
- Jumlah kata
- 2.0K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 2
Sinopsis
Awal pertemuan yang tak terduga antara Aris dan Elena, ternyata masa lalu mereka terhubung. Elena sang direktur yang memiliki mantan suami, dan ternyata mantan suami pernah memiliki hubungan spesial dengan ibunda Aris. Dan siapakah Aris ini sebenarnya? Sosok seorang CEO atau Mafia yang menyamar sebagai seorang biasa. kisah cinta beda usia yang penuh intrik, tidak tahu ke mana akan dibawa! Apakah mereka berjodoh atau tidak... Novel ini akan bercerita tentang perjalanan mereka berdua.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1. Sisa Wangi Cendana
Aroma kayu cendana dan vanila bercampur di udara yang pengap oleh gairah yang belum sepenuhnya usai. Di bawah temaram lampu tidur yang berpendar keemasan, napas Aris yang berat memburu di ceruk leher Elena, menciptakan sensasi panas yang membakar kulit. Kamar ini terasa seperti sebuah suaka yang sakral, satu-satunya ruang di mana protokol kantor, jabatan direktur, dan angka-angka usia tidak lagi memiliki kuasa atas mereka.
"Jangan menahan napasmu, El," bisik Aris, suaranya parau dan bergetar tepat di gendang telinga Elena, membuat bulu kuduk wanita itu meremang. "Di sini, kau tidak perlu menjadi pemimpin bagi siapapun. Cukup menjadi wanita yang kucintai."
Sentuhan Aris terasa menuntut, penuh energi khas pria berusia dua puluh lima tahun yang sedang dimabuk asmara. Elena memejamkan mata, membiarkan jemari Aris yang kokoh namun penuh perasaan menelusuri lekuk tubuhnya dengan pemujaan yang tulus. Setiap usapan di pinggang hingga punggungnya seolah menghapus keraguan yang selama ini menghantui pikiran Elena tentang apakah ia masih pantas dicintai dengan sedahsyat ini.
"Kau selalu membuatku merasa seperti remaja lagi, Aris, dan itu terkadang menakutkan bagiku," sahut Elena pelan, jemarinya meremas rambut lebat Aris saat pria itu mengecup bahunya.
Di atas seprai satin yang kusut, tubuh mereka sempat terdiam sejenak dalam dekapan, namun ketegangan kembali muncul saat fajar mulai mengintip dari balik tirai sutra yang mahal. Cahaya itu adalah pengingat bahwa panggung sandiwara dunia akan segera dimulai. Elena bangkit, mengenakan jubah mandi sutranya dengan gerakan anggun yang mencerminkan kedewasaan usianya yang menginjak empat puluh tahun.
"Apakah kau harus langsung memakai 'perisai' itu setiap kali matahari terbit?" tanya Aris sambil bersandar pada siku, menatap punggung Elena yang tertutup kain sutra mengilap.
Elena melangkah menuju meja rias dan menatap pantulan dirinya di cermin, melihat garis-garis halus di sudut mata yang menjadi saksi bisu perjalanan hidupnya. Perbedaan lima belas tahun itu mendadak terasa seperti jurang yang lebar saat cahaya matahari menyinari realitas mereka. "Dunia luar tidak akan melihat kita dengan cara yang sama seperti kita melihat satu sama lain di kamar ini, Ris," jawabnya pahit.
Aris bangkit dari ranjang tanpa ragu, mendekati Elena tanpa suara dan memeluknya dari belakang. "Biarkan dunia dengan segala keributannya, El. Aku hanya peduli pada apa yang kita rasakan di sini," gumam Aris, matanya mengunci tatapan Elena melalui cermin.
Sentuhan Aris di bahu Elena yang hanya terbalut jubah mandi sutra terasa seperti sengatan listrik yang membakar sisa keraguannya. Melalui pantulan cermin, Elena melihat binar pemujaan di mata Aris yang begitu murni. Tanpa sepatah kata, Aris menarik pelan simpul tali jubah Elena hingga kain halus itu meluncur, jatuh di atas lantai marmer dengan desiran lembut yang kembali mengundang gairah yang sempat meredup.
"Lihat dirimu, Elena. Kau adalah mahakarya, dan aku tidak akan membiarkan keraguanmu merusak keindahan ini," bisik Aris sambil menekan dada bidangnya yang hangat pada punggung Elena yang gemetar.
Tubuh Elena yang polos kini terekspos sepenuhnya di bawah tatapan lapar Aris yang segera merengkuh pinggangnya, membimbingnya kembali ke atas seprai kusut yang masih menyimpan aroma percintaan sebelumnya. Di bawah cahaya pagi yang semakin terang, mereka kembali larut dalam tarian yang lebih intens, seolah ingin membuktikan bahwa waktu tidak bisa menyentuh mereka.
"Aris... kita akan terlambat," rintih Elena, namun kakinya justru melingkar di pinggang Aris, menarik pria itu untuk semakin tenggelam dalam dirinya.
"Biarkan saja. Perusahaanmu tidak akan runtuh hanya karena direkturnya ingin dicintai sedikit lebih lama," jawab Aris dengan dorongan yang dalam dan penuh tenaga, menciptakan gesekan panas yang memicu ledakan saraf di sekujur tubuh Elena.
Aris menjelajahi setiap kurva tubuh Elena dengan lidah dan jemarinya, memberikan stimulasi yang membuat Elena melengkungkan punggungnya sambil mengerang tertahan. Setiap hisapan Aris pada leher dan dadanya adalah klaim bisu bahwa gairah ini melampaui logika usia manapun. Elena memejamkan mata, merasakan Aris memenuhi rongga dirinya, menghapus memori tentang dinginnya ranjang yang ia tempati selama bertahun-tahun pasca perceraian.
"Kenapa kau begitu berbeda dari semua pria yang pernah kukenal?" tanya Elena di sela napasnya yang menderu hebat, tangannya mencengkeram bahu berotot Aris.
"Karena aku tidak melihatmu sebagai pencapaian atau status, Elena. Aku melihatmu sebagai rumah," balas Aris, suaranya menyatu dengan suara kulit yang beradu, menjadi musik paling erotis di dalam kamar kedap suara itu.
Saat pelepasan itu tiba, sebuah puncak keintiman yang meledak begitu dahsyat, Aris membenamkan wajahnya di ceruk leher Elena, memeluknya sangat erat seolah ingin menyatu secara permanen. Elena menghirup dalam-dalam aroma tubuh Aris yang maskulin, merasa utuh dan aman meski ia tahu dunia luar mungkin akan menghakimi keberanian mereka pagi ini.
"Kau membuatku merasa sangat... diratukan, Aris. Sesuatu yang tidak pernah kudapatkan dari mantan suamiku bahkan di masa muda kami," ungkap Elena dengan suara yang masih bergetar karena sisa kenikmatan.
Aris mengangkat kepalanya, menatap Elena dengan lembut sambil menyeka keringat di dahi wanita itu. "Itu karena dia bodoh, El. Dia memiliki permata namun memperlakukannya seperti batu jalanan. Aku akan memastikan kau selalu merasa seperti ini setiap pagi."
Elena tersenyum tipis, sebuah senyuman yang kini benar-benar mencapai matanya, meski ia tahu tantangan besar menanti di luar sana. "Kau tahu, perbedaan lima belas tahun ini akan selalu menjadi bahan pembicaraan, bukan?"
Aris tertawa kecil, kembali merebahkan diri di samping Elena dan menariknya ke dalam pelukan yang protektif. "Biarkan mereka bicara sampai lidah mereka kelu. Selama kau ada di pelukanku, suara mereka hanya akan terdengar seperti angin lalu yang tidak berarti."
"Mungkin kau benar, Ris. Untuk saat ini, aku akan memilih untuk tidak peduli dan hanya menikmati warna-warna yang kau bawa ke dalam hidupku yang sebelumnya abu-abu," gumam Elena sambil menyandarkan kepalanya di dada Aris yang bidang.
Keduanya terbaring bersisian dalam keheningan yang nyaman, di mana hanya detak jantung yang tersinkronisasi yang terdengar. Elena menyadari bahwa kenyamanan ini tidak bisa diutarakan dengan kata-kata; ia merasa dimanja secara batin dan fisik, sebuah kemewahan yang jauh lebih berharga daripada seluruh aset perusahaan yang ia pimpin.
"Hanya beberapa menit lagi, Elena. Biarkan matahari benar-benar naik sebelum kita kembali memakai topeng kita," bisik Aris sambil mengusap lengan Elena dengan lembut.
"Beberapa menit lagi," setuju Elena, membiarkan dirinya terbuai dalam sisa kehangatan pagi, mengabaikan dunia nyata demi pria muda yang telah berhasil meruntuhkan dinding pertahanannya.
Bagaikan candu yang tak bisa lepas, ingin selalu merasakan terus dan terus.
Daftar bab
2 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








