
Di Antara Senja dan Rahasia
Sugar Baby|Bersambung
- Jumlah kata
- 19.8K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 2
- Jumlah kata
- 19.8K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 2

Sugar Baby|Bersambung
Di sebuah senja yang tampak biasa, Alya tidak pernah menyangka bahwa pertemuan singkatnya dengan Arka akan mengubah arah hidupnya. Berawal dari percakapan sederhana di bangku taman, keduanya perlahan terikat dalam hubungan yang tak pernah mereka rencanakan hubungan yang tumbuh dari tatapan, keheningan, dan rasa yang sulit dijelaskan. Arka adalah sosok misterius dengan masa lalu yang tak pernah benar-benar ia buka. Sementara Alya, yang terbiasa hidup dengan kendali dan logika, mulai goyah saat perasaannya terhadap Arka semakin dalam. Di antara mereka, ada jarak yang tak terlihat rahasia yang belum terungkap, dan luka lama yang masih membekas. Seiring waktu, kedekatan mereka berkembang menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar kebetulan. Sentuhan-sentuhan kecil, percakapan larut malam, hingga momen-momen sunyi yang terasa terlalu intim semuanya membangun ketegangan yang perlahan menguji batas hati dan logika. Namun, ketika masa lalu Arka mulai menghantui, dan Alya dipaksa memilih antara bertahan atau pergi, hubungan mereka berada di ujung yang rapuh. Cinta yang tumbuh di antara senja dan rahasia itu harus menghadapi kenyataan: tidak semua perasaan bisa dimiliki, dan tidak semua kedekatan berakhir bersama. Akankah mereka menemukan keberanian untuk jujur satu sama lain? Atau justru memilih untuk tetap menjadi dua orang asing yang pernah saling mengerti di waktu yang salah? Sebuah kisah tentang cinta yang datang perlahan, membakar diam-diam, dan meninggalkan jejak yang tak mudah dilupakan.
Langit sore itu seolah sedang jatuh cinta pada dirinya sendiri.
Warna jingga yang perlahan berubah menjadi keemasan menyapu cakrawala, menciptakan gradasi yang begitu lembut hingga terasa seperti lukisan yang hidup. Matahari menggantung rendah, seakan enggan benar-benar pergi. Dan di bawah langit yang hampir sempurna itu, Alya duduk sendirian.
Bangku taman yang ia pilih menghadap langsung ke arah matahari tenggelam. Rumput di sekitarnya masih basah oleh sisa hujan siang tadi, menyisakan aroma tanah yang khas hangat, sedikit lembab, dan entah kenapa terasa menenangkan.
Alya menarik napas panjang.
Hari itu terasa lebih berat dari biasanya. Bukan karena ada sesuatu yang benar-benar salah, tapi justru karena semuanya terasa... kosong. Rutinitas, pekerjaan, bahkan percakapan dengan orang-orang di sekitarnya semuanya berjalan seperti biasa, tanpa makna yang benar-benar ia rasakan.
Ia memeluk dirinya sendiri, jemarinya meremas pelan kain tipis yang membungkus lengannya. Angin sore menyentuh kulitnya dengan lembut, membawa sensasi dingin yang samar.
“Sendirian?”
Suara itu datang tanpa aba-aba.
Alya menoleh, sedikit terkejut. Seorang pria berdiri tidak jauh darinya, tangan dimasukkan ke dalam saku celana, tubuhnya tegak namun santai. Wajahnya diterpa cahaya senja, menciptakan bayangan halus di sepanjang garis rahangnya.
Untuk beberapa detik, Alya hanya menatap.
Ada sesuatu dalam tatapan pria itu... tenang, tapi tidak sepenuhnya bisa dibaca. Seperti menyimpan sesuatu yang dalam, namun sengaja disembunyikan.
“Kelihatannya begitu,” jawab Alya akhirnya, berusaha terdengar biasa.
Pria itu tersenyum tipis. Senyum yang tidak berlebihan, tapi cukup untuk menciptakan celah kecil dalam jarak di antara mereka.
“Boleh duduk?”
Alya ragu.
Ini bukan hal yang biasa ia lakukan membiarkan orang asing duduk di sampingnya, apalagi berbicara. Tapi entah kenapa, ada sesuatu dalam sikap pria itu yang tidak terasa mengancam. Justru sebaliknya... terasa aman.
Ia mengangguk pelan.
Pria itu duduk di ujung bangku, menjaga jarak yang cukup. Tidak terlalu dekat, tidak juga terlalu jauh. Tapi kehadirannya tetap terasa hangat, nyata.
“Saya Arka,” katanya.
“Alya.”
Nama itu meluncur begitu saja dari bibirnya, lebih mudah daripada yang ia kira.
Hening sejenak.
Namun hening itu tidak canggung. Justru seperti jeda yang sengaja diciptakan untuk memberi ruang bagi sesuatu yang belum sempat tumbuh.
“Sering ke sini?” tanya Arka.
“Tidak,” jawab Alya singkat. “Ini pertama kali.”
Arka mengangguk, matanya masih mengarah ke langit yang mulai berubah warna.
“Saya juga.”
Alya menoleh, alisnya sedikit terangkat. “Serius?”
Arka meliriknya sekilas, lalu tersenyum.
“Tidak.”
Alya terdiam sejenak, lalu tanpa sadar tertawa kecil. Suara tawanya ringan, seperti sesuatu yang sudah lama tidak ia keluarkan.
Dan untuk pertama kalinya hari itu, dadanya terasa sedikit lega.
Angin kembali berhembus, kali ini sedikit lebih kencang. Beberapa helai rambut Alya terangkat, menyapu pipinya. Tanpa berpikir, ia menyelipkannya ke belakang telinga.
Namun sebelum tangannya kembali ke pangkuan, Arka berkata pelan, “Boleh?”
Alya menatapnya bingung.
Arka mengangkat tangannya sedikit, memberi isyarat ke arah rambut Alya yang masih berantakan oleh angin.
Alya tidak menjawab, tapi ia tidak menolak.
Dengan gerakan yang hati-hati, Arka menyentuh ujung rambutnya hanya sebentar, hanya sekilas. Tapi sentuhan itu terasa berbeda.
Hangat.
Dan entah kenapa, terlalu terasa. Alya menahan napasnya sesaat.
Sentuhan itu sederhana. Tidak berlebihan, bahkan nyaris tidak berarti. Tapi ada sesuatu dalam cara Arka melakukannya—perlahan, penuh kesadaran yang membuat jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
“Maaf,” kata Arka, menarik tangannya kembali. “Refleks.”
Alya menggeleng pelan. “Tidak apa-apa.”
Tapi ia tahu, itu bukan sepenuhnya benar.
Ada sesuatu yang berubah. Kecil, hampir tidak terlihat. Tapi cukup untuk membuat suasana di antara mereka terasa lebih dekat.
Matahari kini hampir tenggelam sepenuhnya. Cahaya keemasan berubah menjadi oranye yang lebih dalam, lalu perlahan memudar.
Lampu taman mulai menyala satu per satu.
Alya menatap ke depan, mencoba mengalihkan pikirannya. Tapi kehadiran Arka di sampingnya terasa seperti tarikan halus yang terus menarik perhatiannya kembali.
“Kenapa ke sini?” tanya Arka tiba-tiba.
Pertanyaan itu sederhana. Tapi entah kenapa, terasa lebih dalam dari yang seharusnya.
Alya terdiam.
Ia bisa saja menjawab dengan alasan biasa ingin jalan-jalan, ingin menikmati sore. Tapi itu bukan kebenaran.
Ia datang karena merasa kehilangan sesuatu.
“Cuma ingin diam,” jawabnya akhirnya.
Arka mengangguk pelan. “Tempat yang tepat.”
Alya menoleh. “Kalau kamu?”
Arka tidak langsung menjawab. Ia menatap ke depan, matanya mengikuti garis horizon yang kini hampir gelap.
“Lari,” katanya singkat.
Alya tidak bertanya lebih jauh.
Entah kenapa, ia merasa tidak perlu.
Ada hal-hal yang lebih baik dibiarkan tetap menjadi misteri setidaknya untuk saat ini.
Beberapa detik berlalu dalam diam.
Namun kali ini, diam itu terasa berbeda. Lebih berat, tapi juga lebih jujur.
Alya merasakan sesuatu yang aneh.
Ia tidak mengenal pria ini. Tidak tahu siapa dia, dari mana asalnya, atau apa yang ia sembunyikan. Tapi duduk di sampingnya, berbagi senja yang sama, membuat semuanya terasa cukup.
Seolah-olah, untuk sesaat, ia tidak perlu menjadi siapa-siapa.
“Besok ke sini lagi?” tanya Arka tiba-tiba.
Alya terkejut. “Kenapa?”
Arka mengangkat bahu. “Siapa tahu senjanya lebih bagus.”
Alya tersenyum tipis. “Atau lebih buruk.”
“Berarti kita bisa komplain bareng.”
Alya kembali tertawa kecil.
Ada sesuatu dalam percakapan itu ringan, tapi tidak kosong. Sederhana, tapi meninggalkan kesan.
Ia menatap Arka sekali lagi.
Dan untuk pertama kalinya, ia benar-benar melihatnya.
Bukan hanya wajahnya, tapi cara ia diam. Cara ia berbicara. Cara ia menatap sesuatu yang jauh, seolah-olah menyimpan cerita yang belum selesai.
Alya tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini.
Mungkin mereka tidak akan pernah bertemu lagi.
Mungkin ini hanya pertemuan singkat yang akan terlupakan dalam beberapa hari.
Tapi satu hal yang pasti Senja itu tidak lagi terasa kosong.
Dan tanpa ia sadari, sesuatu telah dimulai.
Sesuatu yang pelan. Halus. Namun perlahan… akan menjadi tak terelakkan.
Alya tidak benar-benar berniat kembali ke taman itu.
Setidaknya, itu yang ia katakan pada dirinya sendiri sejak pagi. Hari berjalan seperti biasa rapat, pekerjaan yang menumpuk, percakapan yang terasa datar. Namun di sela-sela kesibukan itu, ada sesuatu yang terus mengganggu pikirannya.
Sebuah senja.
Sebuah bangku taman.
Dan seorang pria bernama Arka.
Alya mencoba meyakinkan dirinya bahwa kemarin hanyalah kebetulan.
Hanya satu dari sekian banyak momen kecil dalam hidup yang datang dan pergi tanpa meninggalkan jejak berarti. Pertemuan singkat di taman, percakapan ringan, dan seorang pria asing bernama Arka semuanya seharusnya berhenti di sana.
Namun kenyataannya tidak sesederhana itu.
Alya diam dan berpikir...
pikirannya berantakan beradu...
hingga ia terlihat bengong dan....
21 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
Lanjutkan membaca di aplikasi
Buka aplikasi untuk membaca bab terkunci.