
Monster Penjara
abdulrizqi60|Bersambung
- Jumlah kata
- 108.1K
- Popular
- 1.7K
- Subscribe
- 134
- Jumlah kata
- 108.1K
- Popular
- 1.7K
- Subscribe
- 134
Sinopsis
Renzo, mantan prajurit elite berjuluk Beruang Baja, dipenjara di Nusakambangan setelah membantai geng yang membunuh tunangannya. Ia berniat hidup tenang, sampai kabar adiknya dianiaya anak pejabat tertinggi dan keluarganya di sembunyikan membangkitkan amarahnya. Diliputi amarah, Renzo mengumpulkan para tahanan paling berbahaya—algojo kartel, yakuza, psikopat, ahli kungfu, hingga perancang bom—membentuk geng kriminal paling berbahaya dalam sejarah untuk kabur dari penjara, membalas dendam, dan menumbangkan penjahat manipulatif yang bahkan dilindungi pasukan militer!!
Ulasan
1 ulasan
Chiluk-Ba
15/10/26 00:52
ceritanya bagus tersusun... bikin penasaran ceritanya. mudah-mudahan updatenya tiap babnya gak sedikit.. semangat terus berkarya nya Thor...
PILIHAN
BAB 1: MONSTER MASUK PENJARA
Di lorong penjara yang gelap dan sunyi.. sebanyak 11 sipir bersenjata lengkap mengawal seorang narapidana baru yang menggemparkan satu negara.
Renzo Erlangga Abraham. Sosok yang dahulu dipuja sebagai pahlawan kini dicap sebagai tahanan paling berbahaya. mata yang dahulu memandang hormat kini memandangnya penuh ancaman.
Semua itu ia lakukan lantaran kediaman tunangannya di rampok oleh sekelompok geng kriminal tak hanya menjarah, mereka juga membunuh seluruh penghuninya termasuk tunangan Renzo. Di liputi amarah Renzo membantai habis mereka semua, menghilangkan lebih dari 50 nyawa dalam satu malam membuatnya kini menjadi narapidana tahanan mati yang hukumannya di tangguhkan selama 2 tahun.
Di dadanya kini tertulis satu identitas dingin, menggantikan nama dan jasa-jasanya dahulu sebagai prajurit militer.
Nomor Tahanan: 7702
Kaki melangkah berat menyusuri lorong-lorong gelap dan lembap. Hingga akhirnya pintu besi berat terbuka berderit kasar.
Renzo didorong masuk.
Sel Nomor 105. Sel kolektif. Tempat di mana sebelas narapidana berbahaya telah menunggu di dalamnya. Mata-mata mereka yang tajam dan dingin seketika tertuju pada sosok Renzo yang baru saja melangkah masuk. Pintu besi berat kembali tertutup rapat di belakangnya. Kunci berputar. Derit besi. Dan kini... Renzo berada di dalam.
"Bangun semuanya cepat!!"
Teriakan suara keras sipir terdengar menggema membelah keheningan di dalam sel. Para tahanan mulai beranjak dari tempat tidur mereka, menguap lebar, lalu satu per satu menolehkan pandangan — menatap pemuda yang baru saja masuk, narapidana baru yang kini berdiri tenang di ambang pintu besi.
Seorang pria gemuk berwajah bulat yang tampak memimpin di sel itu menyeringai licik, matanya menyapu tubuh Renzo dari atas hingga bawah dengan pandangan merendahkan.
"Lihat ini! Ada anak kecil yang masuk penjara! Apa rambutnya sudah tumbuh semua?"
Pria botak yang berdiri di sebelahnya langsung tertawa keras menimpali, "Hati-hati, bocah-bocah zaman sekarang kelihatannya polos namun bisa jadi mereka lebih bengis daripada kita!"
"Hahahaha..!!" Tawa riuh seketika memenuhi ruangan sempit itu.
Baaamm...!!!
Suara dentuman tongkat yang menghantam pintu besi terdengar memekakkan telinga, seketika membungkam tawa mereka.
"Dengarkan baik-baik!" Suara sipir menggema tegas, "Mulai hari ini dia akan tinggal di sel kalian. Sekarang jumlah kalian sudah penuh dua belas orang. Bersikaplah baik, jangan membuat masalah. Dan kau Jordi!" Sipir menunjuk tepat ke arah pria gemuk berwajah bulat tadi, "Jangan membuat masalah lagi atau kau akan kukirim ke sel isolasi! Mengerti?"
Jordi mengangkat bahu dengan wajah tak peduli, "Mengerti, Bos."
Sipir itu pun langsung berbalik dan melangkah pergi meninggalkan mereka.
Renzo sama sekali tak mempedulikan kegaduhan dan tatapan sinis yang tertuju padanya. Tanpa berkata apa-apa, ia melangkah tenang menuju satu-satunya tempat tidur kosong yang terletak di sudut sel yang paling gelap. Namun baru saja kakinya melangkah dua langkah, sesosok tubuh gemuk tiba-tiba menghadang jalannya.
Jordi berdiri tegak tepat di hadapan Renzo, menatapnya tajam bagaikan binatang buas yang sedang menatap mangsa yang lemah. Ia memajukan wajahnya mendekat, napasnya berbau busuk menyembur tepat ke wajah Renzo.
Lalu tiba-tiba...
Cuih!
Ludah kental dan menjijikkan itu mendarat tepat di pipi Renzo.
Ledakan tawa seketika meledak memenuhi ruangan. Para narapidana lainnya tertawa puas, bersorak-sorak melihat pendatang baru itu dipermalukan sedari awal.
Namun di tengah riuh rendah tawa itu, Renzo tetap diam. Ia tak menyeka ludah di pipinya, tak menatap balik, tak pula menampakkan sedikit pun amarah. Wajahnya datar, tenang, seakan tak terjadi apa-apa.
"Wah.. wah.. wah... sombong sekali kau, bocah!" Jordi tertawa mengejek, "Masuk ke sini tanpa membungkuk atau memberi upeti? Kalau begini caranya, bagaimana aku bisa mempertahankan wilayahku di gedung timur?"
Renzo tetap diam. Bahkan ia tak menoleh sedikit pun. Ia kembali melangkah, melewati tubuh gemuk Jordi seakan tak ada apa-apa di hadapannya, lalu berjalan lurus menuju ranjang kosong di sudut ruangan.
Namun pria botak yang berdiri di samping Jordi tak membiarkannya lewat begitu saja. Dengan gerakan cepat dan kasar, ia melayangkan tinjunya sekuat tenaga tepat ke perut Renzo.
Bugh!
Suara hantaman itu terdengar keras dan menggema di dinding-dinding batu sel yang sempit.
Namun seketika itu juga suasana berubah hening. Hening yang begitu mencekam. Tawa para narapidana terhenti mendadak. Wajah-wajah yang sedari tadi menyeringai kini berubah pucat dan penuh keterkejutan.
Pria botak itu berdiri terpaku, tangannya masih terulur ke depan namun tubuhnya kaku tak bergerak. Ia sama sekali tak melihat Renzo terhuyung atau menampakkan sedikit pun rasa sakit. Pemuda itu justru berdiri tegak dan tenang di tempatnya, wajahnya masih sedatar sebelumnya, namun sepasang matanya yang tadinya kosong kini berubah tajam dan dingin — bagaikan sepasang mata binatang buas yang merasa terganggu di sarangnya.
"Aku tidak ingin mencari masalah. Sebaiknya kalian juga tidak main-main denganku." Ucap Renzo, suaranya tenang, rendah, namun terdengar begitu jelas dan berat hingga membuat siapa pun yang mendengarnya merinding.
Jordi memicingkan matanya menatap lekat wajah Renzo. Ia terdiam sejenak, lalu mendengus kasar seakan tak percaya pada apa yang dilihatnya. Dengan gerakan kesal ia mengangkat tangannya memberi isyarat kepada anak buahnya untuk mundur.
"Berikan dia jalan!" Ucap Jordi ketus.
Seketika itu juga para narapidana yang berdiri berkerumun langsung menyingkir ke samping, membukakan jalan lebar bagi Renzo untuk lewat. Tak ada yang berani bersuara, tak ada yang berani menatapnya lebih lama dari yang seharusnya.
Renzo pun melangkah maju, lalu berbaring di atas ranjang kayu yang keras dan berbau apek itu. Matanya ia tutup rapat seakan hendak beristirahat.
Namun Jordi belum selesai. Ia mendekat perlahan, menatap Renzo yang memejamkan mata dengan senyuman licik yang mengerikan terukir di wajahnya.
"Bos... apa Bos yakin?" Bisik pria botak tadi dengan suara bergetar penuh kecemasan, "Bocah itu... tidak normal. Tubuhnya... terasa sangat keras."
"Diam! Pukulanmu seperti pukulan anak kecil! Pukulan selemah itu tak akan mampu menyakiti siapa pun!" Bentak Jordi rendah, namun matanya tetap tak lepas dari sosok Renzo yang berbaring tenang.
Jordi kembali melangkah mendekat ke arah ranjang Renzo. Dengan senyum yang semakin menjijikkan, ia membuka ritsleting celananya, lalu membuang air kecil tepat di atas kasur dan selimut tempat Renzo berbaring.
Jordi tertawa terbahak-bahak puas melihat perbuatannya itu. Namun kali ini, tak ada satu pun anak buahnya yang ikut tertawa. Mereka semua hanya diam, menahan napas, merasa takut akan apa yang mungkin terjadi selanjutnya.
Dan benar saja...
Perlahan namun pasti, Renzo bangkit dari tidurnya. Ia duduk di tepi ranjang yang basah itu, lalu menatap lurus ke arah Jordi. Tatapannya begitu dingin, tajam, dan menembus hingga ke tulang sumsum.
"Sudah kubilang." Suaranya terdengar lirih namun begitu jelas dan berat, "Jangan main-main denganku."
"Hahahaha... kau pikir aku takut dengan bocah ingusan sepertimu?" Jordi tertawa mengejek tanpa rasa takut sedikit pun. Dengan amarah yang tiba-tiba meledak, ia mengeratkan genggamannya dan melayangkan tinjunya sekuat tenaga langsung ke wajah Renzo.
Baaaammm...!!!
Suara hantaman keras kembali menggema di ruangan itu.
Seketika itu juga seluruh penghuni sel menelan ludah dengan mata terbelalak tak percaya. Termasuk Jordi sendiri.
Tinju yang dilayangkan dengan sekuat tenaga itu mendarat tepat di wajah Renzo — namun Renzo tak bergeming sedikit pun. Tak terhuyung, tak mundur selangkah, tak berkedip. Wajahnya tetap datar, seakan tinju sekeras itu baru saja menghantam dinding batu yang kokoh.
Jordi segera menarik tangannya mundur. Wajahnya kini tampak pucat pasi penuh keterkejutan. Telapak tangannya terasa perih dan nyeri hebat, seakan ia baru saja meninju bongkahan besi panas. Ia meninju sekuat tenaga, namun bocah ingusan di hadapannya bahkan tak bergeser sedikit pun.
"Sudah aku bilang... dia tidak normal, Bos..." Bisik pria botak itu dengan suara gemetar ketakutan, mundur selangkah demi selangkah menjauh.
"Jangan main-main denganku!"
Dalam sekejap, Renzo bergerak. Gerakannya begitu cepat hingga mata nyaris tak mampu menangkapnya. Tangan kanannya melesat bagaikan cakar beruang yang mengoyak daging, menghantam dan menyayat rusuk kanan Jordi dengan kecepatan dan kekuatan yang mengerikan serta brutal.
Mata Jordi terbelalak seketika. Mulutnya menganga lebar namun tak ada suara yang keluar. Tubuhnya terhuyung mundur gontai, kakinya tak lagi mampu menopang berat badannya sendiri.
Dukk...!!!
Darah segar mengalir deras menyembur dari mulutnya. Tubuhnya mengejang-kejang sejenak hebat, lalu perlahan-lahan ambruk jatuh ke lantai batu, dan akhirnya... diam selamanya.
Tulang rusuk yang patah akibat hantaman itu telah menembus hingga jantungnya.
Hening. Sangat hening.
Seluruh narapidana di dalam sel itu mundur perlahan-lahan, menatap Renzo dengan ketakutan yang membeku di segenap jiwa. Tak ada yang berani bernapas terlalu keras, tak ada yang berani bergerak sedikit pun. Udara di dalam sel itu terasa begitu berat dan sesak, dipenuhi aura pembunuh yang dingin dan kejam.
Di dalam sel yang berisi para penjahat keji dan berdarah dingin, pada malam pertama itu — seorang pendatang baru yang belum genap lima menit tinggal di dalam sel, telah membunuh pemimpin sel itu dengan tangan kosong. Dan di hadapan sebelas penjahat yang kini gemetar ketakutan, Renzo kembali duduk tenang di tepi ranjangnya, menyeka sisa darah di tangannya, lalu kembali berbaring seakan tak terjadi apa-apa.
Daftar bab
89 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








