Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Servis Bintang Lima Tukang Ojek Pemikat Wanita

Servis Bintang Lima Tukang Ojek Pemikat Wanita

Segara Mahardika | Bersambung
Jumlah kata
23.3K
Popular
100
Subscribe
8
Novel / Servis Bintang Lima Tukang Ojek Pemikat Wanita
Servis Bintang Lima Tukang Ojek Pemikat Wanita

Servis Bintang Lima Tukang Ojek Pemikat Wanita

Segara Mahardika| Bersambung
Jumlah Kata
23.3K
Popular
100
Subscribe
8
Sinopsis
PerkotaanSupernaturalZero To Hero21+Harem
[WARNING! BANYAK ADEGAN 21+] Eki cuma tukang ojek apes yang selalu dicampakkan. Tapi hidupnya berbalik seratus delapan puluh derajat saat menemukan jimat taring warisan Mbah Wiryo. Dokumen tanah berharga, emas murni berlimpah, hingga mesin motor yang mendadak sehalus mobil mewah kini jadi miliknya.Tak cuma melipatgandakan rezeki, jimat itu memancarkan aura gaib yang bikin para wanita cantik mendadak tak kuasa menahan gairah. Mulai dari janda kaya yang royal hingga polwan semok berparas tegas, semuanya mengantre minta "servis bintang lima". Bagaimana Eki menguasai harta, dendam masa lalu, dan liarnya para wanita yang kebelet gatal di sekelilingnya?
Bab 1 - Sensasi Jepitan Janda

Lampu belakang motor tua milik Eki mendadak meletup lalu mati total, tepat di depan warung kopi tempat Rani sedang duduk manis sambil memangku tas barang bermerek.

"Kalo miskin mah miskin aja, Ki, nggak usah pake drama motor mogok segala!"

Rani berdiri sambil mengibaskan gaun merahnya, menatap Eki dengan pandangan jijik.

"Gue cape hidup hemat sama lu! Makan bakso aja kuahnya doang yang berenang!"

Eki yang sedang memegang obeng cuma bisa menelan ludah.

"Untung kita udahan," seloroh Rani.

"Ran, tapi kan baru kemarin aku beliin kamu pulsa—"

"Pulsa lima ribu doang bangga! Tuh lihat cowok gue yang baru!" Rani menunjuk sebuah mobil sedan hitam yang baru saja membunyikan klakson.

"Lu tuh namanya doang Rezeki, tapi nasib lu pantesnya dinamain Musibah!"

Pria bertubuh tambun turun dari mobil itu, menepuk bahu Eki sambil tersenyum mengejek.

"Sabar ya, Ki. Nanti kalo gue udah bosen sama Rani, gue balikin deh ke lu. Tapi mungkin kondisi mesinnya udah nggak segel, alias udah agak jebol dikit!" ucapnya tepat di telinga Eki.

Beberapa tukang ojek lain yang nongkrong di seberang jalan langsung bersiul nakal.

"Waduh, Bos. Jangan gitu dong, kasihan Eki! Tar dia malah makin rajin kocok oli sendiri!" teriak seorang pria dari meja karambol, disambut gelak tawa riuh para penarik ojek.

"Bisa aja lu, Pak! Si Eki mah udah ahli ganti oli mandiri tiap malam Jumat!" sahut si Bos sambil tertawa terbahak-bahak, sengaja mengejek.

Rani langsung masuk ke dalam mobil sedan itu tanpa menoleh lagi. Mobil melaju meninggalkan kepulan asap hitam yang langsung mengenai wajah Eki.

Eki mengusap wajahnya yang kena jelaga sambil memaki pelan. Ia menendang ban motor tua peninggalan kakeknya dengan sangat kesal.

"Tai kucing!" umpat Eki setengah berteriak.

"Dulu Almarhumah Nenek selalu blak-blakan bilang, Eki, nama kamu itu Rezeki, besok kalo udah gede uang bakal ngejar-ngejar kamu sampai kamu capek! Mana buktinya?!"

Eki menatap langit sore yang mulai gelap dengan napas terengah-engah.

"Boro-boro uang ngejar gue! Yang ada penagih utang koperasi yang ngejar gue tiap pagi! Nama Rezeki tapi dompet Isinya cuma angin sama bon utang warung! Nenek kalau bikin janji manis banget kayak saripati tebu!"

Salah seorang rekan sesama tukang ojek mendekati Eki sambil menepuk-nepuk punggung sahabatnya itu.

"Udah lah, Ki. Cewek model begitu mah kalau dikasih barang gede juga kagak bakal muat, sukanya yang berduit doang. Mending lu balik ke rumah, bersihin tuh motor mbah lu. Siapa tahu ada emas batangan nyelip di lobang knalpotnya!"

"Emas batangan dari hongkong! Paling isinya sarang laba-laba sama bangkai kecoak!" balas Eki bersungut-sungut.

Ia menuntun motor tuanya menyusuri jalanan desa yang mulai sepi.

Dalam hatinya, dada Eki terasa begitu sesak. Ia benar-benar lelah jadi orang miskin yang selalu dijadikan bahan bantaian dan bahan cemoohan.

Sesampainya di halaman rumah panggung tua miliknya, Eki melemparkan helmnya ke tanah. Ia menatap motor tua peninggalan mbahnya yang berdebu tebal di bawah garasi kayu.

"Mbah Wiryo, kalau Mbah dengar Eki dari alam sana, tolong bisikin ke nenek! Nama Eki ini mau dipakai terus atau diganti aja jadi Beban Keluarga?!"

Dengan perasaan gundah, Eki mengambil kain lap kusam dan sebotol minyak tanah. Ia berniat membersihkan motor itu sekadar untuk melampiaskan emosinya yang sedang memuncak.

Namun, ketika jarinya menyapu bagian bawah jok motor yang berkarat, Eki merasakan ada sesuatu yang mengganjal.

Sesuatu yang terbungkus rapi dengan kain mori berwarna hitam kusam.

Eki menarik pelan kain mori hitam itu dari sela berkarat di bawah jok. Debu tebal beterbangan saat kain itu terlepas. Ukurannya tak lebih besar dari genggaman tangan, tapi terasa lumayan berat dan dingin saat disentuh.

"Apaan nih? Jangan-jangan kotoran tikus yang udah membatu?" gumam Eki heran. "Tapi kayaknya sih bukan," gelengnya.

Sambil menyipitkan mata di bawah remang lampu teras, Eki perlahan membuka lipatan kainnya. Di dalamnya terdapat sebuah jimat kuno berupa taring hewan berwarna kehitaman yang diikat benang merah kusam.

Ada ukiran samar seperti tulisan Jawa kuno di permukaannya. Saat dipegang, mendadak ada sensasi aneh yang menjalar dari telapak tangansampai ke tengkuk Eki. Bulu kuduknya berdiri seketika.

"Busett, anget begini? Ini jimat pesugihan apa penghangat paha?" Eki terkekeh sendiri menutupi rasa merindingnya. "Tapi serius, ini punya mbah Wiryo?"

Tanpa ragu, ia mengantongi jimat itu ke celana jeans kusamnya. Eki melanjutkannya dengan membersihkan busi dan karburator motor tua peninggalan Mbah Wiryo.

Ajaibnya, begitu diengkol sekali, mesin tua itu langsung meraung halus tanpa ada asap hitam sama sekali. Lampu belakang yang tadi meletup pun mendadak menyala terang.

"Lah, beneran hidup? Apa karna gue udah ambil ini bungkusan item dari dalemnya ya?" Eki tampak heran.

Baru saja Eki mau menyenderkan motornya, suara klakson berbunyi dari arah gerbang bambu rumahnya. Sebuah motor matik berhenti di luar. "Gue sama si Eki aja, lu balik gih," ucapnya pada tukang ojek yang membawa motor matik itu.

Pemilik motor Matik itu pun pergi.

Sosok wanita paruh baya berjalan sambil membetulkan letak samping kain batiknya yang sedikit tersingkap, memperlihatkan betis mulusnya yang putih bersih.

Itu Nyi Ratih, janda kaya pemilik usaha pemijatan tradisional di desa sebelah yang terkenal bahenol dan berdada busung. Nyi Ratih juga pemilik kontrakan seluas hektaran lebih, dia terkenal punya banyak tanah.

"Eki! Masih narik kagak lu?" panggil Nyi Ratih dengan suara serak-serak basah yang bikin telinga pria mana pun gatal.

Eki buru-buru menghampiri. "Masih, Nyi! Ada apa malam-malam begini? Mau diantar ke mana?"

"Ojek langganan gue mendadak pingsan kena angin duduk."

"Waduh?" sahut Eki.

"Barusan anaknya, ngga berani nganter penakut dia. Gue ada panggilan mijat mendadak di desa sebelah, lewati hutan jati. Serem kalau sendirian. Lu antar gue ya? Nanti ongkosnya gue kasih dua kali lipat." Nyi Ratih tersenyum manja sambil menepuk dada Eki pelan.

"Siap, Nyi! Naik aja, mesin baru diservis nih!" Eki bersemangat.

Nyi Ratih langsung naik ke jok belakang. Karena jok motor tua itu agak menungging ke depan, tubuh berisi Nyi Ratih otomatis terdorong dan menempel ketat di punggung Eki.

Dada empuknya terasa menekan jelas di punggung Eki setiap kali motor melewati jalanan berlubang.

"Aduh, Ki... pelan-pelan dong. Goncangannya kerasa banget sampai ke perut," bisik Nyi Ratih tepat di leher belakang Eki.

Hembusan napas hangatnya bikin Eki gemetaran menahan gejolak di celananya.

"Maaf, Nyi, jalannya memang babak belur," sahut Eki sambil menelan ludah berkali-kali.

Tiba-tiba, saat melintasi tengah hutan jati yang gelap gulita tanpa penerangan, jimat di kantong celana Eki mendadak menjadi sangat panas, seolah-olah membakar paha kanannya. Bersamaan dengan itu, aroma wangi melati yang sangat menyengat mendadak memenuhi udara sekitar mereka.

Motor tua itu mendadak mati total di tengah kegelapan hutan.

"Aduh, Ki! Kenapa berhenti di sini?" suara Nyi Ratih terdengar panik seraya makin merapatkan tubuhnya ke punggung Eki.

Eki mencoba mengengkol motor, tapi kakinya terasa berat. Pandangannya mendadak mengabur.

Di dalam kegelapan malam, Eki melihat sepasang mata merah menyala menatap mereka dari balik semak-semak tebal di pinggir jalan, diiringi suara geraman berat yang sangat tidak manusiawi.

Lanjut membaca
Lanjut membaca