
JARAK PERENGGUT NYAWA CINTA
Titiaz|Bersambung
- Jumlah kata
- 13.2K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 2
- Jumlah kata
- 13.2K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 2
Sinopsis
Berawal dari hubungan yang begitu manis. namun takdir berkata lain, sepasang kekasih ini harus berpisah dan menjalin hubungan jarak jauh yang akhirnya akan merenggut nyawa cinta mereka.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
SECANGKIR KOPI
Rasanya kurang nikmat kalau pagi hari tidak ditemani oleh secangkir kopi. Tepat pukul 07:00 Wib. Yano si Pria tampan, berkulit putih dan memiliki badan yang tinggi mulai bersiap-siap untuk berangkat kerja. Namun sebelum berangkat, dia biasanya minum kopi dulu disebuah kedai yg cukup berdekatan ditempat kerjanya.
"Pak, kopi susu satu ya, seperti biasa, susunya agak banyak dikit", ujar Yano ke Pak Wahyu si penjual kopi. Yano sangat menyukai makanan maupun minuman yang manis-manis. Jadi, semua yang dia makan atau minum harus ada manis-manisnya.😊 Tak lama kemudian kopi Yano diantar oleh pak Wahyu dan Yano mulai menikmati kopinya secara perlahan sambil ngobrol dengan teman kerjanya yang juga ikut ngopi dikedai pak Wahyu.
Tak hanya Yano, orang-orang yang bekerja disekitar kedai pak Wahyu juga suka ngopi di kedai itu, salah satunya adalah Nana yang juga merupakan salah satu penikmat kopi pak Wahyu. Sayangnya, Yano dan Nana tidak satu tempat kerja, sehingga mereka belum saling kenal satu sama lain.
"Pak, kopi satu ya, seperti biasa susunya agak banyak", ujar Nana ke pak Wahyu. Ternyata Yano dan Nana memiliki kesamaan dalam hal makanan dan minuman, mereka sama-sama suka yang manis-manis😊 sembari nunggu kopi diantar, Nana duduk dikursi sambil main Hp. Tak lama kemudian, pak Wahyu mengantar kopi yg sudah dipesan oleh Nana. "Terimakasih pak", ujar Nana sambil membayar dan lalu pergi ketempat kerjanya. Sayangnya, tiap kali beli kopi, Nana tidak pernah nongkrong disitu, dia lebih suka menikmati kopinya ditempat kerja daripada harus nongkrong di kedai itu.
Jam sudah menunjukkan pukul 07:45 Wib. Matahari sudah bersinar terang, dan Jalan raya sudah mulai rame karna banyak orang yang lalu lalang. Yano bergegas dan lalu pergi ketempat kerjanya.
"Yano.. Yano... Yano..." Pak Wahyu memanggil nama Yano berulang kali.
"Iya pak, ada apa?" sahut Yano.
" Kamu belum bayar kopinya," kata pak Wahyu (sambil tertawa) .🤣 Dengan rasa malu dan rasa bersalah, Yano kembali ke kedai dan membayar kopi yg sudah lupa dia bayar.
"Maaf ya pak, saya buru2 akhirnya lupa bayar." Ujar Yano (sambil senyum-senyum malu)
😊
"Iya Yano tidak apa-apa," sahut pak Wahyu (sambil senyum-senyum juga).😊
Lalu Yano bergegas pergi ketempat kerjanya, karna dia sudah hampir terlambat gara-gara lupa bayar segelas kopi.😁
Yano dan Nana masih belum kenal satu sama lain, berhubung mereka tidak satu tempat kerja, dan Nana tidak pernah mau nongkrong di Kedai pak Wahyu tiap kali beli kopi. Sehingga sulit bagi mereka untuk saling mengenal satu sama lain.
Lalu bagaimana Yano dan Nana akhirnya bisa saling kenal dan memiliki hubungan yang manis sampai pada akhirnya jarak menjadi perenggut nyawa cinta mereka???
"Secangkir kopilah yang mempertemukan Yano dan Nana."🥰
Malam haripun tiba. Yano duduk di teras sambil menikmati kopi buatan sendiri. Dia teringat dengan kata-kata orangtuanya yang menyuruhnya supaya cepat-cepat nikah. Bahkan sudah banyak gadis yang dijodohkan kepada Yano. Namun, Yano tidak mau dan sudah berulang kali menolak perjodohan itu. Yano sangat benci dengan yang namanya "perjodohan". Karena banyak kasus yang sudah dia lihat bahwasannya banyak pasangan yang tidak bahagia bahkan sampai bercerai karena perjodohan, yang mana pada awalnya belum saling mengenal karakter masing-masing pasangan, sehingga mudah memicu perselisihan, dan ketidaksepahaman. Itulah yang ada dipikiran Yano saat itu, sehingga dia selalu menolak perjodohan dari orangtuanya.
Yano adalah seorang pria lajang yang sudah berusia 29 tahun. Dibalik usianya yang sudah mau menginjak kepala 3, dia tidak terburu-buru untuk menikah, karna dia punya pilihan sendiri, dia menginginkan perempuan yang memang benar-benar dia cintai dan mencintainya. Yano menginginkan perempuan yang benar2 tulus mencintainya apa adanya, perempuan yang bisa memahami sikap dan karakternya, dan yg bisa menerima segala kekurangannya. Sampai saat ini Yano belum menemukan sosok perempuan yang diidam-idamkannnya itu. Namun, Yano selalu berdoa kepada sang Pencipta supaya dia dipertemukan dengan gadis yang dia inginkan.
"Apakah sosok perempuan yang Yano inginkan itu adalah Nana???"
Ditengah-tengah Yano sedang melamun, Jodi yang merupakan teman Yano mengagetkan Yano.
" Kamu kenapa melamun bro", ujar Jodi (sambil tertawa).🤣
"Astaga...kamu bikin aku kaget aja, Jodi," sahut Yano.
"Hahahahahaha" jodi sambil tertawa ngeledekin Yano.
"Kamu mikirin apa bro? serius amat saya lihat", ujar Jodi.
"Biasa bro, mikirin hidup", sahut Yano
"Ahh bilang aja kalau lagi mikirin cewek", ujar Jodi (sambil ketawa).🤣
"Sotoy lu..", sahut Yano (sambil ketawa juga).🤣 Akhirnya Yano dan Jodi habiskan waktu berjam-jam untuk saling curhat satu sama lain.😊 Yano dan Jodi adalah teman, mereka satu tempat kerja dan biasa ngopi dipagi hari di kedai pak Wahyu.
Hari demi hari berlalu, Yano tetap menjalankan aktivitas sehari-harinya seperti biasa. Suatu ketika dipagi hari, Yano dan Jodi seperti biasa ngopi dulu di kedai pak Wahyu sebelum ketempat kerja.
"Kopi dua ya pak, satu pakai susu, yang satunya tidak pakai susu", ujar Yano.
"Ok Yano", sahut pak Wahyu.
Sambil nunggu kopi diantar, Yano dan Jodi ngobrol biar tidak bosan. Ditengah obrolan mereka, Nana bersama temannya Rini juga datang ke kedai pak Wahyu untuk memesan kopi.
"Kopi 2 ya pak, seperti biasa tambahkan susu", ujar Nana.
"Ok ditunggu dulu ya", sahut pak Wahyu.
Nana dan Rini duduk sambil menunggu kopi pesanan mereka. Kemudian pak Wahyu mengantar kopi pesanan Yano dan Jodi.
Sambil menikmati kopi, Jodi melihat kearah Nana dan Rini. Tak disangka, ternyata Jodi dan Yano kenal Rini. sebaliknya, Rini juga kenal Yano dan Jodi. Sayangnya Yano dan Nana belum saling kenal. Jodi dan Rini saling menyapa.
"Hai Rini", ujar Jodi.
"Hai Jodi", sahut Rini.
Pak Wahyu mengantar kopi pesanan Nana dan Rini.
Jodi berbisik ke Yano. "Mau nggak kalau kita ajak mereka ngopi bareng?"
"Boleh..boleh...", sahut Yano.
"Rini ayolah kita ngopi bareng dulu, kan masih belum jam kerja", ujar Jodi.
"Oh ok ok...", sahut Rini.
Kemudian Rini mengajak Nana untuk ngopi bareng Yano dan Jodi. Nana yang awalnya tidak pernah nongkrong di kedai pak Wahyu dan biasanya beli kopi langsung pergi, akhirnya mau menerima ajakkan Rini untuk ngopi bareng Yano dan Jodi.
Nana dan Rini duduk, kemudian Jodi memperkenalkan temannya Yano ke Nana, dan Rini juga memperkenalkan temannya Nana ke Yano dan Jodi. Nana, Yano dan Jodi saling bersalaman. Kemudian terjadilah percakapan diantara Yano, Nana, Jodi, dan Rini. Yano dan Nana saling kenal dan saling tanya satu sama lain. Akhirnya Yano dan Nana sudah saling mengenal, meskipun baru kenal nama dan kenal wajah saja.
"Inilah awal dari kisah Yano dan Nana".
Daftar bab
13 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








