
Cowok Panggilan: Apa yang Lu Mau, Gua Ada
Bp. Juenk|Bersambung
- Jumlah kata
- 31.3K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 5
- Jumlah kata
- 31.3K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 5
Sinopsis
Seorang Pemuda harus menambah sidejob Palugada untuk menambal semua kebutuhan hidup nya. beban penyakit mertua dan adik ipar yang menjadi tanggung jawabnya. Namun keputusan membuka jasa panggilan Palugada membawa Bram ke sebuah dunia baru yang sulit untuk ditolak nya.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
1.
Bau minyak kayu putih menyengat, bersaing ketat dengan aroma dinding semen basah yang belum sempat diaci di dapur rumah sewaan tipe 36 kawasan Pondok Aren. Lampu neon lima watt di atas kepala berdegung halus, memancarkan cahaya kekuningan yang redup dan melelahkan.
Bram meletakkan kuncinya di tepi meja kayu yang salah satu kakinya sudah diganjal potongan kardus mi instan agar tidak goyang.
Tangan kanannya, yang sela-sela jarinya masih menyimpan garisan hitam bekas oli matik yang enggan hilang meski sudah digosok sabun cuci piring, terulur menggeser tiga lembar kertas kusam berwarna merah muda.
Di atas kertas itu, bertengger sebuah gelas kopi hitam yang sudah dingin, meninggalkan lingkaran noda kecokelatan di samping deretan angka tulisan tangan kasir apotek.
"Resep yang dari Dokter Setyo tidak bisa diganti generik lagi, Mas," suara Cika pecah dari balik pintu kamar mandi yang terbuat dari plastik murah. Bunyi kecipak air dari gayung yang menepuk dasar ember seng terdengar berirama, melengkapi kelelahan malam itu.
"Petugas apoteknya bilang, obat hipertensi sama pengikat fosfat Bapak yang ini sudah habis jatah BPJS-nya bulan ini. Kalau mau ambil tunai, dua ratus delapan puluh ribu."
Bram tidak langsung menjawab. Ia menarik kursi plastik biru, mendaratkan badannya yang pegal setelah delapan jam menggenjot dongkrak buaya dan membongkar blok mesin CVT milik Honda Beat karbu di bengkel.
Ia mengusap wajahnya yang terasa berminyak, membiarkan keheningan mengisi celah-celah dapur kecil mereka.
Pintu kamar mandi berderit terbuka.
Cika keluar sambil menyanggul rambutnya yang masih basah dengan jepitan kepiting warna hitam. Daster kain santung motif batik miliknya sudah pudar di bagian bahu.
Dulu, tujuh tahun lalu saat Bram memboyongnya dari kampung halaman, pipi Cika berisi dan matanya selalu berbinar tiap kali Bram pulang membawa martabak telur.
Kini, lingkaran hitam melingkari kelopak matanya yang cekung, menandakan akumulasi tidur yang selalu terputus oleh rengetan bayi dan erangan sakit sang ayah di kamar sebelah.
"Terus, uang kas ujian praktik Reno di SMK berapa?" tanya Bram pelan, suaranya serak akibat terlalu banyak menghirup asap knalpot dan racun pembersih karburator seharian.
"Tiga ratus ribu. Paling lambat hari Jumat," Cika mendaratkan bokongnya di kursi berseberangan. Tangannya yang kasar bergerak menggeser selembar kertas putih berstempel sekolah yang terlipat tiga.
"Reno tadi sore pulang sekolah langsung masuk kamar. Tidak mau makan. Katanya malu kalau besok nama dia dipanggil wali kelas lagi di depan teman-temannya gara-gara belum melunasi biaya bahan bengkel."
"Kinan sudah tidur?"
"Baru saja. Batuknya masih agak berat. Susu formulanya tinggal dua sendok takar. Paling cuma cukup buat nanti subuh kalau dia terbangun."
Cika menangkupkan kedua tangannya di atas meja, menatap jemari Bram yang kasar dan ternoda oli.
"Uang sisa gaji Mas kemarin masih ada?"
Bram menghela napas panjang melalui hidung, menahannya sejenak di dada sebelum melepaskannya perlahan. Bau bensin samar-samar tercium dari napasnya sendiri.
Ia merogoh saku celana jeans kusamnya yang sudah menipis di bagian lutut, mengeluarkan dompet kulit yang pinggirannya sudah terkelupas parah.
Di dalamnya, tersusun dua lembar uang lima puluh ribuan, satu lembar dua puluh ribu, dan beberapa keping koin lima ratusan.
Ia membeberkan lembaran uang itu di atas meja kayu yang melengkung. Total tidak sampai seratus tiga puluh ribu rupiah.
"Gaji pokok Mas dua juta delapan ratus, Cik. Dipotong pinjaman minggu lalu lima ratus buat panjar rumah sakit Bapak waktu sel darah merahnya drop. Bayar kontrakan satu juta seratus. Bayar listrik token dua ratus. Sisanya sudah kamu pegang kemarin buat beli beras sama telur," Bram menjelaskan dengan nada paling tenang yang bisa ia himpun, meski dadanya terasa sesak seolah dihantam martil.
Cika membuang muka ke arah dinding dapur yang mengelupas. Matanya berkaca-kaca, namun tidak ada air mata yang jatuh—hanya kemarahan dingin yang terakumulasi dari rasa kehabisan napas secara finansial.
"Mas... Bapak itu seminggu dua kali harus ke klinik cuci darah. Sekali jalan naik angkutan umum dua kali, belum taksi daring kalau Bapak sudah lemas tidak kuat jalan. Kalau obatnya tidak ditebus, tekanan daratnya naik, terus drop lagi kayak bulan lalu. Kita mau dapat uang dari mana lagi?" suara Cika memelan, namun justru makin menekan setiap urat saraf di kepala Bram.
"Aku tidak bisa ditinggal kerja, Mas. Kinan masih tiga tahun, Bapak jangankan jalan ke depan, berdiri dari tempat tidur saja harus dipegangi. Ibu sudah tidak ada... siapa lagi yang mau urus rumah kalau aku ikut kerja pabrik?"
"Mas tidak minta kamu kerja, Cik."
"Tapi kalau cuma mengandalkan bengkel Bang Jon, kita mati perlahan, Mas!" Cika akhirnya menaikkan nada bicaranya semu, matanya melotot menahan sesak yang membakar tenggorokannya.
"Tiap minggu ada saja yang kurang! Mas itu laki-laki, kepala keluarga. Mas harus putar otak bagaimana caranya bawa uang lebih banyak ke rumah ini! Pengeluaran ini tidak bisa direm, Mas! Beda kalau kita cuma butuh makan garam, ini urusan nyawa Bapak sama masa depan adikku!"
Kata-kata itu menghantam Bram tepat di ulu hati. Tidak ada teriakan murka dari Bram. Ia tidak membela diri, tidak juga menyalahkan Cika. Ia tahu, setiap kata yang diucapkan istrinya adalah kebenaran yang telanjang, tajam, dan tidak memberi ruang untuk alasan.
Bram menatap cangkir kopinya yang mendingin. Di atas permukaan air hitam yang tenang itu, ia memandangi bayangan wajahnya sendiri yang terpantul samar: garis rahang yang tegas, mata cokelat gelap yang dalam, dan hidung bancung lurus.
Wajah yang kata orang-orang tua dulu 'terlalu bagus untuk seorang montir yang hidup di selokan'. Namun di dunia nyata, wajah tampan tidak bisa ditukarkan dengan dua kotak obat pengikat fosfat di kasir apotek, tidak pula bisa membayar lembaran kertas ujian praktik Reno.
"Iya," kata Bram singkat. Suaranya rendah, nyaris tenggelam oleh dengung lampu neon di atas mereka.
Ia meraih tangan Cika yang dingin dan gemetar, menggenggamnya erat meski istrinya sempat berusaha menariknya karena dipenuhi kekesalan. Lemak oli di sela jarinya menempel tipis di kulit punggung tangan Cika.
"Iya, Cik. Mas cari jalannya. Besok sore obat Bapak sudah ada di atas meja ini. Uang kas Reno juga bakal Mas pegang."
"Cari jalan dari mana, Mas? Mau pinjam uang lagi sama Bang Jon? Bang Jon tadi siang telepon aku, menagih tunggakan pinjaman bulan lalu yang belum lunas!" potong Cika, suara dan napasnya memburu.
"Jangan janji-janji saja kalau cuma mau bikin aku tenang malam ini!"
"Mas tidak bakal pinjam uang lagi," jawab Bram tegas, menatap lurus ke dalam mata istrinya yang sembap.
"Mas masih punya dua tangan yang utuh, masih punya badan sehat. Bengkel kan tutup jam lima sore. Sisa malamnya masih panjang. Apa saja yang bisa dikerjakan, Mas kerjakan."
Cika terdiam. Amarahnya yang tadinya membumbung perlahan meluruh, berganti rasa kasihan yang ganjil saat melihat bahu suaminya yang terkulai kelelahan. Ia tahu Bram sudah bekerja membanting tulang hingga punggungnya bengkok di bengkel saban hari. Namun realita di sekitar mereka tidak memberi ruang sedikit pun untuk rasa kasihan.
Dari kamar tengah, terdengar derak tempat tidur kayu tua diikuti erangan pelan. Suara Pak Danu yang serak dan tersiksa.
"Cika... air..."
Cika menghela napas panjang yang bergetar. Ia menarik tangannya perlahan dari genggaman Bram, lalu berbalik mengambil gelas plastik bersih di rak piring. Tanpa mengucap sepatah kata pun lagi, ia melangkah cepat menuju kamar ayahnya, meninggalkan Bram sendirian di dapur yang dingin.
Bram menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi plastik yang melengkung. Ia merogoh saku kemeja kerjanya yang tergantung di balik pintu, mengambil sebuah ponsel pintar murah dengan kaca layar yang sudah retak seribu di sudut kanan atas.
Ditinggal sendiri bersama dengung lampu neon dan lingkaran noda kopi di atas meja, Bram memandangi jemarinya sendiri. Garis-garis hitam bekas oli itu seolah sudah menyatu dengan pori-pori kulitnya.
Ia menelan ludah, merasakan pahit yang berkumpul di tenggorokan, lalu membuka aplikasi media sosial di ponselnya.
Malam itu, di antara himpitan dinding semen yang belum selesai diaci dan desakan angka-angka tagihan yang tak kenal ampun, sebuah keputusan kecil berakar di kepala Bram. Langkah pertama dari sebuah jalan panjang yang kelak akan mengubah seluruh garis hidupnya.
Daftar bab
25 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








