
Lust & Affection: The Alpha’s Reset
Be_Yourself|Bersambung
- Jumlah kata
- 49.3K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 22
- Jumlah kata
- 49.3K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 22
Sinopsis
Fantasy , Crazy Rich and Adult
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Opening : Lust and Affection
Panas aspal di salah satu kota besar yang ada di Indonesia terasa menembus sol sepatu bot nya, bahkan melalui jok motor yang sudah mulai retak. Ia mengendarai Motor Matic tua dengan postur tubuh yang tegap namun rileks, seolah beban panas dan kemacetan tidak mampu membuatnya membungkuk. Di belakangnya, seorang penumpang wanita duduk dengan canggung, tangannya mencengkeram pegangan belakang terlalu erat.
Dirinya hanya menoleh sekilas saat mengambil pesanan, mengucapkan salam formal dengan suara bariton yang tenang,
"Selamat pagi, Mbak. Kita langsung ke arah Sudirman ya?" Itu satu-satunya kalimat yang ia ucapkan selama perjalanan lima belas menit. Tidak ada basa-basi, tidak ada pertanyaan pribadi, tidak ada upaya untuk membuat suasana lebih cair.
Penumpang itu hanya menjawab singkat, dan setelah itu keheningan menyelimuti mereka berdua hingga motor berhenti tepat di depan gedung perkantoran.
Setelah sampai ia mematikan mesin, menyerahkan helm cadangan tanpa ekspresi berlebihan, dan menerima pembayaran melalui aplikasi.
Interaksi selesai. Mekanis. Efisien.
Tanpa jejak emosi.
Kemudian Ia memarkir motornya di bawah pohon rindang di trotoar seberang, mencari bayangan untuk berteduh sementara waktu. Keringat mengalir di pelipisnya, tetapi wajahnya tetap datar.
Matanya yang tajam menatap layar ponsel, menunggu notifikasi orderan berikutnya muncul. Namun, setelah sepuluh menit berlalu tanpa suara pengingat, dirinya menghela napas panjang.
Ia memutuskan hari ini sepertinya cukup.
Satu orderan terakhir tadi sudah memenuhi target minimalnya seperti cukup untuk makan dua kali, membayar tagihan listrik kosan, dan membeli sebungkus rokok. Lebih dari itu, ia tidak punya energi untuk mengejar. "Satu lagi saja sebenarnya," gumamnya dalam hati, suaranya nyaris tak terdengar di tengah deru lalu lintas.
Tapi tubuhnya menolak. Bukan karena lelah secara fisik semata, melainkan karena adanya kelelahan yang telah merasuk ke tulang sumsum.
Sejenak Ia mematikan aplikasi ojek, merasakan kebebasan semu yang datang bersama keputusan untuk berhenti sesaat.
Namanya Denis, hanya seorang pemuda yang menjalani aktivitasnya sehari-hari untuk bertahan hidup di Kota Besar dan tinggal di salah satu Kosan wilayah sudut kota.
Ketika Menjelang sore, langit berubah menjadi oranye kemerahan.
Dalam perjalanan Denis mengarahkan motornya menuju warteg langganan di gang sempit dekat kosannya. Ia memesan nasi putih, tempe goreng, dan sayur asem, makanan sederhana yang selalu sama setiap harinya. Sambil menunggu, ia berdiri bersandar di tiang listrik, matanya kosong menatap kendaraan yang lalu lalang didepannya. Setelah pesanan nya selesai ia makan ditempat yang tidak jauh dari sana.
Beberapa saat kemudian setelah menyelesaikan makanan nya, ia singgah di warung kecil di pinggir jalan, membeli sebungkus rokok murahan dan korek api plastik berwarna hijau. Ketika Transaksi dilakukan dalam diam, hanya anggukan kepala dan uang yang berpindah tangan.
Tidak ada obrolan basa-basi tentang cuaca atau harga barang. Bagi Denis,
interaksi sosial yang tidak perlu hanyalah pemborosan energi yang sudah menipis.
Setelah itu ia melanjutkan perjalanan pulang menuju kosan yang telah ia huni selama tiga tahun terakhir.
Kos tersebut salah satu tempat yang ia jumpai dahulu sebelum datang dari kampung halaman meninggalkan seluruh keluarga besar disana dan mulai menetap.
Karena alasan murah dia memilih itu , meskipun ada beberapa keadaan yang sebenarnya tidak cukup normal untuk ditinggali. Tak terasa ia tiba, dan perlahan melangkah menuju pintu kamar kosannya.
Kamar kos nya itu berukuran tiga kali empat meter menyambutnya dengan udara pengap yang khas. Jendela kecil menghadap gang sempit itu tertutup rapat, sehingga membuat aroma tembakau, keringat, dan sisa makanan instan yang mengendap di dinding semen tanpa cat.
Didalamnya, ada Sebuah kipas angin plastik berputar dengan suara berderit, seolah-olah benda itu pun sudah kehabisan tenaga untuk menjalankan tugasnya. Setibanya dirinya didalam kamar kos nya, ia meletakkan kunci motor di atas meja lipat yang permukaannya sudah terkelupas. Setelah itu Ia membuka baju, melempar dan menumpuknya di sudut kamar, lalu masuk ke kamar mandi berukuran satu meter persegi.
Didalam Kamar mandi, Air keran yang keluar tidak terlalu deras, tapi cukup untuk membasuh debu jalanan dan keringat seharian yang dia lakukan.
Disamping itu, Mandi baginya bukan ritual penyegaran, melainkan seperti hanya kewajiban mekanis untuk menghilangkan lapisan luar sebelum ia bisa tenggelam kembali ke dunia privatnya.
Setelah beberapa saat kemudian,
ia berganti kaos oblong pudar dan celana pendek kusut, Denis duduk di kasur lantai tanpa ranjang lalu mengambil laptop nya.
Ketika Laptop tua miliknya terbuka,
seakan tanpa banyak basa-basi, layarnya menampilkan situs film dewasa dan erotis.
Didasarkan Ia tidak memilih genre tertentu,
tidak juga mencari plot atau cerita.
Yang ia butuhkan hanyalah gerakan, suara, dan visual yang bisa mengisi kekosongan di kepalanya. Tangannya bergerak secara otomatis kearah alat vitalnya, di suatu sisi seperti menyesuaikan volume agar tidak terdengar oleh tetangga sebelah,
meski dinding tipis itu hampir tidak pernah menahan suara apa pun.
Kini Matanya terpaku pada layar,
namun tatapannya tidak benar-benar melihat. Mungkin Ia sedang menonton, ya,
tapi bukan sebagai penikmat hiburan.
Dalam sebuah keadaan khususnya,
Ia menonton sebagai seseorang yang sedang mencoba membungkam pikiran sendiri. Mencoba memikirkan Setiap adegan yang diputar bukanlah sebagai sumber kenikmatan, melainkan seperti sebuah alat untuk menghentikan pertanyaan yang terus berputar di benaknya: "Apa gunanya aku hari ini?
Apa bedanya hari ini dengan kemarin?"
Didasarkan Tubuhnya bereaksi secara biologis, napasnya sedikit memburu,
jari-jarinya bergerak mengikuti ritme yang sudah terlalu familiar. Tapi di balik reaksi fisik itu, jiwanya tetap hampa.
Seperti tidak ada antusiasme.
Tidak ada juga kegembiraan.
Hanya kebiasaan yang dilakukan secara otomatis, seperti bernapas atau berkedip.
Meskipun Ia sibuk dengan dirinya sendiri, tenggelam dalam ilusi bahwa dengan menghabiskan waktu seperti ini,
ia sedang melakukan sesuatu.
Padahal, ia hanya sedang menunggu waktu berlalu tanpa harus merasa sakit.
Layar laptop memancarkan cahaya biru keunguan yang menerangi wajahnya separuh. Bayangan kelelahan di sekitar mata terlihat jelas, menambah kontras dengan ketegangan sesaat di rahangnya.
Denis tidak menikmati tontonan itu.
Ia hanya membutuhkannya. Seperti orang yang minum obat bukan karena ingin sembuh, tapi karena takut akan rasa sakit yang akan datang jika berhenti.
Tanpa sadar waktu berlalu dengan cepat,
Sedangkan Tisu di samping laptop bertambah jumlahnya, mengisyaratkan ada tanda nafsu yang besar, sebagai bukti bahwa ia masih berusaha mencari sesuatu apa pun itu yang bisa membuatnya merasa hidup, meski hanya untuk beberapa menit.
Dan ketika akhirnya ia menekan tombol jeda, menghela napas panjang, dan menatap pantulan wajahnya sendiri di layar yang gelap, satu-satunya hal yang tersisa adalah keheningan yang lebih berat dari sebelumnya. Kadang-kadang Pelarian itu tidak pernah benar-benar berhasil.
Ia seperti sedang berteduh dan hanya menunda confrontasi dengan kenyataan, sampai malam tiba dan membawanya kembali ke titik awal:
seorang pria muda di kamar sempit,
yang tidak tahu harus pergi ke mana dan tidak juga ingin kemana.
Daftar bab
43 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








