
separuh tubuh sepanjang luka
N.F.Djati|Bersambung
- Jumlah kata
- 69.6K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 12
- Jumlah kata
- 69.6K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 12
Sinopsis
SEPARUH TUBUH, SEPANJANG LUKA--- Kamu tahu rasanya dari umur 5 tahun duduk di kursi roda?Ayah pergi. Sekolah menolak. Teman-teman mengejek. Preman memukul. Satpol PP menangkap.Tapi ibuku tak pernah berhenti menggendongku naik 27 tangga. Sampai lututnya hancur. Sampai suatu hari ia jatuh, dan darahku mengalir di kepalanya.Lalu datang seorang pelukis jalanan di kolong jembatan. "Kamu berbakat," katanya.20 tahun kemudian, lukisanku dipajang di museum nasional. Harganya 2 juta dolar. Tapi aku tak menjualnya.Karena lukisan itu untuk ibuku.Yang dulu menggendongku naik 27 tangga. Yang lututnya hancur demi aku.Tapi perjalanan ini tak pernah mudah. Ada Namira yang pergi. Ada Pak Satpam yang mati. Ada luka yang tak pernah benar-benar kering.---#SeparuhTubuh #SepanjangLuka #Tangga27 #AnakLumpuhBerkarya
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
BAB 1: KAKIKU
Namaku Mahesa. Umurku lima tahun ketika kakiku mati.
Bukan mati seperti mayat. Masih ada. Masih nempel di badan. Tapi tak mau digerakkan. Seperti bagian tubuh yang mogok kerja. Separo tubuhku memilih berhenti.
Aku ingat hari itu. Aku jatuh di halaman. Bangun. Tapi kaki kiri tak mau diajak kompromi. Ibu lari dari dapur. Wajahnya putih.
"Mahesa? Nak?"
Aku cuma bisa bilang, "Bu, kaki Mahesa... hilang."
Ibu gendong aku. Lari ke puskesmas. Sepanjang jalan, aku dengar napasnya ngos-ngosan. Tapi ia tak berhenti.
Malam itu, untuk pertama kalinya aku lihat ibu nangis. Bukan nangis biasa. Tapi nangis seperti orang kehilangan sesuatu yang tak akan kembali.
Belum tahu aku, kalau malam itu adalah malam terakhir aku punya ayah.
---
Halaman rumah kami kecil. Tanahnya merah. Kalau hujan, becek. Kalau panas, berdebu. Tapi buat aku, halaman itu luas. Cukup buat kejar-kejaran dengan ayam. Cukup buat lompat-lompat. Cukup buat ngejar layangan.
Pagi itu panas. Matahari baru naik setengah. Tapi udaranya sudah hangat di kulit.
Aku duduk di teras. Makan nasi goreng telor ceplok buatan ibu. Enak. Selalu enak. Ibu jago masak. Kata ayah, dulu ibu jualan nasi goreng sebelum nikah.
"Mahesa, habisin, Nak," kata ibu dari dapur. Suaranya sambil bunyi-bunyi cuci piring.
"Iya, Bu."
Tapi mataku sudah ke layangan. Layangan itu tergantung di pohon jambu. Warna merah. Putus talinya kemarin. Aku minta ayah ambilin. Tapi ayah bilang nanti. Ayah sibuk bikin kopi. Terus ayah pergi ke warung.
Ayah suka ke warung. Kata ibu, ayah cuma cari angin. Tapi lama. Sering lama.
"Ayah ke mana, Bu?"
Ibu muncul dari dapur. Ngelap tangan di kain. "Ke warung, bentar lagi balik."
Aku hafal. Bentar lagi ayah bisa berjam-jam.
"Mahesa mau layangan," kataku sambil nunjuk.
Ibu lihat ke pohon jambu. "Nanti, Nak. Ayah pulang nanti diambilin."
"Tapi Mahesa mau sekarang."
Ibu mendesah. "Kamu ini. Udah habisin makannya dulu."
Aku suap terakhir. Buru-buru. Nasi masih nempel di pipi. Aku tinggal piring di teras. Berlari ke halaman.
Ibu teriak, "Mahesa! Piringnya!"
Tapi aku sudah di tengah halaman. Mata ke atas. Layangan merah itu bergerak-gerak ditiup angin. Seperti ngajak main.
Aku lompat-lompat. Raup. Tapi belum nyampe. Pohon jambu itu tinggi. Buat aku yang lima tahun, kayak gedung pencakar langit.
Aku lihat ke samping. Ada kursi plastik. Kursi biru favorit ayah. Aku tarik. Taruh di bawah pohon. Naik.
Satu lompatan. Dua lompatan. Tanganku hampir nyampe.
Terus... kursinya goyang.
Aku jatuh.
Biasanya kalau jatuh, aku langsung bangun. Nangis bentar. Lalu lari ke ibu minta diolesin minyak kayu putih.
Tapi kali ini beda.
Aku jatuh. Badanku miring ke kiri. Kena tanah. Tanganku lecet. Sakit. Aku mau bangun.
Tapi kaki kiri tak mau.
Aku coba lagi. Dorong badan. Kaki kiri diam. Seperti batu. Seperti bukan punyaku.
Aku pukul pahaku. "Bangun!"
Diam.
Aku pukul lagi. Keras. Sampai merah. "Bangun, goblok!"
Tapi tak ada. Kakiku tak bergerak. Sama sekali.
Aku lihat ke kanan. Kaki kanan bisa digerakin. Aku tekuk. Lurus. Tekuk. Lurus. Bisa.
Kaki kiri? Mati.
Aku mau teriak. Tapi suaraku hilang. Aku cuma bisa duduk di tanah. Pandang kakiku yang aneh itu.
Ibu keluar dari dapur. Mungkin dengar aku jatuh. Wajahnya biasa aja. Mungkin kira aku cuma jatuh biasa.
"Mahesa, udah dibilangin... hati-hati..."
Tapi langkahnya terhenti. Setengah jalan dari dapur ke halaman. Matanya membesar. Mukanya berubah putih. Bukan putih seperti kertas. Tapi putih seperti orang baru lihat hantu.
"Mahesa? Nak?"
Aku mau jawab. Tapi yang keluar cuma, "Bu... kaki Mahesa... hilang."
Ibu lari. Kayak orang lari kejar setoran. Tapi mukanya takut. Bukan takut biasa. Takut yang aku belum pernah lihat sebelumnya.
Ia sampai di depanku. Jongkok. Tangannya ragu-ragu pegang kakiku.
"Dihin-in dulu, Nak... sini sama Ibu..."
Ia cubit pahaku. "Krasa?"
Aku geleng.
Ia cubit lebih keras. "Ini? Krasa?"
Aku geleng lagi.
Ibu diam. Matanya kosong sebentar. Lalu tiba-tiba ia gendong aku. Kuat. Padahal aku sudah besar. Tapi ia gendong seperti aku masih bayi.
"Sabarr, Nak... sabarr... Ibu bawa ke puskesmas..."
Aku dengar suaranya bergetar. Tapi ia coba tegar.
Kami keluar rumah. Ibu lari. Jalanan berbatu. Rumah kami di kampung. Jalan ke puskesmas naik turun. Tanjakan. Turunan. Ibu lari terus.
"Bu... turunin aja... Mahesa jalan..."
"Jangan bicara, Nak. Ibu kuat."
Napasnya ngos-ngosan. Aku dengar dari dekat. Sesak. Berat. Tapi ia tak berhenti. Tangannya makin erat pegang punggungku. Keringatnya jatuh. Beberapa tetes kena pipiku. Hangat. Asin. Aku jilat tanpa sengaja.
"Bu... ibu keringetan..."
"Iya, Nak. Ini panas."
Padahal aku tahu. Bukan karena panas. Tapi karena takut.
Sampai di puskesmas. Ibu turunin aku di kursi panjang. Antrian. Banyak orang. Ibu ambil nomor. 47. Sekarang baru 32.
Ibu duduk di sampingku. Tangannya pegang tanganku. Keras. Keringat dingin. Aku lihat jam dinding. Jarumnya gerak lambat. Sangat lambat.
"Bu, Mahesa haus."
Ibu lihat sekeliling. Ada penjual air mineral di depan. Ia tinggal aku sebentar. Lari ke sana. Balik bawa botol. Satu botol.
"Minum, Nak."
Aku minum. Haus banget. Setengah botol habis.
"Ibuminum?"
"Udah, Nak. Ibu udah minum di rumah."
Aku tahu ibu bohong. Karena bibirnya kering. Tapi aku diam.
Satu jam lewat. Dua jam. Nomor 45. 46. 47.
Ibu gendong aku masuk. Ruang dokter. Bau obat. Bau alkohol. Dokternya perempuan. Muda. Pakai kacamata.
"Silakan duduk, Bu."
Ibu duduk. Aku di pangkuannya.
Dokter periksa. Cubit kaki kananku. "Krasa, Dek?"
"Iya."
Cubit kaki kiri. "Ini?"
"Enggak."
Dokter ulang lagi. Tusuk pake jarum tumpul. Kaki kanan. Aku tarik. Kaki kiri. Aku diam.
Dokter angkat kaki kiriku. Lepas. Jatuh. Lepek.
"Bu, ini sudah berapa lama?"
Ibu nangis. Baru kali ini aku lihat ibu nangis di depan orang. "B-bar... baru hari ini, Dok. Baru tadi pagi."
Dokter geleng. Wajahnya serius. "Bu, saya rujuk ke rumah sakit kota. Ini harus cepat ditangani. Saya curiga ini polio. Atau kelainan saraf. Saya nggak punya alat lengkap di sini."
Ibu diam. Tangannya gemeter.
"Bu, Bapaknya mana? Mungkin bisa bantu urus administrasi."
Ibu cengang. "Bapaknya... lagi di luar kota, Dok. Kerja."
"Segera hubungi, Bu. Ini penting."
Ibu mengangguk. Tapi aku lihat matanya kosong.
Pulang dari puskesmas, ibu gendong aku lagi. Sepanjang jalan, ia diam. Tak bicara. Hanya napasnya yang berat. Sampai rumah, ia turunkan aku di kasur. Kamar kami sempit. Satu kasur. Satu lemari. Satu meja kecil.
"Mahesa tidur dulu, ya, Nak. Ibu mau... mau masak."
Tapi tak ada niat masak. Aku tahu. Ibu cuma mau sendiri.
Aku pejam mata. Pura-pura tidur. Tapi aku dengar semuanya.
Ibu buka lemari. Cari-cari. Ambil kain. Kain putih. Tua. Ada rendanya. Itu baju nikahnya. Kata ibu, dulu dipake waktu nikah. Udah sepuluh tahun. Tapi masih disimpan.
Aku dengar gunting. Kres. Kres. Ibu potong baju nikahnya. Jadi kain-kain kecil.
Lalu ibu datang. Kompres kakiku. Celup kain ke air hangat. Peras. Tempel. Ganti. Lagi. Lagi.
Sambil kompres, ibu berbisik. Suaranya pelan. Seperti orang ngomong sama Tuhan.
"Ya Allah... anakku satu-satunya... jangan apa-apain dia. Ambil nyawaku aja, Allah. Tapi jangan anakku."
Aku diam. Mataku terpejam. Tapi air mataku keluar. Aku nggak tahu kenapa. Mungkin ikut sedih.
Malam turun. Gelap. Lampu kamar mati. Listrik padam. Ibu nyalakan lilin. Bayang-bayang kami di dinding. Bergerak-gerak.
Ibu masih kompres. Tak berhenti. Tangannya lelah. Tapi ia terus.
"Bu... istirahat..."
Ibu kaget. "Kamu belum tidur, Nak?"
"Enggak."
"Ibu nggak capek."
"Bohong."
Ibu tersenyum. Tapi senyumnya sedih. "Iya, Nak. Ibu bohong. Ibu capek. Tapi Ibu lebih takut kalau kamu kenapa-kenapa."
Aku pegang tangannya. Kasar. Ada kapalan. Tapi hangat.
"Bu, ayah kapan pulang?"
Ibu diam. Lama. Matanya ke lilin.
"Nanti, Nak. Nanti."
"Besok?"
"Mudah-mudahan."
Aku tahu ibu tak yakin.
Tiba-tiba, handphone ibu bergetar. HP jadul. Yang kecil. Lampunya ijo. Ibu angkat. Lihat layar. Wajahnya berubah.
"Ti, kabar Mahesa gimana?"
Suara dari seberang. Laki-laki. Aku kenal suara itu.
Ayah.
Ibu diam. Napasnya berat. Tangannya gemeter. Aku lihat ia megang HP erat-erat. Sampi putih buku-buku jarinya.
"Mas... Mahesa lumpuh."
Diam.
Lama. Sangat lama.
Aku bisa dengar napas ayah dari seberang. Berat. Seperti orang mau bilang sesuatu. Tapi tak keluar.
Lalu...
Tut.
Ayah matikan telepon.
Ibu lihat HP. Tak percaya. Dipencet lagi. Dipencet lagi. Tapi tak diangkat.
"Mas... Mas..."
Ibu coba lagi. Lagi. Lagi.
Tut. Tut. Tut.
Ayah matikan terus.
Ibu lemas. HP jatuh di kasur. Tangannya tutup mulut. Menahan sesuatu. Tapi tak kuat.
Tangisnya pecah.
Bukan nangis biasa. Tapi nangis sejadi-jadinya. Nangis seperti orang kehilangan pegangan. Nangis seperti orang yang tahu hidupnya tak akan sama lagi.
Ia pegang tanganku. Peluk aku. Kencang. Air matanya basahi rambutku. Bahunya bergetar. Suaranya parau. Seperti orang kesakitan.
"Maafin Ibu, Nak... maafin Ibu..."
Aku bingung. Ibu salah apa? Ibu nggak salah apa-apa.
Tapi aku diam. Aku biarkan ia nangis. Aku peluk balik badannya yang kurus itu. Aku rasakan jantungnya berdetak kencang. Tak karuan.
Dan di dalam hati kecilku, mulai tumbuh satu rasa yang tak pernah kukenal sebelumnya.
Benci.
Bukan benci sama ibu. Tapi benci sama suara di telepon itu. Sama orang yang matikan telepon. Sama orang yang tinggalin kami. Sama orang yang seharusnya ada di sini. Kompres aku. Gendong aku. Temani ibu.
Tapi milih diam.
Aku pejam mata. Tapi tak bisa tidur. Tanganku masih pegang tangan ibu. Kasarnya terasa nyata. Hangatnya masih ada.
Di luar, suara jangkrik. Dalam kamar, isak ibu perlahan mereda. Tapi aku tahu, ia tak tidur. Seperti aku.
Malam itu panjang. Sangat panjang. Dan di ujung malam, aku belajar satu hal:
Kadang, orang yang harusnya paling dekat, justru paling jauh.
Kadang, diamnya seseorang, lebih menyakitkan dari apa pun.
Dan di usiaku yang lima tahun, aku kehilangan bukan hanya kaki kiri.
Tapi juga ayah.
---
Untuk pertama kalinya, aku menangis dalam hati. Tangis yang tak keluar suara. Tangis yang hanya aku dan Tuhan yang tahu.
Karena besok, hidup kami harus tetap jalan.
Dengan kaki mati.
Dan ayah yang memilih mati rasa.
Daftar bab
44 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








