
Pemuda Panas Dengan Sistem Pilihan Takdir
lapet123|Bersambung
- Jumlah kata
- 134.4K
- Popular
- 79.9K
- Subscribe
- 2.8K
- Jumlah kata
- 134.4K
- Popular
- 79.9K
- Subscribe
- 2.8K
Sinopsis
Setelah ayahnya meninggal, Raven Adiprana, harus bekerja sambil bersekolah guna merawat Ibu tiri yang sakit-sakitan, dan kakak adik tirinya yang masih sekolah. Saat dia sedang mengerjakan soal ujian dalam keadaan mengantuk dan lelah, sebuah sistem pilihan takdir aktif tanpa diketahui asal usulnya, merubah kehidupan Raven berubah drastis. Entah itu ibu tirinya yang seksi, kakak tirinya yang menggoda, adik tirinya yang nakal, bunga SMA yang pemalu, semua masuk ke dalam pelukannya.
Ulasan
2 ulasan
Mang Avs Bengras
4/10/26 07:13
kebiasaan karyanya si laper ga bisa tahan lama paling pol 150 bab tamat, ganti lagi judul, padahal cerita bagus, aneh ya cepet banget tamat nya lapet lapet
merdaw
30/8/26 12:24
gak bilang-bilang kalo ada novel baru pet🗿 atau aku yang kurang sering buka komentar? yg pasti salah kamu pet
Chapter 1: Sistem Pilihan Takdir
Kabupaten Wanaraya.
15 Februari.
SMA Cakrawala Wanaraya.
"Raven, bangun!"
Seorang guru mengetuk meja dengan wajah kesal. .
Pria paruh baya itu adalah Pak Arman, guru Fisika sekaligus pengawas ujian kelas 12 D.
Semester kedua tahun terakhir SMA baru saja dimulai. Sekolah langsung mengadakan ujian simulasi untuk membantu para siswa mempersiapkan diri menghadapi Ujian Masuk Perguruan Tinggi Nasional.
Namun, ujian tersebut sebenarnya hanya ditujukan untuk kelas 12 D.
Kelas itu merupakan kelas yang sudah lama dianggap sebagai kelas buangan.
Sebagian besar siswanya memiliki nilai akademik yang buruk dan nyaris tidak memiliki harapan untuk masuk perguruan tinggi.
Pihak sekolah hanya berharap mereka mampu menyelesaikan ujian kelulusan, mendapatkan ijazah, kemudian tidak membuat masalah.
Tetapi ada satu siswa yang bahkan lebih santai daripada yang lain, membuat guru kesal.
Raven Adiprana.
Pemuda itu justru tertidur dengan kepala menempel di atas meja saat ujian berlangsung.
Pak Arman sebenarnya sudah terbiasa melihat siswa kelas 12D mencoba melirik jawaban teman.
Dia bahkan tidak terlalu peduli.
Bukan karena membenarkan kecurangan, tetapi karena kemampuan akademik sebagian besar siswa di kelas 12D memang tidak jauh berbeda. Bahkan jika mereka ingin saling membantu, belum tentu ada yang benar-benar mengetahui jawabannya.
Namun, membiarkan seorang siswa tidur selama ujian adalah masalah lain.
Jika pengawas dari pihak sekolah melihatnya, orang yang paling mungkin mendapat teguran tentu saja dirinya.
"Raven!"
Suara Pak Arman terdengar lebih keras dan marah.
Akhirnya, Raven terbangun.
Dia mengangkat kepala, menggosok matanya, lalu menguap lebar.
Kelopak mata Pak Arman berkedut.
Sebenarnya, Raven bukanlah pemuda yang buruk rupa.
Tingginya sekitar 178 sentimeter. Wajahnya memang bisa disebut tampan, proporsinya cukup baik dan tubuhnya terlihat seimbang. Jika dia sedikit lebih memperhatikan penampilan, dia pasti cukup menarik perhatian para gadis di sekolah.
Sayangnya, ekspresi malas dan sikap acuh tak acuhnya benar-benar merusak kesan tersebut.
"Maaf pak, " kata Raven lemah tanpa rasa bersalah,meski begitu dia sudah benar-benar sadar. .
"Kerjakan ujiannya dengan benar, jangan tidur lagi! " tegur Pak Arman kesal.
Dia sama sekali tidak berharap Raven mendapatkan nilai bagus, karena dia tahu berharap pada siswa yang sudah putus asa percuma saja.
Mendengar teguran gurunya, Raven hanya bisa terdiam.
Namun, dia memang tidak memiliki pilihan lain.
Raven tumbuh di keluarga miskin. Ibunya meninggal setelah dia lahir, dan ayahnya banting tulang mati-matian sampai meninggal karena kelelahan 9 bulan lalu, meninggalkan Ibu tiri yang sakit-sakitan dan kakak serta adik perempuan tiri yang menyedihkan.
Meski bisa dibilang dia tidak punya kewajiban merawat Ibu tiri dan kakak adik tirinya, tapi melihat penampilan mereka yang menyedihkan, Raven mati-matian bekerja sambilan sambil sekolah.
Hari ini dia tidur karena tidak tahan, semalam dia bekerja sampai larut dan sangat kelelahan.
"Ah... Kenapa takdir memperlakukanku semenyedihkan ini? " gumam Raven, mengeluh dalam hati.
Bukan karena dia menyalahkan takdirnya, tapi melihat teman-teman sekelasnya yang bisa bersenang-senang setelah pulang sekolah, dia jujur sangat iri.
"Ugh... Fokus, fokus sama ujian... Kalau gak aku gak bakal bisa lulus SMA, " pikir Raven getir.
Meski ini ujian simulasi untuk masuk Perguruan Tinggi, tapi Raven tidak berniat masuk universitas.
Dia lebih memilih bekerja untuk kakak adik tirinya yang cantik.
Raven menatap lembar soal di hadapannya.
Dia bahkan tidak memahami sebagian besar pertanyaan yang tercetak di sana.
"A+B=C, ah , mending pake logika pria aja jawabnya, bikin pusing, " gumam Raven murung.
Tatapannya berhenti pada soal berikutnya.
"Yang ini... D."
Raven mencoret pilihan D.
Ding!
Sebuah suara elektronik tiba-tiba terdengar di dalam kepalanya.
[Selamat kepada Host karena memperoleh Sistem Pilihan Takdir!]
Raven terdiam.
Sistem?
Dia mengerutkan kening.
Dia hanya memilih jawaban D, tetapi tiba-tiba sebuah sistem muncul di kepalanya?
Apa ini takdir legendaris yang biasa muncul di Komik China?!
Raven menunggu beberapa detik.
Tidak terjadi apa-apa.
Dia kemudian tersenyum getir.
"Mungkin aku terlalu lelah dan berhalusinasi. "
Namun, baru saja dia hendak mengerjakan soal berikutnya—
"Ding!"
[Terdeteksi Host Salah Menjawab Soal.]
[Host, silakan pilih salah satu opsi berikut.]
{Opsi 1: Tidak menulis apa pun pada soal ini}
{Hadiah: Tidak ada}
{Opsi 2: Menuliskan jawaban yang benar, B , pada lembar ujian}
{Hadiah: Paket Hadiah Pemula}
Raven membeku.
Matanya perlahan membesar karena terkejut.
"Tunggu...Ini benar-benar nyata?! "
Dia membaca layar hologram biru di depannya berkali-kali sambil menggosok matanya.
Kali ini, ekspresi malas di wajahnya benar-benar menghilang.
"Benar-benar ada..."
Baru sekarang dia menyadari bahwa suara sebelumnya bukanlah halusinasi.
Layar sistem di depannya benar-benar asli!
"Raven, fokus pada soalmu!" suara keras Pak Arman membuat Raven tersadar.
"Baik, pak! "
Raven menjawab dengan penuh semangat.
Suaranya yang terlalu keras membuat beberapa siswa di kelasnya menoleh.
"Kenapa Raven keras banget jawabnya, nyari mati kah? "
"Udah gendeng, biarin aja deh. "
"Si tukang ngantuk itu, wajar gendeng. "
Bisikan-bisikan sinis terdengar dari berbagai penjuru kelas.
Raven sama sekali tidak peduli.
Hubungannya dengan teman-teman sekelas memang tidak pernah baik. Sebagian besar memandang rendah dirinya karena kondisi keluarganya yang miskin.
Namun, semuanya akan segera berubah mulai sekarang!
Raven bersemangat memikirkan sistem.
"Jawaban yang bener B, "
Raven mengganti jawaban tersebut dengan hati-hati di lembar ujian.
"Ding!"
[Host telah menyelesaikan pilihan.]
[Hadiah: Paket Hadiah Pemula telah diberikan.]
[Silakan periksa Penyimpanan Sistem! }
Dalam sekejap, dua buah kotak misterius muncul di dalam pikirannya.
Raven menatapnya dengan penuh antusias.
"Buka Paket Hadiah Pemula! " kata Raven bersemangat.
"Ding!"
[Paket Hadiah Pemula berhasil dibuka.]
[Selamat kepada Host Mendapatkan Pengetahuan Dunia dan Penguatan Fisik! }
Boom!
Dalam sekejap, informasi dalam jumlah luar biasa membanjiri pikiran Raven.
Matematika.Fisika.Kimia, dll.
Pengetahuan yang ada di Bumi masuk ke lautan pengetahuan Raven. Tidak cuman itu, tubuh Raven terasa hangat dan badannya kini terasa segar!
Raven terdiam beberapa saat, lalu menahan senyumnya.
"Ini benar-benar nyata! Dengan sistem ini, kehidupanku benar-benar akan berubah! " Raven hampir menangis bahagia.
Kemudian, dia mulai fokus dan kembali melihat lembar ujian di hadapannya.
Soal yang sebelumnya tampak rumit kini terlihat sederhana berkat hadiah sistem
Jawaban untuk setiap pertanyaan isian langsung muncul di kepalanya.
Tangannya bergerak cepat.
Satu soal.
Lima soal.
Sepuluh soal.
Semakin lama, gerakannya semakin lancar.
Hanya satu soal terakhir yang membuatnya berhenti sedikit lebih lama.
Soal tersebut merupakan pertanyaan paling sulit dalam ujian.
Raven mengernyitkan dahi, melakukan beberapa perhitungan di kertas coretan sebelum akhirnya menemukan jawabannya.
Perubahan Raven tidak luput dari perhatian siswa di sekitarnya.
Teman sekelas mereka yang sebelumnya tertidur selama ujian kini justru mengerjakan soal dengan kecepatan luar biasa.
Tangannya bergerak tanpa henti, memenuhi lembar jawaban dan kertas coretan dengan berbagai rumus.
"Raven pasti ngasal. "
"Kalau ngasal mah aku juga bisa. "
"Dia sering pulang larut malam buat kerja, mana ada waktu buat belajar, kan? "
"Haha, kuyakin ngasal. "
Daftar bab
125 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
125 bab








