Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Bimo dan Tongkat Perkasa Sakti

Bimo dan Tongkat Perkasa Sakti

Ainin | Bersambung
Jumlah kata
43.4K
Popular
2.5K
Subscribe
780
Novel / Bimo dan Tongkat Perkasa Sakti
Bimo dan Tongkat Perkasa Sakti

Bimo dan Tongkat Perkasa Sakti

Ainin| Bersambung
Jumlah Kata
43.4K
Popular
2.5K
Subscribe
780
Sinopsis
18+PerkotaanSupernaturalMengubah NasibZero To HeroKekuatan Super
Bimo miskin, pengemis, tak tahu asal-usulnya. Namun suatu malam setelah digebuki preman, dia mendapatkan benda ajaib bernama Tongkat Perkasa Sakti. Dari sana kehidupannya berubah jadi lebih terarah, kekayaan, kekuatan, kekuasaan, beladiri ada digenggamannya, bahkan dia dikejar-kejar banyak wanita dan keberuntungan!
Bab 1. Pengemis Beruntung

"Ah, Sayang... jangan di sini, dingin... Ahh... Nakal kamu... Dingin, Sayang..."

Malam ini gerimis membasahi aspal di kawasan Kuningan yang mulai sepi. Bimo, pemuda 23 tahun awalnya cuma mencari tempat berteduh. Dia menyelinap ke sebuah ruko tua yang terbengkalai di pojok jalan, berharap bisa memejamkan mata di balik tumpukan kardus kering.

Namun, baru saja dia melangkah ke lantai dua yang remang-remang, telinganya menangkap suara yang ganjil. Desahan napas yang berat dan suara manja seorang wanita terdengar dari balik sekat kayu yang rapuh.

Bimo menahan napas, lalu perlahan bangkit, rasa penasarannya mengalahkan rasa takutnya. Dia mengintip melalui celah sekat kayu yang sudah bolong dimakan rayap.

Di balik sekat itu, di bawah temaram lampu jalan yang masuk lewat jendela tanpa kaca, Bimo membelalak melihat Jago sedang menghimpit seorang wanita asing.

Itu bukan pacar Jago yang Bimo kenal!

"Dia nidurin siapa?" batin Bimo kaget.

"Dingin? Nanti juga keringetan, Sayang," geram Jago kasar.

Tangannya yang penuh tato mencengkeram pinggang Siska dengan kuat, menarik gaun merah ketat wanita itu hingga tersingkap.

Bimo membeku. Dari celah itu, dia bisa melihat dengan jelas bagaimana Jago menciumi leher Siska dengan rakus. Suara napas mereka yang memburu memenuhi ruangan yang pengap itu.

"Ahhh... nanti kalau Mita tahu gimana? Dia kan anak Bos Besar..." Wanita itu berbisik di sela desahannya, namun tangannya justru semakin erat memeluk leher Jago.

"Bodo amat sama Mita! Dia itu kaku, nggak kayak kamu yang liar begini," balas Jago sambil melepaskan ikat pinggangnya.

Bunyi logam gesper yang berdenting di lantai semen membuat jantung Bimo berdegup kencang.

Adegan itu berlangsung intens di depan mata Bimo. Gesekan kulit, suara lenguhan Siska yang semakin berani, dan gerakan ritmis tubuh mereka di atas meja kayu tua itu menciptakan pemandangan yang tak pernah Bimo bayangkan sebelumnya.

Tanpa sadar, suhu tubuh Bimo naik. Rasa dingin yang tadi menusuk tulang seolah menguap, berganti dengan panas yang mengalir deras ke bagian bawah perutnya.

Bimo menelan ludah berkali-kali. Meskipun perutnya lapar, namun pemandangan eksplisit di depannya membangkitkan insting lelaki yang selama ini terpendam di balik kemiskinannya. Ada ketegangan yang menyesakkan di balik celana tambalannya.

KRAAAK!

Bimo terlalu terpaku hingga kakinya yang gemetar tanpa sengaja menginjak potongan kayu lapuk di bawahnya.

"SIAPA ITU?!" teriak Jago kencang, suaranya menggelegar penuh amarah dan panik.

"Sayang... Apa ada yang ngintip kita?" tanya wanita di dekapan Jago, terlihat ketakutan.

Jago segera menarik celananya, matanya yang merah melotot ke arah celah kayu. Bimo panik, dia mencoba lari namun kakinya lemas. Jago menendang sekat kayu itu hingga hancur dan menyeret Bimo keluar.

"Sialan! Si sampah ini ternyata!" Jago mencengkeram kerah baju Bimo, wajahnya hanya berjarak beberapa senti, bau alkohol dan keringat menyeruak. "Lo denger apa tadi?! Lo liat apa, hah?!"

"Eng-enggak, Bang... saya nggak liat..."

"Boong lo! Muka lo merah begini, lo pasti lagi asyik ngintipin gue, kan?!" Jago melirik ke arah Siska yang sibuk merapikan bajunya dengan wajah kesal. "Kalo lo bocor ke Mita, gue bakal digantung sama Bapaknya. Lo harus mati, sampah!"

BUUKH!

Pukulan pertama mendarat telak di ulu hati Bimo. Bimo terlempar ke lantai semen yang keras. Udara seolah dicabut paksa dari paru-parunya.

"Jelo, Jeko! Ke sini kalian, habisi pengemis ini! Jangan kasih ampun!" teriak Jago ketus, merasa terhina karena telah diintip oleh seorang gelandangan. "Kalo ada yang heboh besok kemu mayatnya besok, bilang aja dia nggak bayar setoran yang diminta bos! Biarin aja dia jadi pelajaran untuk semua pengemis!"

Jeko dan Jelo, yang ternyata berjaga di lantai bawah, segera naik dan langsung menghujani Bimo dengan tendangan. Bimo meringkuk seperti janin, mencoba melindungi kepalanya.

Terangsang sesaat yang dia rasakan tadi berubah menjadi neraka!

"Gelandangan nggak guna! Mati aja lo!"

Jago melihat tongkat kayu tua milik Bimo. Dengan tawa meremehkan, dia menginjak tongkat itu.

KRAAAK!

Tongkat itu patah menjadi dua.

"Nih, temen lo udah mampus. Sekarang lo nyusul!" Jago memberikan satu tendangan terakhir di wajah Bimo sebelum mereka pergi meninggalkan Bimo yang terkapar bersimbah darah.

Bimo terengah-engah. Darah segar merembes dari hidung dan sudut bibirnya. Di tengah rasa sakit yang luar biasa, ia merasa benar-benar berada di titik nadir.

"Kenapa... kenapa aku harus hidup sehina ini?" rintihnya. "Apa salahku sampai jadi begini, Tuhan?"

Bimo meringis memegang perut dan ulu hatinya yang terasa sakit, ngilu. Dia tak mampu melihat apapun karena pandangannya gelap.

Mungkin ini hari terakhirnya di dunia.

Dari arah pilar jembatan yang paling gelap, sesuatu meluncur pelan di atas aspal yang basah. Benda itu bergerak seolah punya arah dan kemauannya sendiri, tergelincir halus lalu berhenti tepat di depan jemari Bimo yang gemetar.

Itu tongkat, warnanya hitam legam dengan guratan-guratan emas halus yang samar-samar berpendar dalam gelap. Ukurannya pas, tidak terlalu besar namun terasa sangat padat.

Bimo dalam kondisi setengah sadar, secara refleks menggenggam pangkal tongkat itu.

ZAP!

Sebuah sengatan menjalar dari telapak tangannya, naik ke lengan, lalu meledak di dadanya. Bukan rasa sakit, justru terasa nyaman dan menenangkan. Seolah dia baru saja meminum air dingin di tengah padang pasir.

Lalu, sebuah suara terdengar.

"Kasihan sekali Tuanku yang malang ini... kenapa tubuhmu begitu hancur, Sayang?"

Bukan di telinga, tapi langsung bergema di dalam kepalanya. Suara wanita yang terasa halus, merdu, mengandung getaran yang membuat bulu kuduknya berdiri.

Bimo tersentak, matanya yang bengkak terbuka lebar. "Si... siapa itu?" tanyanya kaget.

Apakah setan penunggu jalanan datang mengganggunya? Ini tengah malam, hampir pukul 2 dini hari! Kalau benar-benar setan, kematiannya benar-benar akan sangat tragis!

"Jangan takut. Aku adalah pelayanmu. Namaku Ratih, ruh di dalam Tongkat Perkasa Sakti ini. Kau telah terpilih untuk memilikiku... dan aku akan memberikan semua yang kau inginkan."

Bimo yakin dia sudah gila karena pukulan tadi, hingga kembali memejamkan mata dan mengigau lemah.

"Aku lapar... sakit... Andaikan saja ada roti dan air di sini, aku mungkin masih bisa bertahan sampai pagi..."

"Tentu, Tuan. Pejamkan matamu."

Bimo terdiam, kembali heran mendengar suara itu. Tiba-tiba, rasa hangat dari tongkat itu menyebar ke seluruh tubuhnya.

Dapat dia rasakan luka memar di wajahnya menyusut, rusuknya yang tadi terasa patah seolah tersambung kembali dalam sekejap. Rasa nyeri di perut dan ulu hatinya yang menyiksa hilang, berganti dengan tenaga yang perlahan mengisi otot-ototnya yang selama ini layu.

Saat dia membuka mata, di sampingnya terlihat bungkusan kain sutra putih. Di dalamnya terlihat roti gandum yang masih hangat, air mineral bersih yang masih bersegel dan beberapa buah apel merah yang terlihat sangat segar dan berair.

Sesuatu yang mustahil ada di ruko tua itu!

Bimo cepat-cepat bangkit, lalu meraih roti, buah dan melahap makanan itu dengan rakus. Rasanya jauh lebih nikmat dari apapun yang pernah dia makan seumur hidupnya!

"Apakah itu cukup, Tuan?" suara Ratih kembali berbisik, kali ini terasa lebih dekat, terasa membisikkan kata-kata manis tepat di lehernya. "Kau butuh sesuatu yang lebih untuk bertahan hidup di dunia yang kejam ini, bukan? Kau butuh kekuatan. Kau butuh... harga diri. Katakan saja apa yang kau mau, aku bisa kabulkan untukmu."

Bimo yang sudah lebih kuat dan sadar melihat tongkat dipangkuannya yang bersinar pelan. Sepertinya suara itu bukan suara setan, tongkat itu yang bersuara!

Untuk mengujinya, Bimo dengan takut-takut bersuara sambil menggenggam tongkat itu.

"Aku... aku ingin punya tubuh yang kuat. Supaya aku bisa melawan pukulan mereka, agar mereka tidak menghinaku lagi," pinta Bimo, bicara pelan karena dia sadar hanya sendirian di sana.

"Permintaanmu adalah perintah bagiku. Genggam aku lebih erat, Tuan..."

Bimo mengeratkan genggamannya pada tongkat itu. Lalu, dia merasakan struktur tubuhnya berubah. Tulang-tulangnya berderak, bahunya melebar dan punggungnya yang agak bungkuk terasa tegak, kuat dengan serat-serat otot yang keras seperti baja.

Bimo bangkit berdiri. Menyadari tinggi badannya bertambah beberapa sentimeter. Dia bisa berdiri tegak, memegang tongkat hitam yang kini terlihat seperti senjata milik dewa.

Di bawah cahaya lampu, Bimo melihat bayangannya di genangan air. Dia nyaris tidak mengenali dirinya sendiri.

"Ini aku?"

Ratih tertawa. "Tentu saja, Tuanku... Sekarang, mereka tidak akan bisa macam-macam lagi padamu. Buatlah dunia berlutut di bawah kakimu. Aku akan selalu bersamamu, menemanimu setiap hari."

Lanjut membaca
Lanjut membaca