
Argumen Hati yang Tertunda
shaena|Bersambung
- Jumlah kata
- 537
- Popular
- 100
- Subscribe
- 0
- Jumlah kata
- 537
- Popular
- 100
- Subscribe
- 0
Sinopsis
Ojan dan Zahra adalah dua sahabat yang terbiasa menghabiskan waktu bersama, mulai dari berdebat tentang isu-isu serius hingga membahas tugas kuliah yang menumpuk. Namun, keseimbangan itu goyah saat Ojan memberanikan diri menyatakan perasaannya di sebuah kafe. Jawaban Zahra tegas: ia menolak Ojan demi menjaga persahabatan mereka agar tidak rusak oleh risiko patah hati. Meski sempat merasa pahit, Ojan memilih untuk tetap menjadi sosok yang selalu ada untuk Zahra tanpa rasa canggung. Satu tahun berlalu dengan kedewasaan yang tumbuh di antara mereka. Zahra perlahan menyadari bahwa tidak ada orang yang memahaminya sedalam Ojan—mulai dari cara berpikirnya hingga hal-hal kecil yang ia butuhkan. Cerita ini mengikuti perjalanan perasaan yang berbalik arah, di mana sebuah penolakan di masa lalu justru menjadi pondasi kuat bagi akhir yang bahagia.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1: Aroma Arabika dan Pil Pahit
Di sebuah sudut kafe yang remang dengan aroma kopi Arabika yang kuat, Ojan menarik napas panjang. Di depannya, Zahra sedang sibuk mengaduk *iced latte*-nya, tidak sadar bahwa jantung Ojan sudah berdegup sekencang suara knalpot motor operasional kurir yang lewat di depan gedung.
"Zah, gue mau ngomong serius," kata Ojan. Kalimat pembuka paling klise, tapi hanya itu yang ada di kepalanya.
Zahra mendongak, matanya yang jernih menatap Ojan santai. "Apaan? Tumben banget muka lo kayak belum bayar cicilan."
"Gue... gue sayang sama lo. Lebih dari temen debat, lebih dari temen ngopi. Mau nggak lo jadi pacar gue?"
Hening. Detik itu terasa seperti satu jam bagi Ojan. Zahra meletakkan sedotannya, lalu tersenyum tipis—jenis senyum yang langsung membuat Ojan tahu jawabannya adalah 'tidak'.
"Jan," suara Zahra lembut tapi tegas. "Gue sayang banget sama lo sebagai sahabat. Lo orang paling asyik buat diajak adu argumen soal kebijakan publik sampai subuh. Tapi buat jadi pacar? Gue belum ngerasa ke sana. Gue nggak mau kehilangan 'kita' yang sekarang kalau nanti kita putus."
Ojan memaksakan senyum, meski rasanya seperti menelan pil pahit tanpa air. "Oke, paham. *Rejected*, ya? Tipikal drama sore hari."
"Jangan baper ya, Jan? Kita tetap temen, kan?"
"Santai, Zah. Gue bukan tipe cowok yang langsung blokir nomor cuma gara-gara ditolak," canda Ojan, meski hatinya sedikit retak.
---
**Satu Tahun Kemudian**
Waktu berlalu tanpa banyak berubah, tapi kedewasaan tumbuh di antara mereka. Ojan tetap menjadi orang pertama yang dikirimkan draf proposal oleh Zahra, dan Zahra tetap menjadi orang pertama yang dikritik habis-habisan oleh Ojan jika argumennya lemah.
Sore itu, mereka sedang duduk di tangga perpustakaan kampus setelah kelas selesai. Zahra terlihat gelisah, berkali-kali mengecek ponselnya.
"Kenapa sih? Kayak nunggu pengumuman beasiswa aja," tegur Ojan sambil menyodorkan sebotol air mineral.
"Jan, inget nggak setahun lalu di kafe?" tanya Zahra tiba-tiba.
Ojan tertawa kecil. "Momen paling memalukan dalam sejarah hidup gue? Ingetlah."
"Gue baru sadar sesuatu," Zahra menatap lurus ke depan, ke arah taman kampus yang mulai menguning. "Selama setahun ini, setiap ada cowok yang deketin gue, gue selalu bandingin mereka sama lo. Cara lo dengerin gue, cara lo kasih solusi kalau gue pusing sama tugas akuntansi, sampai cara lo tahu kapan gue lagi butuh kopi tanpa gue bilang."
Ojan terdiam. Ia tidak ingin terlalu percaya diri. "Terus?"
"Gue kayaknya bego banget ya dulu," Zahra menoleh, kali ini tatapannya berbeda. Ada binar yang dulu tidak ada. "Jan, kalau sekarang gue yang nanya... tawaran lo setahun lalu masih berlaku nggak?"
Ojan menatap Zahra lama, lalu menyeringai nakal. "Waduh, harganya sudah naik, Zah. Ada pajaknya sekarang."
Zahra tertawa, memukul bahu Ojan pelan. "Serius, Ojan!"
Ojan meraih botol minumnya, menyesapnya sedikit, lalu menatap Zahra dengan tulus. "Sebenernya, slotnya emang nggak pernah gue kasih ke orang lain. Gue cuma nunggu lo selesai dengan logika lo, sampai hati lo yang bicara."
Di bawah langit sore yang mulai jingga, mereka tidak lagi hanya berdebat soal teori atau kebijakan. Mereka sepakat untuk memulai narasi baru, di mana penolakan setahun lalu hanyalah bab pembuka menuju akhir yang jauh lebih manis.
"Jadi, kita pacaran nih?" tanya Zahra memastikan.
"Tergantung. Kalau lo bisa buktiin argumen kenapa gue harus terima lo sekarang, baru gue pertimbangin," goda Ojan.
"Ojan!"
Tawa mereka pecah, menyatu dengan bising kota, menutup bab persahabatan dan membuka bab baru yang lebih berwarna.
Daftar bab
1 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
Volume 1 · Volume 1
Lanjutkan membaca di aplikasi
Buka aplikasi untuk membaca bab terkunci.








