
- Jumlah kata
- 3.3K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 0
Sinopsis
Alasan dibalik hilangnya senyum Ael satu tahun belakangan ini adalah karena sosok perempuan bernama Maudy. Namanya terus berlari-lari di pikiran Ael dan enggan pergi bersamaan dengan kenangan manis yang sudah keduanya lewati selama lima tahun berpacaran. Seribu satu cara Ael mencoba menghilangkan nama Maudy dari pikirannya, sampai mencari pelampiasan guna mengalihkan dan mencoba menendang perempuan itu dari kepalanya. Namun, usahanya tetap sia-sia, mau seberapa banyak perempuan yang Ael coba hadirkan di hidupnya, sosok Maudy masih juga tidak bisa tergantikan.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
PROLOG
Happy Reading!
***
Satu tahun setelah putus, Ael baru mengerti satu hal—cinta tidak pernah benar-benar kalah oleh jarak. Yang menghancurkannya justru ego.
Di tahun ketiga debut The Origin’s, jadwalnya berubah kejam. Kota demi kota. Panggung demi panggung. Waktu menjadi komoditas mahal. Maudy mencoba mengerti. Ael mencoba bertahan.
Tapi dua orang keras kepala dalam satu hubungan bukan kombinasi yang romantis. Dan mereka pecah. Bukan karena tidak cinta. Tapi karena sama-sama keras kepala.
Ael berkali-kali mencoba menghubungi Maudy setelah putus. Selalu gagal. Perempuan itu seperti membangun tembok tinggi yang tak bisa ia panjat.
Satu-satunya celah hanyalah Jauzan Narendra—Ojan. Teman SMA sekaligus teman sekos Maudy yang entah kenapa masih mau menjadi informan setengah hati.
“Bosen gua lu nanyain si Mody mulu,” keluh Ojan di ujung telepon.
“Dia di mana?” suara Ael datar, tak sabar.
“Mall Taman Anggrek. Ada pameran lukisan di sana. Dia berangkat dari tadi pagi. El, lo mau sampai kapan kayak gini?”
“Thanks, Jan.”
“Balikan aja sekalian dah, gua capek jadi intel.”
Telepon terputus.
Dua puluh menit kemudian, Ael sudah berada di balik kemudi. Jakarta siang itu terasa lebih riuh dari biasanya. Lagu A Year Ago milik James Arthur mengalun pelan, seolah mengejeknya. Liriknya terlalu relevan. Terlalu jujur.
Selama satu tahun, Ael mencoba melupakan Maudy dengan cara paling salah—mengganti wajah demi wajah. Tidak ada yang berhasil. Tidak ada yang terasa.
Karena tak satu pun adalah Maudy.
Pameran itu megah. Proyeksi digital lebih dari tiga ribu karya memenuhi dinding dan lantai, menciptakan ilusi seolah pengunjung benar-benar masuk ke dalam dunia Vincent van Gogh.
Dan di sana—di bawah sorotan warna kuning hangat dari lukisan Sunflowers—Maudy berdiri.
Rambut panjangnya tergerai lembut di punggung. Ia menatap bunga matahari yang dilukis tahun 1888 di Arles, Prancis.
“Bunga matahari itu milikku, dengan cara tertentu.”
Suara itu membuat Maudy membeku.
Perlahan ia berbalik.
Gavrael.
Satu tahun tak bertemu, namun jarak itu tidak mengurangi apa pun. Tatapan yang sama. Intens. Terlalu mengenal.
“Beliau melukisnya hampir setiap pagi,” lanjut Ael pelan. “Bunga matahari itu cepat layu. Jadi satu-satunya cara memilikinya, adalah mengabadikannya.”
Maudy menelan ludah. “Kamu lagi stalking aku?”
“Kalau iya?” Ael menoleh padanya. “Pameran lukisan ini baru diadakan di Indonesia setelah di 80 kota dari berbagai negara. Jadi mustahil kalau kamu gak hadir di pameran ini, Dy”
“El, berhenti.” Nada Maudy tegas. Tapi sorot matanya—tidak.
Ael menghadapinya sepenuhnya.
“Berhenti apa? Berhenti peduli?”
“Berhenti cari tau aku lewat Ojan. Kita selesai setahun lalu.”
Sunyi di antara mereka terasa berat.
“Gestur tubuh kamu nggak bilang begitu, Alodya.”
Maudy mundur satu langkah. “Jangan mulai.”
Ael menggeleng pelan. “Kita nggak bisa pura-pura nggak pernah ada, Dy.”
“Kita pernah ada,” potong Maudy tegas. “Tapi sekarang nggak.”
Sunyi. Hanya cahaya kuning bunga matahari yang bergerak di dinding.
“Kamu bahagia?” tanya Ael tiba-tiba.
Maudy terdiam sepersekian detik. “Itu bukan urusan kamu lagi.”
Ael satu langkah mendekat, tapi tak menyentuh. “Aku tau kamu nggak baik-baik aja.”
“Kamu nggak tau apa-apa,” bisiknya.
Cahaya lukisan berubah. Warna biru menggantikan kuning.
“Apa kamu masih punya perasaan yang sama ke aku?” tanya Ael.
Pertanyaan yang terlalu berani.
Maudy tertawa kecil—pahit. “Kamu masih egois ternyata. Kamu masih pengen jawaban yang bikin kamu tenang.”
Ael tahu betul bahwa ucapan Maudy hanya untuk menggertaknya lagi dan lagi. Tapi mata hazel perempuan itu benar-benar tidak bisa menutupi bahwa dirinya merindukan sosok laki-laki yang tengah berdiri menatapnya dengan tatapan yang sama dari tahun-tahun sebelumnya.
Ael tahu betul kalimat Maudy barusan hanya tameng. Perempuan itu selalu pandai menyusun dinding. Namun mata hazelnya—yang sejak dulu selalu gagal berbohong—terlalu jujur malam ini.
“Ucapan kamu sama bahasa tubuh kamu berlawanan arah, Alodya.”
Maudy terdiam. Ia membenci fakta bahwa Ael masih bisa membaca dirinya seakurat itu.
“Jangan merasa paling tau aku,” balasnya pelan, tapi napasnya tak lagi stabil.
Ael melangkah setengah langkah mendekat. Refleks, Maudy mundur satu langkah. Jarak di antara mereka kembali tipis—cukup dekat untuk merasakan hangat napas, cukup jauh untuk menyangkal rindu.
Cahaya kuning bunga matahari bergerak di dinding, membasuh wajah keduanya dalam warna yang hangat namun sendu.
“Dy,” suara Ael lebih rendah sekarang, lebih serius, “apa nggak ada kesempatan sama sekali?”
Maudy tidak pernah menyangka pertanyaan itu akan keluar dari mulut laki-laki yang selama setahun ini terlihat baik-baik saja dengan perempuan-perempuan baru di sisinya.
“El, nggak bisa.”
“Why?” Rahang Ael mengeras. “Karena kamu udah punya orang lain?”
Maudy hampir tertawa. Hampir. “Lucu ya kamu nanya begitu. Bukannya kamu yang ganti pacar tiap minggu?”
Ada jeda sepersekian detik. Tipis, tapi terasa. “So you’re still watching me?” Ael menyeringai samar.
“You wish.” Maudy mendengkus. “Aku nggak pernah cari tau. Kabar kamu selalu datang sendiri. Tanpa aku minta.”
Itu jawaban yang lebih jujur dari yang ingin ia akui.
Ael menyisir rambutnya ke belakang, frustrasi kecil terlihat di garis rahangnya. “Itu cuma pelarian.”
“Itu pilihan, El.”
“Aku milih itu karena aku nggak bisa milih kamu, Dy.”
Maudy membeku. Kalimat itu menampar halus—tidak keras, tapi cukup untuk meninggalkan bekas.
“Kamu yang pergi duluan,” balasnya lirih, namun tegas. “Kamu yang lebih milih dunia kamu. Kamu yang terlalu gengsi buat minta maaf.”
“Aku takut,” potong Ael tiba-tiba. Maudy menatapnya.
“Aku takut kalau aku berhenti sebentar buat kamu, semuanya runtuh. Karierku. Namaku. Semua yang lagi aku bangun.”
“Dan kamu pikir aku nggak takut?” Suara Maudy akhirnya retak. “Aku tiap hari nunggu kamu punya waktu buat aku. Nunggu kamu sadar kalau aku bukan cuma jeda di antara jadwal-jadwal padet kamu.”
Sunyi. Proyeksi lukisan berganti. Biru pekat memenuhi ruangan. Ael menelan keras. “Aku akui, aku salah, Dy.”
“Telat.”
“Aku cuma pengen jujur.”
“Kejujuran kamu datang setelah satu tahun.”
Ael mendekat lagi—kali ini tanpa menyentuh. Hanya cukup untuk membuat dunia di sekitar mereka terasa menghilang.
“Aku belum pernah berhenti,” katanya. “Satu hari pun nggak.”
Maudy menatapnya lama. Ia bisa melihat itu. Di cara Ael berdiri. Di cara napasnya berubah. Di cara matanya tak pernah lepas. Tapi luka tidak sembuh hanya karena pengakuan.
“Cinta aja nggak cukup, El,” ucap Maudy pelan. “Aku capek jadi yang selalu ngerti. Aku capek jadi yang selalu nunggu kamu selesai sama dunia kamu.”
“Aku nggak akan biarin kamu nunggu lagi.”
“Lalu?”
“Kali ini aku yang nyamperin.”
Jantung Maudy berdetak lebih keras.
“Aku nggak janji apa-apa,” lanjut Ael, suaranya stabil tapi mata itu, penuh harap. “Aku cuma minta kesempatan buat buktiin. Tanpa gengsi. Tanpa sembunyi-sembunyi. Tanpa kamu harus rebut aku dari jadwal-jadwalku.”
Maudy terdiam lama. Ia tidak pergi. Tidak menjauh. Tapi juga tidak mendekat.
“Aku nggak bisa langsung bilang iya,” katanya akhirnya. “Dan kamu nggak bisa paksa aku.”
“Aku nggak maksa.”
“Kamu selalu maksa. Dengan tatapan kamu.”
Ael tersenyum tipis, pahit. “Karena aku tau kamu masih peduli.”
Maudy tidak menyangkal. Tidak membenarkan. “Aku masih marah,” katanya jujur. “Dan aku masih takut.”
Untuk pertama kalinya, keduanya sama-sama telanjang tanpa perisai. Cahaya kuning kembali memenuhi ruangan. Bunga matahari bermekaran di dinding, seolah mengejek betapa rapuhnya manusia di hadapan waktu.
“Aku nggak akan lari,” ujar Maudy pelan. “Tapi aku juga nggak janji bakal kembali.”
Itu bukan penolakan.
Itu bukan penerimaan.
Tapi Maudy menciptakan ruang.
Dan kali ini, Ael memilih untuk tidak merusaknya.
“Oke,” jawabnya akhirnya. “Aku tunggu. Tapi bukan sebagai bayangan. Tapi sebagai seseorang yang lagi belajar jadi lebih baik.”
Maudy menatapnya sekali lagi. Dalam. Lama. Penuh hal yang belum selesai.
“Tolong buktiin itu.”
Ael tidak menjawab dengan janji. Tidak dengan rayuan. Hanya dengan anggukan kecil yang lebih berat dari ribuan kata.
Di antara cahaya kuning bunga matahari dan bayangan biru yang berganti perlahan di dinding, mereka berdiri sebagai dua orang yang pernah saling memiliki—dan hampir saling kehilangan selamanya.
Untuk pertama kalinya sejak setahun lalu, harapan itu tidak terasa seperti ilusi. Namun ia juga belum cukup kokoh untuk disebut rumah. Karena cinta, kali ini, tidak sedang mencari kepastian.
Ia sedang belajar tumbuh tanpa ego. Dan jika memang ditakdirkan kembali, maka bukan rindu yang akan menyatukan mereka—melainkan usaha.
***
Btw, more info ada di instagram aku: @/forkywoody.area
See you in the noise!🖤🎸
Daftar bab
2 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








