
KKN ENAK: Cupu Jadi Idaman
Sony35|Bersambung
- Jumlah kata
- 76.2K
- Popular
- 10.5K
- Subscribe
- 640
- Jumlah kata
- 76.2K
- Popular
- 10.5K
- Subscribe
- 640
Sinopsis
(21+)Reza yang cupu dan introvert parah sedang menjalani Kuliah Kerja Nyataa di sebuah desa terpencil. Di sana semuanya berubah, karena dia malah menjadi idaman baik oleh teman KKN yang anehnya hanya dia seorang yang laki-laki dan delapan cewek yang semuanya cantik. Awalnya dia sering di bully dan jadi pesuruh mereka, tetapi kemudian Reza mendapatkan petuah dari sesepuh desa sehingga membiat Reza menjadi idaman para cewek itu (21+)
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
1. Yang Tak Pernah Dianggap
Tawa itu meledak di sudut kantin, memantul di dinding-dinding yang dipenuhi poster acara kampus yang sudah using warnanya. Reza Firmansyah berdiri kaku di tengah keramaian, nampan berisi dua gelas es teh dan sepiring nasi goreng masih ia pegang, sementara cairan teh yang tumpah menetes pelan dari ujung meja ke lantai keramik.
"Astaga, Reza, kamu nggak lihat jalan apa gimana sih?" Vania Almira Putri menepis rok bagian bawahnya yang terkena cipratan, wajahnya memerah campuran jengkel dan jijik. "Udah tahu badan segede gini, jalan aja nggak becus."
Beberapa mahasiswa di sekitar menoleh. Sebagian menahan senyum, sebagian lagi pura-pura sibuk dengan ponsel masing-masing—padahal diam-diam mencuri dengar. Reza merasa wajahnya panas, bukan karena marah, tapi karena malu yang sudah terlalu sering ia rasakan hingga rasanya seperti pakaian yang tak pernah bisa dilepas.
"Maaf, Van. Aku nggak sengaja," ucapnya pelan, hampir berbisik, sambil meletakkan nampan itu di meja terdekat dan mengambil tisu dari saku celana.
"Ya udah, lain kali hati-hati. Atau jangan-jangan emang dari sononya kamu clumsy begini?" seorang teman Vania menimpali, disusul tawa kecil dari yang lain.
Reza tidak membalas. Ia hanya membungkuk sedikit, mengelap sisa tumpahan dengan tisu yang sudah mulai basah, lalu berjalan menjauh sambil membawa nampan kosong. Ini bukan kali pertama. Sudah tiga tahun ia kuliah, dan sudah tiga tahun pula ia menjadi bahan olokan yang seolah tak pernah kehabisan alasan.
Cupu. Culun. Kuper. Label-label itu menempel padanya sejak semester pertama—entah karena kacamata tebal yang selalu ia pakai, entah karena ia lebih sering menghabiskan waktu di perpustakaan daripada nongkrong di kafe kampus, atau mungkin karena ia tak pernah punya keberanian membalas ejekan dengan kata-kata tajam seperti kebanyakan mahasiswa lain. Yang lebih menyakitkan, reputasi itu bukan cuma dikenal di angkatannya sendiri. Entah bagaimana ceritanya, nama Reza sudah jadi semacam bahan candaan lintas fakultas—viral kecil-kecilan di story dan grup angkatan, jadi bahan tertawaan orang-orang yang bahkan belum pernah ia temui secara langsung.
Ia menghela napas panjang, duduk sendirian di bangku taman kampus yang teduh oleh pohon mahoni. Dari kejauhan, ia bisa melihat Vania dan teman-temannya masih tertawa, entah membicarakan apa—mungkin dirinya, mungkin bukan. Reza sudah lelah menebak-nebak.
Ponselnya bergetar. Notifikasi grup WhatsApp kelas menyala terang di layar.
**[PENGUMUMAN KKN — PEMBAGIAN KELOMPOK SUDAH RILIS, CEK SIMASTER SEKARANG]**
Jantung Reza berdesir. KKN—Kuliah Kerja Nyata, program wajib semester akhir yang selama ini ia nanti-nantikan sebagai kesempatan memulai lembaran baru, jauh dari lingkungan yang terlalu mengenalnya sebagai "si cupu yang gampang diinjak." Ia buru-buru membuka aplikasi kampus, mengetik NIM-nya, dan menunggu halaman termuat.
Nama kelompoknya muncul: **Kelompok 17 — Desa Wonorejo Kidul.**
Ia scroll ke bawah, membaca daftar anggota satu per satu. Delapan nama yang sebagian besar asing baginya—kecuali satu.
Aurelia Ratnasari. Salsabila Kirana. Kenanga Puspita. Nayla Andini Putri. Zahra Amelia Wijaya. Bunga Anindita Pramesti. Intan Permata Sari.
Dan satu nama yang membuat jantungnya mencelos: **Vania Almira Putri**—gadis yang baru sepuluh menit lalu memarahinya di kantin.
Reza baru sadar, dari delapan nama itu, hanya Vania yang benar-benar ia kenal secara langsung. Yang lain sepertinya dari fakultas dan angkatan berbeda—wajah-wajah yang mungkin pernah berpapasan di koridor kampus, tapi tak pernah benar-benar ia kenal namanya.
Belum sempat ia mencerna kenyataan itu, ponselnya bergetar lagi. Grup WhatsApp baru muncul: **"KKN Wonorejo Kidul - Kel 17."** Sudah ada beberapa pesan masuk, padahal grup itu baru dibuat lima menit lalu.
*Salsabila Kirana: "Woy kenalan dulu yuk, kita kan belum pada kenal semua wkwk"*
*Kenanga Puspita: "Iya nih anak2 IPS FE FISIP campur aduk kayaknya kelompok kita"*
*Vania Almira Putri: "GUYS. Liat deh nama terakhir. Reza Firmansyah. Tahu kan siapa dia , Si Cupu"*
Reza menahan napas, jempolnya berhenti di atas layar.
*Salsabila Kirana: "OMG serius?? Yang katanya salah masukin data terus dimarahin dosen di depan kelas itu?"*
*Nayla Andini Putri: "Eh iya iya, aku pernah liat storynya anak² FISIP! Katanya emang culun parah org nya"*
*Bunga Anindita Pramesti: "Wkwkwk kok kelompok kita apes amat, cewek 8 sama dia doang cowoknya"*
*Kenanga Puspita: "Yaudalah kasian juga sih, mungkin nggak seburuk yg dibilang org2"*
*Vania Almira Putri: "Ih Ken baik amat, dia tuh beneran nyusahin org kalo kerja kelompok, td aja tumpahin es teh ke rokku"*
Pesan-pesan itu terus mengalir, saling bersahutan, seolah Reza bukan manusia yang punya perasaan—melainkan topik pembicaraan yang kebetulan juga tergabung dalam grup yang sama. Beberapa nama seperti Aurelia, Zahra, dan Intan belum ikut berkomentar, hanya membaca diam-diam—tapi ketidakhadiran mereka dalam obrolan itu justru terasa seperti persetujuan diam-diam.
Reza menatap layar ponselnya lama, dadanya sesak. Ia tidak mengenal tujuh dari delapan gadis itu, tapi rupanya reputasinya sebagai bahan olok-olok sudah menyebar jauh melampaui lingkaran pertemanannya sendiri—menjadi semacam "legenda kampus" yang bahkan orang-orang yang belum pernah bertemu dengannya pun sudah tahu, sudah menghakimi, sudah menertawakan.
Notifikasi lain muncul—kali ini pesan pribadi dari Aurelia Ratnasari, yang rupanya ditunjuk jadi ketua kelompok.
*"Reza, maaf ya soal obrolan di grup tadi. Tolong koordinasi logistik ya, kita berangkat hari Senin. Kamu yang urus barang-barang kelompok, soalnya kamu kan yang paling available waktu-waktu ini."*
Reza menatap pesan itu lama. Ada permintaan maaf di sana, tapi juga penugasan yang sudah dianggap pasti akan ia terima tanpa bantahan—seolah karena ia laki-laki satu-satunya, otomatis ia yang harus mengangkat, membawa, dan mengurus segala hal berat.
Ia mengetik balasan singkat: *"Oke, siap."*
Padahal di dalam hatinya, ada sesuatu yang menjerit pelan—lelah, ingin menolak, ingin sekali saja diperlakukan setara, ingin sekali saja dikenal sebagai dirinya sendiri, bukan sebagai cerita yang beredar dari mulut ke mulut.
Malam itu, saat mengemasi barang-barang untuk keberangkatan, Reza berdiri di depan cermin kamar kosnya yang sempit. Ia menatap pantulan dirinya—rambut yang jarang tertata rapi, kacamata yang selalu melorot, dan sorot mata yang tampak lelah meski usianya baru dua puluh dua tahun.
"Delapan orang yang bahkan belum kenal aku... tapi udah nge-judge duluan," gumamnya pelan. "Mungkin di sana juga bakal sama aja."
Ia tidak tahu, malam itu, bahwa desa kecil bernama Wonorejo Kidul akan mengubah segalanya. Ia tidak tahu bahwa kesalahan sepele—salah masuk rumah karena tersesat di kegelapan—akan mempertemukannya dengan seseorang yang telah menunggu kedatangannya, jauh sebelum ia sendiri tahu jalan hidupnya akan berbelok.
Ia hanya menutup ranselnya, mematikan lampu kamar, dan tidur dengan pikiran penuh keraguan—tanpa menyadari bahwa esok adalah awal dari kisah yang akan mengubah segalanya.
Daftar bab
70 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








