
Sistem Pengeluaran Tak Terbatas
1 seconds|Bersambung
- Jumlah kata
- 112.2K
- Popular
- 144
- Subscribe
- 78
- Jumlah kata
- 112.2K
- Popular
- 144
- Subscribe
- 78
Sinopsis
Arsen Vale dipecat setelah tiga tahun bekerja keras. Saat hidupnya berada di titik terendah, sebuah sistem misterius tiba-tiba aktif dan memberinya Rp10 miliar. Namun uang itu bukan hadiah biasa. Setiap kali Arsen menyelesaikan misi dan membelanjakan uang sesuai aturan sistem, kekayaannya justru semakin bertambah. Dari karyawan yang diremehkan, Arsen mulai membangun bisnis, menguasai investasi, dan menghadapi orang-orang yang dulu menginjak-injaknya. Tetapi semakin kaya dirinya, semakin besar pula rahasia di balik sistem yang ia miliki. Kekayaan tanpa batas telah dimulai. Dan kali ini, Arsen bukan lagi orang yang bisa diremehkan.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Hari Ketika Semuanya Berakhir
Hujan turun deras ketika Arsen Vale berdiri di depan pintu ruang direktur dengan pakaian yang masih sedikit basah. Sejak pagi, firasat buruk terus mengikutinya, tetapi ia tidak pernah menyangka hari itu akan menjadi hari ketika seluruh hidupnya berubah.
"Mulai hari ini, kamu tidak perlu datang lagi."
Kalimat itu terdengar begitu sederhana, tetapi bagi Arsen, rasanya seperti seseorang baru saja menarik lantai dari bawah kakinya.
Ia menatap pria di balik meja besar tersebut.
Direktur Hendrawan.
Pria berusia lima puluh tahun itu duduk santai di kursinya. Di atas meja terdapat beberapa dokumen, sebuah laptop, dan amplop putih yang sejak tadi membuat perhatian Arsen tertuju ke sana.
Arsen menarik napas.
"Pak, saya ingin tahu alasannya."
"Tidak perlu diperpanjang."
"Saya bekerja di perusahaan ini selama tiga tahun. Saya selalu menyelesaikan pekerjaan tepat waktu. Bahkan proyek yang sedang berjalan sekarang masih saya pegang."
Hendrawan menyandarkan tubuhnya.
"Perusahaan sedang melakukan restrukturisasi."
Arsen hampir tertawa mendengarnya.
Restrukturisasi.
Alasan paling aman untuk membuang seseorang tanpa perlu menjelaskan keadaan sebenarnya.
"Kalau memang masalahnya kinerja, saya bisa menerima evaluasi. Tapi saya ingin tahu kenapa saya yang dipilih."
Hendrawan menatapnya beberapa detik.
"Karena keputusan ini sudah dibuat."
Arsen terdiam.
Tidak ada penjelasan.
Tidak ada kesempatan membela diri.
Tiga tahun bekerja, datang paling pagi dan pulang paling akhir, mengorbankan waktu bersama keluarga, bahkan beberapa kali mengerjakan proyek perusahaan sampai dini hari.
Semua itu ternyata hanya bernilai sebuah amplop putih.
Arsen mengambil surat pemutusan kerja tersebut.
Tangannya tidak gemetar.
Ia justru merasa terlalu tenang.
"Baik."
Hendrawan tampak sedikit terkejut karena Arsen tidak memohon.
Namun sebelum Arsen keluar, sebuah suara datang dari sudut ruangan.
"Setidaknya sekarang perusahaan bisa bernapas lebih lega."
Arsen berhenti.
Ia mengenal suara itu.
Dimas.
Manajer yang baru enam bulan lalu dipromosikan menjadi kepala divisi.
Arsen menoleh.
Dimas berdiri dengan kedua tangan bersedekap dan senyum tipis di wajahnya.
"Jangan terlalu dipikirkan, Arsen. Dunia kerja memang seperti itu."
Arsen menatapnya.
"Benarkah?"
"Tentu."
"Kalau begitu, saya juga berharap kamu menikmati posisi barumu."
Dimas mengangkat alis.
"Apa maksudmu?"
Arsen tidak menjawab.
Ia hanya berjalan keluar.
Namun sebelum pintu tertutup, Dimas berkata lagi.
"Ngomong-ngomong, proyek yang kamu kerjakan selama tiga bulan itu sekarang akan menjadi tanggung jawab saya."
Langkah Arsen berhenti.
Ia perlahan menoleh.
Dimas tersenyum lebih lebar.
"Tenang saja. Saya akan membuatnya jauh lebih sukses."
Kini Arsen mengerti.
Pemecatan ini bukan sekadar restrukturisasi.
Dimas menginginkan proyeknya.
Dan Hendrawan memilih memberikannya.
Arsen menatap mereka berdua untuk beberapa detik sebelum akhirnya berkata,
"Semoga berhasil."
Kemudian ia pergi.
Tidak ada kemarahan.
Tidak ada permohonan.
Tetapi dalam hati, Arsen sudah mengambil satu keputusan.
Ia tidak akan kembali.
Di lobi gedung, beberapa mantan rekan kerja memperhatikannya dari kejauhan.
Ada yang pura-pura sibuk.
Ada yang berbisik.
Ada pula yang terlihat puas.
Arsen berjalan melewati mereka tanpa mengatakan apa pun.
Begitu keluar dari gedung, hujan langsung membasahi bahunya.
Ia berdiri di bawah kanopi sambil melihat amplop putih di tangannya.
Tiga tahun.
Selesai dalam satu pagi.
Ponselnya bergetar.
Pesan dari pemilik kos masuk.
Pembayaran kamar bulan ini belum diterima.
Arsen memejamkan mata sebentar.
Tabungannya tidak banyak.
Setelah membayar kebutuhan bulan ini, mungkin hanya tersisa beberapa juta.
Tidak cukup untuk bertahan lama tanpa pekerjaan.
Ia memasukkan ponsel ke saku dan berjalan menuju halte.
Saat itulah sesuatu yang aneh terjadi.
Layar ponselnya tiba-tiba berubah.
Bukan aplikasi.
Bukan pesan.
Sebuah panel transparan muncul tepat di depan matanya.
Arsen berhenti.
[Sistem Kekayaan Tak Terbatas sedang melakukan sinkronisasi.]
Ia mengerjapkan mata.
Panel itu masih ada.
[Identitas pengguna telah dikonfirmasi.]
[Selamat, Arsen Vale.]
[Anda telah memenuhi persyaratan untuk menjadi pengguna Sistem Kekayaan Tak Terbatas.]
Arsen melihat sekeliling.
Orang-orang berjalan melewatinya seperti tidak melihat apa pun.
"Apakah saya sedang bermimpi?"
Panel berikutnya muncul.
[Tidak.]
Arsen membeku.
Sistem menjawab pertanyaannya.
Kemudian angka besar muncul di hadapannya.
[Saldo Sistem: Rp10.000.000.000]
Arsen menatap angka tersebut.
Sepuluh miliar.
Ia hampir mengira matanya salah.
Panel berikutnya muncul.
[Aturan Sistem.]
[Dana sistem tidak dapat ditransfer secara cuma-cuma kepada pihak lain.]
[Dana harus digunakan untuk memenuhi misi.]
[Setiap misi yang berhasil diselesaikan akan memberikan pengembalian dana dan bonus.]
Arsen membaca setiap kalimat dengan serius.
Lalu sebuah notifikasi baru muncul.
[Misi Pemula telah tersedia.]
[Gunakan Rp100.000.000 dalam waktu 24 jam.]
[Syarat: Dana harus digunakan untuk konsumsi, investasi, aset, atau aktivitas bisnis yang sah.]
[Reward: Pengembalian seluruh dana yang digunakan + Rp100.000.000.]
Arsen menatap panel tersebut.
Jika sistem itu benar, ia hanya perlu menghabiskan seratus juta untuk mendapatkan kembali uang tersebut sekaligus memperoleh tambahan seratus juta.
Tetapi masih ada satu masalah.
Ia belum percaya.
Arsen membuka aplikasi perbankan di ponselnya.
Saldo rekeningnya masih sama.
Tidak ada perubahan.
Namun sistem menampilkan tombol baru.
[Akses Rekening Sistem.]
Arsen menekan tombol itu.
Layar ponselnya berubah.
Sebuah rekening baru muncul.
Saldo:
Rp10.000.000.000
Arsen terdiam.
Ia mencoba mentransfer seribu rupiah ke rekening biasa.
Transaksi berhasil.
Seribu rupiah masuk.
Arsen menatap layar ponsel dalam diam.
Selama tiga tahun, ia selalu menghitung uang sebelum membeli makanan.
Hari ini, sebuah sistem memberinya sepuluh miliar.
Ia kembali memikirkan wajah Dimas.
Pria itu baru saja mengambil proyeknya.
Mungkin Dimas berpikir Arsen sudah kalah.
Mungkin Hendrawan menganggap hidup Arsen akan berantakan setelah keluar dari perusahaan.
Arsen tersenyum tipis.
Untuk pertama kalinya hari itu, wajahnya terlihat santai.
Ponselnya kembali bergetar.
[Misi Pemula memiliki waktu tersisa: 23 jam 47 menit.]
[Peringatan: Kegagalan misi akan menyebabkan sistem dikunci selama 30 hari.]
Arsen memasukkan ponsel ke saku.
Ia menatap gedung perusahaan dari kejauhan.
Kemudian ia berjalan menuju jalan utama.
Namun baru beberapa langkah, sistem menampilkan satu pemberitahuan terakhir.
[Terdeteksi target yang memenuhi syarat untuk misi tambahan.]
Arsen berhenti.
[Target: Dimas.]
[Hubungan: Mantan rekan kerja.]
[Status: Menggunakan proyek milik pengguna untuk memperoleh promosi.]
[Misi Face-Slapping tersedia.]
Arsen membaca kalimat berikutnya.
[Buat target tersebut mengakui bahwa keputusan memecat Anda adalah kesalahan.]
[Reward: Rp500.000.000 + Hak Istimewa Sistem.]
Arsen perlahan mengangkat kepalanya.
Di lantai atas gedung itu, Dimas masih berdiri di balik jendela.
Pria itu sedang melihat ke arahnya.
Dimas tersenyum, seolah yakin Arsen tidak akan pernah bisa kembali ke dunia mereka.
Arsen membalas senyum itu.
Kali ini, senyumnya jauh lebih percaya diri.
Karena Dimas belum mengetahui satu hal.
Mulai hari ini, pria yang mereka anggap sebagai karyawan gagal telah memiliki sesuatu yang bahkan tidak bisa dibeli oleh perusahaan mereka.
Sistem Kekayaan Tak Terbatas.
Dan misi pertamanya baru saja dimulai.
Daftar bab
87 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








