
- Jumlah kata
- 2.9K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 3
Sinopsis
Reza, seorang remaja yang terkekang oleh aturan ketat kakaknya, Reno Hidupnya yang terisolasi berubah drastis saat ia menemukan berkas rahasia yang mengungkap jati dirinya yang sebenarnya, ia bukan bagian dari keluarga Reno Di saat yang sama, ia mendapati Reno tengah berhadapan dengan Reno, guru yang menyimpan terlalu banyak pertanyaan tentang masa lalu kelam keluarga mereka Terjebak di antara loyalitas dan kebenaran yang mengerikan, Reza harus mengungkap misteri di balik hubungannya dengan Reno dan masa lalunya yang hilang Namun, semakin dekat Reza dengan jawaban, semakin besar bahaya yang mengintai Apakah Reza akan berhasil mengungkap kebenaran sebelum kegelapan menelannya sepenuhnya?
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
chapter 01
THE PERFECT FAKE
00:02
Hujan turun deras mengguyur kota Jakarta sejak tadi sore hingga malam hari dan belum juga berhenti, membuat suasana terasa begitu dingin.
Angin berhembus kencang menggerakkan pepohonan yang menjulang tinggi di sekitar jalanan sepi itu.
Suasana dingin dan gelap mencekam, dengan kilatan petir yang tak berhenti berseliweran di udara, membuat siapapun akan ketakutan berada di dalam suasana itu.
Namun, tidak dengan seorang laki-laki dengan jas hujan hitam berbentuk jubah yang menutupi seluruh tubuhnya itu.
Wajahnya ditutupi dengan masker, seolah tak ingin ada satu orangpun dapat mengenalinya.
Laki-laki itu terus berjalan seraya menyeret seseorang yang sudah tak berdaya di belakangnya.
Darah mengucur deras mengikuti setiap langkah yang diambilnya, namun hujan yang tak kalah derasnya dengan cepat dapat membersihkan jejak mengerikan itu.
Suara gemerincing dari rantai yang membelit korbannya terdengar begitu menakutkan diiringi suara langkah kakinya yang nampak tergesa-gesa.
Sesekali ia menoleh untuk melihat korbannya itu, menyedihkan, tapi itu membuat hatinya merasa senang.
Ia terus menyeret korbannya untuk dibawa ke suatu tempat.
Tempat rahasia, untuk mengeksekusi setiap mangsanya.
05:00
"PEMBUNUHAN BERANTAI" SERANG JAKARTA – KORBAN TAK UTUH DITEMUKAN DENGAN UKIRAN EMOJI YANG DIJAHIT RAPI"
JAKARTA, 22 FEBRUARI 2026 – Lima korban telah ditemukan dalam kondisi tubuh tidak utuh di berbagai lokasi terpencil di Jakarta selama dua minggu terakhir, dengan ciri khas unik yang membuat kepolisian menyebut pelaku sebagai "Smile killer".
Setiap bagian tubuh korban yang ditemukan memiliki ukiran berbentuk emoji senyuman lebar yang dijahit dengan sangat rapi menggunakan benang khusus berwarna hitam. Jahitan tersebut dilakukan dengan presisi tinggi, seolah dibuat oleh seseorang yang memiliki keterampilan menjahit atau kerajinan tangan.
Kasus pertama teridentifikasi pada tanggal 8 Februari, ketika sebagian tubuh pengusaha muda berinisial DP (32 tahun) ditemukan di Sungai Ciliwung dekat Kampung Melayu, dengan ukiran senyuman di bagian dada. Bagian tubuh lainnya ditemukan dua hari kemudian di lorong terbengkalai belakang kompleks perumahan tua Kelapa Gading.
Kemudian diikuti oleh kasus-kasus lain:
- SN (45 tahun, guru): Bagian tubuh ditemukan tersebar di gudang bekas pabrik tekstil Kemang, tepi Sungai Pesanggrahan, dan makam tak terawat Cilandak – masing-masing dengan ukiran senyuman di area lengan atau paha.
- RA (28 tahun, pekerja kreatif): Sisa tubuh ditemukan di Sungai Kali Krukut dan lokasi pembuangan sampah Tanah Abang, dengan ukiran di bagian punggung.
- BS (52 tahun, pegawai pemerintah): Bagian tubuh ditemukan di lapangan kosong bekas pertambangan Jakarta Timur dan danau Kemang Pratama, dengan ukiran di bagian bahu.
- AF (37 tahun, pengemudi ojek online): Sisa tubuh ditemukan di lorong bawah tanah tak terpakai dekat Stasiun Gambir dan tebing sungai Plumpang, dengan ukiran di bagian perut.
Kepala Divisi Investigasi Polda Metro Jaya, Kombes Pol. Rina Wijaya, menyatakan bahwa jahitan pada setiap korban menunjukkan pelaku memiliki kesabaran dan keahlian khusus. "Ukiran emoji senyuman ini kemungkinan menjadi tanda tangan pelaku atau cara untuk menyampaikan pesan yang belum kita pahami. Semua jahitan memiliki pola yang sama persis," ujarnya dalam konferensi pers.
Masyarakat semakin khawatir karena lokasi pembuangan sering berada di area yang bisa dijangkau anak-anak atau warga yang mencari kayu bakar atau barang bekas. Beberapa sekolah bahkan mulai memberlakukan aturan tidak boleh pulang sendirian setelah jam pelajaran.
Tim forensik sedang menguji benang yang digunakan untuk menjahit dan mencari jejak DNA atau bahan lain yang bisa mengarah ke pelaku. Polisi juga sedang menyelidiki apakah ada hubungan antara korban atau keterkaitan dengan dunia kerajinan tangan atau industri tekstil di Jakarta.
Polisi mengimbau warga untuk tetap waspada, menghindari tempat terpencil sendirian, dan segera melaporkan setiap orang yang terlihat menjahit dengan cara aneh atau memiliki barang bukti yang mencurigakan ke nomor darurat 110.
Pagi-pagi sekali Reza yang baru saja bangun langsung disuguhkan oleh siaran berita mengerikan itu.
Remaja berusia 18 tahun itu meringis, kepalanya terasa pusing, sepertinya ia ketiduran di sofa dan membuat tubuhnya terasa tak nyaman.
Dengan perlahan ia mencoba untuk bangun.
"Udah bangun?" sapa seseorang membuat ia langsung menoleh menatapnya.
Dapat ia lihat wajah datar Reno yang tak berekspresi, tengah menatapnya, hal itu membuat ia menjadi gugup bukan main.
"Ng...iya," jawabnya dan buru-buru mengambil duduk dengan benar, bahkan saking gugupnya rasa kantuknya langsung hilang begitu saja.
"Gue mau masak, Lo mau sarapan apa?" tanya Reno dengan nada dingin yang tak pernah berubah.
"Ng...apa aja, terserah Lo," jawab Reza dan mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.
Reno mengangguk kecil, seolah mengerti, sampai akhirnya perhatiannya beralih pada televisi yang masih menyiarkan berita pembunuhan yang menggemparkan kotanya itu.
Ia menyimaknya sebentar sampai akhirnya melihat ke arah Reza yang nampak gelisah, anak itu mengepalkan tangannya seolah menahan emosi yang ingin meledak.
Karena itu, Reno langsung berjalan ke arah meja, mengambil remot dan mematikan tv-nya.
"Pergi mandi, bukan malah nonton TV," suruhnya, tanpa menunggu jawaban dari adiknya ia langsung pergi ke dapur.
Reza menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan, rahangnya mengeras menahan kesal "sial, emang lebih baik gue bunuh dia," desisnya pelan, ia pun segera pergi dari sana.
Reno mendengarnya, karena ia masih berdiri tak jauh dari ruang tengah itu.
Ia menyunggingkan smirk tipisnya, seolah tak peduli ia pun kembali melangkahkan kakinya menuju dapur.
Seperti biasa, setiap hari Reno bertugas memasak untuk adiknya.
Karena semenjak Reno berusia 23 tahun, mereka sudah ditinggalkan oleh kedua orang tuanya.
Dengan telaten Reno mengerjakan semuanya, ia memasak nasi goreng udang kesukaan Reza juga beberapa makanan lainnya.
06:15
Semua masakan sudah siap, Reno segera menyajikannya di meja makan, saat itu juga Reza datang, anak itu sudah memakai seragam sekolahnya dengan rapi.
"Karena Lo udah bekerja keras, gue bikinin nasi goreng udang kesukaan Lo," ujar Reno dengan senyuman lebarnya.
"Hm, thanks," balas Reza, tersenyum simpul, ia pun segera duduk dan siap memakannya.
Reno sendiri ikut duduk, di seberangnya, merekapun sarapan bersama dengan tenang.
Sesekali Reno menatap Reza, untuk memastikan anak itu memakan makanannya sampai habis.
"Gue lupa beli susu kemarin, jadi gue buatin jus aja," ujar Reno, saat Reza menatap segelas jusnya, mendengar ucapan Reno akhirnya ia menganggukkan kepalanya mengerti.
"Nanti gue belanja setelah nganterin Lo ke sekolah, apa Lo mau nitip sesuatu?, biar gue beliin."
Reza menggelengkan kepalanya pelan "enggak, gak ada yang mau gue beli," jawabnya, dan kembali memakan makanannya.
Reno mungut-mungutin kepalanya "oke," ucapnya dan segera meminum jusnya sampai habis.
07:00
Setelah selesai sarapan, Reza bersiap untuk berangkat sekolah, Reno sendiri yang akan mengantarnya.
Di sepanjang perjalanan, Reza hanya sibuk membaca buku.
"Waahhh, jalanan mulai dijaga ketat sekarang, tapi tetep aja mereka gak bisa nangkap pelakunya, buang-buang waktu," ujar Reno yang sama sekali tak dihiraukan oleh Reza.
"Liat mereka, sok iye banget, ngatur-ngatur orang, padahal yang selalu nemuin mayat juga rakyat biasa," lanjutnya dengan tampang julidnya, namun ia tetap tersenyum saat melewati polisi-polisi yang tengah berpatroli itu.
"Selamat pagi pak!, semangat pak!, cepet-cepet tangkap pelakunya biar gak nyusahin orang pak!" serunya dengan suara keras pada polisi-polisi itu.
Reno tertawa julid dengan kelakuannya itu, tapi Reza hanya diam, karena merasa jengah ia pun menyimpan bukunya dan memilih untuk mendengarkan musik memakai earphone.
Kepalanya masih terasa sedikit pusing, karena itu ia memejamkan matanya dan memposisikan tubuhnya senyaman mungkin.
Tak berapa lama, akhirnya mereka sampai, Reno segera menghentikan mobilnya di depan gerbang.
"Tunggu," ucapnya saat Reza ingin beranjak dari duduknya, membuat anak itu terhenti dan langsung melihatnya.
"Lo sedikit pucat, kenapa?, sakit?" tanya Reno nampak khawatir.
"Gue baik-baik aja," jawab Reza, dan segera melepas earphonenya.
"Baiklah, selalu ingat aturannya," ucapnya membuat Reza menghembuskan nafasnya berat.
"Gue tau," balasnya "gue pergi dulu, ouh Lo mau belanja kan, beliin gue cemilan yang biasa gue beli, gue baru inget kalau itu udah abis," lanjutnya, tanpa menunggu jawaban dari Reno, ia langsung pergi keluar dari mobil.
Reno hanya menatapnya, sampai anak itu benar-benar menghilang dari pandangan, setelah itu ia kembali melajukan mobilnya menjauhi gedung besar itu.
Reza melangkahkan kakinya menuju kelas yang terletak di lantai tiga, sepanjang koridor banyak anak-anak lain yang tengah membicarakan soal terror pembunuhan itu, bahkan mereka juga menonton beritanya.
Suasana sekolah nampak tidak menyenangkan, mereka ketakutan dan khawatir, setelah sekolah mereka harus langsung pulang ke rumah masing-masing, semua dijaga ketat demi keselamatan.
Keadaan benar-benar rawan, bahkan beberapa polisi sampai ditugaskan berjaga di sekolah itu.
Mereka juga harus mengisi absen dengan tertib, ketika datang dan pulang, sebagai bentuk bukti jika mereka dalam keadaan aman di sekolah.
"Lo udah liat berita tadi pagi?, gila banget gue takut gila."
"Sumpah, lama-lama gue pengen pindah dari sini."
"Lo tau siapa korbannya?"
"Siapa emang?"
"Lo kenal??"
"Iya itu lho, pemilik toko di seberang rumah gue!!!"
"Wah, seriusan?!!"
"Iya!!!!, pokoknya gue bener-bener takut banget."
"Gila!"
"Serasa di film-film anjir."
"Bukan main!"
"Please gue pengen pindah!!, gue takut tinggal disini!"
Reza mendengar jelas obrolan tiga orang siswi itu, seketika raut wajahnya nampak gelisah, tangannya meremat kuat tali tasnya.
Merasa tak nyaman, ia pun melangkahkan kakinya lebih cepat sampai tak memperdulikan sekeliling.
"REZAAAAA!!!!!"
Baru juga tiba di kelas, suara teriakan keras dari seseorang membuat Reza terjingkut kaget, begitupun dengan orang-orang di sekitarnya.
Tapi anak itu sama sekali nampak tidak peduli, dengan entengnya dia malah tersenyum lebar sambil melambai-lambaikan tangannya dengan cepat ke arah Reza.
Reza sendiri malah dibuat tak nyaman dengan perlakuan orang itu, akhirnya ia pun memilih untuk pergi.
"Yah, REZA!, REZA LO MAU KEMANA!" seru orang itu, dia adalah Genta, anak yang selalu mengejar-ngejar Reza dan meminta untuk menjadi temannya.
Namun entah kenapa, Reza selalu menjauh, anak itu sama sekali tidak berbaur seperti yang lainnya, ia selalu menyendiri dan hanya bicara seperlunya.
"REZA TUNGGU!" Genta ingin berlari untuk menyusul, namun Teo langsung menahan bahunya, membuat anak itu terhenti.
"LO KENAPA SI!" Genta menatap kesal temannya itu yang terlihat sama sekali tidak peduli.
"Lo gak bakalan bisa deketin dia, udah biarin aja," ujarnya membuat Genta menatapnya semakin sinis.
"Lo tau apa anjir bilang kayak gitu," ujarnya.
"Gue tau lah, gue udah temenan lama sama Lo, udah liatin Lo ngejar-ngejar dia dua tahun ini, tapi gak ada hasil sama sekali," jawab Teo dengan nada mengejek.
Genta menghembuskan nafasnya kasar mendengar itu, benar juga, sudah selama itu, tapi... Reza sama sekali tidak pernah menghiraukannya.
Sebenarnya ia aneh, kenapa Reza bersikap seperti itu?
"Udahlah, lebih baik, kerjain tugas Lo sekarang, buruan!, bentar lagi masuk!" ujar Teo seraya menarik kerah baju Genta supaya anak itu kembali duduk di kursinya.
"Haih!, lepas anjir, kusut baju gue!" sentak Genta kesal, Teo gak peduli, dengan entengnya ia malah menyiapkan buku tugas yang harus diselesaikan anak itu.
"Reza gak suka temenan sama orang bodoh, selesain tuh," ucapnya.
"Lo ngatain gue bodoh?, gue peringkat ketiga anjir!"
"Ketiga dari belakang!, dasar bego," ujar Teo seraya menyentil pelan dahi temannya itu, membuat sang empu langsung memukulnya.
"Ngapain si, Lo mau ngatur-ngatur gue," geramnya tak habis pikir.
"Karena kakak Lo nyuruh gue!, buruan kerjain, dia masang penyadap di barang-barang gue, jadi dia bakalan tau apapun yang gue lakuin."
"Heh!, yang bener aja Lo!" Genta kaget bukan main.
"Buruan kerjain makanya!"
"Ck, iya-iya!!!, bawel Lo!"
Sedangkan Reza pergi ke UKS, karena kebetulan ia merasa tidak enak badan.
Sampai disana, ia langsung menemui dokter yang bertugas.
"Ada yang dapat saya bantu?" tanya dokter itu.
Reza mengangguk-anggukkan kepalanya mengiyakan "tiba-tiba aku merasa tidak enak badan," jawabnya.
"Baiklah, silahkan duduk, biar saya periksa," suruh dokter itu, yang langsung di turutinya.
"Eoh, sepertinya kamu sedikit demam, apa kepalamu terasa pusing?" ujar dokter itu setelah memeriksanya.
"Hm, sedikit," jawab Reza, ia merasa tubuhnya panas dan dingin bersamaan, itu benar-benar tidak nyaman.
"Kamu harus beristirahat, minumlah obat ini," ujar dokter itu dan menyerahkan beberapa pil, Reza langsung menerimanya.
"Kamu sudah makan sesuatu?"
"Iya, sudah."
"Baiklah, kalau begitu minumlah obatnya, lalu istirahat, masih ada waktu sebelum kelas di mulai," ujarnya.
"Terimakasih," ucap Reza, membuat dokter itu tersenyum.
"Sama-sama, istirahatlah."
Reza pun menurut, ia pergi ke salah satu ranjang di sana, ia segera meminum obatnya, lalu merebahkan tubuhnya di sana.
Eoh, padahal tadi dia baik-baik saja, kenapa tiba-tiba jadi begini?
Kriiiiing kriiiiing
Bel pertanda masuk berbunyi nyaring membuat semua murid berbondong-bondong segera masuk ke kelas masing-masing.
Begitupun dengan Reza, setelah merebahkan tubuhnya selama setengah jam, kepalanya sudah terasa lebih baik.
"Kamu baik-baik saja?" tanya dokter yang melihatnya.
Reza mengangguk-anggukkan kepalanya pelan "hm, aku baik-baik aja sekarang," jawabnya.
Dokter itu mengangguk pelan, dan membiarkan Reza pergi.
"Kemana dia?, kok dicariin gak ada ya?" ujar Genta heran.
"Udah gue bilang biarin aja, urus tugas-tugas Lo bukan malah ngurusin orang lain," dumel Teo jengah, karena temannya itu lebih memilih untuk mencari keberadaan Reza daripada menyelesaikan pelajaran.
Sudah diomelin pun anak itu sama sekali tak menghiraukannya, dia malah berpura-pura tidak mendengar, melihat itu Teo hanya menghembuskan nafasnya sabar.
"Nanti diperiksa guru baru tau rasa," desisnya pelan.
Saat itu juga Reza datang ke kelas, seketika membuat Genta terkesiap "ITU DIA!!" pekiknya membuat orang terkejut.
Teo menatap anak itu julid lalu menepuk pundaknya "bisa santai gak sih," ujarnya jengkel.
Reza sendiri tak menghiraukannya, bahkan melihatnya pun tidak sama sekali.
Genta yang mendapati hal itu mengerucutkan bibirnya sebal, sakit hati.
"Dia gak suka sama Lo, udah anjir gak usah maksa deketin dia, jengah banget gue," ujar Teo.
"Diem Lo," balas Genta sinis.
Tak lama seorang guru datang, membuat kelas yang tadinya riuh kini menjadi sepi, semua murid fokus ke depan.
"Selamat pagi semuanya~" sapa guru itu, dia adalah pak Dikta, wali kelas mereka yang digemari banyak siswi-siswi, karena selain masih muda dia memiliki paras yang tampan.
"Pagi juga~" balas murid itu serempak.
Dikta tersenyum manis membuat beberapa siswi saling berbisik, karena kagum.
Ketua kelas segera memimpin do'a, sebelum belajar, berdoa menurut kepercayaan masing-masing.
Setelah selesai akhirnya, Dikta segera melanjutkan pelajaran.
"Ouh, untuk tugas yang saya berikan Minggu lalu, tolong segera kumpulkan," suruhnya seketika membuat Genta kelimpungan, apalagi saat melihat ketua kelas mulai mengambilnya satu-persatu.
"Eh!, punya gue gimana?!!" bisik Genta tak santai, Teo malah menatapnya datar.
Saat itu juga ketua kelas meminta buku mereka "mana punya Lo."
"Nih," dengan senang hati Teo menyerahkannya dengan tatapan julidnya pada Genta.
"Gila Lo!" umpat Genta seraya memukul lengan Teo, namun dia langsung menghindar dan tidak jadi kena.
"Ck... anu..., itu punya gue ketinggalan," ujarnya tersenyum masam.
Ariel, ketua kelas itu menghembuskan nafasnya jengah "yakin?, ketinggalan apa gak ngerjain?" ujarnya membuat Teo menahan tawanya melihat Genta.
"Gue bilang ketinggalan!, namanya juga manusia, gak luput dari sifat lupa," ujar Genta tak santai.
Ariel mendengus kecil, lalu pergi ke bangku lain.
Setelah selesai, ia menyerahkan semuanya pada Dikta.
"Oke, siapa yang tidak mengerjakan tugas..." ucapnya.
"Bagas sama Genta pak," jawab Ariel membuat Genta menatapnya sinis dari tempat duduknya.
"Bagas, kenapa?, saya sudah kasih waktu seminggu lho," tanya Dikta seraya menyilangkan kedua tangannya di depan dada, ia berjalan pelan menghampiri bangku anak-anak itu.
"Maaf pak, bukunya basah kehujanan," jawab Bagas, seraya memperlihatkan bukunya yang lecet.
"Tapi kamu sudah mengerjakan?" tanya Dikta.
"Udah pak, saya sedang menyalinnya," balas Bagas, mendengar itu Dikta mengangguk mengerti.
"Baiklah, kumpulkan jika sudah selesai," ujarnya.
"Baik pak."
Setelah itu, Dikta beralih pada Genta, anak itu sudah terlihat tegang.
"Kenapa kamu gak ngerjain tugas?" tanyanya.
Genta menghembuskan nafasnya pelan "eum... itu... bukunya ketinggalan pak," jawabnya.
Dikta menatapnya lekat membuat Genta merasa tak nyaman, jangan-jangan dia tahu kalau ia berbohong, pikirnya.
"Kenapa tertinggal hm?" tanyanya, sambil mendekati anak itu.
"Tadi saya buru-buru karena kesiangan," jawab Genta cepat.
Dikta mengangguk-anggukkan kepalanya pelan "baiklah," ucapnya dan kembali ke depan "kalau begitu kita lanjutkan materi selanjutnya, untuk Genta, silakan tunggu di luar selama pelajaran saya berlangsung," ujarnya seketika membuat Genta terkejut bukan main.
"Apa?!, kenapa pak???!!" pekiknya tak tertahan.
"Ini sudah keenam kalinya kamu tidak mengumpulkan tugas dengan alasan yang sama, jadi..." ucapnya, dengan tatapan lembut namun terkesan marah.
"Silahkan keluar," lanjutnya mempersilahkan, Teo malah menatapnya julid sambil menahan tawanya.
"Cepat sebelum saya tambah hukumannya!"
"Iya iya, ampun pak."
Akhirnya dengan terpaksa Genta segera beranjak dari duduknya dan pergi keluar.
Kelas pun dimulai, hingga beberapa menit kemudian, Reza merasa kembali tak enak badan.
Ia menundukkan kepalanya yang terasa pusing.
"Heh?, kenapa Lo?" tanya Rian yang duduk di belakangnya.
Reza tidak menjawab, itu yang membuat mereka tidak begitu menyukainya.
Rian berdecak kecil dibuatnya.
"Udah biarin aja, batu gak bakalan bisa diajak ngomong," ujar Galen dengan senyuman mengejek.
Reza kesal, tapi ia tetap menahannya, ia tetap memaksakan diri untuk mengikuti pelajaran.
Saking pusingnya, bahkan ia tak bisa melihat catatan yang Dikta tulis dan jelaskan di papan tulis.
"Sssshhh, kenapa si, padahal gue udah minum obat," gumamnya dan terus memijat pelipisnya.
Ia merasa dunia terasa tengah berputar-putar, dan rasa mual membuatnya tak bisa menahan lagi.
Karena itu ia mengangkat tangannya untuk meminta izin.
"Ya, ada apa Reza?" tanya Dikta, beberapa murid ikut menatapnya.
"Saya izin ke toilet sebentar pak," jawabnya.
"Baik, pergilah."
Reza mengangguk singkat, dengan hati-hati ia berusaha untuk bangun, sial, kepalanya benar-benar pusing sampai akhirnya
Bruk!
Tubuhnya terjatuh ke lantai, dia jatuh pingsan, membuatnya semua terkejut bukan main.
Melihat itu Dikta langsung bergegas mendekatinya.
Mereka bertanya-tanya, kenapa?, kenapa Reza pingsan?
Dikta yang memeriksanya dapat merasakan tubuh Reza yang panas "dia sakit," ucapnya, ia pun segera mengangkatnya.
Dikta segera membawanya ke UKS.
"Wih, demi apa Reza digendong pak Dikta," pekik seorang siswi julid.
Genta yang berdiri di luar terkejut saat tiba-tiba pintu dibuka dengan kasar, dan Dikta keluar dengan Reza di gendongannya, ia jadi panik bukan main.
"HEH, ADA APA?, KENAPA SI REZA??!!" serunya berlari masuk menghampiri Teo.
"Entah, tiba-tiba dia pingsan, katanya sakit," jawab Teo.
Kelas pun kembali riuh, semakin berisik karena ocehan Genta yang mengkhawatirkannya.
"Ayo, susul ke UKS!, gue pengen liat!"
"Apaan dah, kelas belum selesai juga."
"Gak papa!!!, sebagai teman kita harus memastikan dia baik-baik aja, you know!!!"
"Mending kerjain tugas Lo, teman, teman, teman apanya anjir, dia aja gak sudi dideketin Lo."
"IIIHH ANJIR LO MAH NYEBELIN!, AU AH GUE PERGI SENDIRI!"
Genta melengos pergi dari sana, membuat Teo geleng-geleng kepala.
"HEH!, Genta!" serunya tapi benar-benar gak dihiraukan anak itu.
"Make ni orang."
Daftar bab
1 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
Volume 1 · Volume 1
Lanjutkan membaca di aplikasi
Buka aplikasi untuk membaca bab terkunci.








