
- Jumlah kata
- 1.9K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 0
Sinopsis
Di desa kecil yang terlupakan, Arka hanyalah anak biasa… sampai sebuah tanda muncul di telapak tangannya. Sejak malam itu, hidupnya berubah. Diburu oleh Ordo Velkar, organisasi misterius yang memburu kekuatan kuno, Arka dipaksa melarikan diri dari satu-satunya tempat yang ia kenal sebagai rumah. Namun semakin jauh ia berlari, semakin jelas satu kebenaran yang tak bisa ia hindari— Kekuatan dalam dirinya bukan sekadar anugerah… melainkan sesuatu yang pernah hampir menghancurkan dunia. Dengan bayangan masa lalu yang bukan miliknya, dan pilihan yang akan menentukan nasib segalanya, Arka harus menghadapi satu pertanyaan: Apakah ia akan menjadi penyelamat… atau kehancuran itu sendiri?
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1 — Anak yang Tidak Dipilih Takdir
Angin sore berhembus pelan, membawa bau tanah basah dan abu dari tungku-tungku yang tak pernah benar-benar padam di desa kecil itu. Desa Lethara bukan tempat yang istimewa. Tidak ada penyihir hebat, tidak ada ksatria yang pulang dengan kisah kemenangan. Hanya ladang, debu, dan orang-orang yang hidup dari hari ke hari.
Di antara mereka, ada seorang anak laki-laki bernama Arka.
Arka tidak pernah benar-benar cocok di tempat itu. Bukan karena dia berbeda secara fisik—dia tampak seperti anak laki-laki biasa dengan rambut hitam kusut dan mata gelap yang sering terlihat kosong—melainkan karena cara dia memandang dunia.
Sejak kecil, Arka selalu merasa… ada sesuatu yang tidak tepat.
“Arka! Jangan bengong terus!” teriak ibunya dari dalam rumah kayu kecil mereka.
Arka tersentak, lalu segera bangkit dari batu tempatnya duduk. Ia sudah terlalu lama memandangi langit senja, memperhatikan warna jingga yang perlahan berubah menjadi ungu tua.
“Iya, Bu,” jawabnya singkat, berjalan masuk.
Di dalam rumah, ibunya sedang mengaduk sup sederhana dari sisa sayuran hari itu. Wajahnya lelah, garis-garis halus di matanya semakin jelas setiap tahun. Arka tahu ibunya bekerja terlalu keras sejak ayahnya menghilang tiga tahun lalu.
Tidak ada yang tahu ke mana pria itu pergi.
Dan tidak ada yang benar-benar berani membicarakannya.
“Ambil air di sumur. Kita kehabisan,” kata ibunya tanpa menoleh.
Arka mengangguk dan mengambil ember kayu. Ia sudah terbiasa melakukan pekerjaan seperti ini. Semua anak di desa juga melakukannya.
Namun saat ia berjalan menuju sumur, perasaan aneh itu kembali datang.
Seperti sesuatu memanggilnya.
Ia berhenti.
Sunyi.
Tidak ada suara selain dedaunan yang bergesekan pelan.
Arka menoleh ke arah hutan di ujung desa. Hutan itu dikenal sebagai Hutan Varell—tempat yang tidak pernah dimasuki penduduk desa tanpa alasan kuat.
“Jangan pernah masuk ke sana,” kata orang-orang.
“Bukan tempat untuk manusia.”
Arka menatapnya lebih lama dari biasanya.
Lalu… ia mendengar sesuatu.
Bukan suara biasa. Lebih seperti bisikan, tapi bukan dari telinga—melainkan dari dalam kepalanya sendiri.
“Datang…”
Arka terdiam.
Jantungnya berdegup lebih cepat.
Ia mencoba mengabaikannya, tapi suara itu datang lagi.
“Kau terlambat…”
“Apa…” gumamnya pelan.
Ia menggenggam embernya lebih erat.
Ini tidak masuk akal.
Mungkin ia hanya lelah. Atau lapar. Atau pikirannya mulai kacau seperti yang sering dikatakan beberapa orang tentangnya.
Tapi langkah kakinya… bergerak sendiri.
Menuju hutan.
Arka mencoba berhenti. Ia benar-benar mencoba.
Namun ada dorongan aneh, seperti tarikan yang tak terlihat, yang membuatnya terus melangkah mendekati pepohonan gelap itu.
Saat ia melewati batas desa, udara terasa berubah.
Lebih dingin.
Lebih berat.
Dan entah kenapa… lebih hidup.
Setiap langkah masuk ke dalam hutan membuat suara dunia luar semakin menjauh. Burung-burung tidak bernyanyi di sini. Angin pun terasa berbeda—lebih seperti napas daripada hembusan.
“Ini gila…” bisik Arka.
Tapi ia tidak berhenti.
Ia terus berjalan hingga menemukan sesuatu yang tidak seharusnya ada di sana.
Sebuah lingkaran batu.
Batu-batu itu tinggi, tua, dan dipenuhi ukiran aneh yang tidak dikenalnya. Di tengah lingkaran itu, tanahnya berwarna lebih gelap—hampir seperti hangus.
Arka mendekat perlahan.
Dan saat ia melangkah ke dalam lingkaran itu—
Semuanya berubah.
Langit menghilang.
Hutan lenyap.
Yang tersisa hanya kegelapan… dan cahaya redup yang berdenyut di depannya.
Arka terjatuh ke lutut.
“Apa ini…?”
Cahaya itu perlahan membentuk sesuatu.
Sosok.
Seorang pria—atau sesuatu yang menyerupai manusia—berdiri di hadapannya. Tubuhnya tampak seperti tersusun dari cahaya dan bayangan, tidak stabil, seperti api yang bisa padam kapan saja.
Mata sosok itu menatap langsung ke arah Arka.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Arka merasa benar-benar terlihat.
“Lama sekali kau datang,” suara itu terdengar—tidak melalui telinga, tapi langsung di dalam pikirannya.
“A-aku tidak tahu apa yang terjadi,” jawab Arka, gemetar.
Sosok itu mendekat satu langkah.
“Aku tahu.”
“Siapa kamu?”
Hening sejenak.
Lalu sosok itu berkata pelan, “Aku adalah sisa dari sesuatu yang seharusnya sudah mati.”
Arka tidak mengerti.
“Dan kau…” lanjutnya, “…adalah sesuatu yang seharusnya tidak pernah lahir.”
Kata-kata itu menusuk lebih dalam dari yang seharusnya.
“Apa maksudmu?”
Namun sebelum sosok itu menjawab, tanah di bawah mereka bergetar.
Retakan muncul.
Cahaya itu berdenyut lebih cepat, seakan tidak stabil.
“Waktu kita tidak banyak,” kata sosok itu.
“Aku tidak mengerti apa yang terjadi!”
“Kau akan mengerti.”
Sosok itu mengangkat tangannya.
Dan tiba-tiba—
Arka merasakan sesuatu masuk ke dalam tubuhnya.
Bukan rasa sakit.
Bukan juga panas.
Lebih seperti… sesuatu yang sudah lama hilang akhirnya kembali.
Ingatan yang bukan miliknya.
Suara-suara.
Gambar-gambar.
Perang.
Api.
Dan… kehancuran.
Arka berteriak, memegangi kepalanya.
“Apa yang kau lakukan?!”
“Aku mengembalikan milikmu,” jawab sosok itu.
“Aku tidak punya itu!”
“Kau punya. Hanya saja dunia ini membuatmu lupa.”
Retakan di sekitar mereka semakin besar.
Cahaya mulai memudar.
Sosok itu tampak semakin tidak stabil.
“Dengarkan aku, Arka,” katanya.
Untuk pertama kalinya, sosok itu menyebut namanya.
“Dunia ini bukan seperti yang kau kira. Dan kau bukan anak biasa.”
Arka terengah-engah, mencoba memahami.
“Aku… siapa?”
Sosok itu tersenyum samar.
“Seseorang yang akan diburu.”
Jantung Arka seakan berhenti.
“Kenapa?”
“Karena kekuatan yang kau bawa… pernah hampir menghancurkan segalanya.”
Tanah runtuh.
Cahaya pecah menjadi serpihan.
“Tidak—tunggu! Jelaskan padaku!” teriak Arka.
Namun semuanya sudah terlambat.
Sosok itu mulai menghilang.
“Temukan kebenaranmu,” suara itu memudar.
“Dan saat waktunya tiba… pilihlah—menjadi penyelamat… atau kehancuran.”
Gelap.
Sunyi.
Lalu—
Arka terbangun dengan napas terengah-engah di tepi hutan.
Langit sudah gelap.
Ember kayunya tergeletak di sampingnya.
Seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Namun tubuhnya terasa berbeda.
Lebih berat.
Dan lebih… hidup.
Ia perlahan bangkit.
Tangannya gemetar.
“Apa itu tadi…”
Tiba-tiba, ia melihat sesuatu.
Di telapak tangannya—
Ada tanda.
Sebuah simbol kecil yang samar bercahaya, seperti ukiran dari cahaya itu sendiri.
Arka menatapnya lama.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya…
Ia merasa takut pada dirinya sendiri.
Arka menggenggam tangannya erat, seolah dengan begitu cahaya itu bisa padam. Namun semakin ia menekan, semakin jelas denyut halus dari simbol itu—seperti sesuatu yang hidup di dalam dirinya.
Angin malam berhembus pelan, tapi kali ini terasa berbeda. Lebih dingin. Lebih… mengawasi.
Ia menoleh ke arah hutan.
Untuk sesaat, ia merasa ada sesuatu yang berdiri di sana—di antara bayangan pepohonan. Tidak bergerak. Hanya… memperhatikannya.
Arka memicingkan mata.
Dan bayangan itu menghilang.
Napasnya tertahan.
Perlahan, ia mundur satu langkah.
Lalu satu langkah lagi.
Namun jauh di dalam dirinya, sebuah perasaan muncul—pelan, tapi pasti.
Bahwa apa pun yang telah ia bangunkan malam itu…
tidak akan pernah benar-benar meninggalkannya.
Daftar bab
2 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








