
PENGEMBARA KEJAM
Iqbal Nasution|Bersambung
- Jumlah kata
- 71.8K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 12
- Jumlah kata
- 71.8K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 12
Sinopsis
Berlatar belakang gejolak dunia persilatan Jawa kuno, Pengembara Kejam mengisahkan perjalanan Ciasanto—Pendekar Naga Sakti dari Lembah Merapi—yang terpaksa keluar dari kehidupan tenangnya demi menghadapi ancaman baru yang mengintai keluarganya. Ketika kelompok sesat yang dipimpin oleh Palaka, si Iblis Gunung Utara, menculik istrinya, Budiasih, dan putranya, Handiko, Ciasanto harus berhadapan dengan muslihat politik dan ancaman tersembunyi. Dengan kecerdikan dan kearifan seorang pendekar sejati, Ciasanto menyembunyikan puncak kesaktiannya demi membebaskan anak dan istrinya tanpa memicu pertumpahan darah yang lebih luas. Namun, kedamaian tak bertahan lama. Di Kuil Dewa Bumi, Ciasanto dipertemukan dengan Jaka Sentana, putra piatu dari mendiang saudara angkatnya, Pangeran Radita. Mengetahui bahwa orang tua Jaka tewas secara tragis akibat konspirasi pejabat kerajaan dan Perkumpulan Bunga Hijau, Ciasanto mengangkat anak tersebut serta meresmikan ikatan sumpah saudara antara Jaka dan Handiko. Di tengah bayang-bayang dendam masa lalu dan ambisi kaum sesat utara, Sang Pendekar Naga Sakti harus kembali berdiri tegak demi melindungi keluarga dan menegakkan keadilan di tanah air.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
DARAH DI BAWAH LANGIT MAJAPAHIT
Tahun-tahun itu berjalan dengan langkah yang berat, seolah langit Jawa memikul kesedihan yang tak sanggup ditumpahkan sekaligus. Di antara tahun 1404 hingga 1406, ketika panji-panji Majapahit masih berkibar tinggi menantang cakrawala, bara perpecahan diam-diam menyala di dalam dada kerajaan sendiri. Bara itu tumbuh menjadi api Paregreg, perang saudara yang mengoyak darah dari tubuh yang sama.
Di satu sisi berdiri Wirabhumi, dikelilingi kesetiaan para panglima dan pengikut yang rela menukar napas dengan kehormatan.
Di sisi lain berdiri Wikramawardhana, membawa kekuatan yang menggelegar seperti guntur panjang di musim hujan. Ketika tombak beradu dan keris meminum darah, bumi seolah mengerang pelan, sementara angin malam membawa suara ratapan yang terbang menuju hutan-hutan sunyi.
Hari-hari perang berubah menjadi musim kematian. Sungai-sungai membawa warna merah yang muram, sedangkan burung gagak berputar rendah di langit kelabu seperti utusan nasib yang tak pernah mengenal belas kasih.
Dan ketika debu pertempuran akhirnya jatuh kembali ke tanah, kemenangan berada di tangan Wikramawardhana.
Wirabhumi tertangkap. Takdirnya diputus dengan dingin, seperti lilin yang dipadamkan oleh tangan tanpa ragu. Para panglima serta pendukungnya menerima hukuman yang sama. Bahkan keluarga mereka ikut diseret menuju bayang-bayang maut. Namun sebagian kecil berhasil melarikan diri, membawa luka, dendam, dan rahasia gelap ke dalam pekatnya malam.
Mereka menghilang ke balik rimba yang tua, ke lereng gunung yang diselimuti kabut, dan ke desa-desa yang enggan menyebut nama sendiri. Namun dendam tidak pernah mati bersama jasad. Ia tidur seperti ular hitam di bawah batu, menunggu waktu untuk membuka mata dan menampakkan taringnya sekali lagi pada suatu malam tanpa pertanda kelam.
*****
Embun-embun pagi yang berkilauan di ujung daun-daun, kicau burung pada pagi hari yang amat cerah dan indah itu selalu mendatangkan kegembiraan pada semua makhluk, kecuali manusia!
Manusia terlalu diperbudak oleh perasaan yang timbul karena terlalu menonjolkan keakuannya. Manusia terlalu mudah mengeluh, juga terlampau mudah mabuk. Di waktu menghadapi peristiwa yang tidak menyenangkan, manusia mengeluh seolah-olah dialah orang yang paling sengsara di dunia ini, dan di waktu menikmati peristiwa yang menyenangkan, manusia menjadi mabuk dan lupa diri!
Di dalam hutan di lereng bukit pada pagi hari itu pemandangannya amatlah indahnya. Dari ujung daun-daun dan rumput sampai kepada awan, semua seolah-olah tersenyum gembira bersama cahaya matahari pagi yang lembut dan menghidupkan.
Akan tetapi, seorang wanita yang berjalan mendaki lereng bukit itu, yang memanggul tubuh seorang pria, berjalan sambil menangis sedih!
Sungguh, di manapun juga di dunia ini, selalu terdapat manusia yang merasa sengsara dan tenggelam dalam kedukaan. Wanita itu masih sangat muda dan cantik sekali, paling banyak dua puluh tiga tahun usianya, berwajah serius dan gagah. Biarpun dia memanggul tubuh seorang pria di pundaknya, namun langkahnya yang tegap dan ringan itu jelas menunjukkan bahwa dia adalah seorang wanita yang memiliki ilmu kanuragan tinggi. Memang sesungguhnya demikianlah. Wanita ini adalah seorang pendekar wanita yang sangat sakti dan terkenal, bukan hanya karena kelihaiannya saja, melainkan karena dia adalah cucu dari mendiang ketua perguruan Pancasona yang terkenal. Wanita ini bernama Kartika, cucu dari ketua perguruan Pancasona dan dialah satu-satunya cucu yang menerima penggemblengan langsung dari mendiang kakeknya, yaitu mendiang Pendekar Tejo Satrio, pendekar sakti yang pernah menggegerkan dunia persilatan puluhan tahun lalu.
Maka, dapat dibayangkan betapa lihainya–karena dia telah mewarisi ilmu-ilmu dari perguruan Pancasona, biarpun harus diakui bahwa dia belum menguasai ilmu-ilmu tinggi itu secara sempurna seperti kakeknya.
Tubuh pria yang digendongnya tak bergerak, pingsan atau lemas dan wajahnya pucat seperti mayat, di ujung bibirnya nampak darah, napasnya tinggal satu-satu. Siapakah pria itu?
Pria itu pun masih muda, kurang lebih dua puluh tiga tahun juga usianya, wajahnya tampan dan pakaiannya sangat mewah, seperti pakaian seorang pangeran, ia adalah putra raja timur dari Majapahit yaitu Wirabhumi yang tewas dalam perang paregreg, maka tentu saja dia adalah seorang Pangeran kerajaan Majapahit.
Namanya adalah Pangeran Radita. Sebagai Pangeran, sejak kecil Radita suka bertualang dan suka sekali mempelajari ilmu-ilmu yang tinggi, bahkan ia berhasil mempelajari ilmu-ilmu silat tinggi dari tokoh-tokoh sakti sehingga dalam hal ilmu silat, dia bahkan lebih lihai dibandingkan dengan isterinya itu! Kepandaiannya yang hebat membuat Pangeran ini menjadi tinggi hati dan sombong.
Di samping ambisinya yang sangat besar untuk menjadi jagoan nomor satu di dunia, bahkan kalau mungkin untuk merampas tahta Kerajaan Majapahit. Sikap inilah yang telah menjatuhkannya!
Di bawah Pimpinan Wikramawardhana, yang dianggap sebagai Pangeran Mahkota, di bantu oleh para pendekar yang sakti telah bergerak menentang kerajaan Timur, dan akhirnya Pangeran ini roboh dan terluka secara hebat sekali ketika terjadi pertempuran. Semua pengikut dan pasukannya, telah dihancurkan, sehingga semua usahanya dan ayahnya—Wirabhumi—mengalami kehancuran dan kegagalan.
Pangeran Radita sudah kehilangan segala-galanya, kecuali isterinya yang sangat setia dan sangat mencintanya itu. Isterinya inilah yang membawa tubuhnya yang terluka parah itu, membawanya lari meninggalkan gelanggang pertempuran di mana suaminya mengalami kegagalan.
Kartika melarikannya siang malam sampai pada pagi hari itu, dengan tubuh letih, pendekar wanita ini tiba di lereng bukit itu sambil menangis. Hampir dia tidak kuat melangkah lagi, namun dipaksanya karena dia harus dapat membawa suaminya yang sudah lebih mendekati mati daripada hidup itu sampai ke puncak.
Dia mendengar bahwa di puncak bukit itu tinggal seorang pertapa yang pandai sekali mengobati orang, maka harapan satu-satunya hanyalah membawa suaminya menghadap pertapa itu. Dia telah melakukan perjalanan dua hari dua malam, hanya berhenti untuk memberi minum, atau lebih tepat memasukkan air ke dalam perut suaminya, karena suaminya itu hampir terus-menerus dalam keadaan tidak sadar.
Kartika sendiri selama itu hanya minum sedikit air saja! Maka, ketika dia mendaki lereng bukit ini, kedua kakinya sudah gemetar, dan dia harus menggigit bibir dengan air mata menetes-netes untuk menguatkan dirinya.
Betapapun juga, berkat kepandaiannya yang tinggi, langkahnya masih nampak ringan ketika dia terus mendaki ke atas, ke arah sebuah pondok di puncak yang sudah kelihatan dari bawah.
Melihat pondok kecil itu, Kartika merasa seperti melihat cahaya yang penuh harapan, tenaganya timbul kembali dan setengah berlari dia berloncatan naik ke atas puncak.
Pondok itu kecil sederhana dan pintunya terbuka! Maka Kartika yang sudah merasa betapa matanya berkunang dan kepalanya pening, melangkah masuk.
Samar-samar dia melihat seorang kakek tua duduk bersila di dalam pondok. Dia cepat melangkah maju dan sempat berkata lirih.
"...mohon... mohon Kakek Tabib sudi... menolong suami saya..." Dan tergulinglah isteri setia ini bersama suami yang dipanggulnya, roboh ke depan kaki pria tua yang duduk bersila itu.
"Hebat..., hebaat...! Jarang di dunia ini ditemui wanita seperti dia ini...." Kakek tua itu berkata lembut, lalu turun dari atas pembaringan.
Dia mengangkat suami isteri itu satu-persatu, lalu merebahkan mereka di atas pembaringan kayu sederhana. Dia berdiri menggeleng kepala dan menarik napas panjang memandang kepada suami isteri yang tampan dan cantik lagi muda itu, yang keduanya dalam keadaan pingsan dan kelihatan sangat menderita.
Kemudian, dia menggulung lengan bajunya, mendekati Radita dan dengan teliti sekali dia memeriksa denyut nadi dan detak jantung pria muda itu. Wajah yang keriput itu nampak terkejut sekali.
“Aihhh... kacau dan remuk keadaan dalam tubuh pemuda ini! Hemm... tak tahu aku apakah aku akan dapat mengobati... sungguh hebat, mengapa kekerasan saja yang timbul akibat dari ilmu kanuragan?"
Setelah memeriksa dengan teliti dan berkali-kali dia menggeleng kepala, dia lalu memeriksa keadaan Kartika sambil mengangguk-angguk.
"Terlampau lelah, terlampau duka dan gelisah, menderita kelaparan dan kehausan. Sungguh wanita luar biasa, penuh kasih sayang dan kesetiaan..."
Karena maklum benar bahwa keadaan Kartika tidak apa-apa sebaliknya keadaan Radita sangat berbahaya, kakek tua itu cepat-cepat mengambil akar yang masih segar, lalu mengirisnya tipis-tipis dan menggodoknya dalam periuk, mencampurinya dengan beberapa macam daun dan bubukan buah kering. Sambil mengipasi api arang, dia bersenandung mengikuti irama kipas yang dia gerak-gerakkan.
Siapakah kakek ini?
Kakek ini adalah seorang ahli obat yang sudah lama bertapa di puncak bukit sunyi itu, menjauhkan diri dari dunia ramai dan hanya tekun memperdalam ilmunya untuk mengobati.
Hanya di waktu timbul wabah yang menyerang desa-desa atau kota-kota, kakek tua ini keluar dari tempat pertapaannya untuk memerangi wabah itu. Selain ini, juga setiap kali ada orang sakit datang kepadanya, dia selalu mengobatinya dan ternyata obatnya sangat manjur—sehingga sebentar saja namanya terkenal di seluruh daerah perbatasan. Karena dia tidak pernah mau mengakui namanya, maka dia segera diberi julukan Tabib Dewa yang diterimanya dengan senyum saja.
Setelah godokan obat itu masak, dia lalu mendinginkannya di atas cawan dan dengan hati-hati dia lalu memasukkan obat itu sesendok demi sesendok ke dalam mulut Radita—yang dalam keadaan setengah sadar meneguk obat itu dengan susah payah.
Tak lama kemudian, Kartika pun sadar dari pingsannya, mengeluh dan membuka mata. Melihat kakek tua itu sedang menyuapi obat kepada suaminya, dia cepat bangkit duduk.
"Istirahatlah dulu, anak yang baik, engkau perlu istirahat dan makan..."
"Tidak, Kakek Tabib, saya tidak apa-apa..." Kartika memaksa diri turun dari pembaringan.
Pada saat itu, si Tabib Dewa sudah selesai memasukkan air obat itu ke dalam perut Radita dan dia memandang kepada Kartika sambil tersenyum ramah.
"Kau kuat bukan main, akan tetapi sebaiknya kau mengisi perutmu dengan bubur. Aku masih mempunyai bubur, di meja itu..."
Daftar bab
49 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








