
Rahasia Keperkasaan Kang Warnet
Madara|Bersambung
- Jumlah kata
- 47.2K
- Popular
- 4.5K
- Subscribe
- 656
- Jumlah kata
- 47.2K
- Popular
- 4.5K
- Subscribe
- 656
Sinopsis
Aryo, mahasiswa IT miskin dan cupu, seumur hidup tak pernah dilirik wanita. Hingga ia menggunakan AI untuk menciptakan wajah pria tampan dan maskulin di OmaTV—dan seketika para wanita cantik tergila-gila padanya! Namun, semua itu ternyata baru permulaan. Setelah menolong seorang kakek misterius, Aryo terbangun dan mendapati wajah serta tubuhnya benar-benar berubah menjadi avatar AI yang selama ini ia ciptakan.
Ulasan
1 ulasan
Madara
15/10/26 06:53
Gess, fitur top up sudah kembali normal yaa. Kalau kalian masih menemukan kendala saat top up silakan hubungi CS maxnovel. Selamat membaca!
1. Kakek misterius
“Mmh … nggh …”
Gabungan desahan laki-laki dan perempuan terdengar bersahutan. Aryo yang sedang melangkah menuju rak paling belakang di perpustakaan mengerutkan kening. Kakinya seketika berhenti.
‘Siapa yang berani mesum di perpustakaan kampus?’ batinnya.
Aryo kemudian bergeser ke balik rak paling ujung untuk mengintip di antara celah buku. Matanya seketika melebar.
Di pojok ruangan, Rafael sang idola kampus—yang tak lain putra dari pejabat daerah yang disegani, sedang bercumbu mesra dengan Amanda, gadis cantik yang populer di antara para mahasiswa.
Aryo yang saat itu sedang membawa beberapa buku di pelukannya tak kuasa gemetar. Dia melihat atasan tanpa lengan yang dipakai Amanda, kini sudah melorot separuh, memperlihatkan bagian tubuh Amanda yang ukurannya membuat Aryo meneguk ludah.
Di sisi lain, tangan Rafael tak berhenti menyentuh bukit kembar di balik pakaian Amanda dengan gerakan liar yang membuat gadis itu semakin mendesah tak terkendali. Bibir mereka terus saling memagut.
Aryo membeku. Bayangan seorang wanita seketika melintas di benaknya. Alma. Ketua BEM yang cantik dan baik hati itu adalah pacar Rafael. Satu-satunya wanita yang bersikap ramah pada Aryo sewaktu Aryo kebingungan sebagai mahasiswa baru dulu. Juga, wanita yang selama hampir empat tahun ini hanya bisa Aryo kagumi diam-diam dari jauh.
Aryo sadar diri kalau dirinya tidak menarik dan tidak pantas bersanding dengan Alma. Tetapi, Rafael yang beruntung bisa mendapatkan Alma, malah tega-teganya berselingkuh dari Alma! Tangan Aryo mengepal erat.
BRAKK!
Tanpa sengaja, Aryo menjatuhkan buku-buku yang dia bawa. Jantungnya seolah copot dari tempatnya.
‘Gawat!’ Aryo mundur selangkah.
“Woy!” Rafael menyeru lantang. Tubuh Aryo terlonjak seketika.
Aryo mendongak dengan rahang gemetar. Dari balik celah buku, dia menemukan Rafael dan Amanda sedang menatapnya tajam.
“Sini lo!” seru Rafael lagi.
Aryo tidak bergerak. Dia sungguh tidak ingin berurusan dengan Rafael.
Mendapati Aryo tetap diam, Rafael melangkah cepat menghampirinya.
“Ngintip lo?” Rafael menarik kerah kemeja Aryo hingga tubuh Aryo sedikit terangkat.
Mata Aryo menyipit ketakutan. Dia meringis merasakan lehernya mulai tercekik. Otot lengan Rafael yang bertato itu tampak menegang, membuat nyali Aryo semakin ciut.
“A-ampun, Raf. Nggak sengaja. Tadi … mau … balikin buku.” Aryo yang mulai tercekik menepuk-nepuk lengan Rafael.
Amanda yang sudah selesai merapikan pakaiannya berjalan mendekat. “Raf, lepasin aja. Jangan sampai tangan kamu kesenggol jerawat batu dari muka dia,” cibir Amanda sambil memandang remeh ke arah Aryo.
Aryo hanya bisa diam. Walau harga dirinya terluka karena ucapan Amanda barusan.
Brak!
Tubuh Aryo dihempaskan kasar ke rak buku. Saat Aryo membungkuk dan meringis kesakitan di lantai, dia melihat langkah sepatu Rafael berhenti di depanya.
“Lepas kacamata lo. Lempar ke lantai. Injek pake sepatu lo sendiri. Sampe pecah.” Rafael berbisik geram.
Mendengar ucapan itu, darah Aryo seketika mendidih. Kacamata yang dia pakai harganya ratusan ribu. Kalau sampai rusak, dia tidak punya uang untuk membeli kacamata yang baru. Uang dari kerja sambilan jadi operator warnet hanya cukup untuk makan dan bayar kosan.
“Nggak mau?” Rafael mendengus sambil melipat lengan di depan dada. “Sekarang lo pilih, mau gue bikin lo dikeluarin dari kampus dengan muka jerawatan lo yang gue bikin makin hancur, atau mau injek kacamata lo?”
Aryo masih terdiam. Pilihannya sudah jelas. Tidak mungkin dia menyia-nyiakan beasiswa kuliah yang didapatkannya susah payah.
Seandainya Aryo punya tubuh yang kuat, ingin sekali dia melawan. Tetapi, Rafael yang berotot dan atlet bela diri, tidak mungkin bisa dia kalahkan. Apalagi status Rafael membuatnya ditakuti dan disegani banyak pihak.
Aryo tak punya pilihan lain. Dengan tangan gemetar, dia meletakkan kacamatanya ke lantai. Tanpa kacamata itu, pandangan Aryo kini buram. Dia mengangkat kaki dengan mata terpejam.
PRAKK!!
Kepingan lensa itu terpecah di bawah sepatu kets lusuh Aryo. Dadanya sesak. Benda kenangan terakhir dari orang tuanya kini hancur di bawah kakinya sendiri.
Rafael tertawa puas. Amanda tersenyum sinis.
“Anggap itu bayaran buat mata lo yang kurang ajar.” Rafael menepuk-nepuk pundak Aryo dengan ekspresi penuh hinaan.
“Inget ya, sampe lo bocorin yang lo liat hari ini ke Alma, gua bikin lo dikeluarin dari kampus. Paham lo?”
Aryo hanya bisa mengangguk kaku. Matanya menatap ke arah lantai yang buram.
“Yuk Raf, sebelum jerawatnya Aryo nular. Ih, jijik banget,” desis Amanda sebelum akhirnya melenggang bersama Rafael keluar dari tempat itu.
Sepeninggal mereka, Aryo menjatuhkan lututnya ke lantai. Dia memungut pecahan lensa kacamatanya yang berserak sambil membayangkan wajah orang tuanya saat memberikan kacamata itu dulu. Tangannya mengepal erat.
‘Kalian berdua … memandangku kayak sampah,’ batin Aryo geram. ‘Aku bersumpah. Akan ada saatnya nanti kalian yang berlutut di depanku!’
***
Keluar dari perpustakaan, Aryo berjalan setengah limbung. Tangannya meraba sekitar. Sekelilingnya terlihat buram karena kacamatanya tak lagi dia pakai. Beberapa mahasiswi yang berpapasan dengannya saling berbisik sambil menjauh.
“Siapa sih itu? Kok jerawat mukanya parah banget?”
“Aryo? Dia kan mukanya kayak jalanan belum diaspal. Aku sih deketin Aryo kalau ada tugas kuliah aja.”
Bisik-bisik itu terdengar jelas di telinga Aryo. Aryo hanya bisa menelan hinaan itu dalam diam. Mau bagaimana lagi? Dia belum punya cukup uang untuk memperbaiki penampilannya.
Saat sampai di tepi jalan raya dan hendak menunggu angkutan umum, tiba-tiba hujan deras turun. Aryo mengeluarkan payung dari ranselnya.
Ketika Aryo tak sengaja menoleh, dia menemukan seorang tukang sol sepatu —yang menawarkan jasanya di tepi jalan— berteduh dari hujan hanya dengan selapis kardus tipis. Pria itu berjongkok persis di samping Aryo—entah sejak kapan.
Batin Aryo terasa ngilu melihat pemandangan itu. Dia teringat dengan mendiang Bapaknya yang sudah meninggal.
‘Bapak juga dulu tukang sol sepatu,’ kenang Aryo.
Aryo membungkuk, lalu mengulurkan payung yang sudah dia buka pada pria asing itu. Padahal badannya sendiri sudah mulai dihantam serbuan hujan.
“Pakai payung saya aja, Bang!” teriak Aryo.
“Terima kasih, Nak!” ternyata suara tukang sol itu terdengar serak dan patah, khas seseorang yang sudah lanjut usia. Sayangnya kacamata Aryo rusak sehingga dia tidak bisa memastikan wajah pria itu.
Saat tangan sang kakek meraih payung di tangan Aryo, sesuatu seperti sengatan listrik membuat Aryo tersentak. Aryo refleks menarik cepat tangannya. Bulu kuduknya meremang.
‘Gila. A-apaan yang barusan itu?’
Aryo bergerak mundur setengah panik. “S-saya pergi dulu, ya, Kek.” Aryo pun berbalik dan berlari menerjang hujan. Tiba-tiba, suara teriakan Kakek itu terdengar di antara deras hujan.
“Apa pun harapanmu setelah ini, pasti akan terwujud, Nak!”
Langkah Aryo terhenti. Entah kenapa, suara itu terdengar tidak asing.
Dia menoleh. Tetapi, tukang sol sepatu itu sudah tidak ada.
‘A-apa maksudnya?’ Aryo membatin heran. Sementara lengannya sendiri kini merinding.
Daftar bab
43 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








