
- Jumlah kata
- 51.8K
- Popular
- 8.0K
- Subscribe
- 779
Sinopsis
Jayadinata, atau yang akrab dipanggil Udin, adalah pemuda miskin yang hidup di ujung kampung. Sebagai pria yang impoten, hari-harinya diisi dengan cibiran wanita yang menganggapnya sampah tak berguna. Nasibnya berubah drastis ketika ia menemukan sebuah gelang. Tanpa disadari, gelang itu adalah artefak kuno yang perlahan membuat Udin memiliki kekuatan yang dapat merubah nasibnya.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1 - Awas Saja Kamu!
"Udin, kok kamu bisa sih punya keberanian buat melamar aku?"
Jayadinata atau yang lebih sering dipanggil Udin, hanya bisa mematung mendengar kalimat dari Lilis, wanita yang selama ini baik padanya.
"Memangnya ada apa, Lis? Aku benar-benar suka sama kamu…" Udin memohon. "Bukannya kamu juga merasakan hal yang sama?"
"Kata siapa?" Wajah Lilis yang semula lembut berubah mengkerut. "Coba lihat diri kamu. Wanita mana yang mau nikah sama cowok yang miskin dan impoten?"
"Kalau kita menikah, kamu yang gak bisa puasin aku pakai harta, masa juga nggak bisa bikin aku puas di ranjang?!"
Mendengar itu, Udin menunduk menahan malu. "Tapi aku kira... selama ini hubungan kita baik, Lis..."
"Udin, jangan salah paham ya. Aku itu baik sama kamu karena orang tuaku yang nyuruh. Kamu pikir aku suka ya ngelakuinnya?" Lilis melipat tangannya di depan dada.
"Aku justru capek dekat lama-lama sama kamu."
Saat ini juga Udin sadar kalau selama ini dia sudah salah mengartikan kebaikan Lilis. Rupanya perempuan itu baik karena diminta oleh ayahnya yang menjabat sebagai Ketua RT.
Udin mengepalkan tangan, dia berkata dengan nada bergetar. "Kamu… Jadi.."
"Sudahlah! Sebaiknya kamu hilangkan saja perasaanmu ke aku, Din!" Lilis mendorong Udin hingga tubuh pria itu mundur ke belakang.
"Setelah ini aku mau lanjut kuliah di luar kota dan tinggal di sana. Jadi nggak usah hubungi aku lagi. Anggap saja kita nggak pernah saling kenal."
Entah mengapa Udin masih berharap pada gadis itu. "Lilis, aku benar-benar mencintai kamu. Kalau aku punya uang nanti, Apakah kamu mau menerima aku?"
Lilis menatap Udin meremehkan.
"Kamu bahkan cuma buruh lepas. Mau berapa ribu tahun buat kamu untuk jadi kaya? Sudahlah, anggap saja kebaikanku kemarin saat meladeni kamu itu kesalahan terbesar aku!"
Lilis lalu pergi meninggalkan Udin yang mulai merasakan sakit mendalam.
Sungguh sial nasibnya. Baru saja pertama kali menyatakan cinta, justru mendapat penolakan disertai ejekan yang merendahkannya begini.
Udin lalu berbalik ke arah berlawanan dari Lilis. Lalu berbelok ke arah sungai untuk sekedar mencuci wajahnya yang terasa panas.
Air dingin sungai yang segar sedikit meredakan rasa sedih di hatinya.
DI tengah deru suara aliran sungai yang deras, terdengar samar suara aneh tak jauh dari tempatnya.
Udin melangkah mendekati sumber suara yang berasal dari balik pepohonan yang rimbun. Di sana, dia terkejut saat melihat sosok seorang gadis dengan pakaian yang setengah terbuka.
Gadis itu duduk bersandar di sebuah pohon rindang sambil memainkan tangannya di balik rok, sementara tangan satunya meremas buah semangkanya.
Udin terkaget. Namun, pandangannya tak bisa lepas dari dua buah semangka putih yang terekspos dengan ujung merah muda mungil di depannya.
"Mmmmh…."
Udin dengan cepat menguasai diri dan mulai mencari tempat untuk mengintip. Pemandangan wanita itu membuat bayangan Lilis pergi entah ke mana.
Ternyata, meskipun organ sensitifnya tidak merespon dengan baik, dia masih memiliki gairah.
Pelan-pelan, Udin mendekat beberapa meter ke arah gadis itu. Mengendap-endap dari pohon ke pohon agar pemandangan itu semakin jelas untuk dilihat.
Saat posisinya sudah cukup dekat, Udin melihat tangan gadis itu sudah berada di ujung rok dan bersiap untuk menurunkannya.
Rok itu meluncur hingga sebatas lutut, memperlihatkan bagian privatnya yang sudah merekah dan basah.
Udin semakin bersemangat untuk menunggu adegan berikutnya hingga tak menyadari bahwa di bawah kakinya ada sarang semut merah.
"Aduh! Duh! Duh!"
Udin kesakitan sambil menghentakkan kakinya ke tanah beberapa kali. Hal itu membuat Udin tanpa sadar keluar dari tempat mengintipnya.
"Heh! Siapa di sana?!"
Gadis itu segera berdiri dan membetulkan mengenakan pakaiannya secepat mungkin.
Udin yang tersadar dan segera membalik badan, mengalihkan pandangannya ke arah lain. Dia berusaha melangkah cepat meninggalkan area sungai.
Namun, suara seorang wanita itu kembali terdengar. Ternyata, dia menyusul Udin dengan wajah yang merah merona!
Udin sontak menahan napas. Karena wanita yang tadi hanya bisa dilihat dari jarak aman, kini semakin dekat ke arahnya.
Ditambah, pakaian gadis itu yang tidak tertutup sempurna membuat Udin menatapnya dengan imajinasi ke mana-mana.
Hanya saja, begitu menyadari siapa gadis itu, wajah Udin berubah terkejut.
Ternyata, dia adalah Amelia Suganda, gadis muda yang selama ini menjadi rebutan para pemuda desa!
"Tadi kamu ngapain di situ?!" bentak Amel yang membuat Udin langsung menelan ludah.
Di satu sisi, bayangan ekspresi Amel dan lembah merahnya yang merekah memenuhi pikirannya. Namun, di sisi lain, situasi membawa Udin kembali ke realita.
Baru saja dia hendak membuka mulut untuk menjelaskan, Amel sudah lebih dulu menunjuk ke arahnya. "Tadi kamu sengaja mengintip ya?! Kurang ajar!"
"Eeh?! Nggak, Mbak!!" Udin buru-buru menggeleng. "Saya nggak mengintip!"
"Kalau nggak ngintip, ngapain?" Amel berkacak pinggang dan menatap Udin dengan tatapan sinis. "Makan nasi padang?"
Udin berusaha mencari alasan lain.
Amelia ini adalah putri tunggal Pak Suganda, juragan tanah sekaligus orang terkaya di desa. Sejak kecil, dia dilindungi bak permata oleh orang tuanya.
Wajar saja jika harga dirinya setinggi langit.
Terlebih, bagi seorang gadis yang belum menikah, kejadian barusan adalah aib besar jika sampai diketahui orang lain.
Apalagi orang yang melihatnya adalah Udin, pria yang dianggap paling hina di desa karena miskin dan impoten.
Reputasi gadis itu pasti akan hancur seketika.
"Serius! Aku tadi cuma lewat kok, Mbak! Lalu kesandung batu…" tambah Udin lagi. "Lagian mana berani aku mengintip Mbak Amel?! Bisa-bisa aku digebukin Pak Suganda lalu dibuang ke kali.."
Udin mengeles. Karena kalau tidak, dia pasti langsung ditampar di tempat dan dikubur hidup-hidup oleh Amel.
Di desa, sudah banyak pria yang dihajar hanya karena bersiul saat Amel lewat.
Kalau sampai wanita itu mengetahui seantero tubuhnya sudah dilihat oleh Udin, entah apa yang akan terjadi padanya.
"Sudah deh! Nggak usah banyak alasan!" Bentak Amel kemudian dengan nada tinggi.
"Awas ya! Kalau sampai saja ada yang tahu, atau kamu memberitahu orang lain soal apa yang kamu lihat hari ini… "
Kupotong burungmu yang lemas itu!
Udin menelan ludah dan mengangguk. "Iya Mbak.. Permisi ya.." Dia lalu memilih segera pergi sebelum masalahnya semakin panjang.
"Sana pergi! Ingat ya. Awas saja kamu!" teriak Amel lagi.
Setelah pergi cukup jauh dari wanita itu, Udin diam-diam berpikir.
Kalau Amel tidak ingin dilihat oleh orang lain, mengapa justru melakukan hal memalukan seperti itu di ruang terbuka?
Bukankah dengan uang yang banyak dia bisa menyewa tempat atau melakukannya di kamarnya yang lebih nyaman?
Namun, Udin tidak mau bertanya lebih jauh. Bisa melihat tubuh Amel sebanyak itu dan tidak dilaporkan sudah jadi keberuntungan.
Kalau bukan karena Amel ingin menjaga reputasinya, mungkin sekarang dia sudah dilaporkan kepada warga desa dan digebuki.
Udin lalu memilih pergi sebelum masalahnya semakin panjang.
Daftar bab
48 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








