
FORBIDDEN DESIRE: THIS IS MY STORY
Be_Yourself|Bersambung
- Jumlah kata
- 37.0K
- Popular
- 135
- Subscribe
- 38
- Jumlah kata
- 37.0K
- Popular
- 135
- Subscribe
- 38
Sinopsis
Adult, Erotis, Mature Women, Steamy & Romance.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Opening
Ketika Gesekan gaun sutra milik Aunty Karin yang tersingkap beradu langsung dengan celana kain yang kukenakan.
Di dalam ruang kerja Uncle Ananda yang temaram hanya diterangi lampu meja kuningan, hembusan aroma parfum eksklusif bersatu dengan kehangatan tubuhnya yang terawat sempurna.
Jemarinya yang dipoles kuteks merah gelap merambat perlahan dari dadaku, meremas pelan kerah kemeja hitam yang kubuka dua kancing teratasnya. Matanya yang dihiasi makeup sempurna menatapku lekat. Seperti sedang memberitahu ada campuran rasa lapar akan sesuatu, gengsi, dan amarah yang berbaur di sana.
"Kamu makin berani, Ren..." bisiknya rapat.
Napas hangatnya yang memburu berembus tepat di bibirku, sementara lekuk tubuhnya yang padat menempel ketat, meniadakan celah di antara kami.
Tatapanku tetap dingin, yang telah mengunci matanya. Jari-Jemariku
bergerak tegas menelusuri pinggangnya, meremasnya lembut lalu menarik tubuhnya semakin rapat hingga desahan napasnya
tercekat di udara malam.
Kulitnya yang halus terasa begitu panas di bawah telapak tanganku, meruntuhkan seluruh batasan etika keluarga yang selama ini selalu ia agungkan.
"Bukan aku yang memulainya, Aunty," bisikku tepat di sela-sela lehernya.
Seketika itu juga Bibirku mendarat di sana, menyapu kulit lehernya yang mulus dengan sentuhan basah dan kecupan menuntut yang membuat tubuhnya gemetar hebat.
Sekejap Cengkraman tangannya di bahuku makin mengencang, menenggelamkan jemarinya di antara helai rambutku saat desahan tipis lolos dari celah bibirnya yang terpoles lipstik merah.
Di dalam ruang kerja ini, nama baik dan martabat keluarga hi-so yang selama ini dipupuknya perlahan hancur tak berbekas..
FORBIDDEN DESIRE: THIS IS MY STORY
Thailand, Disalah satu wilayah kota.
Suara gemericik air hujan yang mengguyur pemakaman siang itu menjadi satu-satunya bunyi yang tersisa setelah rombongan pelayat perlahan membubarkan diri.
Aku berdiri tegak di depan dua nisan marmer hitam yang masih basah.
Di bawah payung hitam yang kupegang, aku menatap dua nama yang terukir indah di sana, itu nama kedua orang tuaku.
Kecelakaan maut di jalan tol dua hari lalu merenggut mereka secara instan, menyisakan aku sebagai satu-satunya penerus darah keluarga yang tersisa.
Aku tidak menangis dan hanya berdiri diam
Bukan karena aku tidak berduka, melainkan karena rasa syok yang teramat berat membuat seluruh emosiku membeku.
Mengingat Didikan keras dan disiplin tinggi di sekolah asrama terbaik yang orang tua ku berikan sejak kecil membentukku menjadi pribadi yang selalu tenang, bahkan di tengah badai terbesar dalam hidupku ini.
Tidak lama kemudian, munculnya Sebuah tangan berbalut jas mahal mendarat pelan di bahuku. "Ren," itu suara berat
Uncle Ananda memecah keheningan.
Pria paruh baya itu menatapku dengan sorot mata prihatin. "Ikutlah pulang bersama Uncle. Kamu tidak bisa tinggal sendirian di rumah megah itu di usiamu yang baru mau masuk universitas.
Biar Uncle dan keluarga yang menjagamu."
Aku tidak tahu harus berkata apa,
Diriku hanya memalingkan wajah,
menatap Uncle Ananda sekilas lalu mengangguk pelan. "Baik, Uncle."
Keputusan hari itu menjadi pintu masukku ke dalam rumah tangga keluarga
Uncle Ananda di kawasan elite Bangkok.
Di antara gemerlap Bangkok yang tak pernah benar-benar tidur, berdiri sebuah rumah besar bergaya modern-klasik dengan pagar hitam tinggi, taman rapi, dan lampu-lampu temaram yang memantul di permukaan kolam kecil di halaman depan.
Beberapa orang mengatakan, Rumah itu bukan sekadar tempat tinggal, ia adalah panggung bagi rahasia, hasrat, dan permainan emosi yang perlahan membakar siapa pun yang berani tinggal di dalamnya.
....
Namanya Hoshi Ren, Seorang Pria muda berdarah Jepang-Thailand itu melangkah masuk dengan aura yang sulit diabaikan: memiliki wajah maskulin, rahang tegas, hidung mancung, dan tatapan tajam yang selalu terlihat tenang, seolah tak ada apa pun yang mampu menggoyahkan dirinya.
Rambutnya yang gelap, bergaya messy wavy medium crop, jatuh sedikit berantakan di dahi, memberi kesan santai namun tetap mahal, seperti seseorang yang lahir untuk memegang kendali.
...
Hari itu adalah hari pertama aku melangkah masuk membawa koper, sambutan hangat hanya datang dari Uncle Ananda.
Disisi lain ada Aunty Karin berdiri di dekat tangga melingkar, mengenakan gaun rumahan berbahan sutra yang memeluk lekuk tubuhnya dengan sempurna.
Aunty Karin memiliki Wajah cantik
namun menampilkan postur dingin saat pertama jumpa, ketika sepasang matanya menatapku dari atas ke bawah , seperti tatapan mengisyaratkan bahwa sedang menyelidik yang penuh rasa tidak suka.
"Dia bisa pakai kamar tamu di lantai dua," ujar Aunty Karin datar tanpa menyapaku sedikit pun, lalu berbalik pergi meninggalkan begitu saja, dan aroma harum parfumnya yang tertinggal di udara.
"Maafkan Aunty-mu Ren.
Mungkin, Dia hanya masih terbawa suasana duka," bisik Uncle Ananda menepuk bahuku seolah menenangkan.
Akupun juga tidak mempermasalahkan itu.
Namun, ketegangan di rumah itu tak berhenti di sana. Saat tiba Malam pertamaku di sana langsung diwarnai oleh dinamika dua sepupu perempuanku.
Waktu aku berada di dapur untuk mengambil segelas air putih, terdengar langkah kaki ringan mendekat.
Itu Della, seorang wanita muda dan juga sepupu bungsuku yang sedang menempuh tahun terakhir di universitas, yang saat ini tengah bersandar di pintu dapur.
Terlihat Ia mengenakan celana pendek
dan kaus longgar yang sengaja meluncur turun di salah satu bahunya.
"Jadi... sepupu terpelajar kita akhirnya pindah ke sini?" Suara goda Della
dengan senyum manis yang penuh arti.
Matanya menatap tubuhku tanpa ragu. "Kalau butuh bantuan soal penyesuaian kampus atau kehidupan mahasiswa baru, kamu bisa tanya aku kapan saja, Ren.
Aku punya banyak 'tips' menarik."
Aku hanya menatapnya datar, bahkan melanjutkan meneguk air minumku hingga kandas. "Terima kasih, Della.
Tapi aku bisa mengatasinya sendiri."
Sikap dinginku justru membuat senyum di wajah Della makin lebar. Seperti Rasa penasaran jelas terpancar dari matanya.
Di sudut ruangan lain, Ada seorang wanita muda berwajah cantik lainnya bernama Nisa , seorang anak sulung Uncle Ananda yang sudah bekerja sebagai staf di perusahaan, sepertinya dia melihat atau mendengar percakapan ku dengan adiknya sehingga ia hanya berdiri diam menyimak.
Ketika mataku tidak sengaja beradu dengannya, Nisa segera cepat-cepat menunduk dan membuang muka,
Terlihat meremas jemarinya dengan canggung sebelum akhirnya berjalan terburu-buru kembali ke kamarnya.
Meskipun aku terkejut dan bingung dengan apa yang sedang terjadi, Tapi aku tidak terlalu memikirkan lebih jauh, sehingga diriku melangkahkan kaki kembali ke kamar yang sekarang berada di lantai dua.
Sebelum menutup pintu kamar,
aku menyadari satu hal yaitu kamar tamu ini terletak persis di seberang ruang kerja Uncle Ananda, dan hanya berjarak beberapa langkah dari kamar utama.
Tidak berselang lama kemudian munculnya suara Langkah kaki halus terdengar dari koridor. Seketika Aku menoleh dan mendapati bahwa itu adalah Aunty Karin yang sedang berdiri di sana.
Terlihat Ia sudah mengganti gaun sutranya dengan gaun tidur (nightgown) bahan satin berwarna gelap yang seperti memeluk lekuk tubuhnya dengan sangat pas.
Disamping itu, Cahaya lampu koridor yang temaram menerpa siluet tubuhnya yang matang dan terawat sempurna.
Tanpa sadar Matanya yang dingin menatapku rapat saat ia berjalan melewati pintu kamarku. Tidak ada senyum,
tidak ada kata-kata ramah.
Namun, ketika langkahnya sejajar denganku, matanya sengaja turun menatap bibirku selama beberapa detik,
Seperti sebuah tatapan penuh intensitas yang bertolak belakang dengan sikap acuh tak acuhnya di depan Uncle Ananda tadi.
Setelah beberapa saat suasana beku terjadi, aku tersadar dan diapun seperti tersadar juga dan bergerak kembali menuju kamarnya meninggalkan ku dalam diamnya.
Jika kau tanya padaku tentang apa yang terjadi, jelas juga aku bingung menjawabnya, apa yang tidak ku ketahui.
Tanpa menunggu akupun masuk ke kamar ku, sembari beristirahat diatas kasur .
Terlintas dalam pikiran ku sekarang bahwa
Di rumah yang baru ini, di antara duka
yang belum sepenuhnya usai, aku bisa merasakan ada banyak mata yang mengawasiku, dengan rasa penasaran, rasa canggung, dan seperti ada hasrat tersembunyi yang perlahan mulai menyala.
Daftar bab
32 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








