
Nama Yang Hilang Dari Takdir
Sena Naraya|Bersambung
- Jumlah kata
- 152.5K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 12
- Jumlah kata
- 152.5K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 12
Sinopsis
Raka Adhyatama selalu mengira dirinya hanyalah pemuda biasa.Hidupnya sederhana. Ia tinggal bersama neneknya, menjalani hari-hari tanpa banyak bertanya tentang masa lalu. Namun sejak kecil, Raka terus dihantui mimpi yang sama—sebuah kota tua yang terbakar, suara seseorang yang memanggil namanya, dan sebuah buku misterius yang selalu muncul sebelum ia terbangun.Sampai suatu malam, Raka menemukan buku itu di rumahnya.Buku yang seharusnya tidak pernah ada.Di dalamnya tertulis kejadian-kejadian tentang hidup Raka, bahkan beberapa di antaranya belum terjadi. Namun yang paling membuatnya takut adalah halaman terakhir.“Jika dia sudah menemukan buku ini, berarti ingatannya mulai kembali.”Sejak saat itu, orang-orang asing mulai memburunya. Rahasia yang selama ini disembunyikan neneknya perlahan terbongkar, dan mimpi-mimpi Raka ternyata bukan sekadar bunga tidur.Ada masa lalu yang sengaja dihapus dari ingatannya.Ada seseorang yang berusaha memastikan masa lalu itu tidak pernah kembali.Dan ada sebuah takdir yang sejak awal telah menunggu Raka.Untuk mengetahui siapa dirinya sebenarnya, Raka harus membuka satu demi satu halaman buku tersebut.Namun semakin banyak halaman yang ia baca, semakin jelas satu kenyataan yang mengerikan:Mungkin selama ini Raka bukan sedang mencari masa lalunya.Mungkin masa lalunyalah yang sedang mencarinya.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
BAB 1: BUKU YANG SEHARUSNYA TIDAK ADA
Hujan turun sejak sore.
Bukan hujan deras yang membuat atap rumah bergetar, melainkan hujan tipis dan panjang yang seolah sengaja menggantungkan malam dalam kesunyian.
Raka Adhyatama duduk sendirian di ruang tengah.
Lampu di atas kepalanya berkedip sekali.
Kemudian kembali menyala.
Raka mengangkat wajah dari buku pelajaran yang sejak lima belas menit lalu tidak benar-benar ia baca.
Matanya beralih ke jam dinding.
23.47.
Ia menghela napas.
“Nenek belum tidur?”
Tidak ada jawaban.
Raka menoleh ke arah kamar neneknya yang berada di ujung lorong. Pintu kamar itu tertutup rapat.
Biasanya, sebelum tidur, nenek selalu memeriksa apakah Raka sudah mematikan lampu ruang tengah. Namun malam ini berbeda. Sejak sore, neneknya terlihat aneh.
Lebih diam dari biasanya.
Bahkan saat makan malam, nenek hanya beberapa kali menyentuh makanannya.
Ketika Raka bertanya apakah nenek sedang sakit, perempuan tua itu hanya tersenyum.
“Tidak apa-apa.”
Jawaban yang sama.
Selalu begitu.
Raka sudah terbiasa dengan jawaban tersebut.
Sejak kecil, ia tinggal bersama neneknya. Tentang kedua orang tuanya, Raka hampir tidak pernah mendapatkan cerita yang jelas.
Setiap kali bertanya tentang ayah dan ibunya, nenek selalu mengalihkan pembicaraan.
Kadang mengatakan bahwa orang tuanya pergi jauh.
Kadang mengatakan bahwa mereka sudah tidak ada.
Dan beberapa kali, nenek hanya diam.
Raka tidak pernah memaksa.
Setidaknya sampai malam ini.
Entah kenapa, sejak bangun tidur pagi tadi, dadanya terasa tidak nyaman.
Seperti ada sesuatu yang akan terjadi.
Raka menutup bukunya.
Ia berdiri dan berjalan menuju dapur untuk mengambil air.
Saat melewati kamar nenek, langkahnya berhenti.
Ada suara.
Sangat pelan.
Seperti seseorang sedang berbicara.
Raka mendekat.
“Nenek?”
Suara itu langsung berhenti.
Beberapa detik kemudian, terdengar jawaban.
“Tidurlah, Raka.”
Raka mengerutkan kening.
“Nenek belum tidur?”
“Sudah.”
“Kalau sudah, kenapa masih bicara?”
Tidak ada jawaban.
Raka menatap pintu beberapa saat.
Ada sesuatu yang terasa ganjil.
Namun akhirnya ia memilih kembali ke ruang tengah.
Ia tidak tahu bahwa beberapa meter di belakangnya, neneknya sedang berdiri membelakangi pintu dengan wajah pucat.
Di tangannya terdapat sebuah kunci kecil berwarna hitam.
Dan di atas meja kamar itu tergeletak sebuah buku tua yang selama bertahun-tahun tidak pernah disentuhnya.
Malam semakin larut.
00.13.
Raka sudah berada di kamarnya.
Ia mencoba tidur.
Tetapi rasa gelisah itu semakin kuat.
Ia memejamkan mata.
Satu menit.
Dua menit.
Lima menit.
Lalu—
Tok.
Raka membuka mata.
Suara ketukan.
Ia duduk di tempat tidur.
“Siapa?”
Tidak ada jawaban.
Tok. Tok.
Kali ini lebih jelas.
Raka turun dari tempat tidur.
Kamar itu gelap. Hanya cahaya dari luar jendela yang masuk melalui celah tirai.
Ia berjalan perlahan menuju pintu.
Tangannya baru saja menyentuh gagang pintu ketika suara ketukan itu terdengar lagi.
Bukan dari pintu.
Raka membeku.
Tok.
Suara itu berasal dari bawah tempat tidurnya.
Ia menatap lantai.
Jantungnya berdetak lebih cepat.
“Ah, mungkin cuma sesuatu yang jatuh…”
Raka mencoba menenangkan diri.
Ia menyalakan lampu kamar.
Tidak ada apa-apa.
Dengan ragu, ia berlutut dan melihat ke bawah tempat tidur.
Kosong.
Namun ketika hendak berdiri, matanya menangkap sesuatu di sisi paling belakang.
Sebuah kotak kayu.
Raka mengerutkan kening.
Ia tidak pernah melihat kotak itu sebelumnya.
Kotak tersebut kecil, berwarna hitam kecokelatan, dengan ukiran aneh di bagian tutupnya.
Sebuah lingkaran.
Di dalam lingkaran itu terdapat simbol seperti mata yang dikelilingi garis-garis tipis.
Raka menarik kotak itu keluar.
Debu memenuhi permukaannya.
“Apa ini?”
Ia mencoba membukanya.
Terkunci.
Raka memeriksa seluruh sisinya.
Tidak ada lubang kunci.
Tidak ada engsel yang terlihat.
Ia membalik kotak tersebut.
Di bagian bawah terdapat tulisan yang hampir tidak terbaca.
Raka mendekatkan kotak ke lampu.
Tulisan itu hanya terdiri dari tiga kata.
Jangan buka sekarang.
Raka terdiam.
“Kenapa malah ada tulisan seperti ini?”
Rasa penasaran mengalahkan rasa takutnya.
Ia kembali memeriksa kotak tersebut.
Saat jarinya menyentuh simbol di bagian atas—
Klik.
Kotak terbuka sendiri.
Raka tersentak.
Ia hampir menjatuhkannya.
Di dalam kotak hanya terdapat sebuah kunci.
Kunci kecil berwarna hitam.
Raka langsung teringat sesuatu.
Kunci yang tadi ia lihat di tangan nenek.
Bentuknya sama.
Hampir persis.
“Tidak mungkin…”
Raka berdiri.
Ia hendak keluar kamar untuk menemui nenek ketika matanya menangkap sesuatu di dasar kotak.
Ada selembar kertas.
Ia mengambilnya.
Kertas itu sudah menguning.
Tulisan tangan di atasnya membuat Raka terdiam.
Ia mengenal tulisan tersebut.
Tulisan nenek.
Jika kau menemukan ini, jangan tanyakan kepada siapa pun.
Raka membaca baris berikutnya.
Terutama jangan tanyakan kepada nenekmu.
Tangannya perlahan menegang.
“Apa maksudnya?”
Ia membaca lebih lanjut.
Namun bagian bawah kertas telah robek.
Hanya tersisa beberapa kata.
Buku itu…
…di tempat yang tidak pernah kau cari.
Raka menatap kertas tersebut.
Kemudian menatap pintu kamarnya.
Ia tahu tempat yang dimaksud.
Atau setidaknya, ia punya dugaan.
Ada sebuah ruangan kecil di belakang rumah.
Ruangan itu selalu dikunci.
Sejak kecil, nenek melarang Raka masuk ke sana.
Katanya hanya gudang.
Tetapi selama sembilan belas tahun tinggal di rumah tersebut, Raka tidak pernah sekalipun melihat nenek membawa barang masuk atau keluar dari ruangan itu.
Bahkan jendelanya selalu tertutup.
Dan malam ini, untuk pertama kalinya, rasa ingin tahunya menang.
Raka keluar dari kamar.
Lorong rumah gelap.
Ia berjalan tanpa menyalakan lampu agar tidak membangunkan nenek.
Namun ketika melewati kamar nenek, ia berhenti.
Pintunya terbuka sedikit.
Raka menoleh.
“Nek?”
Tidak ada jawaban.
Ia mendorong pintu perlahan.
Kosong.
Tempat tidur nenek rapi.
Jendela tertutup.
Tetapi di atas meja terdapat sesuatu.
Sebuah foto lama.
Raka mengambilnya.
Foto itu memperlihatkan sebuah keluarga.
Seorang pria muda.
Seorang wanita muda.
Dan seorang bayi yang digendong oleh wanita tersebut.
Raka memandangi foto itu cukup lama.
Ia tidak pernah melihatnya sebelumnya.
Namun ada sesuatu yang membuat tengkuknya terasa dingin.
Bayi dalam foto itu mengenakan gelang kecil.
Gelang yang sama persis dengan gelang yang masih ia simpan sampai sekarang.
Raka menyentuh gelang di pergelangan tangannya.
“Nggak mungkin…”
Ia membalik foto.
Di bagian belakang terdapat tulisan.
Untuk Raka, sebelum semuanya dilupakan.
Raka membeku.
Untuk beberapa saat, ia bahkan lupa bernapas.
Suara hujan di luar seolah semakin jauh.
Kemudian terdengar bunyi dari arah belakang rumah.
Krek.
Raka segera memasukkan foto itu ke sakunya.
Ia tahu suara tersebut.
Pintu gudang.
Ruangan yang selama ini dilarang ia datangi.
Raka keluar dari kamar nenek.
Kunci hitam yang tadi ia temukan masih berada di tangannya.
Ia berjalan menuju belakang rumah.
Setiap langkah terasa semakin berat.
Saat tiba di depan pintu gudang, Raka mendapati sesuatu yang membuatnya semakin bingung.
Pintu itu ternyata tidak terkunci.
Padahal ia yakin selama ini pintu tersebut selalu terkunci.
Raka memegang gagangnya.
Ia ragu.
Lalu membukanya.
Kreeeek…
Bau kertas tua dan debu langsung menyambutnya.
Ruangan itu gelap.
Raka mengambil ponsel dan menyalakan senter.
Rak-rak kayu memenuhi hampir seluruh dinding.
Ada kardus.
Buku.
Kotak-kotak tua.
Tetapi tidak ada barang aneh.
Raka melangkah masuk.
Ia memeriksa satu per satu rak.
Tidak menemukan apa pun.
Sampai cahaya senter berhenti pada sebuah dinding di bagian belakang.
Ada sebuah rak yang berbeda.
Lebih besar.
Dan di tengah rak itu terdapat ruang kosong berbentuk persegi.
Seolah-olah sebuah buku besar pernah diletakkan di sana.
Raka mendekat.
Jari-jarinya menyentuh bagian belakang rak.
Terdapat ukiran simbol yang sama seperti pada kotak tadi.
Lingkaran.
Mata.
Garis-garis tipis.
Raka mengeluarkan kunci hitam dari sakunya.
Ia tidak tahu kenapa, tetapi tangannya bergerak sendiri.
Kunci itu ia masukkan ke sebuah lubang kecil yang bahkan sebelumnya tidak ia sadari.
Klik.
Rak bergeser.
Tidak banyak.
Hanya sekitar sepuluh sentimeter.
Tetapi cukup untuk memperlihatkan ruang tersembunyi di baliknya.
Raka menahan napas.
Di dalam ruang tersebut hanya terdapat satu benda.
Sebuah buku.
Buku itu sangat tua.
Sampulnya hitam dengan pola keemasan yang hampir pudar.
Tidak ada judul.
Tidak ada nama pemilik.
Raka mengambilnya.
Begitu buku tersebut menyentuh tangannya—
Brak!
Pintu gudang tertutup sendiri.
Raka tersentak dan segera berbalik.
Ia mencoba membuka pintunya.
Tidak bisa.
“Siapa di sana?”
Tidak ada jawaban.
Kemudian terdengar suara.
Bukan dari luar.
Bukan dari pintu.
Melainkan dari buku yang berada di tangannya.
Halaman buku itu terbuka sendiri.
Satu halaman.
Dua halaman.
Tiga halaman.
Kemudian berhenti.
Raka menyorotinya dengan senter.
Di halaman pertama terdapat tulisan dengan tinta hitam.
RAKA ADHYATAMA
Raka terdiam.
Di bawah namanya terdapat tanggal lahir.
Semuanya benar.
Tanggal.
Bulan.
Tahun.
Bahkan tempat kelahirannya.
Raka menelan ludah.
Ia membalik halaman berikutnya.
Ada tulisan lain.
Hari ini, pukul 00.31, Raka akan menemukan buku ini.
Raka langsung melihat jam di ponselnya.
00.30.
Matanya membesar.
“Nggak mungkin…”
Jarum detik di layar berubah.
00.31.
Pada saat yang sama, terdengar ketukan dari balik pintu gudang.
Tok.
Raka membeku.
Tok. Tok.
Seseorang berada di luar.
“Raka.”
Suara itu membuat tubuh Raka menegang.
Itu suara nenek.
“Nek?”
“Buka pintunya.”
Raka segera mendekati pintu.
Namun sebelum tangannya menyentuh gagang, matanya kembali jatuh pada buku.
Ada tulisan baru.
Tulisan yang sebelumnya tidak ada.
Tinta hitam perlahan muncul di atas kertas, seolah seseorang sedang menulis dari tempat yang tidak terlihat.
Raka membaca kalimat itu dengan napas tertahan.
JANGAN BUKA PINTU.
Raka menatap pintu.
“Nek?”
Dari luar terdengar suara nenek lagi.
“Raka, cepat buka.”
Tangannya masih menggantung di udara.
Ia tidak mengerti.
Nenek ada di luar.
Buku di tangannya mengatakan jangan membuka pintu.
Kemudian suara dari luar berubah.
Lebih rendah.
Lebih berat.
Dan yang paling membuat Raka ketakutan—
suara itu bukan lagi suara neneknya.
“Raka…”
Ketukan berhenti.
Beberapa detik berlalu.
Kemudian suara tersebut berbisik tepat dari balik pintu.
“Kau akhirnya menemukanku.”
Raka mundur beberapa langkah.
Buku di tangannya kembali membuka halaman.
Di sana hanya ada satu kalimat.
Dan sekarang, kau harus mengingat siapa dirimu sebelum mereka datang.
Daftar bab
98 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








