
Cincin Warisan Terakhir Kakek
Adeline|Bersambung
- Jumlah kata
- 91.7K
- Popular
- 574
- Subscribe
- 196
- Jumlah kata
- 91.7K
- Popular
- 574
- Subscribe
- 196
Sinopsis
Divonis hanya memiliki sisa hidup enam bulan, ditinggalkan wanita yang dicintai, dan hidup dalam kemiskinan, Rusdi mengira takdirnya telah berakhir. Sampai seorang kakek misterius mewariskan sebuah cincin tua tepat sebelum mengembuskan napas terakhir. Malam itu, penyakit Rusdi lenyap. Kekayaan mulai mengalir. Orang-orang yang dulu menghina kini berebut mendekat. Namun, setiap warisan memiliki rahasia. Semakin besar kekuatan cincin itu, semakin banyak musuh yang mengincar nyawanya. Saat semua orang menginginkan cincinnya, mampukah Rusdi mempertahankan warisan terakhir sang kakek, atau justru kehilangan segalanya?
Ulasan
4 ulasan
Youku 4545
1/9/26 08:18
Benci banget sama mantan yang cuma mau pas ada maunya aja. Hempaskan aja rusdi ngapain mau balikan lagi
Mels Aries
1/9/26 08:11
Penasaran banget sama Bang Ren. Sepertinya dia selalu mengikuti Rusdi. Dia mau cincin rusdi. Jangan mau rusdi
Bab 1. Wasiat Terakhir
"Jantungmu tinggal bertahan enam bulan, Pak Rusdi."
Rusdi menatap iba pada sang Dokter Lali beralih ke lembar hasil pemeriksaan di tangannya. Huruf-huruf di sana buram, bukan karena tulisannya kecil, tapi karena matanya mulai berkaca-kaca.
"Enam bulan?"
"Iya. Kondisi jantungmu bawaan lahir. Tanpa operasi, seperti itu perkiraannya."
"Berapa biaya oerasinya, Dok?"
"Ratusan juta. Belum termasuk perawatan sesudahnya."
Rusdi sudah tidak sanggup lagi menangis. "Saya kerja serabutan, Dok. Ratusan ribu saja saya harus utang dulu."
"Ini aturan rumah sakit, saya sendiri tidak bisa memberikan keringan." Menyodorkan selembar kertas kecil, "tagihan konsultasi hari ini, silahkn anda selesaikan dibagian administrasi."
Menghela napas berat, Rusdi pun pamit dan menuju ruang administrasi. "Saya bayar cicil boleh, Bu? Ini saya cuma pegang sepuluh ribu."
"Sepuluh ribu?" Petugas itu menaikkan suaranya, cukup keras hingga pasien lain menoleh. "Bapak pikir rumah sakit ini warung kopi?"
"Saya beneran cuma punya ini, Bu. Sisanya saya cari, saya janji—"
"Enggak bisa. Bapak enggak boleh keluar sebelum tagihan lunas."
Rusdi berdiri kaku, petugas itu mencengkeram lengannya, seolah ia buronan yang mencoba kabur, bukan pasien yang baru saja divonis hidup enam bulan lagi.
Dengan tangan gemetar, ia merogoh ponselnya, satu-satunya barang berharga yang masih ia punya, menekan nomor Dinda.
"Din, tolong aku," suaranya nyaris berbisik begitu sambungan terangkat, petugas itu masih mengawasi di sampingnya. "Aku ditahan di rumah sakit, enggak bisa bayar tagihan. Bisa pinjemin aku uang dulu enggak?"
"Hah? Kamu serius nelepon aku buat minta duit?" Suara Dinda melengking dari seberang, cukup keras hingga terdengar oleh petugas di sebelahnya.
"Din, please, aku enggak ada siapa-siapa lagi—"
"Makanya jangan sakit-sakitan tapi enggak ada duit, Rus! Malu-maluin tau enggak, mulai sekarang kita putus!"
"Putus?"
"Ya, kita putus." Dinda tertawa sinis. "Orang kayak kamu emang pantesnya sendirian. Jangan telepon-telepon aku lagi."
Sambungan terputus. Layar ponselnya menampilkan durasi panggilan, dua puluh tiga detik, cukup untuk menghancurkan apa yang tersisa dari harapannya hari itu.
"Sudah selesai drama teleponnya?" petugas itu mendengus. "Mau bayar apa enggak?"
"Bu, saya beneran enggak punya uang lagi."
"Kalau enggak ada uang, ponselnya ditahan dulu sebagai jaminan."
"Bu, itu satu-satunya barang saya."
"Ya makanya cepetan cari uangnya." Petugas itu merampas ponsel dari tangannya tanpa menunggu persetujuan, memasukkannya ke laci meja administrasi dengan gerakan acuh, seolah benda itu tidak lebih berharga dari kertas bekas.."Silakan keluar, Pak. Lain kali kalau berobat, siapin dulu uangnya."
Rusdi keluar tanpa ponsel, tanpa kekasih, tanpa uang, hanya membawa selembar kertas vonis dan luka yang tidak kelihatan oleh siapa pun. Namun hidup memaksa dia untuk tetap kuat dan tegar, dia harus terus bekerja walau tubuhnya terasa renta bak orang tua.
"Rusdi baru datang jam segini?" bentak mandor proyek bongkar muat gudang begitu ia tiba, suaranya menggelegar di depan pekerja lain. "Sakit-sakitan gini kok maksa kerja kasar. Bikin repot aja."
"Maaf, Pak, saya abis dari rumah sakit."
"Alasan terus. Enggak usah masuk hari ini. Upahmu enggak saya kasih, anggap aja bolos."
Beberapa pekerja lain memandangnya dengan tatapan iba yang justru terasa lebih menyakitkan daripada ejekan.
"Pak, saya butuh uang ini buat berobat."
"Cari kerjaan lain yang enggak butuh badan sehat. Itu masalahmu, bukan masalah saya."
Rusdi berbalik, tangannya mengepal erat di saku celana, giginya bergemeletuk menahan amarah yang tidak punya tempat untuk pergi. Sepatunya yang jebol menampung air comberan tiap kali melewati genangan, dan langit sore memilih hari itu untuk menumpahkan hujan deras tanpa aba-aba.
"Kenapa sih hidup gue kayak gini terus," gumamnya di bawah atap toko yang tutup, suaranya nyaris hilang ditelan suara hujan.
"Sakit, miskin, ditinggalin, dihina. Kurang apa lagi?"
Tidak ada yang menjawab selain gemuruh petir di kejauhan. Ia belum sampai ke gang rumahnya ketika mendengar suara batuk keras dari selokan kecil di pinggir jalan. Seorang kakek tua tergeletak di sana, tubuhnya kurus, pakaiannya basah kuyup, tangannya gemetar mencoba bangkit.
"Kek, Kakek kenapa?" Rusdi berlari mendekat, melupakan sejenak kesengsaraannya sendiri.
"Dada saya sesak," suara kakek itu tersengal.
"Kakek tinggal di mana? Saya antar pulang."
"Enggak usah repot, Nak," kakek itu menolak lemah.
"Kakek enggak bisa ditinggal begini di tengah hujan."
Kakek itu terus menggeleng setiap kali ditanya alamatnya, jadi Rusdi memapahnya menuju rumahnya sendiri. "Istirahat dulu di rumah saya, Kek. Rumah saya jelek, tapi setidaknya enggak kehujanan."
Malam itu kakek tua itu tidur di ranjang satu-satunya milik Rusdi, sementara Rusdi duduk di lantai menyandarkan punggung ke dinding dengan baju masih basah.
"Kenapa kamu tolong orang asing seperti saya, padahal kamu sendiri kelihatan lagi susah?"
Rusdi tertawa kecil, getir. "Susah bukan alasan untuk tidak menolong orang jika kita masih bisa melakuannya, Kek."
"Kamu benar. Hari ini kamu kenapa, Nak? Baju basah dan kamu kayak habis nangis."
"Saya diusir kerja, diputusin pacar, divonis sakit parah. Hari ini juara satu hari terburuk sepanjang hidup saya." Rusdi tersenyum, meski matanya berkaca-kaca lagi. "Tapi ya sudahlah, besok juga jalan lagi."
Kakek itu menatapnya lama sekali, seolah sedang menimbang sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar rasa terima kasih.
"Siapa namamu?"
"Rusdi, Kek."
"Rusdi," kakek itu mengulang nama itu pelan-pelan, seperti sedang menghafalnya untuk selamanya.
Tiga hari kakek itu tinggal di rumah Rusdi, dan tiga hari itu pula Rusdi rela tidak makan siang, meminjam uang tetangga demi membelikan obat, tanpa pernah bertanya siapa keluarganya sebenarnya.
Malam ketiga, kakek itu memanggilnya dengan suara lemah.
"Rusdi, ke sini sebentar."
"Ada apa, Kek? Sakitnya kambuh lagi?"
Kakek itu tidak menjawab. Tangannya yang gemetar meraih tangan Rusdi, menggenggamnya erat, lalu meletakkan sebuah cincin hitam kusam ke telapak tangannya. "Ini wasiat terakhirku," katanya.
"Wasiat? Kek, saya cuma nolong Kakek, enggak butuh imbalan apa-apa."
"Bukan imbalan," suara kakek itu makin melemah. "Ini tanggung jawab. Jaga cincin ini baik-baik. Jangan pernah lepaskan kalau sudah kamu pakai."
"Kakek ngomong apa sih, saya enggak ngerti."
"Kamu orang baik, Rusdi," kakek itu memotong, matanya mulai sayu. "Dunia sudah terlalu keras sama kamu. Sekarang giliran kamu yang dibalas."
Genggaman kakek itu perlahan mengendur, napasnya melambat, hingga akhirnya berhenti sepenuhnya.
"Kek? Kakek!"
Rusdi mengguncang tubuh kakek itu, panik, mencari denyut nadi di lehernya. Tidak ada.
"Kek, jangan pergi. Kakek baru sehari lebih enakan, kenapa sekarang—" Suaranya patah, tak sanggup melanjutkan kalimat.
Ia menatap cincin hitam di genggamannya, benda terakhir yang ditinggalkan orang yang bahkan baru ia kenal tiga hari, namun entah kenapa terasa lebih berat daripada seluruh beban hidupnya selama ini. Ia mengurus jasad kakek itu sendirian, meminjam uang lagi untuk kain kafan, mencoba mencari keluarganya. Tidak ada seorang pun yang mengaku mengenalnya, seolah kakek itu memang datang khusus untuk menemuinya, lalu pergi setelah tugasnya selesai.
"Kenapa sih semua yang baik sama saya, ujungnya pergi juga," gumam Rusdi menatap gundukan tanah basah di pemakaman sederhana itu. "Orangtua saya, terus sekarang Kakek."
Pulang ke rumah, Rusdi menatap cincin hitam yang tergeletak di meja, memantulkan cahaya lampu temaram dengan cara yang aneh, seolah ada sesuatu yang hidup di dalamnya. Rusdi meraihnya, memutar-mutar benda itu di antara jarinya, menatapnya dengan mata yang sudah bengkak habis menangis seharian.
"Wasiat terakhir," gumamnya pelan. "Emang ini apaan? Cincin biasa gini kok jadi wasiat?"
Rasa penasaran mengalahkan rasa takutnya. Ia menyelipkan cincin itu ke jari manis.
Dingin. Sedingin es, menjalar dari jari ke seluruh tangannya.
"Loh—" Sebelum ia sempat melepasnya, sebuah suara menggema, bukan dari luar, tapi seolah langsung di dalam kepalanya sendiri.
"Selamat datang, Pewaris Cincin Kemakmuran."
Rusdi terlonjak, menjatuhkan diri dari kursi, matanya membelalak menatap cincin hitam yang kini berpendar cahaya keunguan tipis di jarinya.
"Siapa itu? Siapa yang ngomong?"
Daftar bab
85 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








