Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Semar Mesem Pembawa Keberuntungan

Semar Mesem Pembawa Keberuntungan

Dang Aldo | Bersambung
Jumlah kata
85.1K
Popular
11.7K
Subscribe
1.1K
Novel / Semar Mesem Pembawa Keberuntungan
Semar Mesem Pembawa Keberuntungan

Semar Mesem Pembawa Keberuntungan

Dang Aldo| Bersambung
Jumlah Kata
85.1K
Popular
11.7K
Subscribe
1.1K
Sinopsis
18+PerkotaanSupernaturalHarem21+Mengubah Nasib
[Warning 21+] [Pria Penakluk Tante] [Hasrat Liar] "Ahhh... kamu sangat pintar sekali Andre," desah wanita itu saat merasakan bagaian bawahnya terasa penuh. Andre harus menerima pekerjaan menjadi pemuas wanita dewasa, karena terdesak biaya kuliah dan kebutuhan hidup. Awalnya dia kira, hidupnya akan terjebak di lingkaran gairah wanita dewasa itu saja, tetapi saat menyadari dia memiliki Semar mesem yang membuatnya memiliki pesona dan kharisma, serta membuatnya mampu memahami hal baru dengan cepat, membuat Andre berlahan mengubah takdir dan nasibnya, dari pemuas gairah wanita dewasa menjadi Milyarder yang di gilai wanita dewasa yang haus belaian tangan dinginnya.
1. Andre

Kring! Kring! Kring!

Andre, yang baru saja selesai merapikan buku-buku kuliahnya, menatap layar ponsel yang menyala. Nama Ibu tertera di sana. Senyum tipis sempat terbit di bibirnya, ia mengira itu adalah kabar baik mengenai uang kiriman bulanan yang memang sudah jatuh tempo hari ini.

Namun, begitu tombol hijau digeser dan ponsel ditempelkan ke telinga, senyum itu perlahan luntur.

"Andre... kamu sehat, Nak?" suara Ibu di ujung telepon terdengar bergetar, tertahan oleh tawa canggung yang dipaksakan untuk menutupi kecemasan.

"Sehat, Bu. Ibu sama Bapak gimana di rumah?" jawab Andre santai, menyandarkan punggungnya ke dinding kamar kos yang agak lembap.

"Oiya Bu, kiriman bulanan udah bisa ditransfer hari ini? Maaf banget nanya, dompet Andre udah mepet banget, tinggal dua puluh ribu buat makan malam."

Tidak ada jawaban instan. Hanya ada suara helaan napas berat dan desir angin malam yang tertangkap oleh mikrofon telepon dari desa tempat tinggal orang tuanya.

"Ibu... maafin Ibu sama Bapak ya, Andre," ucap Ibu lirih. Tone suaranya berubah drastis, menyiratkan duka yang teramat sangat.

Kening Andre berkerut.

"Maksud Ibu gimana? Ada apa di rumah?" Tanya Andre.

"Ladang cabai sama jagung kita... habis, Nak. Semalam hujan deras banget di atas bukit, tanahnya longsor dan menimbun semua ladang desa. Ladang Bapak sama sekali gak ada yang tersisa. Gagal panen total..." Suara Ibu pecah, tangisnya yang ditahan akhirnya pecah juga di ujung telepon.

Jantung Andre serasa berhenti berdetak saat itu juga. Tenggorokannya langsung terasa kering, kata-kata yang sudah ia siapkan lenyap begitu saja.

"G-gagal panen...?" bisik Andre pelan, meyakinkan bahwa ia tidak salah mendengar.

"Semuanya, Bu?"

"Semuanya, ndre. Bukan cuma punya kita, punya tetangga juga hancur semua. Modal yang kemarin Bapak pakai pinjam dari koperasi juga hangus..." suara Bapak kini terdengar di latar belakang, mencoba menenangkan Ibu sembari mengambil alih ponsel. "Andre, ini Bapak, Nak."

"Bapak..." suara Andre terdengar bergetar.

"Terus gimana?" Tanya Andre.

"Bapak minta maaf ya, Nak. Untuk bulan ini, Bapak gak bisa kirim uang makan kamu, apalagi buat persiapan bayar UKT semester depan. Jangankan buat kuliah kamu, buat makan sehari-hari keluarga di desa aja Bapak masih bingung harus nyari ke mana," ujar Bapak dengan suara parau. Beban berat yang dipikul pria tua itu terasa sangat nyata meski hanya lewat saluran telepon.

Andre terduduk lemas di pinggir kasur tipisnya. Ia mengepalkan tangan, menatap lantai kamar kosnya yang dingin. Dalam hatinya, terlintas keinginan mendesak untuk segera pulang ke desa. Ia ingin mendampingi orang tuanya, melihat sendiri kondisi ladang, dan menenangkan Ibu.

Namun, kenyataan pahit menghantamnya kembali: uang di dompetnya bahkan tidak cukup untuk membeli tiket bus antar-kota.

"Bapak... Andre mau pulang aja deh, Pak," potong Andre mendadak, matanya mulai memerah.

"Andre mau pulang ke rumah sekarang."

"Jangan, Nak. Jangan pulang dulu," potong Bapak cepat.

"Uang kamu di sana pasti udah gak ada kan buat beli tiket? Bapak sama Ibu tadi udah diskusi. Nanti Bapak coba pinjam uang dulu ke Paman atau sanak saudara kita di kota kecamatan. Nanti kalau dapat uangnya, Bapak transfer buat kamu beli tiket bus, biar kamu bisa pulang ke desa."

Andre terpaku.

"Pinjam uang ke saudara lagi?" Pikiran itu membuat dadanya makin sesak.

Andre tahu betul bagaimana perangai saudara-saudaranya yang sering memandang sebelah mata keluarga mereka jika urusan uang.

"Bapak..." sambung Bapak pelan, "Bapak rasa... kamu ambil cuti kuliah aja dulu satu semester ini, ya? Nanti kamu pulang ke desa, bantu-bantu Bapak nyari kerjaan serabutan di sini sampai ekonomi keluarga kita membaik. Kalau situasi udah stabil, baru kamu lanjut kuliah lagi. Gimana?"

Mendengar kata cuti, ada sesuatu dalam diri Andre yang bergejolak. Cuti satu semester sama saja menunda masa depannya, dan belum tentu dalam setengah tahun ekonomi keluarganya bisa kembali pulih. Lagipula, ia sudah berjuang sejauh ini untuk masuk ke universitas impiannya.

"Gak, Pak. Andre gak mau ambil cuti," tegas Andre, memotong pembicaraan dengan nada mantap meskipun hatinya hancur.

"Andre, jangan paksain diri kamu. Biaya di kota itu besar, Nak," sela Ibu yang kembali mengambil ponsel dari Bapak.

"Ibu gak tega bayangin kamu kebingungan di sana tanpa uang."

"Ibu, dengarin Andre," Andre berusaha mengatur napasnya agar tidak terdengar panik di hadapan Ibunya.

"Andre gak bakal cuti. Andre bakal tetap kuliah, dan Andre bakal nyari kerja part-time di sini. Andre bisa kerja kok, Bu. Ibu sama Bapak gak usah khawatir soal biaya hidup Andre di kota."

Di ujung telepon, hening sejenak. Bapak dan Ibu saling bertukar pandang di rumah mereka yang jauh. Mereka tahu betul betapa keras kepalanya putra tunggal mereka jika sudah memiliki kemauan.

"Kamu yakin, Nak?" tanya Bapak akhirnya dengan nada penuh kecemasan.

"Bekerja sambil kuliah itu gak mudah. Kamu belum pernah kerja berat sebelumnya."

"Andre yakin, Pak. Andre udah dewasa, Andre bisa usahain ini sendiri."

Bapak menghela napas panjang.

"Ya sudah kalau itu emang keputusan kamu, Bapak sama Ibu gak bakal melarang. Tapi ingat ya, Andre... kalau kamu merasa gak mampu, kalau keadaannya makin berat, langsung hubungi Bapak. Jangan dipendam sendiri. Walaupun gak banyak, Bapak sama Ibu bakal tetap berusaha nyari bantuan buat kamu di sini, sebisanya kami." Ujar Bapak.

"Iya, Pak. Makasih banyak. Bapak sama Ibu jaga kesehatan di sana, ya."

"Iya, Nak. Kamu juga di sana baik-baik. Maafin Bapak sama Ibu ya..."

"Gak apa-apa, Bu, Pak. Andre tutup dulu teleponnya."

Klik.

Panggilan terputus. Suasana kamar kos yang berukuran 3x3 meter itu seketika terasa sangat sunyi dan mencekat. Andre melempar ponselnya ke atas kasur, lalu menyandarkan punggungnya ke tembok dingin. Kedua tangannya mengusap wajahnya dengan kasar.

Setelah panggilan terputus, Andre termenung. Sejujurnya dia tidak tahu harus kerja apa, karena selama ini dia hanya fokus kuliah dan nongkrong bareng teman-temannya, tanpa pernah terpikirkan untuk bekerja.

Jika bekerja, dia harus kerja apa yang bisa menghasilkan uang yang dalam jumlah besar, karena biaya kosannya besar, apalagi UKT kuliahnya mencapai 50 juta satu semesternya.

Dengan tangan bergetar, Andre mengambil dompet kulit lusuhnya dari atas meja. Andre membuka dompetnya, hanya ada dua lembar 10ribu untuk membeli makan malam nanti. Dua puluh ribu rupiah, hanya itu benteng pertahanannya untuk menyambung hidup esok hari.

Ting!

Satu benda kecil jatuh dari dompetnya dan terpelanting pelan di lantai semen. Andre membungkuk, lalu mengambil benda tersebut. Rupanya itu adalah pusaka Semar Mesem pemberian mendiang kakeknya beberapa tahun lalu.

Dulu kakeknya berpesan jika ini bisa memberikan keberuntungan bagi siapa saja yang menyimpannya dengan tulus.

Andre mengusap Semar Mesem itu sambil berkata pelan, "Mbah... kalau memang Semar Mesem ini benar-benar bawa keberuntungan, buatlah aku jadi pria paling beruntung sekarang. Aku butuh jalan keluar..."

Tidak berselang lama, seolah menjawab bisikan pasrahnya, ponsel Andre kembali berdering nyaring di atas kasur.

Andre menoleh cepat. Kali ini bukan dari orang tuanya, tetapi dari Dion, salah satu temannya di kampus. Secercah harapan muncul di mata Andre, karena selama ini dia mengenal Dion adalah sosok pekerja keras, bahkan mampu membiayai hidupnya dan kuliahnya sendiri dengan gaya hidup yang terbilang cukup mewah.

Tanpa membuang waktu, Andre mengangkatnya. "Halo, Yon?"

"Oi, Ndre! Lagi di kosan gak lo? Suara lo lemes amat kaya belum makan tiga hari," sapa Dion dari ujung telepon, terdengar penuh energi diiringi musik latar khas kafe.

"Gua emang lagi pusing banget, Yon," sahut Andre tanpa basa-basi lagi. Rasa gengsinya runtuh seketika oleh desakan situasi. Andre pun menceritakan masalahnya pada Dion—mulai dari bencana tanah longsor di desanya, kegagalan panen orang tuanya, hingga keputusasaannya memikirkan tunggakan kosan dan UKT 50 juta yang membendung di depan mata.

Dion terdengar menyimak di seberang sana. Begitu cerita Andre selesai, bukannya memberikan simpati yang menyedihkan, Dion malah tertawa terkekeh.

"Lah, malah ketawa lo! Gua lagi serius ini, pusing tujuh keliling!" protes Andre kesal.

"Duh, Ndre, Ndre... sorry, sorry," Dion meredakan tawa gokilnya.

"Gua ketawa soalnya lo panik banget. Dengerin gua ya, brother. Lo gak perlu khawatir berlebihan gitu. Kalau lo mau ikutin saran dan langkah gua, gua jamin lo gak akan kekurangan apapun. Jangankan cuma 50 juta buat bayar UKT, uang jajan lo sehari-hari juga bakal tumpah-tumpah. Mau tahu caranya gak?"

Lanjut membaca
Lanjut membaca