
- Jumlah kata
- 1.9K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 5
Sinopsis
Di desa kecil tempat semua orang saling kenal, hidupku ya… gitu-gitu aja.Nggak punya kerjaan tetap.Sering diremehkan.Dan jujur aja—aku sendiri juga mulai ngerasa, mungkin mereka benar.Sampai aku nekat.Nyatain perasaan ke anak Pak Kades… dan ditolak mentah-mentah di depan orang banyak.Bukan cuma ditolak.Tapi juga dibuat sadar—kalau aku ini nggak ada apa-apanya.---Hari itu harusnya jadi hari paling memalukan dalam hidupku.Tapi ternyata… itu baru awalnya.---Beberapa hari setelah itu, aku nemuin buku tua di gudang rumah simbah.Buku kosong… yang tiba-tiba bisa nulis sendiri.Nama perempuan.Dan anehnya, semua nama yang muncul di situ… benar-benar masuk ke hidupku.---Ada yang harus aku dekati.Ada yang justru harus aku hindari.Kalau aku nurut… hidupku jadi gampang.Rezeki mulai datang, orang mulai berubah sikap, dan entah kenapa… perempuan mulai mendekat satu per satu.Tapi kalau aku nekat melanggar—semua langsung berantakan.---Masalahnya…nggak semua yang ditulis di buku itu gampang dijalanin.Ada godaan.Ada pilihan yang bikin aku mikir dua kali.Dan ada situasi yang… jelas-jelas bisa bikin semuanya jadi rumit.---Sekarang aku cuma punya satu pegangan:Ikuti buku itu…atau kembali jadi aku yang dulu.---Tapi semakin aku jalanin…aku mulai sadar satu hal—mungkin ini bukan sekadar soal keberuntungan.Dan mungkin…nggak semua yang mendekat itu benar-benar untukku.--
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Namaku Bayu, Buku dan jimat kayu
Namaku Bayu.
Dan kalau ada hari yang pengen aku hapus dari hidupku… mungkin ini salah satunya.
---
Sore itu, lapangan desa lagi agak rame.
Anak-anak kecil main bola, bapak-bapak duduk di pinggir sambil ngerokok, ibu-ibu lewat sambil bawa belanjaan.
Suasana biasa.
Harusnya biasa.
---
Aku berdiri di depan Rina.
Anak Pak Kades.
---
Jujur aja, aku nggak pernah ngebayangin bakal sampai di titik ini.
Nyatain perasaan.
Apalagi ke dia.
Tapi entah kenapa, hari ini aku nekat.
Mungkin karena capek cuma jadi penonton.
Mungkin juga karena… aku pengen sekali aja nggak jadi orang yang cuma diam.
---
“Aku mau ngomong bentar,” kataku.
Rina berhenti. Noleh ke aku.
Tatapannya datar. Biasa aja.
“Ngomong aja.”
---
Aku tarik napas.
Jantungku nggak karuan.
“Aku suka kamu.”
---
Hening.
Beneran hening.
Suara bola yang ditendang anak-anak tadi kayak langsung hilang.
Atau mungkin cuma aku aja yang terlalu fokus.
---
Rina nggak langsung jawab.
Dia cuma lihat aku beberapa detik.
Lalu… senyum tipis.
Bukan senyum yang aku harapin.
---
“Kamu serius?” tanyanya.
“Aku nggak lagi bercanda.”
---
Dia melipat tangan.
Matanya naik turun, menilai aku dari atas sampai bawah.
Dan entah kenapa… itu bikin aku nggak nyaman.
---
“Bayu,” katanya pelan, “kamu tahu kan posisi kamu di mana?”
---
Kalimat itu langsung kena.
Kayak ditampar… tapi tanpa suara.
---
Beberapa orang mulai melirik ke arah kami.
Aku bisa ngerasain.
Tapi aku pura-pura nggak peduli.
---
“Aku bukan orang yang bisa kamu kejar cuma modal nekat,” lanjutnya.
“Aku juga nggak butuh orang yang… bahkan belum jelas kerja apa.”
---
Ada yang ketawa kecil di belakang.
Aku nggak perlu nengok buat tahu siapa.
---
Aku diam.
Nggak karena nggak punya jawaban.
Tapi karena… semuanya terasa percuma.
---
“Aku butuh orang yang punya masa depan,” katanya lagi.
“Nggak cuma perasaan.”
---
Dia berhenti sebentar.
Lalu menatapku sekali lagi.
---
“Jadi… Tolong Sadar Diri
---
Selesai.
Sesimpel itu.
Hancur ? Sudah pasti .
---
Dia pergi.
Tanpa nunggu jawabanku.
Tanpa lihat lagi.
---
Aku tetap berdiri di situ.
Beberapa detik.
Atau mungkin lebih.
Aku nggak tahu.
---
Yang jelas… untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku ngerasa kecil banget.
Bukan cuma ditolak.
Tapi… diremehin.
Sampah...
Remahan roti...
Nasi yang mengering di magicom
---
“Berani juga lu, Yu.”
Suara itu muncul dari samping.
Aku nengok.
Arman.
Orang yang paling tidak aku inginkan ada disitu.
Anak juragan beras sombong yang selalu menyombongkan harta orang tuanya
---
Dia berdiri sambil nyengir.
Kayak lagi nonton hiburan.
---
“Tapi ya… tau diri juga lah,” katanya santai.
“Rina itu siapa, lu itu siapa.”
" Dirumah Ga ada kaca ? "
---
Aku nggak jawab.
Nggak ada gunanya juga.
---
Dia ketawa kecil.
“Nekat sih boleh. Tapi jangan mimpi ketinggian.”
---
Aku cuma senyum tipis.
Bukan karena setuju.
Tapi karena… aku lagi nggak pengen ribut.
---
Aku jalan pergi.
Ngelewatin mereka semua.
Yang tadi lihat.
Yang tadi denger.
Yang mungkin… besok bakal ngomongin ini lagi di warung.
---
Dan jujur aja…
aku udah bisa nebak kalimatnya:
> “Si Bayu? Yang nembak anak Pak Kades itu?”
“Halah… berani sih, tapi ya gitu.”
---
Aku pulang tanpa tujuan jelas.
Langkah kaki rasanya berat.
Kepala penuh.
---
Namaku Bayu.
Umurku dua puluh tiga tahun.
Tinggal di sebuah desa kecil bernama Karangjati, di sebuah negara yang orang-orangnya lebih suka hidup tenang… tapi nggak pernah berhenti ngomongin orang lain.
---
Aku tinggal sama ibuku.
Sejak bapak meninggal beberapa tahun lalu, hidup kami ya… seadanya.
Ibu jualan kecil-kecilan.
Aku?
Kadang bantu. Kadang nggak.
---
Pengangguran yang punya duit ga pernah lebih dari dua puluh ribu hasil ngutil di laci dagangan Ibuku.
Bukan karena aku nggak mau berubah.
Cuma… aku belum tahu harus mulai dari mana.
---
Tapi hari ini…
aku mulai ngerasa satu hal.
---
Mungkin mereka benar.
Mungkin aku memang… nggak punya apa-apa.
---
Aku sampai rumah.
Langsung masuk.
Nggak banyak ngomong.
Ibu lagi di dapur, aku cuma bilang:
“Aku ke belakang dulu.”
---
Gudang rumah sudah lama nggak dibuka.
Tempat penuh barang lama… dan kenangan yang nggak pernah disentuh lagi.
---
Aku masuk.
Bau debu langsung nyambut.
Mataku tertuju pada samsak milik ayah yang masih tergantung pada tempatnya .
" Biar gak jadi bisul . Aku luapkan emosiku pada samsak ini "
Tapi baru sekali pukul . Kayu penyangga dan tali nya putus , jatuh menimpa kakiku.
---
" Jancxxxkk "
“Kenapa hari ini rasanya apes banget sih” gumamku pelan.
- Gagal ngutil karena sepi pembeli
- ditolak Rina
- diketawain Arman
- ketiban samsak
---
Aku duduk sembarangan.
Ngelihat sekitar.
Nggak jelas lagi ngapain.
---
Sampai mataku berhenti di satu benda.
---
Sebuah buku tua.
Ketutup debu.
Yang jatuh bersama samsak dan kayu penyangganya
---
“Apa lagi ini…”
Aku ambil.
Ngelap sampulnya pelan.
---
Buku itu… aneh.
Nggak ada judul.
Nggak ada tanda apa-apa.
---
Aku buka.
Kosong.
---
“Buku rusak, ya…”
---
Aku hampir nutup lagi.
Tapi—
tanganku berhenti.
---
Ada sesuatu yang berubah.
---
Di halaman kosong itu…
muncul tulisan.
Pelan.
Seolah-olah… ada yang lagi nulis dari dalam.
---
Aku langsung kaku.
Nggak gerak.
---
Huruf demi huruf mulai terbentuk.
---
“Sari.”
---
Aku bengong.
---
“Sari…?”
---
Belum sempat aku mikir—
sesuatu di leherku terasa hangat.
---
Aku refleks nyentuh.
Sebuah jimat kayu kecil.
Entah sejak kapan… ada di situ.
---
Dan sebelum aku sempat ngerti apa yang terjadi—
---
tok… tok… tok…
---
Suara ketukan dari pintu gudang.
---
“Bayu? Kamu di rumah?”
---
Aku kenal suara itu.
---
Sari.
Tetangga sebelah.
---
Aku diam.
Beberapa detik.
---
Lalu pelan-pelan menelan ludah.
---
“…kok bisa?”
---
Daftar bab
2 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








