Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Rahasia Kalung Singa Merah

Rahasia Kalung Singa Merah

Mutiara Senja | Bersambung
Jumlah kata
36.5K
Popular
107
Subscribe
32
Novel / Rahasia Kalung Singa Merah
Rahasia Kalung Singa Merah

Rahasia Kalung Singa Merah

Mutiara Senja| Bersambung
Jumlah Kata
36.5K
Popular
107
Subscribe
32
Sinopsis
FantasiIsekaiDewaKekuatan SuperHarem
Menulis RAHASIA KALUNG SINGA MERAH Demian tidak pernah tahu siapa dirinya sebenarnya. Sejak kecil, hidupnya hanya dipenuhi penderitaan, hinaan, dan tatapan merendahkan. Ia tumbuh terlunta-lunta di jalanan setelah diasuh oleh sepasang pengemis yang tidak memiliki anak. Meski miskin dan serba kekurangan, pasangan itu tetap merawat Demian dengan kasih sayang yang mereka mampu berikan. Namun bagi dunia, Demian hanyalah anak jalanan tanpa keluarga dan tanpa masa depan. Satu-satunya benda yang selalu melekat di lehernya hanyalah sebuah kalung singa merah yang sudah usang. Kalung itu adalah satu-satunya tanda pengenal yang ia miliki. Tidak ada nama orang tua. Tidak ada alamat rumah. Tidak ada masa lalu. Hanya lambang seekor singa merah yang anehnya tidak pernah bisa dilepaskan dari leher Demian. Bertahun-tahun kemudian, Demian berhasil meninggalkan kehidupan jalanan dan memasuki dunia perkuliahan. Di kampus, ia masih sering diremehkan karena penampilannya yang sederhana dan masa lalunya yang tidak diketahui siapa pun. Sampai akhirnya ia bertemu dengan Andin Prameswari. Andin adalah gadis populer yang dikenal karena kecantikannya, kecerdasannya, dan kebaikan hatinya. Berbeda dari mahasiswa lain yang memandang Demian sebelah mata, Andin justru melihat sesuatu yang berbeda dari lelaki itu. Ia melihat ketulusan. Ia melihat luka yang disembunyikan Demian. Dan tanpa Demian sadari... hatinya mulai jatuh kepada gadis itu. Demian yang selama hidupnya tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari siapa pun, perlahan mulai belajar tentang arti cinta. Namun sejak Andin hadir dalam hidupnya, sesuatu yang aneh mulai terjadi. Kalung singa merah yang selama bertahun-tahun hanya menjadi benda tua tiba-tiba mulai memancarkan cahaya merah. Awalnya Demian mengira dirinya hanya berhalusinasi. Tetapi semakin kuat perasaannya kepada Andin, semakin sering kalung itu menunjukkan kekuatannya. Hingga pada suatu malam... bulan purnama menggantung sempurna di langit. Demian dan Andin berada di sebuah ruangan sepi yang jauh dari keramaian kampus. Tiba-tiba kalung di leher Demian menyala terang. Tubuhnya mulai bergetar. Napasnya berubah berat. Urat-urat merah muncul di sepanjang tubuhnya. Andin yang menyaksikan perubahan itu hanya bisa berdiri terpaku. "Demian...?" Lelaki itu berusaha menjauh. "Jangan mendekat, Andin!" Namun semuanya sudah terlambat. Cahaya merah menyelimuti tubuh Demian. Dalam hitungan detik, tubuh manusia itu berubah menjadi sesuatu yang selama ini hanya ada dalam legenda... seekor singa merah raksasa dengan mata menyala seperti bara api. Andin membeku. Tangannya menutup mulut untuk menahan jeritan. Sementara singa merah itu berdiri tepat di hadapannya. Namun di balik tatapan buas tersebut... Andin masih bisa mengenali mata Demian. Mata yang selama ini menatapnya dengan penuh kelembutan. "Demian...?" Singa merah itu menundukkan kepalanya. Dan untuk pertama kalinya, Andin menyadari bahwa lelaki yang selama ini ia cintai bukanlah manusia biasa. Lalu sebuah pertanyaan mu
bab 1 Pertemuan yang mengubah segalanya.

Pagi itu, halaman Universitas Ardhana dipenuhi ratusan mahasiswa.

Suara tawa, obrolan, dan langkah kaki bercampur menjadi satu. Mobil-mobil mewah berhenti di depan gedung utama. Para mahasiswa berpakaian rapi berlalu-lalang sambil membicarakan tugas, dosen, hingga kehidupan mereka masing-masing.

Di tengah keramaian itu...

Seorang lelaki berjalan sendirian.

Namanya Demian.

Usianya dua puluh tahun.

Ia mengenakan kemeja putih sederhana yang sedikit pudar, celana hitam, dan sepatu lama yang sudah beberapa kali dijahit. Rambut hitamnya sedikit berantakan, tetapi justru membuat wajahnya terlihat semakin tegas.

Ia memiliki tubuh tinggi dan gagah.

Bahu lebar.

Rahang tegas.

Hidung mancung.

Dan sepasang mata tajam yang sebenarnya mampu membuat banyak gadis menoleh.

Namun Demian selalu menundukkan kepalanya.

Ia tidak pernah berjalan bersama siapa pun.

Tidak pernah bergabung dalam kelompok mahasiswa.

Bahkan ketika seseorang mencoba menyapanya, Demian selalu mencari alasan untuk pergi.

Bukan karena ia membenci orang lain.

Justru karena Demian merasa...

dirinya tidak pantas berada di antara mereka.

Sejak kecil, ia sudah terbiasa mendengar kalimat yang sama.

"Anak pengemis."

"Tidak punya orang tua."

"Anak jalanan."

"Jangan dekat-dekat dengannya."

Kata-kata itu telah tertanam begitu dalam di pikirannya hingga Demian mulai percaya bahwa dirinya memang berbeda.

Bahwa dirinya tidak pantas memiliki teman.

Tidak pantas dicintai.

Dan tidak pantas mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

Tangannya perlahan menyentuh benda yang menggantung di lehernya.

Sebuah kalung tua.

Di ujungnya terdapat lambang seekor singa merah.

Kalung itu sudah bersamanya sejak ia ditemukan puluhan tahun lalu—atau setidaknya sejak ia masih terlalu kecil untuk mengingat apa pun.

Demian tidak tahu siapa yang memasangkannya.

Ia juga tidak tahu dari mana benda itu berasal.

Yang ia tahu...

kalung itu tidak pernah bisa dilepaskan.

"Demian!"

Sebuah suara perempuan membuat langkahnya terhenti.

Ia menoleh.

Seorang gadis berjalan cepat ke arahnya.

Rambut panjangnya terurai indah tertiup angin. Wajahnya cantik, senyumnya hangat, dan penampilannya membuat beberapa mahasiswa di sekitar mereka langsung memperhatikan.

Dia adalah Andin Prameswari.

Salah satu mahasiswi paling populer di Universitas Ardhana.

Andin berhenti tepat di depan Demian.

"Hai."

Demian hanya menatapnya beberapa detik.

Kemudian ia menunduk.

"Hai."

Andin tersenyum.

"Kamu Demian, kan?"

"Iya."

"Aku Andin."

"Aku tahu."

Andin mengangkat alis.

"Kamu tahu?"

Demian segera mengalihkan pandangan.

"Semua orang tahu kamu."

Andin tertawa kecil.

"Berarti kamu juga memperhatikanku?"

Demian langsung gugup.

"Bukan begitu."

"Terus bagaimana?"

"Aku..."

Demian tidak tahu harus menjawab apa.

Andin justru semakin tersenyum.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ada seseorang yang berbicara kepadanya tanpa tatapan merendahkan.

"Kamu sendirian terus?" tanya Andin.

Demian mengangguk.

"Kenapa?"

"Memang biasa sendiri."

"Kalau begitu mulai hari ini jangan."

Demian menatapnya bingung.

Andin menunjuk bangku di bawah pohon.

"Aku boleh duduk di sampingmu?"

Demian terdiam.

Seumur hidupnya, belum pernah ada seseorang yang bertanya apakah mereka boleh berada di dekatnya.

Biasanya orang justru menjauh.

"Kenapa?"

"Kenapa apa?"

"Kenapa mau duduk sama aku?"

Andin tersenyum lembut.

"Karena kamu terlihat kesepian."

Demian membeku.

Kalimat sederhana itu terasa seperti sesuatu yang belum pernah ia dengar sebelumnya.

Hari-hari berikutnya membuat Demian semakin bingung.

Andin selalu muncul.

Di kantin.

Di perpustakaan.

Di depan kelas.

Bahkan terkadang Andin sengaja berjalan bersamanya menuju gerbang kampus.

Sementara Demian terus berusaha menjaga jarak.

"Kamu kenapa selalu menghindariku?" tanya Andin suatu sore.

Demian terdiam.

"Aku cuma..."

"Kamu tidak suka berteman denganku?"

"Bukan."

"Lalu?"

Demian menundukkan kepala.

"Aku tidak pantas berteman denganmu."

Andin terdiam.

Kemudian ia tersenyum tipis.

"Siapa yang bilang?"

Demian tidak menjawab.

"Demian."

Andin berdiri di depannya.

"Jangan menilai dirimu berdasarkan bagaimana orang lain memperlakukanmu."

Demian menatap mata gadis itu.

Untuk sesaat...

hatinya terasa hangat.

Namun ia tetap tidak menyadari satu hal.

Andin mulai menyukainya.

Bukan karena penampilan.

Bukan karena kekayaan.

Tetapi karena Demian adalah satu-satunya lelaki yang tidak pernah mencoba mendapatkan perhatian darinya.

Malam itu...

Demian berada sendirian di sebuah ruangan tua di belakang gedung kampus.

Hujan turun deras.

Petir sesekali menyambar langit.

Ia duduk di lantai sambil memegang kalung singa merahnya.

Entah mengapa sejak beberapa hari terakhir, kalung itu terasa berbeda.

Lebih hangat.

Bahkan terkadang...

memancarkan cahaya merah samar.

Demian mengerutkan kening.

"Apa yang terjadi denganmu?"

Tiba-tiba terdengar suara langkah.

"Demian?"

Demian menoleh.

Andin berdiri di ambang pintu.

"Kamu?"

Andin tersenyum.

"Aku mencarimu."

"Kenapa datang ke sini?"

"Hujan deras. Aku pikir kamu masih di kampus."

Demian berdiri.

"Pulanglah, Andin."

"Kenapa?"

"Tempat ini tidak aman."

Andin baru saja hendak menjawab ketika...

BRAK!

Petir menyambar.

Cahaya merah tiba-tiba muncul dari dada Demian.

Demian membeku.

Matanya melebar.

Kalung singa merah itu menyala terang.

"Demian?"

"Jangan mendekat!"

Demian memegang dadanya.

Tubuhnya mulai gemetar hebat.

"Demian!"

"Pergi!"

Urat-urat merah mulai muncul di leher dan kedua lengannya.

Matanya perlahan berubah.

Cahaya merah menyelimuti seluruh tubuhnya.

Andin mundur satu langkah.

"Demian..."

"Aku bilang pergi!"

Suara Demian berubah berat.

Kemudian terdengar suara raungan yang mengguncang seluruh ruangan.

GRRRRRRRRRAAAAAAAWWWW!

Cahaya merah meledak.

Andin menutup wajahnya.

Ketika cahaya itu menghilang...

Demian sudah tidak ada.

Sebagai gantinya...

berdiri seekor singa merah raksasa.

Tubuhnya jauh lebih besar daripada singa biasa. Bulunya merah menyala seperti bara api. Tatapannya memancarkan cahaya merah. Taringnya panjang.

Andin membeku.

Tubuhnya gemetar.

Namun singa itu tidak menyerangnya.

Ia justru mundur.

Kepalanya tertunduk.

Seolah-olah...

ia takut menyakiti Andin.

Andin perlahan menurunkan tangannya.

"Demian...?"

Singa itu menatapnya.

Andin melihat matanya.

Mata yang sama.

Tatapan yang sama.

Tatapan seorang lelaki yang selalu menundukkan kepala karena merasa dirinya tidak pantas dicintai.

Air mata mulai mengalir di pipi Andin.

"Kamu..."

Singa merah itu menggeram pelan.

Andin melangkah maju.

Singa itu langsung mundur.

"Jangan takut."

Singa tersebut kembali menggeram.

Andin menggeleng.

"Aku tidak akan menyakitimu."

Satu langkah.

Andin maju lagi.

Singa itu kembali mundur.

"Demian..."

Suara Andin bergetar.

"Aku tahu itu kamu."

Singa merah itu terdiam.

Andin perlahan mengulurkan tangannya.

"Aku tidak peduli kamu manusia atau..."

Ia menarik napas.

"...singa."

Mata merah itu menatapnya.

"Aku tetap mengenalmu sebagai Demian."

Singa tersebut perlahan menurunkan kepalanya.

Andin menyentuh dahinya.

Tubuh besar itu bergetar.

Namun tidak menyerang.

Justru perlahan...

ia menutup matanya.

Andin tersenyum sambil menangis.

"Tenang..."

Tangannya mengusap bulu merah di kepala makhluk itu.

"Aku di sini."

Cahaya merah di tubuh singa itu perlahan meredup.

"Aku tidak akan meninggalkanmu."

Dan pada malam itulah...

Andin menjadi manusia pertama yang mengetahui rahasia terbesar Demian.

Namun ia belum tahu...

bahwa perubahan tersebut hanyalah awal.

Sebab jauh di tempat lain...

seorang lelaki tua sedang berdiri di depan sebuah altar kuno.

Di hadapannya terdapat lambang yang sama.

Singa merah.

Lelaki itu membuka matanya.

"Sudah muncul..."

Senyum tipis terukir di wajahnya.

"Setelah bertahun-tahun..."

Ia menggenggam sebuah batu merah yang berdenyut seperti jantung.

"akhirnya pewaris Singa Merah telah bangkit."

Dan mulai malam itu...

kehidupan Demian dan Andin tidak akan pernah sama lagi.

Lanjut membaca
Lanjut membaca