
Jendra Si Parasit Pemikat
ipikahmad|Bersambung
- Jumlah kata
- 6.0K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 4
- Jumlah kata
- 6.0K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 4

ipikahmad|Bersambung
Wajah tampan adalah kutukan bagi mereka yang tak punya apa-apa, tapi bagi Jendra, itu adalah senjata pemusnah massal.Di layar ponsel, Jendra adalah dewa. Seleb TikTok dengan jutaan pengikut, senyum maut yang meluluhkan, dan gaya hidup jetset yang membuat siapa pun iri. Namun, di balik layar ring light, Jendra hanyalah seorang "Mokondo" kelas kakap. Dia adalah parasit yang hidup dari darah dan kemewahan para wanita "Sultan" yang haus akan kasih sayang palsu.Permainannya rapi. Dari pelukan Madam Rosa yang bergelimang berlian, hingga kartu kredit Felicia yang tak terbatas, Jendra menari di atas bara kebohongan dengan sangat lihai. Baginya, cinta hanyalah sebuah transaksi, dan hati adalah barang rongsokan yang tidak laku dijual.Namun, segalanya mulai memanas saat Jendra terjebak dalam Labirin Tiga Sisi:Rosa, yang mulai terobsesi dan ingin memiliki Jendra secara utuh—atau tidak sama sekali.Felicia, si pewaris muda yang mulai mencium bau busuk di balik parfum mahal Jendra.Dan Maya, gadis dari masa lalu yang memegang kunci rahasia paling mematikan tentang siapa sebenarnya Jendra sebelum ia memakai topeng kemewahan.Ketika sebuah video skandal mulai beredar dan musuh-musuh dari masa lalunya mulai muncul ke permukaan, Jendra sadar bahwa ia bukan lagi sang pemburu, melainkan mangsa yang sedang terpojok.Akankah karisma Jendra cukup untuk menyelamatkannya dari kehancuran total? Ataukah sang parasit akhirnya akan mati kehausan setelah inangnya menyadari bahwa cinta yang ia berikan hanyalah racun berbalut madu?"Di dunia Jendra, jatuh cinta adalah kesalahan fatal. Dan dia... baru saja melakukan kesalahan itu."
Suara shutter kamera ponsel terdengar mekanis, tajam, dan berulang. Jendra menarik napas dalam, menahan perutnya agar siluet kemeja sutra seharga sepuluh juta rupiah itu jatuh sempurna di pinggangnya. Ia berdiri di sudut lobi Hotel Grand Althea, sebuah mahakarya arsitektur yang didominasi marmer Italia dan lampu kristal yang menggantung seperti air mata dewa.
Cahaya matahari pagi menembus jendela kaca raksasa, memberikan pencahayaan alami yang sempurna golden hour yang didambakan semua kreator konten. Jendra menyesuaikan posisinya. Ia sedikit memiringkan wajah ke kanan, membiarkan rahangnya yang tajam tertangkap bayangan secara dramatis.
Klik.
"Sempurna," bisiknya tipis.
Ia memeriksa hasilnya. Di layar ponsel terbaru yang cicilannya masih tersisa delapan bulan lagi, sosok di foto itu tampak seperti seorang pewaris takhta bisnis yang sedang menunggu pertemuan penting. Caption sudah disiapkan di kepala: “Morning meeting at my favorite spot. Success isn't owned, it's leased. And rent is due every day.” Ditambah tagar #LuxuryLife #YoungCEO #Blessing.
Kenyataannya? Jendra baru saja turun dari ojek daring dua blok dari sini, berjalan kaki dengan peluh yang diseka cepat-cepat sebelum masuk lewat pintu samping, dan berpura-pura sedang mencari seseorang di lobi hanya agar tidak diusir oleh petugas keamanan. Ia tidak menginap di sini. Jangankan menginap, harga satu malam di kamar standard hotel ini sudah setara dengan biaya makannya selama dua bulan di kontrakan sempitnya yang pengap.
Tapi bagi dunia, kenyataan adalah apa yang mereka lihat di layar lima inci.
Jendra duduk di sofa velvet berwarna hijau zamrud, menyilangkan kaki dengan elegan. Ia memperhatikan sekeliling dengan tatapan bosan yang dipelajari secara saksama di depan cermin. Baginya, lobi hotel ini bukan sekadar tempat transit; ini adalah panggung sandiwara.
"Wajah adalah modal," gumamnya dalam hati, mengulang mantra yang menjadi landasan hidupnya selama tiga tahun terakhir.
Ia tahu persis bagaimana fitur wajahnya bekerja. Mata yang sedikit sayu namun tajam, hidung yang menjulang tegas, dan bibir yang selalu tampak lembap. Di dunia yang terobsesi dengan estetika, ketampanan adalah mata uang yang jauh lebih stabil daripada kripto. Jika kau tampan, orang akan berasumsi kau pintar. Jika kau tampan dan memakai pakaian bermerek, orang akan berasumsi kau kaya. Dan jika kau diasumsikan kaya, kesempatan akan datang mengetuk pintunya sendiri.
Bagi Jendra, cinta juga bukan pengecualian. Cinta bukan tentang getaran di dada atau puisi picisan. Cinta adalah transaksi. Ada yang menjual perhatian, ada yang membeli status. Ada yang menjual janji, ada yang membeli rasa aman. Dan Jendra? Ia adalah pedagang paling ulung dalam urusan ini.
Ponselnya bergetar. Notifikasi Instagram mulai membanjir.
“Ganteng banget kak!”
“Role model banget, masih muda sudah sukses.”
“Take me there, please!”
Jendra tersenyum miring. Ia tidak membalas satu pun. Bagian dari strategi: jadilah sosok yang tak terjangkau. Semakin dingin kau bersikap, semakin banyak orang yang ingin menghangatkanmu.
Namun, di tengah banjir pujian itu, sebuah pesan masuk (DM) dari akun dengan foto profil bunga anggrek ungu menarik perhatiannya. Akun bernama @Rosa_Adnan. Jendra segera menegakkan punggungnya.
“Foto yang bagus, Jendra. Sepertinya kamu sedang di Althea? Saya ada di lounge lantai dua. Kalau tidak sibuk, mampirlah. Saya butuh teman untuk secangkir espresso.”
Jendra menelan ludah. Ini dia. Target yang sudah ia pelajari selama tiga minggu terakhir. Rosa Adnan, janda dari mendiang pengusaha batubara, pemilik jaringan butik kelas atas, dan yang terpenting: wanita yang kesepian dengan saldo bank yang sanggup membeli seluruh harga diri Jendra berkali-kali lipat.
Jendra berdiri, merapikan kemejanya, dan memeriksa pantulan dirinya di marmer pilar. Ia harus mengganti "filter"-nya sekarang. Dari "CEO Muda yang Sibuk" menjadi "Pria Muda yang Menawan dan Berwibawa".
Ia menaiki tangga melingkar menuju lounge lantai dua. Aroma kopi mahal dan wangi oud menyambutnya. Di sudut ruangan, dekat jendela yang menghadap ke arah kolam renang, Rosa duduk sendirian. Ia tampak anggun dengan gaun linen putih dan kacamata hitam yang diletakkan di atas meja.
"Madam Rosa," sapa Jendra dengan suara bariton yang lembut, sengaja tidak terlalu keras namun cukup untuk menarik perhatian penuh wanita itu.
Rosa mendongak, menurunkan kacamata hitamnya ke hidung, lalu tersenyum. "Jendra. Kamu jauh lebih nyata daripada di foto."
"Foto hanya menangkap satu detik, Madam. Sementara kecantikan Anda di depan saya ini... sepertinya butuh waktu selamanya untuk benar-benar dipahami," jawab Jendra sambil menarik kursi, duduk tanpa menunggu undangan—sebuah gerakan yang menunjukkan kepercayaan diri tingkat tinggi.
Rosa terkekeh, suara tawanya terdengar kering namun ada binar di matanya. "Manis sekali. Kamu tahu, pria seumurmu biasanya terlalu sibuk dengan ponsel mereka sampai lupa bagaimana cara memuji wanita dengan cara yang sopan."
"Saya bukan pria pada umumnya, Madam. Dan Anda bukan wanita yang bisa diabaikan demi sebuah ponsel," balas Jendra, matanya menatap langsung ke mata Rosa, memberikan intensitas yang membuat wanita itu sedikit tersipu.
Pelayan datang, dan tanpa melihat menu, Jendra memesan, "Satu double shot espresso, tanpa gula. Dan tolong bawakan air mineral dengan irisan lemon."
"Seleramu tajam," komentar Rosa.
"Hidup sudah terlalu manis untuk ditambah gula lagi, bukan?" Jendra melemparkan filosofi murahan yang selalu berhasil.
Selama satu jam berikutnya, Jendra melakukan apa yang paling dikuasainya: mendengarkan. Ia membiarkan Rosa bicara tentang bisnisnya yang melelahkan, tentang teman-teman sosialitanya yang penuh kepalsuan, dan tentang rumah besarnya yang terlalu luas untuk ditempati sendiri. Jendra memberikan respons di saat yang tepat sentuhan kecil di pergelangan tangan, anggukan prihatin, dan tatapan mata yang seolah-olah mengatakan “Aku di sini, aku memahamimu.”
Dalam kepalanya, Jendra sedang menghitung. Espresso ini harganya mungkin seratus ribu rupiah. Tapi informasi yang ia dapatkan? Itu bernilai jutaan. Ia tahu Rosa sedang mencari konsultan branding untuk lini baju barunya. Ia tahu Rosa benci bau rokok. Ia tahu Rosa merindukan sosok yang bisa membantahnya dengan cerdas, bukan sekadar pria yang berkata "ya" pada setiap keinginannya.
Setelah pertemuan itu berakhir, Rosa menawarkan untuk mengantarnya.
"Sopir saya bisa mengantarmu ke kantor, Jendra."
"Terima kasih, Madam. Tapi saya ada janji lain di gedung sebelah, cukup berjalan kaki saja. Bagus untuk sirkulasi darah sebelum duduk di depan layar berjam-jam," Jendra berbohong dengan lancar. Ia tahu jika Rosa mengantarnya, wanita itu akan tahu bahwa "kantor"-nya tidak ada.
Rosa mengangguk, tampak terkesan dengan kemandirian semu Jendra. Ia mengeluarkan kartu nama dari tas Hermes-nya. "Telepon saya akhir pekan ini. Ada pesta kecil di rumah saya. Saya ingin kamu hadir."
Jendra menerima kartu itu seolah itu adalah benda biasa, padahal di dalam hatinya ia ingin melompat kegirangan. "Akan saya usahakan, Madam. Tergantung jadwal saya."
Saat Rosa berjalan pergi dengan langkah kaki yang berat oleh kemewahan, Jendra tetap berdiri di lobi sampai mobil Bentley wanita itu menghilang dari pandangan.
Seketika, bahunya merosot. Topeng itu berat juga.
Ia berjalan keluar dari hotel, merasakan panas udara kota yang langsung menyengat kulitnya. Ia berjalan kaki menuju halte busway yang berjarak satu kilometer. Di dalam bus yang sesak, terjepit di antara buruh pabrik dan pegawai kantoran yang berkeringat, Jendra kembali membuka ponselnya.
Ia melihat foto yang ia unggah pagi tadi. Likes sudah mencapai sepuluh ribu. Komentar semakin liar. Ia melihat pantulan wajahnya di kaca bus yang kusam. Di sana, wajahnya tampak lelah, pori-porinya mulai berminyak, dan ada gurat kecemasan di sudut matanya.
"Wajah adalah modal," bisiknya lagi, kali ini lebih seperti sebuah ancaman pada dirinya sendiri.
Ia harus menjaga filter ini tetap aktif. Jika sekali saja ia membiarkan dunia melihat kenyataan di balik layar, jika sekali saja ia membiarkan dirinya terlihat miskin, maka tamatlah riwayatnya. Di dunia yang ia pilih, tidak ada tempat bagi orang jujur yang tidak punya uang.
Jendra turun di sebuah gang sempit. Ia berjalan melewati tumpukan sampah dan jemuran warga yang melambai-lambai ditiup angin kencang. Ia sampai di depan sebuah pintu kayu yang catnya sudah mengelupas—rumahnya. Sebuah kamar kos ukuran 3x3 meter yang ia sewa dengan harga paling murah.
Di dalam, ia melepaskan kemeja sutranya dengan sangat hati-hati, menggantungnya di hanger plastik, dan menyemprotnya dengan pewangi pakaian agar bau keringat hilang tanpa perlu dicuci terlalu sering ia takut serat kain mahal itu rusak.
Ia duduk di tepi tempat tidur yang pernya sudah mulai terasa menusuk punggung. Di atas meja kecil di samping tempat tidur, ada satu kaleng sarden dan sisa nasi dingin.
Jendra mengambil ponselnya lagi. Ia mulai menggeser-geser aplikasi TikTok, mencari tren terbaru yang bisa ia tiru untuk konten besok. Matanya berhenti pada sebuah video motivasi: “Jadilah dirimu sendiri.”
Jendra tertawa sinis, suara tawanya menggema di ruangan sempit itu.
"Menjadi diri sendiri hanya akan membuatku mati kelaparan," gumamnya.
Ia mematikan lampu, membiarkan ruangan itu gelap gulita, kecuali cahaya biru dari layar ponselnya. Di kegelapan itu, sang parasit mulai merencanakan langkah selanjutnya. Madam Rosa baru permulaan. Masih banyak inang lain yang harus ia temukan sebelum filter sempurnanya retak oleh waktu.
Besok adalah hari baru. Topeng baru, lokasi baru, dan kebohongan yang lebih besar lagi. Karena bagi Jendra, hidup bukan tentang siapa kamu, tapi tentang siapa yang orang pikirkan tentang kamu.
Dan sejauh ini, dunia sangat menyukai kebohongannya.
4 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
Lanjutkan membaca di aplikasi
Buka aplikasi untuk membaca bab terkunci.







