
- Jumlah kata
- 2.2K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 1
Sinopsis
Di dunia di mana manusia hidup berdampingan dengan makhluk supranatural dan dewa yang tampak lebih kuat dari manusia biasa, hukum alam dan sihir saling bersilangan, menciptakan dunia yang indah namun berbahaya. Dari dataran luas suku barbarian hingga istana-istana berlapis intrik, Edward menjelajahi alam yang dipenuhi misteri, bahaya, dan kekuatan yang tak terbayangkan. Edward bukanlah anak biasa. Dalam tubuhnya, tersimpan jiwa Edison Morales, seorang pemuda yang meninggal pada usia dua puluh setelah koma selama delapan tahun, membawa pengalaman, strategi, dan ketenangan seorang pembaca. Reinkarnasi ini memberinya kemampuan unik untuk melihat dunia dengan perspektif yang berbeda—menggabungkan pemahamannya soal novel dengan kebijaksanaan yang matang. Ketika konflik antara kerajaan manusia, dan makhluk mistis semakin memuncak, Edward harus menghadapi peperangan brutal, duel sihir yang mematikan, dan intrik politik yang menjerat para penguasa serta dewa. Setiap langkahnya menuntut kecerdikan, keberanian, dan ketahanan hati. Bersamaan dengan itu, ia berhadapan dengan makhluk supranatural yang menuntut lebih dari sekadar kekuatan fisik—mereka menuntut pemahaman, kepercayaan, dan terkadang pengorbanan.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
BAB 1.1 : PROLOGUE
“Gulp… gulp… gulp…”
Suara cairan mengalir kasar memenuhi ruang tamu yang remang. Bau arak menyengat, bercampur dengan asap rokok dan keringat basi.
“Ahhhh!”
Gelas dibanting ke meja kayu hingga retakannya makin melebar.
“Aku mau lagi! Mana minumanku?!”
Suara itu bergemuruh. Tidak sekadar teriak—lebih seperti dentuman. Pintu kayu bergetar. Jendela berderit keras, seolah engselnya hampir copot.
Di sudut ruangan, botol-botol kosong tergeletak seperti mayat kecil yang tak berarti.
Langkah berat terdengar. Terhuyung. Terseret.
---
Sementara itu, di kamar sempit di ujung lorong, seorang anak laki-laki duduk bersandar pada dinding. Rambutnya sedikit berantakan, satu helai jatuh di depan dahinya. Cahaya ponsel menerangi wajahnya yang masih menyisakan kepolosan remaja.
Layar itu menampilkan panel terakhir dari sebuah webnovel yang sudah ia ikuti selama bertahun-tahun.
Matanya terpaku pada kalimat terakhir.
“Hm… kenapa dia harus mengorbankan dirinya hanya untuk melihat akhir yang baik…”
Ia bergumam pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri.
Tokoh utama cerita itu memilih mati. Bukan karena kalah. Bukan karena tak mampu bertahan.
Tapi karena dunia hanya bisa diselamatkan jika dirinya tidak ada.
Edison Morales menelan ludah.
Entah kenapa dadanya terasa sesak.
Ia tidak menangis. Tidak juga tersenyum. Hanya ada ruang kosong yang sulit dijelaskan.
Di luar kamar, suara bentakan kembali terdengar.
“Mana minumanku?! Kau pikir aku bercanda?!”
Ibunya pasti sedang berusaha menenangkan.
Seperti biasa.
Ed menarik napas pelan. Ia mengecilkan volume ponsel. Seolah dengan begitu suara di luar akan ikut mengecil.
Tidak berhasil.
Suara pecahan kaca terdengar.
Kali ini lebih dekat.
Tangannya sedikit gemetar, tapi matanya kembali ke layar.
Kalimat terakhir dari webnovel itu masih terpampang.
“Beberapa kebenaran tidak memiliki nama. Dan beberapa pengorbanan tidak pernah diingat.”
Ia mengulang kalimat itu dalam hati.
Kebenaran tanpa nama…
Pengorbanan tanpa ingatan…
Kenapa rasanya seperti itu lebih nyata daripada dunia di luar kamarnya?
---
Langkah berat mendekat ke lorong.
Satu.
Dua.
Tiga.
Pintu kamar Ed bergetar ketika sesuatu menghantam dinding di dekatnya.
“Keluar kau!”
Suara ayahnya serak. Marah. Tidak stabil.
Ed menatap pintu itu tanpa ekspresi.
Bukan pertama kali.
Bukan juga terakhir kali, mungkin.
Ia menutup ponsel dan memeluk lututnya sebentar.
“Kalau ini cerita,” gumamnya pelan, “tokoh utama pasti dapat kekuatan sekarang.”
Terdengar suara gagang pintu diputar kasar.
Terkunci.
“Buka pintunya!”
Hentakan.
Sekali.
Dua kali.
Kayu mulai retak.
Ed berdiri perlahan. Kakinya terasa dingin menyentuh lantai.
Ia melangkah mendekat.
Tangannya hampir menyentuh gagang pintu.
Untuk sesaat, ia berpikir.
Jika dunia ini hanya cerita…
Siapa yang menulis adegan ini?
Pintu akhirnya terbuka paksa.
Ayahnya berdiri di sana. Mata merah. Nafas berat. Tangan menggenggam botol kaca setengah penuh.
“Ayah cuma mau minum,” katanya dengan tawa aneh. “Kenapa kau selalu lihat aku seperti itu?”
Ed tidak menjawab.
Tatapannya kosong. Tidak menantang. Tidak memohon.
Hanya… diam.
Itu membuat pria itu semakin marah.
Botol terangkat.
Waktu terasa melambat.
Ed teringat satu kalimat dari webnovel tadi—
“Pengorbanan adalah cara tercepat untuk mengakhiri cerita.”
Dan—
Retakan.
Suara kaca pecah.
Dunia berputar.
Sakit yang luar biasa menghantam kepalanya.
Lalu gelap.
---
Di tengah kegelapan itu, ia mendengar sesuatu.
Samar.
Lembut.
“Ed… Ibu di sini…”
Suara ibunya.
Hangat.
Bergetar.
Dan di antara gelap itu, sebuah kalimat seperti terukir:
“Beberapa kebenaran tidak memiliki nama.”
Lalu semuanya tenggelam.
Ke dalam kegelapan yang sunyi.
Pintu rumah terbuka dengan bunyi pelan.
Ia pulang lebih malam dari biasanya.
Langkahnya lelah. Punggungnya pegal setelah berdiri seharian. Tas kerjanya terasa lebih berat dari biasanya, meskipun isinya sama.
Rumah itu sunyi.
Terlalu sunyi.
Biasanya, setidaknya ada suara televisi. Atau suara notifikasi ponsel Ed dari kamarnya.
Tapi malam itu…
Tidak ada apa pun.
“Ayah?” panggilnya pelan.
Tidak ada jawaban.
Bau alkohol menyambutnya bahkan sebelum ia menutup pintu. Menyengat. Menekan dada.
Botol-botol kosong berserakan di lantai ruang tamu.
Jantungnya berdegup lebih cepat.
“Ed?” Kali ini suaranya sedikit bergetar.
Ia melangkah ke lorong.
Dan melihatnya.
Pintu kamar yang terbuka setengah. Kayunya retak.
Di lantai, serpihan kaca.
Dan—
Anaknya terbaring.
Tubuh kecil itu tidak bergerak.
Darah mengalir tipis di pelipisnya.
Ponselnya masih menyala di samping tangannya, layar menampilkan halaman terakhir dari sebuah cerita.
Untuk sesaat, dunia berhenti.
Ia tidak berteriak.
Tidak langsung.
Otaknya menolak memahami apa yang dilihatnya.
Suaminya berdiri tak jauh dari sana, terhuyung, botol pecah masih di tangannya.
“Aku cuma—” katanya, tapi kata-katanya tidak selesai.
Barulah suara itu keluar.
Jeritan.
Jeritan yang bahkan ia sendiri tidak tahu berasal dari mana.
Ia berlutut di samping Ed.
“Ed… Ed bangun… Nak… bangun…”
Tangannya gemetar saat menyentuh wajah anaknya. Dingin. Terlalu diam.
Ia menepuk pipinya pelan.
Tidak ada respon.
“Tidak… Tidak... Tidak…”
Air mata jatuh tanpa bisa ditahan. Nafasnya memburu.
Ia mencari denyut nadi.
Masih ada.
Lemah.
Tapi ada.
Itu cukup untuk membuatnya bergerak.
Ambulans.
Rumah sakit.
Lampu putih.
Suara roda ranjang didorong cepat.
“Trauma kepala berat.”
“Siapkan ruang operasi.”
“Cepat!”
Kata-kata itu terdengar seperti gema dari tempat yang sangat jauh.
Ia duduk di kursi lorong rumah sakit, tangan masih bergetar, noda darah anaknya belum sepenuhnya kering di bajunya.
Suaminya tidak ada di sana.
Ia tidak peduli.
Yang ia pedulikan hanya satu pintu bertuliskan ICU.
Jam di dinding berdetak pelan.
Setiap detik terasa seperti hukuman.
---
Dokter keluar beberapa jam kemudian.
“Kami sudah menghentikan pendarahan. Tapi… dia mengalami cedera otak yang cukup serius.”
Dunia kembali retak.
“Apakah… apakah dia akan bangun?” tanyanya dengan suara hampir tak terdengar.
Dokter terdiam sejenak.
“Kami tidak bisa memastikan. Ada kemungkinan ia akan koma dalam waktu yang lama.”
Kata “lama” terasa seperti jurang.
Ia masuk ke ruangan ICU.
Ed terbaring di sana. Tubuh kecilnya dipenuhi selang dan alat monitor. Mesin berdetak ritmis, seolah menggantikan suara kehidupan yang dulu biasa ia dengar dari kamar anaknya.
Beberapa hari berlalu.
Kemudian minggu.
Lalu bulan.
Suaminya ditahan. Tetangga berbisik. Keluarga menjauh.
Tapi ia tetap datang.
Setiap hari.
Duduk di samping ranjang.
Awalnya ia hanya memegang tangan Ed.
Berbicara tentang hal-hal biasa.
Tentang cuaca.
Tentang harga sayur yang naik.
Tentang kucing liar yang sering lewat depan rumah sakit.
Tidak ada respon.
Hanya bunyi mesin.
Suatu hari, ia melihat ponsel Ed yang ia simpan di tasnya.
Layar terakhir masih menampilkan webnovel itu.
Ia membaca beberapa baris.
Tidak sepenuhnya mengerti, tapi ia tahu Ed menyukainya.
Jadi keesokan harinya, ia membawa buku.
Dan mulai membaca.
Awalnya suaranya gemetar.
Tersendat.
Tapi lama-lama ia terbiasa.
Ia membaca tentang pahlawan yang jatuh dan bangkit lagi.
Tentang dunia lain.
Tentang takdir yang bisa dilawan.
“Ed,” katanya suatu malam, menggenggam tangan anaknya, “kalau kau bisa mendengar Ibu… jangan ikut cerita itu sampai akhir, ya.”
Air matanya jatuh ke seprai putih.
“Ibu tidak butuh kau jadi pahlawan. Ibu cuma butuh kau bangun.”
Monitor tetap berbunyi stabil.
Tapi untuk sesaat…
Jari Ed terasa seperti bergerak sedikit.
Atau mungkin itu hanya harapannya saja.
Ia tetap membaca.
Hari demi hari.
Bulan demi bulan.
Tahun demi tahun.
Karena selama ia masih bisa berbicara…
Cerita itu belum benar-benar berakhir.
Daftar bab
2 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








