu terasa begitu bias saat kita sibuk mengejar angka di rekening. Gue meraba saku celana, memastikan ponsel gue masih ada di sana.
Dreet... dreet...
Ponsel di saku gue bergetar kuat. Gue merogohnya dan melihat layar. Sebuah nomor asing, tapi gue tahu itu pasti supir jemputan yang sudah gue pesan lewat aplikasi sebelum mendarat tadi.
"Halo, selamat siang," sapa suara di seberang sana, terdengar agak bising oleh suara mesin kendaraan.
"Iya, halo pak. Saya Revan," jawab gue sambil sesekali melirik koper hitam gue yang akhirnya muncul di ujung korsel. "Saya baru aja ambil bagasi, Pak. Bapak posisi di mana ya?"
"Saya sudah di titik penjemputan, Mas. Di Terminal 1, depan pilar nomor enam ya. Mobilnya Avanza putih, pelatnya B 1234 XYZ."
"Oke, siap Pak. Saya di Terminal 1 ya, Pak. Oke, ditunggu ya Pak. Saya langsung ke sana."
Gue mematikan sambungan telepon. Setelah berhasil menarik koper besar gue dari korsel, gue segera melangkah menuju pintu keluar. Namun, baru beberapa langkah melewati pintu otomatis yang terbuka lebar, perut gue memberikan protes keras. Bunyi keroncongnya bahkan sampai terdengar oleh telinga gue sendiri.
"Duh, laper banget si perut gue... Jajan dulu kali ya?" gumam gue sambil melirik deretan kafe dan toko roti di area kedatangan.
Gue teringat, selama di pesawat tadi gue cuma makan sedikit karena rasa gugup dan semangat yang campur aduk. Sekarang, setelah kaki benar-benar menapak di tanah air, rasa lapar itu menuntut haknya. Gue pun memutar arah menuju sebuah gerai donat dan kopi yang aromanya sangat menggoda.
"Selamat siang, Kak. Mau pesan apa?" tanya pelayan dengan ramah, senyumnya tipis tapi sopan.
"Siang. Saya mau donat cokelat satu sama kopi susu gula arennya satu ya, Mbak. Large ya," jawab gue sambil merogoh dompet.
"Baik, ditunggu sebentar ya, Kak. Atas nama siapa?"
"Revan."
Gue berdiri di sudut gerai, menunggu pesanan gue disiapkan. Mata gue memperhatikan orang-orang yang lalu lalang. Ada keluarga yang berpelukan haru menyambut kerabatnya, ada pebisnis yang sibuk dengan laptopnya, dan ada pelancong asing yang tampak bingung dengan peta digitalnya. Semuanya terasa begitu dinamis. Gue merasa asing, tapi sekaligus merasa memiliki tempat di sini.
"Ini Kak Revan, pesanannya," panggil si pelayan.
Gue mengambil kopi dan donat itu. Rasanya luar biasa enak saat gigitan pertama mendarat di lidah. Manisnya cokelat dan kafein yang kuat seolah memberi gue tenaga tambahan untuk perjalanan menuju rumah nanti. Gue duduk sebentar di kursi panjang yang tersedia, menikmati setiap kunyahan.
Sambil makan, gue membuka grup WhatsApp keluarga. Di sana belum ada yang tahu kalau gue mendarat hari ini. Gue sengaja ingin memberikan kejutan buat Ibu. Bayangan wajah kagetnya yang kemudian berubah jadi tangis haru sudah terlukis jelas di kepala gue.
"Bu, tunggu Revan ya," bisik gue dalam hati.
Gue menghabiskan donat itu dalam waktu singkat. Sambil menyeruput kopi susu yang masih dingin, gue kembali menarik koper menuju pilar nomor enam sesuai janji dengan si supir. Cuaca di luar Terminal 1 terasa makin menyengat. Matahari Jakarta seolah ingin menyambut gue dengan pelukan api.
"Mas Revan ya?" tanya seorang pria paruh baya dengan seragam kemeja rapi begitu gue sampai di pilar nomor enam.
"Iya, Pak. Benar," jawab gue ramah.
"Mari Mas, kopernya biar saya yang masukkan ke bagasi," tawar si bapak sambil dengan sigap mengambil alih koper gue.
Gue masuk ke dalam mobil. Hawa sejuk AC langsung menyapa kulit gue, memberikan kelegaan instan dari panasnya udara luar. Gue menyandarkan kepala di kursi, memejamkan mata sejenak sementara mobil mulai bergerak meninggalkan area bandara. Jalanan menuju tol terlihat mulai padat, pemandangan yang sangat gue rindukan sekaligus gue benci.
"Baru pulang dari mana, Mas? Rantau ya?" tanya si bapak supir membuka obrolan, mencoba ramah.
"Iya, Pak. Dari Hongkong. Sudah bertahun-tahun di sana," jawab gue sambil melihat keluar jendela.
"Wah, jauh juga ya. Pasti kangen banget sama rumah. Orang tua masih ada, Mas?"
"Masih, Pak. Ini makanya saya pengen cepet sampai. Mau kasih kejutan buat Ibu."
Si bapak tersenyum melalui kaca spion tengah. "Alhamdulillah. Ibu pasti seneng banget itu, Mas. Anak laki-lakinya pulang bawa sukses."
Gue cuma tersenyum tipis menanggapi kalimat itu. Sukses? Entahlah. Yang jelas gue pulang membawa beban rahasia yang bahkan gue sendiri belum berani untuk membukanya.
Mobil terus melaju, membelah kemacetan Jakarta yang legendaris. Gue melihat gedung-gedung tinggi yang menjulang, baliho iklan yang warna-warni, dan motor-motor yang selap-selip di antara kemacetan. Semuanya terasa normal. Semuanya terasa santai. Gue belum tahu kalau di balik kenyamanan ini, sebuah teror sudah menunggu untuk menarik gue kembali ke kegelapan yang gue coba lupakan di Hongkong.
Ponsel gue bergetar lagi. Ada notifikasi masuk. Gue pikir itu pesan dari teman, tapi saat gue buka, tidak ada nama pengirimnya. Hanya sebuah lampiran video pendek.
"Apaan nih?" gumam gue.
Gue ragu untuk membukanya di depan supir, jadi gue urungkan niat itu. Gue masukkan kembali ponsel ke saku, tapi perasaan tidak enak mulai merayap di tengkuk gue. Dingin AC mobil tiba-tiba terasa seperti es yang menusuk kulit.
"Pak, masih jauh ya ke alamat itu?" tanya gue, mencoba mengalihkan pikiran.
"Sekitar satu jam lagi kalau nggak macet parah, Mas. Kenapa? Capek ya?"
"Nggak apa-apa, Pak. Cuma pengen cepet sampai aja."
Gue kembali menatap jalanan. Rumah itu... rumah dengan satu ruangan yang selalu terkunci itu. Kenapa tiba-tiba gue terpikir soal ruangan itu sekarang? Padahal sejak kecil gue sudah terbiasa dengan larangan Ibu untuk tidak pernah mendekatinya.
"Ruang tertutup itu..." bisik gue hampir tak terdengar.
Perjalanan pulang ini baru dimulai, dan entah kenapa, rasa lapar gue yang tadi hilang kini berganti dengan rasa mual yang aneh. Seolah-olah tubuh gue memberikan sinyal bahwa kepulangan ini bukan sekadar reuni keluarga, tapi sebuah awal dari sesuatu yang mengerikan.
Setelah satu setengah jam berkutat dengan kemacetan Jakarta yang legendaris, akhirnya mobil Avanza putih itu berhenti perlahan di depan gerbang rumah gue. Sebuah rumah klasik dengan pagar besi hitam yang sudah agak karatan, dan tanaman-tanaman hijau yang tumbuh subur di halaman depan. Aura rumah ini, yang selalu gue anggap sebagai benteng kedamaian, kini terasa sedikit berbeda. Entah kenapa, ada sensasi ganjil yang menyelimuti.
Gue turun dari mobil, diikuti oleh si bapak supir yang sigap menurunkan koper-koper gue dari bagasi. "Terima kasih banyak ya, Pak," ucap gue sambil menyerahkan beberapa lembar uang.
"Sama-sama, Mas. Selamat berkumpul dengan keluarga ya," balas si bapak dengan senyum ramah sebelum akhirnya mobilnya melaju pergi meninggalkan gue sendirian di depan gerbang.
Gue berdiri di sana sejenak, menatap pintu rumah yang tertutup rapat. Gue menarik napas dalam, berusaha mengusir perasaan tidak enak yang sejak tadi mengganggu. Ini rumah gue, tempat gue tumbuh besar, nggak ada yang perlu ditakutkan.
Dengan tangan bergetar pelan, gue menekan bel. Ting... tong... Bunyi bel itu bergema, memecah kesunyian sore. Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki terburu-buru dari dalam.
Klek!
Pintu terbuka. Wajah Ibu yang sudah lama sekali gue rindukan langsung menyapa pandangan gue. Rambutnya sudah memutih di beberapa bagian, tapi senyumnya masih sehangat dulu. Matanya membulat sempurna, ekspresi kaget yang langsung berubah jadi haru.
"Revan?!" seru Ibu, suaranya tercekat.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, gue langsung memeluknya erat. Aroma khas Ibu yang sudah puluhan tahun nggak gue cium, kini kembali membanjiri indera penciuman gue. Gue memejamkan mata, merasakan kehangatan yang sudah lama hilang dari hidup gue.
"Mak... aku kangen banget sama Emak," bisik gue, rasanya air mata sudah menggenang di pelupuk mata.
Ibu membalas pelukan gue tak kalah erat. "Ya Allah, anak Emak. Kamu pulang, Nak... Kenapa nggak bilang-bilang sih?" Suara Ibu bergetar, dan gue yakin beliau juga menahan tangis.
"Sengaja Mak, mau kasih kejutan. Mana Kak Rama sama Rani?" tanya gue sambil melepaskan pelukan.
Tepat setelah pertanyaan gue terlontar, dari belakang Ibu muncul dua sosok yang juga nggak kalah gue rindukan. Kakak pertama gue, Rama, dengan tubuhnya yang tinggi besar dan senyum kalemnya, serta adik perempuan gue, Rani, yang kini sudah tumbuh menjadi gadis remaja yang cantik dengan rambut panjangnya.
"REVANNN!" teriak Rani, langsung menerjang gue dengan pelukan kencang. Dia bahkan nggak segan memukul lengan gue pelan. "Ih, abang mah! Kirain nggak jadi pulang!"
Gue tertawa pelan, membalas pelukan Rani. "Mana bisa Abang nggak pulang? Kangen banget lah sama kalian."
Kak Rama cuma senyum-senyum sambil menepuk pundak gue. "Akhirnya pulang juga lo, Dek. Sehat-sehat kan di sana?"
"Sehat, Kak. Kalian gimana kabarnya? Baik-baik aja kan di sini?" tanya gue, pandangan gue bergantian menatap Ibu, Kak Rama, dan Rani. Wajah-wajah yang selama ini hanya bisa gue lihat melalui layar ponsel.
"Baik, alhamdulillah. Kita semua sehat, Nak," jawab Ibu, mengusap pipi gue lembut. "Kamu di Hongkong gimana? Kerja lancar? Makan teratur?"
"Baik juga, Mak. Kerja lancar, Revan di sana makan teratur kok. Alhamdulillah rezeki selalu ada. Makanya bisa pulang sekarang," jawab gue, berusaha meyakinkan Ibu. Meskipun kenyataannya, banyak hal yang nggak bisa gue ceritakan secara detail.
"Udah, ayo masuk dulu. Kasian Revan baru sampai jauh-jauh. Nanti ngobrolnya di dalam aja," ajak Ibu sambil menggandeng tangan gue masuk ke dalam rumah.
Gue melangkah masuk, merasakan ubin dingin di bawah kaki gue. Aroma masakan Ibu langsung tercium, menggugah selera gue yang tadi sempat hilang gara-gara perasaan aneh. Di ruang tamu, sofa dan perabotan masih sama persis seperti terakhir kali gue lihat. Rasanya seperti kembali ke masa lalu.
"Koper-kopernya biar Kakak yang bawa masuk aja, Van," kata Kak Rama sambil mengangkat koper besar gue dengan mudah.
"Makasih ya, Kak," balas gue.
Malam itu, meja makan terasa sangat hidup. Ibu sudah menyiapkan hidangan spesial: ayam goreng, sayur asem, dan sambal terasi yang pedasnya nampol. Makanan rumahan yang selama ini cuma bisa gue impikan di Hongkong.
"Wah, ini sih menu wajib kalau Revan pulang," kata Kak Rama sambil mengambil nasi.
"Iya dong! Emak tahu Revan pasti kangen masakan Emak," timpal Ibu sambil tersenyum bangga.
Gue duduk di antara Rani dan Kak Rama. Suasana makan malam ini sangat hangat, penuh canda tawa, dan cerita-cerita ringan. Rani bercerita tentang kegiatan sekolahnya, Kak Rama membahas sedikit soal pekerjaannya, dan Ibu sibuk menanyakan pengalaman gue selama di Hongkong.
"Di sana gimana, Bang? Cewek-ceweknya cantik-cantik nggak?" tanya Rani iseng, bikin Kak Rama dan Ibu tertawa.
"Hus! Apaan sih kamu, Ran. Revan jauh-jauh kerja, bukannya mikir yang bener," tegur Ibu, tapi sambil senyum.
Gue cuma senyum geli. "Cantik sih ada, Ran. Tapi ya gitu, beda budaya. Lagian Abang di sana fokus kerja."
"Nggak pacaran gitu, Van?" tanya Kak Rama.
Gue menggeleng. "Nggak, Kak. Nggak ada waktu. Pulang kerja capek, tidur. Besoknya kerja lagi."
Obrolan mengalir begitu saja, mengisi kekosongan yang selama ini terbentang. Gue merasa begitu nyaman di tengah keluarga. Momen makan malam ini, dengan suara tawa dan sendok beradu piring, terasa seperti obat mujarab untuk segala penat dan luka yang gue alami.
"Ini ayam gorengnya enak banget, Mak. Kangen banget aku," ucap gue sambil menambah nasi.
"Makan yang banyak, Nak. Biar gemuk lagi," kata Ibu, senang melihat gue lahap.
Di sela-sela tawa dan suap demi suap, ponsel gue yang tergeletak di meja samping piring tiba-tiba bergetar pelan. Hanya getaran singkat, tanpa suara. Notifikasi yang sama dengan yang tadi siang. Sebuah pesan tanpa nama, dengan lampiran video. Jantung gue langsung berdesir dingin. Gue melirik ponsel itu sekilas, lalu cepat-cepat gue matikan layarnya.
"Kenapa, Van? Ada kerjaan ya?" tanya Kak Rama yang kebetulan melihat gue melirik ponsel.
"Eh, nggak kok, Kak. Cuma notifikasi biasa," jawab gue cepat, mencoba bersikap santai.
Gue pura-pura fokus lagi pada makanan di depan gue, tapi pikiran gue sudah melayang ke notifikasi misterius itu. Siapa pengirimnya? Dan kenapa harus sekarang, di tengah momen hangat ini?
Malam ini memang penuh kehangatan, penuh tawa, dan penuh rasa kangen yang terbayar lunas. Tapi, gue tahu, di balik semua kebahagiaan sesaat ini, ada sesuatu yang dingin dan gelap yang perlahan-lahan mulai merayap mendekat. Sebuah teror yang siap menghancurkan ketenangan yang baru saja gue temukan.
Terutama ketika mata gue tanpa sadar menyapu sudut ruangan, dan berhenti di sana. Di depan sebuah pintu kayu tua, dengan kunci yang sudah berkarat. Ruang Tertutup. Ruangan yang menyimpan misteri, dan kini terasa seolah memanggil gue.
Daftar bab
11 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








