
- Jumlah kata
- 3.7K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 3
Sinopsis
Setiap malam, Kevin membuka siarannya dengan suara yang tenang, memulai dengan kata-kata sederhana: "Hai, ini Kevin." Nama itu, yang dulu hanya sekadar panggilan, kini menjadi penanda dalam setiap hari yang ia lalui. Kevin bercerita bukan tentang kisah besar, tapi tentang kekosongan yang ia bawa setiap malam. Apa yang membuatnya membuka setiap siaran tanpa tujuan yang jelas? Apa yang ia cari di balik sapaan sederhana: "Hai, Kevin"? Kisah ini mengajak kita menyelami setiap hari yang dilalui Kevin, di mana setiap suara, setiap hening, membawa kita lebih dekat pada sebuah kebenaran yang masih menjadi misteri dalam kehidupan.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bagian 1 - Akhirnya "Hai Kevin"
Siang itu, langit menggantung kelabu di atas kota yang tak pernah benar-benar diam. Awan mendung menutup cahaya, namun jalanan tetap sesak—klakson bersahutan tanpa henti, kendaraan merayap di tengah kemacetan, dan debu beterbangan seperti kabut tipis yang menyesakkan. Kota ini dulu menjadi tujuan banyak orang, tempat di mana mimpi terasa mungkin. Namun kini, segalanya berubah. Terlalu banyak yang datang hanya untuk mengambil, hingga perlahan pesona kota ini memudar. Ramai masih ada, tapi rasanya kosong. Dan di tengah kekosongan itu, hidup terasa semakin berat.
Di sebuah sudut, Kevin duduk dengan tubuh sedikit membungkuk. Ia menghabiskan hisapan terakhir rokoknya, lalu meneguk kopi yang mulai kehilangan hangatnya di tangan kanan. Tatapannya kosong, seolah menembus hiruk-pikuk di depannya, namun tidak benar-benar melihat apa pun.
“Begini ya rasanya cari uang…” gumamnya pelan, hampir tak terdengar. Ia menggaruk kepalanya, napasnya berat. “Kenapa burung di udara bisa hidup tanpa harus mikir… sementara gue harus terus bergerak cuma buat makan…”
Matanya perlahan terangkat, menatap langit yang tertutup awan.
“Tahu nggak, Tuhan… gue capek.” Suaranya lirih, tapi jujur. “Cicilan numpuk… semuanya kayak nggak ada habisnya…” Ia terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis, getir.
“Tapi ya sudahlah… napas yang masih Kau kasih ini aja… mungkin udah lebih dari cukup.”
Kedua tangannya menepuk kursi pelan, seolah mencoba menguatkan diri sendiri.
“Oii! Keviiin! Ayo!”
Teriakan itu memecah lamunannya. Seorang pria berlari ke arahnya dengan napas tersengal, wajahnya terlihat panik.
“Apa?!” sahut Kevin, sedikit kesal.
“Gue nyariin lo dari tadi! Ke mana aja sih?” pria itu membentak di sela napasnya.
“Lah, lo juga tahu akhir-akhir ini gue di sini terus,” jawab Kevin santai.
“Udah, nggak usah banyak omong. Cepat ke kantor. Bu Karina nungguin lo dari tadi.”
Kevin langsung menoleh. “Kenapa?”
“Segmen yang lo usul kemarin… kayaknya mau di-ACC.”
Kevin berdiri seketika. “Serius?”
“Serius! Makanya cepetan!”
Tanpa banyak bicara lagi, Kevin segera berlari.
Pintu ruangan terbuka perlahan. Udara di dalam terasa lebih dingin, lebih sunyi. Seorang wanita duduk di kursi putarnya, menatap Kevin dengan ekspresi tegas.
“Hai, Kevin…” ucapnya singkat.
Kevin menunduk. “Maaf, Bu…”
“Saya akan ACC ide kamu,” potong wanita itu tanpa basa-basi. “Tapi dengar baik-baik.”
Kevin terdiam.
“Mulai sekarang kamu harus fokus. Disiplin. Ide kamu itu… jujur saja, tidak masuk akal. Tapi saya tetap kasih kesempatan karena kamu meyakinkan saya dua minggu lalu.”
Nada suaranya datar, namun penuh tekanan.
“Asal kamu tahu, saya sudah minta tim kreatif untuk bantu kamu. Ini bukan sekadar program… ini soal posisi kamu di sini. Kalau segmen ini gagal—” ia berhenti sejenak, menatap tajam, “—kamu keluar.”
Kevin menelan ludah. Wajahnya mulai pucat.
“Baik, Bu…”
“Mulai malam ini, jam tujuh, segmen kamu tayang.”
Kevin refleks melihat jam. “Bu… ini sudah jam enam.”
“Saya tidak mau tahu. News Reels sudah saya pindahkan. Sisanya kamu atur sendiri sampai jam dua pagi.”
“Tapi, Bu—”
“Kerjakan.” Suaranya tegas. “Pendapatan kita menurun. Saya tidak mau dengar alasan. Buktikan ide kamu itu layak.”
Kevin terdiam beberapa detik, lalu mengangguk. “Baik, Bu.”
Waktu berjalan cepat.
Kevin duduk di depan laptop, jari-jarinya bergerak cepat. Keringat mulai muncul di pelipisnya. Ia membuka berbagai halaman, mencari referensi, menyiapkan alur, menata kata-kata. Dalam waktu kurang dari 45 menit, semuanya harus siap.
Empat puluh lima menit berlalu.
Ruang siaran mulai hidup.
“Audio aman.”
“Musik pengantar aman.”
“Semua siap.”
Lampu merah menyala.
“Roll… dan action.”
Kevin menarik napas dalam. Untuk sesaat, dunia di luar seakan lenyap. Yang tersisa hanya dirinya… dan mikrofon di hadapannya.
“Hallo, sobat pendengar… Kevin di sini.”
Suaranya berubah—lebih hangat, lebih tenang.
“Gimana kondisi kalian hari ini? Semoga baik-baik saja…”
Ia memberi jeda, membiarkan suasana masuk perlahan.
“Malam ini… rasanya nggak afdol kalau kita nggak ngobrol bareng. Buat kalian yang lagi patah hati, lagi galau… atau mungkin ada yang cuma butuh didengar…”
Ia mendekat sedikit ke mikrofon.
“Kevin di sini siap dengerin.”
Senyumnya tipis, tapi terasa dalam suaranya.
“Jangan ragu buat telepon ke nomor yang nanti gue bagikan. Dan satu hal… kita punya password malam ini…”
Ia menarik napas pelan.
“‘Hai Kevin.’”
Lampu studio tetap menyala. Sunyi terasa lebih dalam.
“Gue bakal nemenin kalian… sampai jam dua pagi. Jadi… jangan ke mana-mana.”
Di luar sana, kota masih ribut.
Namun di dalam ruang itu—
malam baru saja dimulai.
Tiba-tiba…
Kringgg…
Suara telepon masuk memecah kesunyian studio.
Kevin langsung memberi isyarat ke operator. Lampu kecil berkedip—panggilan masuk.
“Hallo… Hai Kevin di sini,” ucapnya dengan nada ramah.
Di seberang sana, terdengar suara pria. Berat. Sedikit gemetar.
“Kak… saya dari Bali… saya bingung sekali.”
Kevin langsung mengubah nada suaranya, lebih lembut.
“Pelan-pelan, Pak… kenapa? Cerita saja. Saya dengerin.”
“Saya baru selesai masak… tapi istri saya bilang uang makan untuk besok sudah hampir habis… saya bingung harus tanya ke siapa…” suaranya mulai bergetar. “Sebulan lalu saya juga kena musibah…”
Kevin menunduk sedikit, fokus.
“Musibah apa, Pak, kalau boleh tahu?”
“Kaki saya… kecelakaan.”
Ia menarik napas berat.
“Kaki kiri saya… sekarang saya sudah tidak bisa kerja lagi…”
Suasana studio mendadak terasa lebih dingin.
“Jadi sekarang… pemasukan tidak ada?” tanya Kevin pelan.
“Iya… uang tinggal tiga ratus ribu… itu pun sudah menipis. Saya cuma kepikiran… besok makan apa…”
Kevin terdiam sesaat. Kata-kata seperti tertahan di tenggorokannya.
“Saya harus bagaimana, Kak?” lanjut pria itu. “Apa saya harus… judi online atau—”
“Eh, jangan, Pak!” potong Kevin cepat, nadanya tegas tapi tetap hangat. “Jangan sampai ke situ. Kita cari cara lain, ya…”
Kevin menarik napas, lalu menatap ke arah kaca studio.
“Buat teman-teman pendengar di luar sana… mungkin malam ini kita bisa sama-sama bantu Bapak ini. Siapa pun yang tergerak… nanti bisa hubungi kami. Saya juga akan bantu secara pribadi.”
Di balik kaca, operator menatap Kevin. Ragu.
“Nomor Bapak sudah masuk di sistem kami. Nanti tim akan hubungi kembali, ya Pak.”
“Terima kasih… terima kasih banyak…” suara pria itu terdengar lega, meski masih lemah.
“Tapi ini bukan penipuan, kan, Pak?” tanya Kevin hati-hati.
“Tidak, Kak… kalau tidak percaya, silakan datang ke rumah saya…”
Kevin mengangguk pelan, meski tak terlihat.
“Baik, Pak. Kita usahakan bersama. Yang penting Bapak jangan putus harapan.”
“Iya, Kak…”
“Dan… terima kasih sudah bertahan sampai hari ini.”
Telepon terputus perlahan.
Di balik kaca studio, pintu tiba-tiba terbuka keras.
Bu Karina masuk dengan wajah tegang. Tanpa bicara, ia menyodorkan selembar kertas ke arah Kevin.
Tulisan di kertas itu tegas, besar:
“UANG PRIBADI. BUKAN UANG KANTOR. JANGAN BERANI PINJAM.”
Jantung Kevin seakan berhenti sesaat.
Ia masih on air.
Suaranya harus tetap stabil.
Namun di dalam dirinya… semuanya mulai goyah.
Di satu sisi, ada aturan.
Di sisi lain… ada manusia yang butuh pertolongan.
Kevin menatap mikrofon di depannya.
Lampu merah masih menyala.
Dan untuk pertama kalinya malam itu—
ia benar-benar diuji.
Bersambung...
Daftar bab
4 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








